My Devil Possessive

My Devil Possessive
Pulang ke mesion


__ADS_3

Kenzo berjalan memasuki mesion. waktu masih menunjukan pukul 1 siang, tak biasanya Kenzo pulang siang hari ini, melihat Kedatangan tuan mudanya ini para maid pun mendadak berkumpul di depan pintu untuk menyambut kepulangan Kenzo.


Ketika Kenzo masuk kedalam mesionnya, ia nampak kecewa karna tidak melihat sosok istrinya disini. "Dimana Rara?"


"Nona Maura pergi tadi pagi bersama nona Hazel tuan"


"Kemana mereka?"


"Saya sendiri tidak tau tuan" jawab menunduk maid itu.


"Baik, kembalilah bekerja" ucap Kenzo dingin, mendengar perintah tuan mudanya para maid pun kembali melanjutkan aktivitas yang tertunda tadi.


Kenzo lantas bergegas berjalan menuju sofa yang terletak di ruang tamu tak jauh dari pintu depan mesion.


Ia segera mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada orang yang sedang di carinya saat ini.


Entah mengapa ia tak fokus ketika mengerjakan pekerjaannya tadi di kantor, di pikirannya selalu terlintas wajah dari wanita yang ia nikahi kemarin lalu, Itu yang menjadikannya ingin pulang dan melihat keadaan wanitanya.


"Kak Kenzo!" panggil wanita yang sedang melangkahkan kakinya menuju arah Kenzo.


Agnes tersenyum mendapati kaka nya itu sedang duduk sendiri di sofa, ia segera menghampiri dan duduk disamping Kenzo.


"Ka ada yang aku pengin omongin" Kenzo yang mendengar suara orang yang berada disampingnya hanya menatap sekilas lalu berbalik kembali menatap ponselnya. "Apa?"


Agnes mengigit bibir bawahnya itu, jujur sebenarnya ia takut mengatakan ini tapi ia harus menanyakannya untuk mengusir rasa penasaran di pikirannya.


"Istimewanya apa sih perempuan yang kaka nikahi itu? menurut aku sih masih jauh levelnya sama keluarga kita"


kenzo yang mendengar itu mengarahkan pandangannya ke arah Agnes. "Maksud mu apa?"


"Y..a kan udah jelas kalo wanita itu dari keluarga bawah, apa kaka ga takut cuma dimanfaatin gitu sama dia?"


"Gak" Kenzo berbalik menatap ponselnya kembali ketika ponselnya memunculkan notif pesan.


Kemarahan Agnes memuncak, mengapa kakanya ini terlihat tidak peduli sih?. "Dia tidak mencintai kaka, aku juga tau perempuan kayak dia itu bukan tipe ka Kenzo juga kan?"


"Terus menurutmu tipe seperti apa yang ku mau?" seperti mu begitu?" jawab dingin Kenzo.


Agnes gelagapan mendengar ucapan yang terlontar dari Kenzo, laki-laki yang disampingnya ini pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi menjauhinya sekarang.


"Kak Kenzo! Kenapa sih ga bisa ngertiin perasaan aku ke kaka" Agnes ikut berdiri dan melangkah menuju kearah Kenzo yang tiba-tiba berhenti.


Laki-laki yang berada didepannya ini pun berbalik menatap Agnes yang ssekarang berdiri dihadapannya.


"Ck! Sudah ku bilang hapus perasaan konyol mu itu pada ku! Bagaimana pun kau sudah ku anggap sebagai adikku"


"Tapi bukan adik kandung kan ka? Apa kaka gabisa bales perasaan aku? hiks" Agnes menampilkan raut wajah sedihnya yang Kenzo tau hanya dibuat-buat.


"Walau kau bukan anak kandung paman, kau sudah ku anggap sebagai adikku! dan ingat jangan katakan jika wanita ku adalah wanita rendahan, karna kau tidak lebih jauh darinya! kalo bukan karna paman, kau tidak bisa hidup seperti sekarang!" Setelah mengucapkan itu Kenzo melangkahkan kembali kakinya menuju atas.


Agnes masih menatap kepergian dari kakanya, ia menatap sedih pandangannya.


Apa salah jika aku menganggap kau lebih dari seorang kaka



Hazel dan Rara tiba di mesion Kenzo, dengan langkah terburu-buru Rara berjalan meninggalkan Hazel yang tengah turun dari mobil yang mereka tumpangi.


"Kaka ipar! tungguin"


Rara masih melangkahkan kakinya masuk menuju rumah ini, namun langkahnya terhenti ketika melihat dihadapannya ada wanita yang sedang berdiri membelakanginya.


"Ka Agnes?" Ketika Rara berbicara wanita didepannya ini pun berbalik menatap kearahnya.


Namun tak lama mereka saling berhadapan Agnes tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada Rara.


Rara yang melihat itu hanya menatap binggung, ada apa dengan wanita itu? tak biasanya dia diam saja melihat Rara.


Rara pun melanjutkan langkahnya menuju kamar atas, ia tau jika tuannya pasti sudah berada di kamar karna tadi Rara melihat mobil yang biasa ditumpangi tuan mudanya sudah terparkir rapih di halaman.


Hazel yang baru saja masuk kedalam rumah dengan membawa tas yang lumayan banyak ditangannya langsung melangkah menuju dapur, sekarang ia haus karna tadi tak sempat minum di restaurant itu.



Ceklek


Rara masuk kedalam kamar Kenzo, sebelumnya ia sudah terlebih dahulu mengetuk pintu itu namun tidak terdengar jawaban dari dalam kamar. Karna takut ada sesuatu yang terjadi didalam akhirnya Rara memutuskan langsung masuk kedalam kamar.


Kosong itu yang ia lihat sekarang.

__ADS_1


Dimana dia?


Karna merasa tidak ada siapapun, Rara menutup kembali pintu itu dan langsung berjalan menuju kasur yang terletak di tengah ruangan besar ini.


Rara merebahkan tubuhnya itu dengan kaki yang ia biarkan bergelantungan di pinggir kasur.


Huh! Capenya


"Kau tidak tau sopan santun ya" mendengar suara yang ia kenali itu, Rara pun bangkit dan duduk dipinggiran kasur dengan tatapan yang mengarah keasal suara.


"Tu..an"


"Asal masuk saja!" Kenzo melangkahkan kakinya menuju tempat Rara.


"Maaf tuan tadi aku sudah mengetuknya tapi tidak ada jawaban" ucap Rara sembari menundukkan kepalanya.


Tiba di hadapan Rara, Kenzo pun ikut duduk disamping wanitanya dengan tubuh yang saling berhadapan.


"Maaf tuan" Rara masih menundukan kepalanya, ia takut jika tuannya akan menghukumnya kembali.


"Kali ini aku maaf kan, sekarang kau awasi tangan mu itu, aku ingin tidur di paha mu"


"Apa?"


Tanpa menjawab pertanyaan Rara, dengan segera Kenzo meminggirkan tangan wanita nya yang berada diatas kakinya itu dan menggantikannya dengan kepala Kenzo.


Rara yang masih binggung dari tindakan tuannya ini haya terdiam.


Ia melihat Kenzo yang memejamkan matanya dengan pakaian yang masih lengkap seperti kepergiannya kekantor tadi.


Ingin sekali Rara mengelus rambut Kenzo namun ia mengurungkan niatnya takut tuannya itu merasa tidak nyaman.


"Jika kau ingin mengelus kepala ku, aku tidak keberatan" ucap Kenzo dengan masih memejamkan matanya.


Seakan tau apa yang ingin Rara lakukan, akhirnya Rara melakukan apa yang ingin ia lakukan tadi.


Rara menatap wajah yang berada dibawahnya ini, jujur Kenzo tampan sekali dengan hidung yang mancung dan juga rahang yang kokoh sudah seperti artis holywood yang ia sukai.


"Kau tau, jujur aku lelah hidup seperti ini tapi aku harus tetap seperti ini untuk menghidupi kedua orang yang ku cintai dalam hidupku" ucap Kenzo dengan mata yang masih terpejam seakan menikmati elusan dari Rara.


Rara yang mendengar itu hanya diam mendengarkan curhatan dari tuan mudanya.


Rara tidak menyangka ternyata kehidupan Kenzo tidak semenyenangkan yang ia pikirkan.


"Tapi aku tetap menjalaninya dengan segenap hati" Kenzo berbicara dengan masih memejamkan kedua matanya.


"Maaf tuan, bukannya ada adik ayahnya tuan? Mengapa tidak dia saja yang melanjutkan perusahaan itu?"


Kenzo membuka matanya dan kembali memejamkan matanya ketika Rara melanjutkan mengelus rambutnya.


"Dulu memang paman Giorga yang mengurusnya tapi karna ada beberapa masalah di perusahaan cabang jadi kakek menyuruh paman untuk mengurusi perusahaan yang bermasalah itu jadi aku yang harus mengurus perusahaan pusat"


kehidupan tuan yang dulu memang sulit


Rara hanya diam tanpa menjawab ucapan dari Kenzo.


Setelah lama saling diam tiba-tiba Kenzo bangkit dari tidurnya itu dan menatap mata Rara.


"Aku menginginkan mu, apa boleh?" tanya Kenzo, tak biasanya pria ini mengatakannya terlebih dahulu.


Karna Rara yang sudah terbawa suasana akhirnya Rara mengangguk.


Siang ini menjadi siang panjang dan pertama kalinya Rara mengiyakan ajakan Kenzo.



Hazel menatap senang kearah tangan nya yang sedang melihat baju-baju yang sudah ia beli tadi bersama kaka iparnya.


"Bagus-bagus ii sukaa!! Sayang ga beli sepatunya sih gara-gara laki-laki itu" Hazel membayangkan pertemuannya tadi dengan laki-laki bernama Malik itu.


Entah mengapa tiba-tiba pria itu berada disana? Bukannya itu sepatu khusus perempuan? mungkin saja pria itu ingin membeli sepatu untuk pacar atau adiknya? itu yang terlintas dipikiran Hazel.


Karna tidak mau memikirkan itu kembali, Hazel pun mulai bangkit dan melangkah menuju kamar dengan membawa tas-tas belanjaannya.


"Dari mana aja kamu sayang?"


Tiba-tiba dari arah belakang datang sang momy yang sepertinya baru saja datang.


Hazel berbalik melihat kebelakannya "Eh Mommy" ucap Hazel dengan tas yang ia gantung kan keatas untuk menunjukannya pada Lia.

__ADS_1


"Iniiii"


Lia menghampiri anaknya itu yang masih berdiri didepan tangga. "belanja gak ngajak-ngajak kamu Ze"


Hazel terkekeh. "Momy juga gak ngajakin aku waktu itu"


"Bales dendam ceritanya?" Lia tersenyum kecil mendapati ucapan dari Hazel.


"Enggak ko"


"Eh kamu belanja sama Agnes?"


Hazel menggeleng "Bukan, tapi sama kaka ipar"


Mendengar nama kaka ipar yang terlontar dari mulut anak perempuannya ini seketika membuat raut wajah Lia berubah "Oh, belanja apa aja wanita itu? pasti ngabisin uang Kenzo ya"


Hazel lagi-lagi menggeleng "Kaka ipar tadi ga beli apa-apa ehh beli deh tapi baju buat anak kecil gitu"


Lia menatap heran anak nya, mengapa wanita itu membeli pakaian anak kecil? memangnya disini ada anak-anak? atau jangan-jangan?


"Wanita itu hamil?"


"Bukan, katanya sih bukan keponakan temennya"


Lia yang mendengar itu menghela nafas pelan "Syukurlah"


"Ih ko syukur sih Mom, kan kalo kaka ipar hamil berarti dirumah ini bakal ada suara anak kecil lucu gituu" Hazel membayangkan betapa ramenya jika rumah ini ada anak kecil yang berlari-lari memanggilnya dengan sebutan aunty Hazel, pasti lucu.


"Momy ga ngarepin cucu dari wanita itu!" Lia melangkahkan kakinya menuju kamar atas yang diikuti Hazel dibelakangnya.


"Tapi kan momy yang dulu minta kak Kenzo cepet-cepet nikah biar kasih cucu"


"Iya tapi bukan dari cewe kayak gitu!"


Hazel diam mendengar ucapan dari momy nya itu, ia binggung kenapa mommy nya masih tidak suka pada kaka iparnya padahal diliat-liat Ka Maura cantik dan baik tidak seperti perempuan diluaran sana yang hanya memandang harta ka Kenzo.



Rara terbangun dari tidurnya, ia melihat jam yang menunjukan pukul 4 sore. dia berbalik menatap pria yang berada disampingnya.


Ada apa dengan jantungku?


Rara menggelengkan kepalanya, ia tak boleh memiliki perasaan lebih pada tuan mudanya.


Ia bangkit dari tidurnya dan mengambil pakaian yang berserakan di lantai, dengan langkah hati-hati Rara masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, ia menggunakan pakaian dan melangkah menuju ke lantai bawah namun sebelum itu, Rara menatap tuan mudanya yang masih tertidur pulas.


Aku harap perasaan ini tidak tumbuh terlalu dalam


Rara melanjutkan langkahnya keluar kamar, karna tadi siang tidak sempat makan akhirnya ia berjalan menuju dapur untuk mengisi perut kosongnya.


Sampai dibawah ia tidak melihat satu orang pun disana, hanya ada beberapa pelayan yang nampak mondar-mandir mengerjakan tugasnya, dengan segera Rara berjalan menuju dapur.


"Nona" sesampainya di dapur, Rara melihat ada beberapa pelayan yang menunduk hormat padanya.


"Nona ada perlu apa kemari?" tanya salah satu maid yang berdiri disana.


"Memangnya aku ga boleh ya kesini?" jawab serius Rara.


Pelayan yang tadi bertanya itu debgan cepat menggelengkan kepalanya "bukan begitu nona, maksud saya-"


Rara terkekeh "Bercanda hehe, em aku ingin mengambil cemilan, ada?"


"Ada, nona duduk saja di depan biar saya antarkan nanti"


"Anterin ke taman belakang aja ya bi, aku mau kesana"


Pelayan itu mengangguk "baik nona"


"Makasih yaa bi" Rara berjalan menuju taman yang kemarin ia kunjungi, ia duduk dibangku taman dan menatap sekelilingnya.


"Heh! gara-gara lo Ka Kenzo jadi marah sama gue!"


▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫


Mohon dukungannya yaaa like comen and vote!😚


Ditunggu kelanjutannya🙌

__ADS_1


__ADS_2