
"Sa..ya disini tuan?" ucap Hans.
Dia sudah membawa kopernya karna perkiraannya ia akan ikut pulang juga, tetapi ternyata salah, tuan mudanya ternyata akan pulang sendiri bersama para pekerja lainnya yang berada di pesawat pribadinya.
"Iya! jika kau ikut pulang bersama ku lalu perusahaan disini bagaimana? cepat selesaikan dan kau baru boleh pulang" titah Kenzo.
Jika aku tau tidak akan pulang sekarang tidak akan aku membawa koperku!
Akhirnya Hans hanya mengangguk. "Siap tuan"
"Yasudah" Kenzo langsung mengambil kopernya yang di bawakan Hans dan pergi masuk kedalam pesawat pribadinya yang sepertinya sudah siap untuk lepas landas.
Hans masih diam di tempatnya tadi berdiri dengan pandangan yang mengikuti langkah Kenzo, jika ia tidak ikut dalam kepulangan hari ini mengapa tuan mudanya tidak memberitahunya? padahal tadi ia buru-buru merapihkan pakaiannya dan juga Kenzo agar cepat sampai disini tapi hal itu malah sia-sia karna Hans tidak ikut pulang hari ini.
Ia tau jika tuan mudanya terlihat sedang marah saat ini, mungkin terjadi sesuatu pada nona mudanya? tadi Hans belum sempat menanyakannya karna sudah di tinju duluan oleh tuannya.
♣
Lia dan Hazel serta beberapa bodyguard masih berada di rumah sakit sekarang. dilihatnya jam yang sudah menunjukan pukul 9 malam namun belum ada yang beranjak dari sini.
Dengan wajah yang sembab Hazel menoleh ke arah mommynya. "Mommy kaka ipar gimana?"
Lia merapatkan punggungnya ke belakang kursi, jujur ia pegal duduk terus menerus disini, ia ingin sekali pulang ke mesion namun Lia tau pasti anak perempuannya ini tidak mau pulang karna sedari tadi Hazel hanya diam sembari menatap pintu di hadapannya.
"Ya mau gimana lagi, kita harus nunggu pendonor biar perempuan itu bisa di operasi" ucap Lia lelah.
Hazel terdiam namun beberapa menit kemudian ia teringat satu hal. "Mom pasti keluarga dari kaka ipar punya darah yang sama"
Ya! Hazel benar, pasti keluarga Maura memiliki golongan darah yang sama karna Maura anak mereka bukan? pasti darah mereka mengalir di darah Maura.
"Yaudah Zel, kamu telpon sana keluarganya" jawab Lia dengan nada acuh.
"Aku ga punya nomer keluarganya mom, nomer kaka ipar aja aku ga punya" Jelas Hazel, memang dia tidak pernah meminta nomer kaka iparnya karna ia setiap hari bertemu dengan Maura jadi untuk apa nomer handpone?
"Ck! kamu ini gimana masa ga punya nomer kaka ipar sendiri sih!" Lia tak habis pikir, padahal anaknya ini terlihat dekat dengan Maura tapi mengapa nomer ponsel saja tidak tahu.
"Emangnya mommy punya nomer kaka ipar?" tanya Hazel.
Lia memutar kedua bola matanya malas. "Buat apa kalo tiap hari ketemu"
Hazel diam tak berniat menjawab ucapan mommy nya karna ada seseorang yang sedang berjalan kearahnya sekarang.
"Maaf nyonya, apa nyonya sudah mendapatkan pendonor? karna kita harus cepat melakukan tindakan operasi" Dokter yang tadi pun datang dan berdiri di hadapan kedua orang yang sedang terduduk.
Lia bangkit dari duduknya diikuti Hazel yang masih menatap dokter ini dengan tatapan musuh.
"Belum dok kami masih belum dapat pendonornya" jelas Lia, entah kemana para bawahannya yang mencari pendonor untuk Maura karna sampai saat ini mereka belum kembali juga.
"Pihak rumah sakit juga belum bisa mendapatkan donor darahnya nyonya" ucap dokter bernama Ridho itu.
"Padahal pasien harus segera dioperasi karna banyak kekurangan darah dan juga ada sumbatan di kepalanya, jika tidak segera di lakukan tindakan takutnya hal yang kita tidak inginkan terjadi" lanjut dokter yang masih diam menatap kedua orang dihadapannya.
"Yang tidak diinginkan?" tanya Hazel dengan nada binggung.
"Iya nona, saya takut jika masalah di kepalanya bisa menyebar ke organ dalam lainnya dan bisa menyebabkan pasien kehilangan nyawanya karna luka dikepalanya cukup parah"
Ckckck Agnes-Agnes kelakuan kamu bisa bikin Kenzo naik darah kalo ngedenger ini
"Kami masih mencari pendonor itu ko dok" ucap Lia dengan tenang.
Hazel kembali menutup mulutnya tak percaya, sebegitu parahnya apa kaka iparnya? sampai bisa kehilangan nyawa jika hanya terpeleset apa bisa menyebabkan kehilangan nyawa juga?
"Hikss mommy kaka ipar hiks" Hazel mengeluarkan air matanya lagi, padahal tangisannya tadi sudah berhenti namun mendengar ucapan dari dokter jahat ini, ia kembali menangis.
♣
"Tuan silakan menikmati makanannya" ucap malu-malu pramugari ini sembari meletakan nampan yang berisi makanan untuk tuannya ini, ia tidak melihat jika wajah Kenzo yang sedari tadi terlihat seperti menahan amarah.
"Ck! bisa tidak cepatkan pesawat ini! lama sekali jalannya!" bentak Kenzo.
Pramugari itu lantas diam, padahal kemarin ketika berangkat tuan mudanya aman-aman saja tapi mengapa ketika pulang menjadi seperti ini? jujur ia takut.
"Tidak bisa tuan, disini sudah ada batas laju nya pesawat" ucap pramugari dengan menunduk.
__ADS_1
"Lama sekali sampainya!"
"Maaf tuan kita ba..ru saja lepas landas 20 menit yang lalu" jelas Pramugari ber-tag Alfina. padahal pesawat ini baru saja berangkat mungkin sekitar 3 sampai 4 jam-an lagi mereka akan tiba di bandara jakarta.
"Bilang pada pilot itu agar dicepatkan!" tegas Kenzo dengan menahan amarah nya sedari tadi. mengingat wanitanya yang terbaring di rumah sakit entah mengapa hatinya merasa seperti terbakar.
"Maaf tuan ini semua ada prosedurnya"
Kenzo menatap tajam si pramugari yang berdiri di sampingnya.
"Kau! beraninya menolak perintahku" ucap tajam Kenzo yang mampu membuat pramugari ini bergetar takut.
"Ini ada apa?" ucap salah satu bawahan Kenzo.
"Maaf pak, tu..an muda ingin mempercepat laju pesawat" Pramugari itu menunduk mendapat tatapan dari Kenzo.
Pria bertubuh gemuk itu menghadap ke arah bos besarnya, entah apa yang diinginkan tuan mudanya untuk mempercepat pesawat ini yang jelas ia tak bisa menuruti perintahnya kali ini karna itu cukup beresiko.
"Maaf tuan atas ketidaknyamanannya tapi pesawat ini melaju sesuai prosedurnya" ucap pria bernama Alka dengan mencoba tenang.
Tatapan tajam Kenzo beralih pada pria gemuk ini yang beraninya menentang perintahnya. "Kau mau aku pecat!"
Alka mengeleng, baru saja beberapa tahun bekerja disini masa ia harus kehilangan pekerjaan yang gajinya lumayan besar ini.
"Maaf tuan kami akan usahakan untuk cepat sampai di jakarta, tuan tenang saja" ucap Alka dengan nada meyakinkan.
"Bagaimana aku bisa tenang jika istriku masuk rumah sakit!"
Deg!
Kedua orang yang berada dihadapan Kenzo membulatkan matanya tak peecaya. istri? sejak kapan tuan mudanya menikah? menikah dengan siapa? mengapa mereka tidak diundang? mengapa di berita tidak ada yang membahasnya?
Ya memang yang mengetahui Kenzo menikah hanya orang-orang terdekat, pastinya mereka tidak tau jika tuan mudanya menikah karna memang mereka hanya ditugaskan di pesawat pribadi Kenzo jadi urusan tentang pribadi tuan mudanya mereka tidak tahu.
"Ist..ri?" Alka dan pramugari itu mengucapkan dengan nada bersaman menatap Kenzo.
"Cepat lajukan! atau aku bakar pesawat ini" Emosi Kenzo, ia sudah khawatir setengah mati dengan keadaan istrinya sekarang.
"Tuan jika kau bakar pesawat ini kita semua tidak akan selama..t" ucap pria berbadan gemuk itu yang berada di samping pramugari yang nampak hanya terdiam.
"Tuan tenang, sabar, tarik nafas buang" sahut pramugari itu.
"Beraninya kalian!" ucap Kenzo dengan menatap kedua orang yang berada di sampingnya ini.
"Kalian saya pecat! sekarang kalian pergi dari pesawat ini!" padahal Kenzo sudah cukup sabar namun ia tidak bisa menahan amarahnya kepada kedua orang ini yang dari tadi menguji kesabarannya.
Mendengar Kenzo memecat mereka membuat mereka diam, apalagi katanya di suruh ke luar dari pesawat ini, padahal pesawat ini sedang berada di atas bagaimana caranyanya mereka pergi? apa harus lompat? bisa mati mereka.
"Tuan maafkan saya tuan saya tidak bermaksud" ucap Pramugari dengan menunduk, jujur ia tidak mau kehilangan pekerjaan yang sudah ia geluti bertahun-tahun.
Si pria berbadan gemuk itu pun ikut menunduk. "Tuan maafkan kami maaff, kami tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi maaf tuan"
Kenzo hanya dia tak berniat menjawab mereka, pandangannya teralihkan pada jendela luar memikirkan bagaimana keadaan Maura sekarang.
Jika ia tahu siapa pelakunya, ia tidak akan diam kali ini siapapun termasuk keluarganya.
"Tuan maafkan kami" ucap sekali lagi Alka.
"Pergi dari sini!" Telak Kenzo yang mampu membuat mereka diam tak berkutik.
♣
"Nyonya orangtua nona Maura menolak untuk mendonorkan darahnya pada nona muda, nyonya" ucap salah satu bodyguard yang dititah untuk mencari informasi tentang keluarga Maura dan menyuruh mereka untuk mendonorkan darahnya pada perempuan itu.
Lia heran, mengapa orangtuanya tidak mau mendonorkan darahnya? bukankah Maura anaknya? mengapa ada orangtua seperti itu.
"Mana yang lainnya" tanya Lia pada bawahannya yang baru saja datang.
"Sedang berjalan kemari nyonya"
Lia mengangguk dan kembali duduk, hari sudah larut malam tapi mereka masih berkumpul di ruma sakit andai dia tidak punya hati pasti dia tidak akan mau berada disini menemani Hazel yang nampak masih muram.
"Mom aku aja deh yang donorin" sahut Hazel dengan menatap Lia.
__ADS_1
"Ck! mommy udah bilang kamu diem aja lagian darah kamu kan O beda jauh golonganya sama wanita itu" Lia menatap heran anaknya, sedari tadi ingin mendonorkan darahnya pada kaka iparnya padahal sudah jelas golongan mereka berbeda tetap saja ingin mendonorkan.
"Emang gabisa ya mom"
"Gabisa sayangg, udah kita tunggu aja bodyguard itu"
Tak lama dari pembicaraan itu, para bodyguard yang ditunggupun datang membawa beberapa orang dan tas kecil entah berisi apa.
Lia berdiri menatap beberapa bodyguard yang tadi ia suruh mencari pendonor.
"Nyonya, kami sudah mendapatkan pendonor dan sekantung darah untuk nona muda" ucap salah satu bodyguard.
Lia mengangguk dan menyuruh mereka semua keruangan khusus pendonor yang sebelumnya sudah di beritahukan tadi oleh dokter Ridho.
"Kaka ipar udah boleh dioperasi dong mom?" tanya Hazel.
"Belum, kita kan belum tau darah orang-orang ini cocok ga sama perempuan itu"
"Kalo ga cocok gimana mom hiks"
"Ya berarti perempuan itu ga jadi operasi dan kehilangan nyawanya" ucap Lia dengan nada santai yang mampu membuat Hazel kembali histeris.
"Mommy kenapa bilang begitu hiks hiks"
Lia menghembuskan nafas kasarnya. "Ya terus harus bilang apa Zel? emang begitu kan kenyataannya"
Mata Hazel mulai berkaca-kaca kembali. " Huaaa mommy"
"Zel diem! kita lagi dirumah sakit tau!" Lia menutup telinganya malas mendengar tangian Hazel yang sedari tadi keluar hanya untuk menangisi wanita itu.
Dokter Ridho berjalan kearah mereka dengan senyuman mengembang. "Nyonya alhamdulillah kita sudah bisa melakukan operasi karna kita sudah mendapatkan pendonor yang tepat"
Lia dan Hazel mengucapkan syukur karna operasi dapat berjalan dengan cepat.
"Nyonya, tuan muda sudah sampai dibandara sekarang tuan sedang berjalan ke rumah sakit" ucap salah satu bodyguard yang dihubungi supir tuan mudanya.
Lia tersentak kaget, Kenzo sudah berada dibandara berarti Kenzo sudah tau? siapa yang menghubungi anaknya itu? padahal ia sudah mengatakan jika masalah ini jangan sampai ditelinga Kenzo tapi mau gimana lagi Lia tidak bisa mepunya hak untuk menyuruh semua bodyguard atau para bawahan untuk tidak kasih tau anak pertamanya, karna mereka semua berada di bawah kekuasaan Kenzo bukan dirinya.
Hazel berpikir, kira-kira kakanya itu akan ber-ekspresi bagaimana ya jika kaka iparnya harus dioperasi. ia penasaran sekali.
♣
"Lama sekali kau menyetir!" ucap Kenzo ketika supir ini lama sekali melajukan mobilnya.
Supir itu langsung mempercepat lajunya membelah jalanan kota jakarta yang nampak sepi karna memang hari yang sudah larut malam.
Beberapa menit kemudian mobil yang ditumpangi Kenzo berhenti di sebuah lobi rumah sakit, Kenzo langsung membuka mobilnya dan berjala masuk kedalam rumah sakit ini.
Banyak yang menatapnya kaget dan menatap penuh kekagum, untuk apa seorang Kenzo ke rumah sakit tengah malam? banyak yang mempertanyakan itu semua ketika melihat Kenzo melangkah terburu-buru.
♣
Operasi sudah selesai dilaksanakan tadi, Hazel mengucapkan banyak-banyak bersyukur karna operasi itu berjalan dengan baik dan lancar.
"Zel, kita pulang dulu yuk" ajak Lia. wanita ini sudah selesai dioperasi jadi menurutnya sudah selesai bukan? jadi lebih baik ia pulang karna pasti sebentar lagi anak pertamanya itu datang.
Hazel dan Lia sekarang berada di dalam ruang rawat Maura, wanita itu masih memejamkan matanya karna pengaruh obat bius saat operasi tadi.
Sedangkan para bodyguard menunggu didepan pintu untuk berjaga-jaga takut terjadi sesuatu.
"Ga ahk, Hazel mau nungguin kaka ipar sampe sadar"
Lia menggelengkan kepalanya melihat Hazel yang nampak peduli sekali dengan kaka iparnya ini, padahal dandanannya saja sudah urak-urakan karna menangisi wanita ini.
"Zel mending kita pulang dulu mandi terus nanti kesini lagi, ada para bawahan yang jagain perempuan ini Zel" ucap Lia kasihan melihat anaknya yang nampak kusut.
"Hah! yaudah deh mom ayo" akhirnya Hazel menuruti ajakan Lia yang mengajaknya pulang, mungkin benar kata momynya karna penampilannya yang terlihat sudah gak karuan. yang penting sekarang ia tau bahwa kaka iparnya sudah baik-baik saja.
Brugh!Brug!
Lia dan Hazel saling bertatapan ketika mendengar suara ricuh dari luar ruangan ini.
▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫
__ADS_1
Trimksih sudah membaca🙌