
Setelah memakai pemberian tuannya itu, Rara keluar dari kamar mandi dengan lega. Ia sedikit mengarahkan pandangan melihat dimana tuannya berada.
"Tuan" panggil Rara dengan berjalan menuju balkon, disana nampak tuan mudanya yang sedang membelakanginya.
"Hm" jawab Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya kearah hadapannya.
Rara menghampiri suaminya itu dan berdiri disampingnya sambil ikut menatap taman dihadapannya. Langit sudah mulai sore jadi terlihat awan senja yang begitu indah.
"Sudah? kau ini sebenarnya kenapa?" tanya Kenzo dengan menengok kearah samping dimana Rara berdiri.
Tuan tidak tau?
"Biasa tuan"
"Biasa apa?"
Rara mencoba mencari kata-kata agar tidak salah berbicara. "Itu kedatangan tamu bulanan"
"Ambigu sekali, tinggal bilang kau mengalami haid begitu saja susah" Kenzo mengarahkan pandangannya kembali kearah depannya.
Rara yang mendengar itu mencoba merendam kekesalannya. Kalo tau kenapa nanya!
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing dengan menatap langit yang sama.
"Ulang tahun Hazel dimajukan besok malam" sahut Kenzo memecahkan keheningan.
Rara yang masih berdiri disamping Kenzo mengalihkan pandangannya kearah Kenzo dengan membulatkan matanya. "Besok malam?"
"Iya, memangnya kenapa?" Posisi mereka sekarang saling menatap masing-masing.
"Hadiah buat Hazel belum jadi lagi, apa besok bakal beres?" gumam Rara dengan menunduk.
Walau hanya gumam-an Kenzo masih dapat mendengar suara Rara. "Aku sudah memberikannya hadiah, kau tidak usah memberikannya lagi"
Rara mendongakkan wajahnya menatap mata Kenzo. "Tapi aku juga ingin memberi hadiah untuk Hazel"
Mana hadiah yang Hazel mau belum ada lagi batin Rara dengan memegang perut ratanya.
"Kau sakit perut lagi!?" ucap Kenzo dengan nada yang membuat Rara kaget.
"Ah! tidak tuan"
"Aku tidak suka dibohongi"
"Aku tid..ak bohong tuan" tuannya ini sepertinya hobi sekali mengagetkan seseorang, entah tiba-tiba muncul atau berbicara tiba-tiba membuatnya kaget.
Mereka berdua kembali kepada posisi yang tadi, menatap melihat langit yang sudah mulai gelap.
"Tuan hadiahi Hazel apa?" tanya Rara.
Kenzo nampak berfikir lalu ia mengingat sesuatu yang tadi membuatnya lupa. "Kau tunggu disini"
Kenzo masuk kedalam kamar sedangkan Rara hanya diam menatap tuannya itu yang masuk kedalam kamarnya, entah apa yang akan dia lakukan. Rara kembali menatap kedepan tanpa pedulikan apa yang Kenzo akan lakukan.
Tiba-tiba Rara merasakan ada sesuatu yang bergerak di lehernya, ia menunduk melihat benda apa itu. "Tuan"
"Kau diam saja, aku akan pasangkan ini" ucap Kenzo dari belakang, memasangkan sesuatu di leher Rara.
Rara menunduk melihat apa yang dipasangkan Kenzo dilehernya, ternyata Kenzo memasangkan kalung berwarna emas dengan permata ditengahnya tanpa sadar senyum tercetak diwajah Rara.
Selesai memasangkan kalung, Kenzo berdiri kembali disamping Rara. "Cocok" ucapnya dengan menatap kalung itu yang pas di kenakan wanitanya.
Rara memegang kalung itu dengan tangannya, matanya menatap kalung indah dan juga sederhana. "Tuan ini untukk..u?"
Ia tidak menyangka tuannya akan memberikan kalung ini untuk nya.
__ADS_1
"Iya tapi kau harus membayarnya setelah hutang-hutang ayahmu itu beres"
Baru saja ia merasa bahagia dengan pemberian tiba-tiba Kenzo, tapi ketika mendengar ucapan tuannya malah membuat rasa bahagia itu hilang seketika.
Hutang-hutang saja belum beres mau disuruh bayar kalung juga, lagian kan aku ga minta dibeliin!
Rara memajukan bibirnya kedepan, ia kesal dengan pernyataan tuannya. "Memangnya harga kalung ini berapa tuan?"
"100 juta"
Mendengar nominal angka segitu membuat jantung Rara berhenti berdetak, ia membulatkan matanya tak percaya dengan harga kalung yang ia pakai. Harganya hampir setara dengan satu buah mobil.
"Ser..atus juta?" Rara menganga kaget.
Kenzo menganggukkan kepalanya. "Kau bisa mencicilnya setiap bulan itu belum termasuk bunganya"
Selain memiliki perusahaan, apa tuannya juga menjajakan perkreditan? pake bunganya lagi, uang segitu banyaknya harus berapa lama lagi ia menabung?
"Apa harus dibayar tuan? lagian aku kan ga minta dibeliin kalung" sungguh lebih baik ia membalikkan kalung ini pada tuannya dari pada harus membayar.
"Aku membelikannya untukmu"
"T..api lebih baik kal-"
"Apa? kau menolak?"
Salah lagi, Rara binggung ia tidak akan sanggup membayar kalung dengan harga segitu lagian apa tuannya ini bangkrut? sampai meminta uang padanya untuk membayar kalung seperti ini! bukannya ia orang kaya? begini saja harus dibayar padahalkan Rara istrinya sendiri.
"Tapi kau tidak usah membayar kalung itu jika memenuhi satu syarat" Kenzo menatap wanitanya dengan senyum miring andalannya.
Rara menatap curiga Kenzo, pasti ada maunya tuannya ini. "Syarat apa tuan?"
"Kau tetap harus bersama-ku apapun yang akan terjadi nanti"
Rara binggung, ia masih tidak mengerti ucapan dari tuannya. "Maksud tuan?"
"Aku harap kau percaya bahwa aku hanya mencintaimu seorang" lanjutnya.
♣
"Ka malik ngapainn kesinii" kesal gadis remaja kepada seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Mau liat calon ibu dari anak-anak aku nanti" jawab pria tampan dihadapannya dengan tersenyum penuh arti.
"Siapa? mau ketemu BiJum ya? BIBI ADA YANG CAR-"
Sebelum Hazel melanjutkan teriakkannya, Malik terlebih dahulu menutup mulut gadis itu.
"Hmpphh" Hazel memukul tangan yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Malik langsung melepaskan tangannya ketika Hazel menggigit tangannya. "Aw sakitt Zel ko digigit sihh, seharusnya dicium aja"
Setelah tangan yang menutup mulutnya lepas, ia langsung mengelap bibirnya dengan telapak tangannya. "Tangan ka malikk ko bau sihh!!"
Mendengar ucapan itu Malik mencium bau tangannya. "Oh iya lupa siram tangan tadi abis kekamar mandi"
"Wlekkkk" wajah Hazel seakan ingin muntah karna penjelasan dari kaka temannya yang jorok.
"Aa!!! jorok banget sih ka!" teriak Hazel memplototi Malik dengan garang.
Yang ditatap pun hanya cengengesan tidak merasa bersalah. "Bercandaa tangan gue wangi ko bep, ga percaya cium lagi coba" ucap Malik dengan mendekatkan telapak tangannya ke wajah Hazel.
Dengan cepat Hazel menjauhkan wajahnya sebelum tangan itu menempel pada wajah yang baru saja dibilas sehabis maskeran tadi. "Ogahh cium aja sendiri"
Hazel melangkahkan kakinya berjalan menjauh dari Malik, ia berjalan menuju taman belakang.
__ADS_1
Melihat adik temannya itu berjalan menjauh darinya ia pun langsung bergegas menyusul Hazel dari belakang.
Sampai di taman belakang ia terkagum-kagum menatap dekorasi dihadapannya.
Indah Kesan pertama yang ia lihat sekarang, dipinggir kolam renang sana terlihat panggung kecil yang terdapat balon-balon besar bertulisan happy brithday Hazel.
Lain dengan Hazel yang nampak bahagia melihat hasil dari pencarian desain ulang tahun yang ia inginkan.
"GoodJob"
♣
Kedua pasutri itu masuk kedalam kamar Rara karna hari sudah berubah menjadi gelap diluar sana.
"Tuan ayo kebawah" ucap Rara. Ia mencoba melupakan kejadian tadi di balkon karna ketika ia mengingat perkataan tuannya itu pasti mmebuat jantungnya berdetak tidak normal.
"Hm" Kenzo dan Rara bergerak keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah, sekarang adalah waktunya untuk makan malam.
Ketika sampai dibawah Rara melihat jika para maid sedang sibuk berbolak-balik dihadapannya.
"Acaranya akan diadakan dimana tuan?" tanya Rara mengarahkan pandangan pada Kenzo yang setia berdiri disampingnya.
"Taman belakang"
Mendengar itu langsung membuat mata Rara berbinar, pasti maid ini sedang menata acara ulang tahun adik iparnya tadi seharusnya ia ikut membantu para maid disini pasti akan seru sekali.
Dengan segera Rara melangkah menuju taman belakang tapi sebelum itu tangannya dipegang oleh tangan seseorang. "Kau ingin kemana?"
Tangan itu pasti adalah Kenzo, ya siapa lagi coba yang berdiri disampingnya.
"Aku akan kebelakang tuan, aku ingin melihat dekorasinya" Rara tersenyum senang menatap tuannya.
Melihat senyum bahagia dibibir istrinya, Kenzo akhirnya melangkah berjalan ikut menuju taman belakang dengan tangan yang masih berpegangan. Rara pasrah ia tidak punya kekuatan untuk melepaskan pegangan erat dari Kenzo.
"Ckckck masih aja pegangan, ini bukan jalan raya kali" sahut laki-laki tampan ketika melihat Rara dan juga Kenzo yang terlihat berjalan beriringan ke taman belakang.
Malik menggelengkan kepalanya menatap kedua pasangan tersebut, ia terbakar panas melihat adengan itu karna sampai sekarang tangannya saja belum pernah memegang siapapun kecuali ketika sedang menyebrang bersama ibunya dulu.
Kenzo mengalihkan pandangannya pada asal suara yang ia kenal. Tak jauh dari keberadaannya terlihat seorang laki-laki dan juga adiknya yang sedang menatap kearah mereka berdua.
Rara yang melihat itu langsung melambaikan tangannya pada Hazel dan menghampiri adik iparnya yang membalas lambaiannya. Diikuti Kenzo pastinya disamping.
"Zell selamat ulang tahun yaa" ucap Rara dengan tersenyum manis.
Hazel membalas senyuman kaka iparnya dengan memeluknya tanpa pedulikan orang yang berdiri disamping kaka iparnya. "Belum ulang tahun kaa tapi makasih lohh"
"Gapapa biar ngucapin pertama hehe, sama-sama Zel" jawab Rara dengan tersenyum.
"Ekhem dilepas dulu boleh kali ya tangannya" sahut pria yang berdiri disamping Hazel.
Kenzo menatap santai sahabatnya itu. "Kenapa? kau tidak bisa kan bermesra-mesraan dengan pasangan? sudah yang jomblo diam saja"
Mendengar ucapan sahabatnya, Malik menatap kesal Kenzo. "Lihat aja sebentar lagi gue bakal pegang tangan seseorang dan pastinya akan lebih mesra dari pada lu, yakan Zel?" ucap Malik dengan menyenggol Hazel disampingnya.
Hazel yang tau apa arti teman kakanya langsung menatap tajam Malik. "Apaan gue udah punya gandengan jadi mending kaka cari yang lain aja"
Nampak timbul rautan cemberut dari Malik. "Nolak ceritanya? tenang aja aku bakal kejar kamu ko sampai gandengan kamu itu lepas dari kamu"
Rara menggelengkan kepalanya menatap kedua orang dihadapanya, mereka sepertinya setiap ketemu terus saja berantem mungkin jodoh?
"Lebih baik kita masuk saja disini dingin, nanti kau kedinginan" ucap Kenzo mengajak Rara masuk kedalam.
"Jomblo mah bisa apa? pelukin angin aja gabisa apa lagi pelukin kamu" sahut Malik menatap Hazel dengan wajah cemberut.
▫▫▫▫▫▫▫▫
__ADS_1
Trimksih sudah membaca❤