My Devil Possessive

My Devil Possessive
Celaka


__ADS_3

Dua orang itu masih berdiri tak jauh dari pintu kamar Rara. Lia seperti sedang memikirkan sesuatu diikuti Agnes.


"tante pusing ah Nes" ucap Lia dengan melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada diujung sana.


Agnes mengikuti langkah Lia dibelakang.


"Kamu ngapain ngikutin tante" lanjut Lia dengan menatap Agnes yang mengikutinya.


Agnes menunjukan deratan gigi putih nya ke hadapan Lia. "Kirain tante mau ngasih tau rencananya di kamar tante"


Lia menatap malas Agnes. "Tante juga banyak pikiran Nes, udah lah nanti kita pikirin lagi"


Lia melanjutkan langkahnya namun Agnes hanya diam tak berniat mengikuti Lia lagi.


Huh! Aku akan memikirkan nya sendiri


Agnes bergerak melangkah menuju lantai bawah. mungkin sedikit air es akan menjernihkan pikirannya.



Aaaa malunya!


Rara kesal sekaligus malu ketika para maid datang dan ada juga dokter yang memeriksanya seakan dia terluka parah. Dia kesal pada Kenzo, sudah dibilang hanya goresan kecil tapi kenapa ia malah memperbesarnya.


"Kaka ipar lagi mikirin apa?" Hazel masih duduk di samping Rara dengan pandangan yang menghadap kaka iparnya.


"Ah gapapa ko Zel"


Hazel mengangguk percaya, sebenarnya ia ingin kekamarnya karna Hazel belum mengganti pakaiannya ketika baru pulang sekolah tadi namun kakinya terasa berat untuk melangkah.


"Zel kamu ga ganti baju?" lanjut Rara melihat adik iparnya yang masih menggunakan putih abu ini.


"Mager ahk ka, pengin duduk dulu sebentar gapapa kan ka?" tanya Maura yang langsung di angguki Rara.


"yang lama juga gapapa" jawab Rara.


DrttDrtt


Tuan kejam my calling...


Rara menatap handpone nya yang bergetar di atas kasur tak jauh dari dirinya.


Hazel pun mengikuti arah pandang kaka ipar nya ke ponsel tersebut.


"Tuan kejam?"


Mendengar Hazel berucap, dengan cepat Rara mengambil ponsel tersebut dan menyembunyikannya ditangannya.


"Kamu salah baca Zel" ucap Rara mengelak.


Hazel binggung, ia salah baca atau memang tulisannya begitu? Karna handpone itu memang jauh darinya tapi mata Hazel cukup jeli melihat tulisan itu.


Rara langsung mengangkat sambungan itu dan menempelkannya pada telinganya.


"Hallo?"


"Sudah diobati?"


"Tuan mengapa tuan memanggil dokter? Aku sudah bilang jika aku hanya tergores, bukan terluka parah" ngomel Rara pada si penelpon di ujung sana.


"Hey! Kau memarahi ku?"


"Eh bukan begitu tuan" jawab Rara.


"Ck! Aku hanya menghawatirkan mu! Aku hanya tidak ingin kau kenapa-napa"


Deg!


Hatinya yang mendengar itu langsung menghangat, apa tuan mudanya memang menghawatirkannya?


"Tu..an? Kau-"


"Aku tidak ingin kau meninggal sebelum membayar hutang-hutang ayahmu itu padaku"


Rara merasa jengkel pada Kenzo padahal hatinya sudah berbunga-bunga mendengar bahwa tuan mudanya menghawatirkannya tapi malah ternyata ada maksud lain dari ke-khawatiran itu.


"Tuan tenang saja aku tidak akan meninggal sebelum membayar hutang ayahku!"


Hazel membulatkan matanya mendengar ucapan dari kaka iparnya itu. Hutang? Maksudnya?


Seaakan sadar ia berbicara apa, Rara langsung menatap orang sebelahnya.


Hazel hanya diam memandangi Rara, pikirannya masih memikirkan apa yang dimaksud dari kaka iparnya.


"Tuan maaf aku akan menelpon mu nanti" Rara segera mematikan sambungan itu.


Denga mata yang masih mengarah ke Hazel, Rara memikirkan jawaban apa yang akan Hazel tanyakan nanti.


"Hutang? Apa maksud kaka ipar?"


Rara yakin jika dikeluarga ini tidak ada yang tau bahwa ia menikah dengan Kenzo hanya karna hutang bukan karna cinta.


"Jadi gini Zel hm" Rara binggung akan menjawab apa pertanyaan Hazel padanya, jujur ia takut Hazel akan menjauhinya jika tau yang sebenarnya.

__ADS_1


"Ayo ka jawab pertanyaan Hazel" sahut Hazel.


"Maaf Zel sebenarnya aku menikah dengan tuan muda karna hu..tang ayahku" jawab Rara jujur.


Rara masih menatap Hazel yang juga diam menatapnya.


"Jadi ucapan momy bener? Kalo kaka ipar cuma mau uang ka Kenzo aja?"


Rara menggeleng keras, itu semua tidak benar dia hanya dijadikan jaminan oleh ayahnya tidak lebih dari itu.


"Aku ga nyangka sama kaka ipar" Hazel menatap dalam Rara, ada rasa kecewa di hati Hazel mendengar tuturan Maura.


Sebenarnya ia juga curiga karna kakanya mengadakan pernikahan mendadak dengan wanita yang dihadapannya, ia kira mungkin mereka sudah saling percaya dan mencintai tapi kenyataannya berbeda.


"Bukan gitu Zel, aku-"


Hazel mengeluarkan air dari matanya yang sudah memerah. Dengan cepat Hazel memeluk kaka iparnya.


Rara yang menerima pelukan itu hanya diam tapi tak lama ia juga membalas pelukan dari Hazel.


"Hiks, kaka ipar pasti tertekan ya?"


Apa?


Rara masih binggung arah pembicaraan Hazel.


Hazel langsung melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang sudah mengering dikelopak matanya.


"Hiks pasti hiks kaka ipar terpaksa menikah dengan ka Kenzo hiks" ucap Hazel dengan sesegukan.


Rara tersenyum, ia salah menilai sikap Hazel ternyata setelah mengetahui ini semua bukannya adik iparnya itu marah malah ia menunjukan rasa kasihan pada Rara.


"Ga ko Zel, aku ga tertekan sama sekali" ia hanya coba menenangkan adik iparnya dengan ucapannya itu.


"Aku harap kaka ipar bisa cinta sama ka Kenzo" ucapan Hazel membuat Rara terdiam. Tidak dia tidak boleh mencintai Kenzo, jika sampai perasaannya tumbuh maka itu akan membuatnya lebih menderita.


"Ga Zel, disini aku hanya jaminan ayahku. Setelah hutang-piutang itu selesai aku akan pergi dari sini" ucapannya itu mampu membuat hati nya sakit, entah lah rasanya ia tidak ingin meninggalkan rumah ini atau tidak ingin meninggalkan Kenzo?


Hazel terpaku mendengar ucapan Rara. "cepat atau lambat aku yakin kaka ipar bisa cinta sama ka Kenzo dan juga sebaliknya" jawab Hazel dengan yakin. Ia sudah nyaman dengan kaka iparnya yang sekarang.


Dengan langkah berat Hazel meninggalkan Rara dikamarnya, ia ingin sekali berganti pakaiannya karna sudah terasa lengket ditubuhnya.


Rara diam menatap kepergian Hazel, ia yakin jika ucapan adik iparnya hanya sebatas angan-angan. Mana mungkin ia bisa mencintai pria kejam seperti itu.


Ingat perilakunya tadi yang mematikan sambungan telpon Kenzo sepihak, dengan segera ia menelpon balik suaminya. Bagaimana pun tadi Rara mengatakan jika akan menelponnya kembali.


"Sudah berani ya kau padaku!"


Baru saja telpon itu tersambung, Rara sudah mendengar erangan dari Kenzo.


"Apa? Kau akan mengatakan jika kau sibuk iya?"


Rara memajukan bibirnya, suka sekali sepertinya tuan mudanya memotong pembicaraannya tadi.


"Tadi saja tuan mematikan telpon ku" padahal tadi juga Kenzo mematikan sepihak sambung Rara, tapi ia tidak marahkan? Tetapi kenapa malah sekarang Kenzo marah?


"Niat ku baik mematikan sambungan itu untuk menelpon dokter dan maid yang tidak menjagamu dengan baik!"


Selama Kenzo berucap, mulut Rara mengikuti ucapan dari tuan mudanya. Kapan lagi ia bisa mengejek tuan mudanya.


"Heh! Kau mengejek ku? Tutup mulut mu itu"


Mendengar itu Rara langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah penjuru kamar. mengapa tuan nya tau? Apa jangan-jangan tuan mudanya memiliki semacam sihir? sehingga mengetahui apa yang dilakukan Rara barusan.


"Tuan me..ngapa tau?"


"Ck! aku hanya menebaknya tadi ternyata benar, awas saja kau! ketika aku pulang aku tidak akan membiarkan mu keluar dari kamar!"


Apa tuan akan mengurungnya seperti ibu tiri yang mengurungnya digudang? terus tidak memberikan makan sore dan makan malam? mengingat masa lalunya itu membuatnya takut, padahal ia tidak melakukan kesalahan apa-apa tapi mengapa ia dikurung.


"Aku bukan pembawa berita yang hanya menyampaikan dan didengar mengapa kau tidak menjawab ku!" lanjut Kenzo.


Rara memutar matanya dengan malas.


"Hahaha aku tau tuan bukan pembawa berita" mana mungkin ada pembica berita seperti tuan, dilihat saja sudah menakutkan sudah kayak harimau yang akan memakan mangsanya haha.


"Tidak ada yang lucu" ucap dingin Kenzo.


"Serius sekali tuan ini, aku kan hanya bercanda" kekeh Rara.


"Bercanda mu itu tidak lucu"


"Sudah mau malam, apa tuan tidak ingin makan malam?" ucap Rara mengalihkan pembicaraan.


"Apa kau sudah makan?" tanya balik Kenzo.


"Belum tuan" ya memang sedari tadi Rara belum makan, minuman tadi pun jatuh sebelum ia meminumnya.


"Yasudah kau makan sana"


"Tuan juga jangan sampai lupa makan"


Walau ucapan Kenzo tidak ada romantis-romantisnya tapi perhatian tadi yang membuat hatinya seakan melayang diudara.

__ADS_1


"Aku tidak sepikun kau, mana mungkin makan saja aku lupa"


Rara cukup sabar meladeni jawaban dari tuannya bagaimana pun Kenzo adalah suami nya jika ia melawan pasti dosa yang ia dapatkan.


"Umurku baru saja 20 tahun tuan, aku tidak mungkin pikunan" jawab Rara, enak saja ia dibilang pikunan.


"Kalo kau tidak pikun mengapa kau keluar rumah tidak meminta izin padaku hm?"


Telak. pertanyaan itu membuat Rara bungkam seketika.


"Maaf tuan, aku lup..a" tuannya ini jauh dari rumah, tapi mengapa Kenzo bisa tau jika ia kelur rumah tadi pagi?


"Jadi ucapan ku memang benar bukan?"


"Iya tuan kau selalu benar, dan aku selalu salah dimatamu" besok mungkin Rara akan pindah ke hidung tuan mudanya jika dimata Kenzo dirinya selalu salah.


"Kau ini suka sekali ya memuji ku"


Memuji katanya? padahal perkiraan Rara, Kenzo menjawab dengan kata-kata romantis seperti "sudah aku yang salah, kau jangan berbicara seperti itu bagaimana pun wanita selalu benar atau jangan merendah kan diri, perkataan itu membuat ku sakit" jika dipastikan Kenzo menjawab itu Rara akan melakukan sujud syukur karna mungkin allah telah membukaan hati dari seorang Kenzo.


"Aku akan makan malam tuan, dilanjutkan nanti saja" ia ingin cepat-cepat mematikan sambungan itu.


"Yasudah sana, jangan merindukan ku ya" balas Kenzo dengan kepedean.


"Baik tuan" setelah mengucapkan itu, tidak ada suara lagi yang menjawabnya.


Rara menatap layar handpone nya yang masih tersambung pada telpon itu.


"Tuan?"


"Apa?! kau bilang akan makan yasudah sana atau jangan-jangan kau masih merindukannku?"


Rara menggeleng menjawab ucapan Kenzo, walaupun tau pergerakan kepalanya tidak akan diketahui Kenzo.


"Tidak" segera Rara mematikan sambungan itu, ia kira tuan mudanya akan memutuskan terlebih dahulu tapi ternyata malah menunggu Rara yang memutuskannya.


Karna hari mulai gelap, Rara keluar dari kamarnya untuk makan malam.


Ketika berjalan ia melihat Agnes yang berdiri didepannya dengan tersenyum lebar, Rara tidak tau apa itu senyuman tulus atau bukan.


Agnes berjalan mendekati Rara yang nampak diam disana sembari menatap kearahnya.


"Hey kaka ipar, aku tadinya akan mengajakmu untuk pergi ke meja makan bersama-sama" ucap Agnes dengan maksud terselubung didalamnya.


"Benarkah?" jawab Rara.


"Iya, tapi ketemu duluan disini. yaudah ayo kita turun sama-sama"


Rara menatap curiga Agnes, tumben sekali wanita ini bersifat baik seperti ini padanya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, ayo kita turun" lanjut Agnes sembari menatap wajah dari Rara.


Rara mengangguk, mungkin saja Agnes sudah tobat atau sedang memperbaiki diri? kita tidak tahu itu.


"Yaudah ayo Nes" Rara berjalan diikuti Agnes dibelakangnya. tanpa Rara tau Agnes sekarang sedang tersenyum misterius di belakangnya.


Sampai ditangga yang menuju lantai bawah, Agnes mengangkat tangannya kedepan berniat untuk mendorong wanita yang berada didepannya.


Selamat tinggal kaka ipar


Sebelum mendorong Maura, Agnes terlebih dahulu mengecek keadaan sekitar sini ketika merasa tidak ada yang melihatnya dengan segera Agnes melakukan rencananya.


Rara membulatkan matanya ketika badannya terdorong kearah depan yang adalah tangga menuju lantai bawah. Ia tidak bisa menyeimbangkan tubuh nya saat ini.


Tubuh Rara jatuh terguling di tangga, ia hanya memejamkan kedua matanya berharap ada yang membantunya tapi mungkin doanya saat ini tidak terkabulkan hingga tubuhnya lunglai di lantai bawah.


Tuan tolong


Batin Rara sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya.


Agnes yang melihat itu tersenyum miring, rencananya berhasil sekarang untuk melenyapkan perempuan itu. sebelum ada yang melihatnya, Agnes segera pergi ke kamarnya tanpa berniat membantu Rara yang sedang tidak sadarkan diri dibawah sana.


Tak lama Hazel yang merasa lapar segera keluar dari kamarnya dan turun menuju dapur, alangkah kagetnya ketika melihat Rara tergeletak dibawah sana.


"Kaka ipar!!" Hazel menuruni tangga dengan cepat, ia memangku wajah Rara di pahanya, berniat membangunkan wanita itu.


"Kaka ipar!! Bangun!" Hazel mencoba menepuk pipi Maura tapi tak kaka iparnya itu tidak kunjung bangun.


Disana terlihat jelas luka yang mengeluarkan cairan berwarna merah dari kepala Rara dan juga hidungnya. merasa kaka iparnya tidak baik-baik saja Hazel dengan cepat mengambil handpone yang biasa ia taruh di saku celananya dan menelpon ambulance.


"Pak bisa jemput ke arah perumahan Xander sekarang ya pak! cepat!"


Setelah mengatakan itu Hazel mematikan sambungan itu dan memasukan kembali ponselnya kedalam saku.


"Bibi!!! Pak satpam! Momy! Ka Agness tolongg!" ia heran mengapa disini nampak sepi dimana mereka semua?


"Kaka ipar bangun hiks" Hazel menangis, ia takut kaka iparnya kenapa-napa karna cairan merah itu terus saja mengalir tanpa henti.


"Bibi!! tolong!!" teriak Hazel kali ini mungkin suaranya berhasil karna semua penghuni rumah ini mulai berdatangan kearahnya.


"Astagfirullah nona Maura kenapa non?" ucap kepala maid menghampiri Hazel yang nampak sesegukan itu.


Bisur langsung menyuruh para maid membawakan kotak obat yang berisi perban untuk sedikit menutup cairan merah itu agar tidak keluar terus-menerus.

__ADS_1


▫▫▫▫▫


Trimksih sudah membaca^^


__ADS_2