My Devil Possessive

My Devil Possessive
Bonus part 5: lahiran


__ADS_3

Part ini panjang jadi pelan-pelan aja bacanya ya, karna ini part terakhir hehe. Sekaligus sebagai tanda perpisahan :'∆


__


Tak terasa hari pun kian cepat. Sekarang usia kandungan Rara sudah memasuki 9 bulan yang artinya sebentar lagi Rara akan melahirkan calon anak ketiganya ini, mungkin hanya tinggal menunggu beberapa hari saja.


Sekarang Rara sedang berada didapur. Sebenarnya Kenzo sudah melarangnya untuk pergi kedapur namun Rara tetap pergi kesana karna ia memiliki 2 anak yang harus diberi makan. Ya, kedua anaknya itu tidak mau sarapan jika tidak dibuatkan bubur olehnya alhasil sampai saat ini Rara masih memasakkan bubur untuk Keyla dan Kevin.


Walau Rara sudah memberikan contoh dan resep buatan buburnya pada salah satu maid namun tetap saja rasanya berbeda dilidah kedua anak itu, pernah Rara memberikan bubur pada Keyla dan Kevin dan berucap jika bubur itu buatannya padahal itu adalah buatan salah satu maid tapi walau sudah mengaku jika itu buatannya sendiri, Keyla dan Kevin tau jika bubur itu bukan buatan Rara, beda rasa katanya. Padahal jelas-jelas saat Rara menyobanya itu mirip sekali dengan bubur buatannya namun Keyla dan Kevin tetap tau mana yang buatanya dan mana yang bukan buatannya walau menurut Rara rasanya tetap sama.


Hari masih pagi, dilihat dari keadaan sekitar. Hanya ada beberapa Maid yang sudah terbangun dan menjalankan tugasnya sedangkan yang lainnya masih membersihkan diri mereka masing-masing.


Rara tersenyum dengan mengelus perutnya pelan, sebentar lagi anak diperutnya akan lahir. Untuk jenis kelaminnya mereka belum tau karna Rara dan Kenzo sepakat tidak ingin mengetahui dan menjadikan itu suprise saat lahir nanti. Tapi Rara sudah memiliki tebakkan nya sendiri didalam hati namun itu juga dirinya yakin tak yakin.


Kedua anaknya pun ikut menebak-nebak jenis kelamin adiknya walau Rara tau Kevin masih tidak terlihat senang akan memiliki adik. Kevin memang tidak senang jika dirinya melahirkan lagi, menurut anak itu pasti Rara akan mengalihkan semua kasih sayang dan perhatiannya pada adiknya dan mengabaikan Kevin dan Keyla suatu hari nanti.


Tapi Kenzo dan Rara tetap memberikan nasehat untuk Kevin, mereka tidak mungkin mengabaikan Kevin dan Keyla. Bagaimanapun Keyla dan Kevin adalah anaknya juga yang artinya harus diberikan kasih sayang dan perhatian yang sama.


Saat bubur sudah jadi Rara pun menaruh bubur itu dimangkuk kecil. Rara tersenyum menatap bubur buatannya yang sudah jadi, ia mengangkat bubur itu dan berjalan menuju meja makan.


Saat berjalan tiba-tiba saja Rara merasakan perutnya sedikit sakit. Ia tau rasa ini karna Rara pernah merasakan sebelumnya.


"Huh huh." Rara berjalan menuju meja makan untuk menaruh mangkok tersebut. "Mas!!" Rara mencoba untuk meminta bantuan karna perutnya semakin sakit.


"Mas! Bibi!!" Rara masih mencoba memanggil mereka. Entah kenapa keadaan disini mendadak sepi.


"Aduh Nona, Nona akan melahirkan ya?" beberapa maid mendekati Rara, sebagian dari mereka pun memanggil Kenzo untuk memberitahu pria itu jika Rara sebentar lagi akan melahirkan.


Rara menduduki salah satu kursi dengan masih mengatur nafasnya pelan. Tangannya mengelus perut buncitnya itu.


Tak lama seorang pria tampan datang dengan wajah paniknya. Ia menghampiri Rara dan mendekat kearah wanita itu.


"Mas, sakit." keluh Rara dengan menatap pria yang sudah berada dihadapannya.


Kenzo menampakkan wajah panik. Ia binggung sekarang harus melakukan apa. Dirinya mendadak menjadi bodoh sekarang. "Ka-kau masih kuat berjalan? atau mau ku panggilkan ambulance?" tanyanya panik.


Rara terkekeh dalam hati melihat wajah dari Kenzo. Pria itu nampak panik dengan wajah yang cukup lucu membuatnya terkekeh.


"Gak usah pake ambulance segala Mas, lagian aku masih kuat jalan kok." walau perutnya masih terasa sakit namun ini belum seberapa menurutnya.


"Ck! kau bilang tadi kau kesakitan! Sudah ku bilang lebih baik kau diam dikamar tidak usah berbuat apa-apa didapur, Jadi seperti ini kan!" tajam Kenzo.


Kenapa pria ini jadi marah-marah?!


Rara bangkit dari duduknya dengan perlahan. "Aku sakit itu karna mau lahiran Mas! bukan karna aku kedapur." kesal Rara, ia seketika lupa dengan rasa sakit diperutnya.


"Hey! kau duduk saja jangan banyak bergerak agar anakku tidak lahir disini!" Kenzo menatap para maid yang mulai berkumpul disini. "Kalian ngapain masih disini?! cepat suruh supir menyiapkan mobil!"


Mereka terlihat masih terdiam disana. Mereka menjadi ikut panik dan bingung.


"CEPAT!"


Mendengar nada sentakan membuat mereka langsung berhamburan untuk melaksanakan perintah dari Tuan Mudanya.


"Kau tenang, jangan panik. Kita akan kerumah sakit sekarang."


Rara terheran-heran. Sedari tadi dia tenang-tenang saja malah pria dihadapannya ini yang terlihat panik.


"Iya." pelan Rara, ia terduduk kembali dikursi untuk menunggu supir menyiapkan mobil.


"Kau masih kuat berjalan?" tanya sekali lagi Kenzo masih dengan wajah paniknya.


Rara hanya mengangguk pelan.


Tiba-tiba datang seorang maid dari arah luar dengan tergesa-gesa. "Mobil sudah siap Tuan." ucap maid tersebut dengan menunduk.


Kenzo lantas menatap wanitanya yang nampak terlihat sedikit kesakitan membuatnya tidak tega. Dengan cepat Kenzo mengangkat tubuh Rara dari depannya untuk menggendong wanita dan berjalan cepat menuju keluar.


Rara yang mendapatkan perlakuan mendadak itu sempat kaget namun tak lama Rara langsung mengalungkan tangannya dileher Kenzo. Untuk apa tadi pria ini bertanya tentang dirinya masih bisa berjalan atau tidak? jika akhirnya Kenzo malah menggendongnya.


Sampai didepan mobil Kenzo menurunkan Rara dan membantu wanita itu untuk masuk kedalamnya diikuti dirinya yang duduk disamping Rara.


Rara terduduk dikursi penumpang dengan mengelus perutnya pelan dan mengatur nafasnya perlahan.


Supir mulai menyalakan mobil dan melajukannya untuk langsung menuju kearah rumah sakit terdekat disini.


Kenzo memegang tangan Rara erat seakan memberi kekuatan untuk wanita itu. Ini kali pertamanya ia menemani istrinya lahiran, ia binggung akan senang apa sedih melihat kondisi Rara yang sejarang. Senang karna ia sebentar lagi mendapatkan anak ketiga, sedih karna melihat Rara yang nampak kesakitan.


"Ck! apa tidak bisa cepat dikit membawa mobilnya?! kau tidak tau istriku kesakitan! cepatkan mobilnya!" Kenzo menatap tajam supir didepannya membuat pria tua itu mengangguk dan lantas mencepatkan laju mobilnya.


Mobil Kenzo melaju dengan cepat membuat Kenzo kembali menatap supirnya. "Hey! kau mau membunuhku dan istriku?! jika kau menjalankan mobilnya seperti ini kau malah akan melukai istri dan calon anakku! pelankan jalannya!"


"Ba-baik Tuan." supir itu hanya pasrah. Ia tau bagaimana paniknya Tuannya itu jadi ia tidak apa-apa disalahkan terus menerus asal nyawanya masih utuh.


Jalanan di Ibu kota ini cukup padat membuat mobil yang di tumpangi Rara dan Kenzo mengalami kesulitan untuk mencepatkan laju jalannya sedangkan rumah sakit masih cukup jauh dari keberadaan mereka sekarang.


"Sialan! mengapa jadi macet seperti ini!" Kenzo menatap jalan raya didepannya lalu melirik sekilas Rara dengan wajah tegangnya.

__ADS_1


Rara terkekeh melihat Kenzo sekarang. "Tenang Mas, jangan panik gitu."


"Bagaimana aku tidak panik?! kau kesakitan seperti ini, aku takut terjadi sesuatu padamu dan anakku."


Sebenarnya saat check-up kemarin perkiraan lahiran Rara adalah minggu depan tapi nyatanya salah. Ia malah akan melahirkan hari ini jadi mereka belum memiliki persiapan.


"Aku akan baik-baik saja," Rara tersenyum dengan mengelus lengan kanan Kenzo membuat Kenzo terdiam.


___


"Woah Rame banget, ada apa nih?" ucap Hazel dengan suara khas orang baru bangun. Ia menatap beberapa maid yang masih berkumpul di ruang tamu, entah sedang apa menurutnya.


"Nona Maura, Non." ucap salah satu maid.


"Kakak Ipar?!" mendengar nama Kakak Iparnya membuat mata Hazel yang masih sedikit terpejam langsung melebar seketika. "Kakak Ipar kenapa?"


"Nona Maura akan melahirkan, Non. Sudah dibawa kerumah sakit tadi."


Wajah Hazel sudah menggambarkan ekspresi tak percaya. Ada rasa bahagia sekaligus was-was dengan kondisi sang Kakak Ipar nantinya.


"Semoga Kakak Ipar sama calon keponakan ketiga bakal sehat-sehat aja." gumam Hazel dengan tersenyum tapi tak lama ia merubah wajahnya menjadi panik.


"Kakak Ipar mau lahiran!" lanjut Hazel dengan suara keras membuat para maid disana sedikit terkaget. "Mommy! cucu ketiga mau lahir!!"


Hazel berlarian menuju lantai atas untuk memberitahu Lia namun sebelum sampai dikamar Lia tiba-tiba saja ada kedua anak kecil yang berlari menghampirinya.


"Cucu ketiga na siapa Aunty?" tanya Keyla dengan wajah polosnya.


Hazel lantas mengulas senyum lebar. "Cucu ketiga, adik kalian bentar lagi mau lahir. Aaa! gak sabar kira-kira jenisnya apa ya? cewe lagi apa cowo lagi?" Hazel sudah membayangkan bagaimana rupa sang keponakan nanti. Apa wajahnya akan mirip dengannya? semoga saja mirip dengannya.


"Dedek bayik na mau lahilan ya? Keyla mau liat!" Keyla siap untuk berlari menuju lantai bawah namun sebelum itu Hazel mencegah anak perempuan itu untuk berjalan.


"Eh kamu belum mandi loh. Jadi mending kalian mandi dulu baru kita nyusul Mamah kalian ke rumah sakit, oke?"


Kedua anak itu mengangguk serempak lalu berjalan kembali menuju kamar. Hazel memanggil para babysister untuk membantu kedua ponakannya mandi. Ia akan bersiap-siap dengan memberitahu Lia jadi dirinya tidak bisa ikut membantu kedua anak itu.


Setelah memastikan Keyla dan Kevin bersama Babysister, Hazel pun segera berlari kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Lia.


Toktoktok!


"Mommy!!! ayo buka pintunya!"


Tak lama berteriak dan mengetuk-ngetuk pintu akhirnya pintu dihadapan Hazel terbuka menampilkan sesosok wanita berusia yang nampak sudah rapih.


"Kenapa sih Zel? teriak-teriak terus. Kamu ini perempuan seharusnya feminim biar banyak yang suka sama kamu. Kalo gini terus kamu kapan coba dapet jodohnya?" ucap Lia panjang lebar membuat Hazel terdiam.


"Jodoh urusan belakang Mom, sekarang kita urus dulu kelahiran Kakak Ipar!"


Mata Lia langsung membulat. "Apa? Kakak Ipar kamu itu mau lahiran?!" ada rasa senang didalam hatinya karna sebentar lagi dirinya akan memiliki cucu ketiga namun ia gengsi memperlihatkan wajah bahagianya.


"Yasudah kamu cepat bersiap sana. Kita kerumah sakit sekarang." ucap Lia dengan menutup kembali pintu kamarnya.


___


Sampai dirumah sakit Kenzo langsung membantu Rara untuk turun dari mobil dan naik ke brankar rumah sakit. Brankar rumah sakit ini sudah tersedia disini karna sebelum Kenzo dan Rara sampai kerumah sakit terlebih dahulu bawahan Kenzo mengabari pihak rumah sakit jika Maura akan melahirkan.


Brankar yang ditiduri Rara berjalan dengan beberapa suster dan diikuti Kenzo disampingnya.


"Kau tenang ya? aku tau kau pasti bisa." Kenzo tersenyum menatap Rara.


Wanita hamil itu hanya mengangguk pelan.


Sampai didepan ruangan Rara pun segera dibawa masuk kedalamnya.


"Maaf Tuan, Tuan dilarang masuk." salah satu suster menghentikan Kenzo yang akan mengikuti Rara masuk.


Kenzo langsung menatap tajam suster itu. Enak saja dirinya tidak boleh masuk. "Siapa kau beraninya menyuruhku agar tidak ikut masuk?! aku ingin menemani istriku! jadi kau jangan melarangku!"


"Maaf Tuan, ini sudah prosedurnya. Kita akan lihat dulu kondisi Nona Maura. Jika Nona Maura sudah siap untuk melahirkan, kami akan segera memanggil Tuan," setelah mengatakan itu suster tadi menutup pintu ruangannya.


Dug!


Kenzo meninju pelan dinding dihadapannya. Ia terduduk dikursi dengan wajah paniknya. Ia takut sekarang, ia takut jika wanitanya akan meninggalkannya untuk kedua kalinya.


Beberapa Bodyguard berjaga disekitar Kenzo. Mereka berdiri tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat juga dengan Kenzo.


Hans sudah berada di samping Kenzo sekarang. Pria itu langsung meluncur kerumah sakit ketika mendengar istri dari Tuannya akan segera melahirkan. Ia terdiam dan berdiri dengan hati yang berdoa agar Nona mudanya baik-baik saja.


"Kakak dimana?!"


Kenzo menatap sekilas asal suara itu lalu ia kembali menunduk dengan kedua tangan yang terkepal diatas lututnya.


"Disana Nona, Nyonya."


Hazel dan Lia yang baru sampai itu langsung berjalan mendekat kearah Kenzo yang terduduk dikursi ruang tunggu.


Sampai disana Lia duduk disamping Kenzo. Ia tau bagaimana rasa yang dirasakan anak pertamanya ini.

__ADS_1


"Kamu tenang aja. Mommy yakin istrimu itu kuat, kita berdoa saja semoga Ibu dan Bayinya baik-baik saja," Lia tersenyum dengan mengelus pelan tangan Kenzo.


Kenzo menghela nafasnya pelan. Ia tidak boleh berfikir negatif. Dirinya yakin Rara akan baik-baik saja.


Keyla dan Kevin hanya terdiam. Mereka tidak tau apa yang terjadi. Mereka hanya tau adik yang dikandung Mamahnya akan lahir tapi mereka tidak tau bagaimana proses dan lahirannya.


Ceklek!


"Tuan Kenzo? Nona Maura meminta anda masuk untum menemaninya." suster yang berada didalam tadi tiba-tiba saja keluar dan berbicara dengan menatap Kenzo.


Kenzo lantas bangkit dan berjalan masuk kedalam ruangan itu. Ia melihat Rara yang sudah tertidur disebuah kasur ditengah ruangan.


"Mas." Rara tersenyum manis menatap Kenzo yang berjalan mendekatinya.


Ketika sudah sampai disamping Rara, Kenzo tersenyum dan mengelus puncuk wanitanya. "Aku akan menemanimu sayang."


Rara mengangguk dengan wajah yang masih tersenyum.


Dokter perempuan tiba-tiba datang menghampiri Rara dengan beberapa alat ditangannya. "Nona Maura apa sudah siap? ikuti intruksi dari saya ya."


Situasi mendadak jadi tegang. Rara mengikuti setiap intruksi dari dokter dihadapannya dengan tangan yang digenggam Kenzo erat. Pria itu memberi kekuatan untuk wanitanya.


___


Beberapa jam sudah terlewati namun rasa tegang dan gugup masih tercetak jelas dari beberapa orang yang menunggu didepan ruangan Rara.


"Rasanya melahirkan sakit gak sih Mom?" tanya Hazel pada Lia yang terduduk disampingnya.


"Sakit banget Zel, antara hidup dan mati." kekeh Lia membuat Hazel terdiam seketika.


Hidup dan mati?!


Hazel membayangkan dirinya kelak ketika menikah dan mengandung nanti. Apa dirinya juga akan merasakan hidup dan mati?


Kasian Kakak Ipar. Aku gak jadi deh minta banyak-banyak keponakan kalo gini. Kasian Kakak Ipar, lima aja cukup kayaknya


Hazel menunduk dengan memainkan ponselnya sembari menunggu yang berada didalam. Ia memanjatkan doa semaksimal mungkin untuk kelancaran proses lahiran Kakak Iparnya.


Tak lama mereka tiba-tiba mendengar suara bayi dari arah dalam ruangan. Mereka langsung mengucapkan rasa syukur.


"Yee!" Hazel menatap Keyla dan Kenzo yang berada disamping kirinya. "Adik kalian udah lahir." ucapnya dengan gembira.


Keyla dan Kevin ikut tersenyum. Mereka sebenarnya kurang mengerti dengan Aunty nya itu namun mereka hanya ikut tersenyum karna melihat semuanya tersenyum.


__


Setelah melahirkan dan bersih-bersih, Rara langsung dipindahkan ke ruang rawat. Tak butuh waktu lama untuk Rara pemulihan dari proses melahirkannya karna sekarang ia sudah terduduk dengan menggendong bayinya ditempat tidurnya.


Kenzo tersenyum menatap Rara dan anaknya yang baru lahir ini.


"Welcome to baby," Kenzo mendekat kearah anaknya dan mencium pelan kening anak itu.


Hazel tersenyum melihatnya. Ia sedari tadi asik mengabadikan momen bahagia ini dengan camera dihandponenya.


"Ye! ponakan dapet satu lagi. Cowo lagi keponakannya, hihi lucu." gumam Hazel dengan memposting beberapa foto yang diambilnya tadi dan memberi caption yang tadi diucapkannya.


Ya! anak yang baru dilahirkan Rara berjenis kelamin laki-laki membuat Lia dan Kenzo senang karna pewaris mereka bertambah. Lia sudah sibuk memberi tahu teman-temannya jika dirinya memiliki cucu lagi lain dengan Keyla dan Kevin yang diam digendongan bodyguard yang berdiri didekat pintu. Kedua anak itu tidak ingin mendekat karna masih takut dengan adiknya yang baru lahir.


Kenzo tersenyum dan mendekat kearah wajah Rara, Ia mengecup kening sang wanita.


"Terimakasih telah melahirkan anakku dan bertahan disampingku. Aku harap kita akan selamanya seperti ini." pelannya menatap Rara.


"Aku harap begitu." Rara ikut tersenyum.


Cup!


Kenzo mencium bibir manis Rara membuat seluruh orang yang berada diruangan ini terkaget-kaget. Mereka melihat ini secara langsung membuat mereka langsung megalihkan pandangannya dari pasangan suami istri itu.


"Aku menyayangimu dan dia." ucap Kenzo dan mengecup kembali puncuk sang anak. "Keano Reydra Xander." bisiknya.


Rara memerhatikan wajah anaknya. "Hidung mancung, bibir tipis. Ini mirip sama kamu Mas." sahut Rara. Anak ketiganya mirip lagi dengan Kenzo, padahal masih bayi namun wajahnya terlihat mirip sekali dengan pria disampingnya ini.


Kenzo terkekeh pelan mendengar itu. "Artinya kita harus bekerja keras kembali untuk membuat sepertimu sayang."


"Mas!" kesal Rara. Padahal ia baru saja lahiran namun pria itu sudah mengode ingin memiliki anak lagi dengan embel-embel agar mirip dengannya.


"Gapapa Kakak Ipar! aku pengin punya keponakan double cewe, biar kembar cewe begitu! pasti lucu." sahut Hazel dengan bahagia.


Lain dengan Kevin yang sudah menekukkan wajahnya dengan airmata yang mulai turun. "Hiks Kepin ndak mau punya adik lagi! Huwaaa Kepin ndak mau Mamah unya bayik lagi!!!"


Tangisan Kevin membuat bayi yang digendong Rara terusik dan ikut menangis. Ruangan ini terdengar berisik dengan tangisan kedua anak laki-laki yang berbeda usia.


Rara menatap Kenzo dengan lembut seakan mengode untuk menenangkan anak pertamanya itu. Seakan paham Kenzo pun mendekat kearah Kevin yang masih berada pada gendongan bawahannya.


Rara tersenyum. Lantas ia kembali menatap sang anak yang digendongnya. Ayahnya-David, tidak mengakuinya sebagai anak. Ia tidak ingin hal itu terjadi pada anak-anaknya. Ia tidak ingin anaknya bernasib sama sepertinya. Walau Ayahnya itu seakan membenci dan tidak menerimanya namun Rara akan tetap menganggap David sebagai Ayahnya dan semoga saja David suatu saat bisa menerimanya dan menganggapnya sebagai anaknya. Putri satu-satunya dari wanita yang dicintai David dulu.


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2