My Devil Possessive

My Devil Possessive
Rumah sakit


__ADS_3

Salah satu maid masuk kedalam mesion dengan beberapa orang yang membawa brankar dorong untuk membantu Rara masuk kedalam ambulan yang sudah terparkir di halaman depan.


"Bii bantu aku angkat" ucap Hazel pada para maid yang berada disekelilingnya.


Dengan sigap Rara diangkat untuk tidur di brankar itu dan didorong oleh beberapa tenaga medis yang ikut juga untuk memberikan pertolongan pertama sebelum tiba di rumah sakit yang terbilang cukup memakan waktu.


"Hiks hiks kaka ipar" Hazel tak henti-henti nya mengeluarkan airmata ketika melihat Rara yang sudah tak sadarkan diri itu.


Hazel hendak menaiki mobil ambulan itu untuk ikut mengantar Maura, namun dengan cepat BiSur menahan tangan Hazel.


"Non, lebih baik nona Hazel mengganti pakaian terlebih dahulu" sahut kepala maid ketika melihat pakaian Hazel yang terkena cairan merah nona mudanya.


Hazel ingin ikut, ia ingin menemani kaka iparnya namun memang pakaiannya yang kotor mengharuskannya bersih-bersih terlebih dahulu sebelum pergi kerumah sakit.


Dengan cepat Hazel masuk kedalam masion untuk bebersih dan juga mengganti pakaiannya.


Ketika Maura sudah dimasukan kedalam ambulan, mobil rumah sakit itu langsung pergi melaju meninggalkan mesion megah Kenzo diikuti beberapa mobil dibelakannya yang berisi beberapa maid dan bodyguard.


"Loh ini ada apa?" Lia keluar dari kamarnya dan turun menuruni tangga karna tadi ia sempat mendengar keributan dari arah bawah.


Para maid yang sedang membersihkan lantai untuk menghilangkan noda merah tadi langsung mengarahkan pandangan ke arah nyonya rumah ini.


Baru saja salah satu maid akan menjawab, Hazel terlebih dahulu menghampiri momynya dengan muka yang sembab sekarang ia sudah mengganti pakaiannya tadi.


"Momy!!! Kaka ipar hiks" tangis Hazel sembari memeluk Lia yang nampak binggung.


"Wanita itu kenapa?"


"Aku gatau kejadiannya yang jelas hiks tadi pas aku mau turun kedapur hiks aku udah liat kaka ipar gak sadarkan diri di bawah tangga hiks" jawab Hazel dengan sesegukan dan air mata yang masih bercucuran.


Lia membulatkan matanya mendengar jika wanita itu celaka. tidak mungkin kalo Maura terpeleset atau terjatuh sendiri ditangga? pasti ada yang tidak beres dengan semua ini. seketika Lia mengingat nama ponakannya.


"Sekarang kamu mau kemana?" tanya Lia.


Hazel sekarang memakai kaos hitam dan juga jelana lepis tak lupa juga tas yang menggantung di tangannya. "Aku mau nyusul hiks kaka ipar mom ke rumah sakit hiks momy ikut ayo"


Lia mengangguk " kamu duluan aja Zel momy mau ke sepupu kamu itu dulu siapa tau dia mau ikut"


Hazel menjawab dengan anggukan dan langsung pergi melesat ke rumah sakit yang membawa Maura.


Pasti karna anak itu!


Sebelum Lia berbalik, ia memperhatikan beberapa maid yang masih berdiri di hadapannya "Kenzo sudah tau?" tanya Lia.


Para maid disana hanya menggeleng "kami belum ada yang memberitahu tuan muda nyonya"


"Yasudah jangan sampai Kenzo tau!"


Setelah mengucapkan itu Lia langsung pergi keakeatas untuk menuju kamar Agnes berada.


Toktoktok!


"Nes ini tante!" teriak Lia dari luar pintu kamar Agnes.


"Masuk aja tan"


Lia bergegas masuk kedalam kamar itu dan menutup kembali pintunya dengan rapat.


Lia menghampiri Agnes yang nampak santai duduk sembari memakan beberapa cemilan disebelahnya.


"Nes jawab tante jujur, kamu kan yang dorong perempuan itu sampe jatuh dari tangga?"


"Iya tante, gimana? ide aku bagus kan sebentar lagi pasti wanita itu lenyap haha" jawab Agnes dengan terkekeh.


Lia hanya diam menatap Agnes, ponakannya ini sepertinya tidak takut sekali dengan kejadian yang akan datang jika Kenzo tau penyebab terjatuhnya wanita itu.


"Nes! kalo Kenzo tau gimana hah!" emosi Lia, ia tidak tau jalan pikiran wanita ini.


Agnes lupa memikirkan hal itu, yang hanya dipikirannya hanya bagaimana caranya melenyapkan Maura itu saja.


"Tap..i tadi pas aku dorong wanita itu, ga ada yang liat ko tan" jujur Agnes takut sekarang. jika Kenzo tau kalo ini perbuatannya pasti Kenzo tak segan-segan memasukannya kedalam penjara atau lebih dari itu?


"Kamu ga tau Nes, setiap pergerakan kita itu dipantau oleh para bawahan Kenzo" jujur Lia, masalah yang ada dirumah ini atau peristiwa dirumah ini selalu diawasi sembunyi-sembunyi oleh para bodyguard yang ditugaskan anak pertamanya.


Penjelasan Lia membuatnya tambah takut, ia tidak mau jika Kenzo tambah membencinya.


"Terus aku harus gimana tanteee" ucap Agnes sembari menggoyangkan tangan kanan Lia untuk meminta pendapat.


"Lebih baik kamu pergi dari sini"


Agnes membulatkan matanya mendengar ucapan Lia "Tante ngusir aku?"


"Tante bukan ngusir kamu sayang, tapi itu baik buat kamu sekarang"

__ADS_1


Agnes diam menatap Lia.


"Kamu harus pergi dari rumah ini sejauh mungkin Nes jangan sampe Kenzo tau keberadaan kamu!" lanjut Lia yang berusaha meyakinkan Agnes sekarang.


Tak lama Agnes bangkit dari duduk nya dan mulai mengemasi pakaiannya ke dalam koper. ya! tante nya benar, sekarang Agnes harus secepatnya pergi dari rumah ini sebelum Kenzo tau semuanya.


Setelah memasuki pakainnya kedalam koper, Agnes segera mengganti pakaiannya didalam kamar mandi.


Lia duduk di kasur itu dengan pandangan menghadap kearah depan.


Walau ia membenci wanita yang sekarang menjadi istri anaknya tetap saja hati nurani seorang mertua sedih melihat menantunya di perlakukan seperti ini.


"Tante" Agnes sekarang berada dihadapan Lia dengan pakaian yang sudah siap diikuti tangannya yang memegangi kopernya itu.


Lia dan Agnes berjalan melangkah keluar mesion, tapi sebelum itu Lia memastikan jika gerak-gerik mereka sedang tidak ada yang mengawasi.


Sampai di pintu belakang mesion Agnes dan Lia saling bertatapan sebelum Agnes pergi melangkah pergi dari mesion ini.


Lia sudah menganggap Agnes sebagai anak kandungnya karna semenjak ponakannya ini memutuskan untuk SMA di jakarta mereka hidup bersama di mesion ini.


"Tante tapi Agnes boleh kan main kesini lagi?" tanya Agnes, jujur ia berat meninggalkan mesion walau ia sudah hidup di apartemennya selama 3 tahun lamanya tetap saja ia akan merindukan rumah dari tantenya.


"Boleh ko sayang boleh, tapi tunggu Kenzo melupakan kejadian ini ya Nes" jawab Lia.


Agnes mengangguk dan segera pamit penyalami Lia sebelum ada yang tau keberadaan nya disini.



"Apa?! sialan!"


Prang!


Hans yang mendengar suara bantingan dari kamar tuan mudanya langsung menghampiri kamar itu.


Ketika membuka pintu kamar Kenzo, yang dilihat Hans sekarang adalah Kenzo sedang berdiri tak jauh darinya sambil menatap tajam padanya.


Brug!


"Dasar! menyuruh para bodyguard untuk menjaga wanitaku saja tidak becus!"


Hans yang mendapatkan tinju dari Kenzo segera memegang bibir nya yang dipastikan terluka karna ulah tinjuan tuan mudanya.


"Maaf tuan atas kelalaian saya" Hans tau pasti terjadi sesuatu dengan nona mudanya sehingga membuat Kenzo semarah ini. hal ini juga membuat kesenangan tersendiri dalam hati Hans karna sekarang ia tau jika tuan mudanya menghawatirkan gadis itu, apa nona mudanya sudah membuat Kenzo cinta padanya?


Yang menelpon Kenzo tadi adalah salah satu bodyguardnya yang ditugaskan untuk menjaga Maura, ia marah karna mendengar jika wanitanya terjatuh dari tangga hingga diharuskan masuk rumah sakit akibat kecelakaan itu.


"Tapi tuan-" sekarang mereka sedang mengurus perusahaan yang hampir saja runtuh karna pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab jika mereka kembali siapa yang akan mengurus ini?


"Tidak ada tapi-tapian! cepat!" perintah Kenzo membuat Hans langsung mengganguk.


Hans keluar dari ruangan itu untuk menelpon pesawat agar segera disiapkan karna mereka akan pulang hari ini. setelah dipastikan selesai Hans bergegas kembali ke ruangan Kenzo untuk memberi tahukan jika pesawat siap sekitar 20 menit lagi dan juga menelpon supir untuk stay di bandara agar cepat mereka sampai di rumah sakit tempat nona mudanya dirawat.


"Sudah siap tuan, sekitar 20 menit lagi pesawat akan lepas landas" ucap Hans.


Kenzo secepatnya mendorong koper yang sudah berisikan baju-baju dan segera pergi menuju bandara diikuti Hans.


Kenzo dan Hans masuk kedalam mobil yang sudah Hans sewa dan melaju cepat pergi dari apartemennya.



"Bi gimana ka Maura?" ucap Hazel yang baru saja sampai di rumah sakit.


Maid yang menunggu di depan pintu UGD langsung melihat asal suara itu.


"Belum tau non, dokternya belum keluar" jawab salah satu maid.


Hazel duduk di kursi tunggu yang terletak di depan pintu ruangan itu, dengan wajah cemas dan sedih ia berdoa agar kaka iparnya baik-baik saja.


Tak lama dokter yang ditunggu pun keluar. Hazel langsung berdiri menghadap dokter muda yang berparas tampan dimata Hazel.


Aaaaa! dokter nya ganteng banget! ehh ini bukan waktunya Zel! sekarang pentingin dulu kaka ipar! urusan dokter belakangan


"Gimana dok? gimana kaka ipar saya?" tanya Hazel dengan penasaran menatap dokter tampan ber-tag Ridho.


"Saya minta maaf nona-"


Hazel menggeleng "Ga mungkin meninggal dok! hiks ga mungkin kaka ipar hiks ga mungkin"


"Maaf nona-"


Hazel terus-menerus mengeluarkan air matanya, ia terduduk di kursi dengan tangan yang menutup mulutnya tanda tak percaya.


Dokter yang melihat Hazel terduduk langsung mendekati perempuan itu dan ikut duduk disampingnya.

__ADS_1


"Nona-"


"Apa? saya tau hiks dok, kenapa dokter ngulangin lagi? hiks jangan ucapin itu lagi dok hiks hati saya sakit!" sahut Hazel dengan sesegukan menahan air matanya.


"Non-"


"Huaaaa! kaka ipar!" ucap Hazel berdiri ketika melihat Maura dikeluarkan dari ruangan UGD entah akan dibawa kemana.


Hazel hendak mengikuti brankar yang membawa kaka iparnya, namun dokter itu malah menghentikan niatannya dengan memegangi tangan kanan Hazel.


Hazel merasakan tangannya yang dipegangi seseorang langsung berbalik menatap arah belakangnya.


Degdegdeg!


"Lepas!" ucap Hazel menghentakan tangannya yang dipengangi dokter laki-laki itu.


"Maaf, saya tidak bermaksud" jawab Ridho dengan melepaskan tangannya, ia masih ingin berbicara pada wanita ini karna ucapannya dari tadi selalu dipotong oleh gadis yang tidak ia ketahui namanya.


"Jangan bawa kaka ipar ke ruangan jenazah dok! hikss dokter harus periksa lagi kaka ipar gamungkin meninggal hiks! kalo ka Kenzo tau pasti dokter bakal di hajar habis-habisan sama ka Kenzo!" Hazel masih menangis disana dengan menatap dokter ini.


Ridho kesal, kenapa gadis ini selalu menyimpulkan semuanya tanpa mendengar ucapannya!


"Nona saya-"


"Dokter mau bilang kalo dokter cuma ngejalanin tugas gitu? iya! hiks dokter jahat!"


"Non dengar dulu penjelasan say-"


"Ga, saya gamau denger penjelasan dokter hikss kaka ipar saya baru beberapa minggu dok hiks saya belum punya keponakan!!"


"Zel" dari arah belakang muncul Lia yang baru sampai di rumah sakit ini.


Hazel yang melihat momy nya sedang berjalan menuju kesini langsung berlari memeluk momynya masih dengan tangisannya.


Dokter itu hanya diam menatap kedua orang wanita yang sedang berpelukan.


"Kaka ipar meninggal mommy!!" Hazel memeluk mommy nya dengan tangisan yang bertambah kencang.


Lia menatap tak percaya Hazel, meninggal? ga mungkin masa hanya terjatuh dari tangga bisa meninggal? ya memang kematian tidak ada yang tahu tapi pikiran logisnya tidak percaya apa yang di katakan anak keduanya.


Lia melepaskan pelukan Hazel dan langsung berjalan ke arah dokter yang sedari tadi diam berdiri memandangi mereka.


Para maid dan bodyguard juga hanya diam tidak berani berkutik.


"Dok apa benar?" tanya Lia.


Dokter itu langsung menggeleng. "Begini nyonya saya ingin menyampaikan jika pasien membutuhkan pendonor darah secepatnya karna kita akan melakukan operasi hari ini"


Hazel yang mendengar itu langsung menghampiri mommy nya dan juga dokter yang tadi memeriksa kaka iparnya.


"Hiks dokter kenapa ga bilang kalo kaka ipar ga meninggal hiks"


"Nona nya saja yang memotong pembicaraan saya sebelum saya selesai berbicara bagaimana saya mau menjelaskan" jelas dokter itu pada gadis muda yang terlihat urak-urakan karna mata yang sembab dan juga rambut yang di ikat asal.


"Pendonor?" sahut Lia.


"Iya nyonya, kebetulan stok darah disini habis apalagi darah pasien yang terbilang susah untuk didapatkan"


"Golongan darahnya memang apa dok?" tanya Lia lagi.


"Golongannya adalah A+ kita juga sedang mencoba menghubungi PMI dan rumah sakit lainnya untuk mendapatkan darah tersebut nyonya"


Lia mengangguk meng-iyakan ucapan dokter itu.


"Saya permisi dulu nyonya, jika nyonya sudah mendapatkan pendonor itu cepat hubungi saya. sementara pasien di pindahkan ke ruang rawat" Dokter itu langsung pamitan dan pergi melangkah menjauhi kedua orang ini karna masih ada beberapa pasien yang akan dia periksa.


Ihh dokternya nyebelin!


Hazel menatap dokter tersebut dengan penuh kesal. bagaimana tidak kesal yang pertama dokter itu tidak memberitahunya jika kaka iparnya tidak meninggal yang kedua dokter itu hanya pamitan dengan mommynya tanpa melihat atau pamitan padanya padahal tubuh Hazel cukup terlihat disini tidak mungkin kan dokter itu tidak melihatnya?


"Kalian dengarkan? cepat carikan pendonor sekarang!" titah Lia pada maid dan bodyguard yang masih setia berdiri disana.


Mereka semua langsung bergegas pergi mencari. tapi beberapa bodyguard masih berjaga disini takut jika terjadi sesuatu.


Hazel sudah menghentikan tangisannya walau hatinya sedih melihat kaka iparnya seperti ini.



Kenzo sampai di bandara diikuti Hans dibelakangnya yang membawa dua buah koper.


"Hans kau tetap disini selesaikan semuanya, jangan sampai kakek tau!"


▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫

__ADS_1


Trimksih sudah membaca^^


__ADS_2