
"Sialan! menjaga satu wanita saja tidak becus!" ucap Kenzo ketika melihat para bodyguardnya sudah tersungkur dilantai sana karna perbuatannya tadi.
Bodyguard itu langsung terbangun. "Maaf tuan maafkan saya" diikuti para bodyguard lainnya.
Pintu disamping Kenzo terbuka memperlihatkan adiknya dan juga mommy nya itu.
"Ini ada apa sih" ucap Lia ketika membuka pintu ruangannya, seketika matanya membulat ketika melihat beberapa bodyguard yang terduduk dilantai sembari memegang perutnya, nampak ada juga beberapa yang wajahnya terlihat memar.
Lia dan Hazel langsung menatap Kenzo yang dibalas hanya tatapan biasa oleh tuan muda ini.
"Dimana wanitaku?" dingin Kenzo menatap kedua wanita yang berada didepannya sekarang.
"Kaka ipar ada didalam ka" sahut Hazel.
Wanita kedua itu keluar dari pintu untuk memberikan jalan pada Kenzo. dengan segera laki-laki itu masuk kedalam ruangan ini.
"Ini paman pada kenapa?" tanya Hazel pada bodyguard yang sudah mulai berdiri kembali.
"Ah tidak ada apa-apa nona" jawab salah satu bodyguard yang sepertinya bibirnya itu terluka karna Hazel melihat ada sedikit darah yang menetes dibibir bodyguard itu.
"Zel kita pulang yu, kan udah ada Kenzo" Lia tau mengapa para bawahannya ini terluka ya pasti karna perbuatan anak pertamanya.
Sebenarnya Hazel berat untuk meninggalkan kaka iparnya namun melihat sepertinya kakanya itu butuh waktu bersama kaka iparnya jadi ia mengiyakan ajakan mommynya yang menyuruhnya pulang.
"Yaudah yu mom"
Lia menatap kembali para bodyguard itu. "Kalian jaga disini takutnya Kenzo butuh sesuatu"
Para bodyguard itu hanya mengangguk mendengar perintah dari Lia.
Hazel dan Lia pun pergi melangkah menjauh dari ruangan itu diikuti dua bodyguard yang mengawal kepergian nyonya dan nona dari majikannya.
♣
Kenzo berjalan kedalam ruangan rumah sakit ini, ia melihat wanitanya sedang terbaring lemah diatas tempat tidur yang sudah ia pastikan pasti tidak nyaman.
Ia mendekat kearah kasur itu untuk melihat Maura dari dekat.
"Maafkan aku tidak bisa menjagamu hingga kau jadi seperti ini" gumam Kenzo dengan tangan yang menyentuh puncuk kepala dari Maura yang terlihat pucat.
Entah mengapa hatinya terasa sakit melihat wanitanya seperti ini, terbaring lemah diatas kasur. seharusnya ia lebih memperketat penjagaan wanitanya karna sepertinya dimesion banyak sekali yang tidak sudah dengan Rara.
Lama ia menatap wajah dari Maura sampai-sampai pintu ruangan itu terbuka kembali.
Dokter Ridho masuk kedalam kamar VIP 1 ini diikuti beberapa sister untuk mengecek kembali pasiennya yang baru saja selesai menjalani operasi.
"Maaf tuan saya harus memeriksa kembali nona muda" ucap Ridho memecahkan keheningan di kamar ini.
"Periksa saja" ucap Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah didepannya.
Jujur Ridho gugup karna melihat Kenzo yang sepertinya tidak mau beranjak dari sana.
"Baik, sus tolong" ucap Ridho memerintahkan para suster agar membantunya mengecek keadaan istri dari tuannya ini.
Ia tau karna Hazel yang terus memanggil perempuan ini dengan menyebutnya kaka ipar, awalnya ia kaget tapi ia tak mau memikirkannya karna sekarang dipikirannya dipenuhi pasiennya agar bisa sehat kembali.
Suster-suster mulai mengecek Maura dari kantung darah yang menggantung dan juga jarum yang menempel di tangan pasien.
Ridho mendekati Maura dan mulai memeriksa mata dari wanita ini dan juga perban dikepala pasiennya.
Kenzo menatap intens pergerakan dari dokter ini. "Kau jangan menyentuh wanitaku!" ucapnya ketika melihat Ridho yang hampir memegang kelopak mata Rara dan kepala wanitanya.
Para suster dan dokter itu hanya menelan ludahnya kasar, bagaimana caranya memeriksa pasien jika tidak memegangnya?
"Maaf tuan tapi saya harus memeriksa nona muda" sahut Ridho menatap Kenzo.
Kenzo menatap dokter ini dengan tajam. "Kau boleh periksa wanitaku tapi jangan sampai memegangnya!"
"Tuan jika tidak dipegang bagaimana cara mengeceknya" ucap Ridho binggung dengan kelakuan dari tuannya.
"Ya periksa saja! jangan sampai menyentuh atau memegang wanitaku!" ucap Kenzo kembali menatap Maura dengan kedua tangan yang ia masukan kedalam saku celananya.
Ridho binggung sekarang, bagaimana sekarang? ia harus memeriksa pasiennya tapi melihat tatapan mata dari Kenzo membuatnya mengurungkan niatnya itu.
Suster diruangan ini hanya menggelengkan kepala, mereka tak sangka jika seorang Kenzo bisa bersikap seperti ini. padahal mereka selalu melihat update seputar Kenzo di berita ataupun di sosmed jika tuan mudanya ini dingin sekali pada setiap wanita yang mendekatinya, tapi ketika melihat ini mereka tau jika tuan mudanya tidak bersikap seperti itu pada pasiennya yang tidak mereka ketahui itu siapa.
"Tuan saya akan memeriksa nona muda jika saya tidak memegangnya saya tidak bisa tau bagaimana kondisinya" ucap sekali lagi Ridho meminta agar Kenzo mengizinkannya menyentuh pasiennya yang notabenya adalah istri dari tuan mudanya.
"Kau mau mengambil kesempatan menyentuh wanitaku ya!?" jawab Kenzo yang masih tidak terima jika sampai dokter ini menyentuh Maura.
Dokter itu menggeleng pertanda ucapan tuan mudanya salah. ia hanya ingin memeriksa pasiennya tapi mengapa tuan mudanya menuduh yang tidak-tidak? "Tidak tuan"
Kenzo masih berdiri dia di samping tempat tidur Maura. "Lalu?"
Ridho menyerah, jika tuan mudanya sudah mengatakan tidak dipastikan tetap tidak. "Baik tuan saya akan menyuruh para suster saja"
Ridho menatap para suster dan memberikan kode untuk memeriksa Maura.
Kenzo masih diam sembari menatap para perawat ini yang sedang memeriksa wanitanya.
Suster itu nampak teliti memeriksa setiap detail Maura dan menulisnya di tangan yang memegang seperti papan dada yang berisi kertas putih entah apa itu.
Lantas suster itu seperti berbicara mengenai keadaan Maura dan memberikan kertasnya itu pada dokter laki-laki bernama Ridho.
__ADS_1
Ridho mengangguk mendengar penjelasan dari susternya walau ia tidak memeriksa dan hanya melihat saja Ridho sudah tau bagaimana keadaan nona mudanya.
"Baik" ucap Ridho menutup pembicaraannya dengan suster wanita yag tadi memeriksa Maura.
Lalu Ridho menatap Kenzo yang masih mengalihkan pandangannya ke Maura.
"Tuan maaf bisa ikut ke ruangan saya?" Ridho berniat untuk memberikan penjelasannya pada Kenzo.
Kenzo mengalihkan pandangannya. "kau mau apa?"
"Ada hal yang ingin saya bicarakan tuan" jelas Ridho membuat tatapan tanya dari Kenzo.
"Mengapa tidak disini saja"
Ridho tau pasti tuan mudanya tidak mau jauh dari Maura tapi ia harus membicarakan ini diruangannya. "Maaf tuan tidak bisa"
Kenzo lantas mengalihkan pandangannya kembali kearah Maura. lalu ia mengecup kening wanitanya.
Aku akan kembali
Akhirnya Kenzo melangkah keluar dari kamar ini diikuti suster dan juga dokter.
"Kalian berjaga disini!" titah Kenzo pada bodyguard yang masih berdiri setia di depan kamar.
Bodyguard itu pun mengangguk. "Baik tuan"
Kenzo melanjutkan langkahnya mengikuti dokter yang berjalan didepannya.
Ketika sampai ditujuannya, Ridho masuk kedalam ruangannya diikuti Kenzo. mereka pun duduk saling berhadapan di meja Ridho.
"Kau mau mengatakan apa?" langsung tanya Kenzo karna ia tidak merasa tenang jika wanitanya ditinggal sendirian di kamar itu walau ada bodyguard yang menjaganya.
Ridho menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan, ia mencoba tenang berbicara kepada tuan mudanya tapi tetap saja perasaannya takut.
"Begini tuan mungkin operasi ini hanya berhasil sekitar 60 persen saja"
Kenzo memicingkan matanya tanda tak paham. "Maksud mu apa?!"
"M..aksudnya perkiraan saya penyumbatan dikepala nona hanya 60 persen sembuhnya karna luka dikepalanya sudah mengenai kedalam otak nona muda, tu..an"
"Jadi menurutmu wanitaku tidak bisa disembuhkan?"
Ridho langsung menggeleng. "Bisa sembuh tuan tapi kemungkinan memori di otak nona muda akan hilang" jelas Ridho.
"Hilang?"
Sekali lagi Ridho menghembuskan nafas kasarnya. "Ini baru perkiraan saja tuan, mungkin nona muda bisa kehilangan ingatannya"
Kenzo tersentak kaget namun ekspresinya masih terlihat dingin.
♣
"Engh"
Mata Rara perlahan mulai terbuka, ia sidikit perih ketika cahaya lampu mengenai mataya.
Apa aku sudah disurga?
Rara menatap ruangan serba putih ini, ia mengedarkan pandangannya sembari memegang kepalanya yang berkedut sakit.
Ia mencoba bangkit namun badannya terasa berat dan juga kepalanya yang terasa nyeri.
Jika aku sudah berada disurga aku ingin sekali bertemu ibu
Namun ia tidak melihat siapa-siapa disini, hanya ada dirinya.
Ceklek
Pintu itu terbuka memperlihatkan kekhawatiran diwajahnya.
Kenzo berjalan masuk dan menutup kembali rapat-rapat pintu kamar ini.
Mengapa pria ini ada disurga? memangnya pria sekejam dia bisa masuk surga?
Rara masih memandangi wajah dari laki-laki yang beberapa hari ini tidak dilihatnya.
"Kau sudah sadar?" ucap Kenzo ketika sampai di tempat tidur Rara.
"Aku pasti mimpi" gumam Maura. mana mungkin disini ada Kenzo, bukannya dia sedang keluar kota?
"Hey! kau tidak menjawab ku!" bentak Kenzo.
"Kau tidak melihatku? jika aku belum sadar pasti aku tidak akan membuka mata!" kesal Rara, apa laki-laki ini tidak bisa melihatnya membuka mata? bikin kesal orang saja.
"Syukurlah"
"Apa kau mengenalku?" lanjut Kenzo dengan mata terarah pada Maura.
Rara memegang kepalanya ketika merasa sakit kembali. apa-apaan laki-laki ini kenapa ia berbicara seperti itu.
"Aku tidak mengenalmu" jawab Rara acuh.
Kenzo menatap tajam wanitanya. "Berani-beraninya kau!"
__ADS_1
Rara kembali kaget mendengar nada Kenzo yang seperti mengajaknya ia berantem. "Kamu ini suamiku, aku tidak mungkin lupa lagian mengapa tuan menanyakan itu"
Kenzo tersenyum tulus mendengar ucapan dari Maura, ternyata perkiraan dokter itu salah. ia lantai memeluk erat wanitanya yang masih dalam posisi tertidur sampai hampir terduduk karna pelukan tuan mudanya.
Maura yang mendapatkan pelukan mendadak itu langsung membuat jantungnya berdetak kencang.
"Syukurlah kau baik-baik saja" ucap Kenzo masih memeluk wanitanya yang hampir kehabisan nafas karna pelukan eratnya.
"Tu..an e..ng..ap"
Kenzo lantas melepaskan pelukannya yang membuat Maura kembali dalam posisi tidur. jujur pinggangnya sakit mendapati Kenzo yang tak hati-hati melepaskannya.
"Aw" keluh Rara memegang punggungnya.
"Kau kenapa? apa yang sakit?" panik Kenzo ketika mendengar keluhan Maura.
Kau yang membuat ku sakit tuan!!!
"Pinggang ku"
"Sudah ku duga pasti kasur ini tidak empuk kan? aku akan menuntut rumah sakit ini karna tidak memberikan fasilitas yang bagus, sebentar ya akan kubelikan kasurnya kau tunggu disini"
Rara membulatkan matanya mendengar ucapan Kenzo. apa tuannya tidak menyadari jika ini kesalahnnya tapi kenapa malah menyalahkan pihak ruma sakit? lagian kasur ini empuk-empuk saja!
Kenzo yang hendak pergi itu langsung di tahan tanganya oleh Maura.
"Tidak tuan aku hanya sedikit sakit karna tuan melepaskan tiba-tiba pelukannya tadi" jujur Maura.
"Kau menyalahkan ku?"
Rara memutarkan bola matanya malas, mengapa tuan mudanya sensitif sekali. "Aku hanya memberi tahu tuan"
Kenzo diam memandangi wajah dari Maura.
"Maafkan aku"
Rara yang mendengar itu menatap Kenzo dengan pandangan tanya, megapa tuan mudanya meminta maaf? memangnya ia salah apa? ata tuannya akan menikah lagi? itu malah membuat Maura senang karna pastinya akan lebih cepat lepas dari tuan mudanya.
"Maaf apa tuan? memangnya tuan salah apa?"
Kenzo mengambil kursi dan meletakanya di samping kasur itu untuk menghadap ke Maura.
"Maafkan aku, karna aku kau menjadi seperti ini" Kenzo masih menatap Rara dengan tangan yang mulai mengelus puncuk kepala Rara.
Degdegdegdeg!
Jantung Rara seakan ingin meledak karna ucapan Kenzo yang terkesan tulus dan juga tangan Kenzo yang mengelus pelan kepalanya.
"T..uan"
"Seharusnya aku lebih memperketat penjagaan mu agar kau tidak jadi seperti ini"
Lagi-lagi Maura dibuat salting karna mata Kenzo yang menatapnya penuh akan rasa bersalah menurutnya.
Tuan kenapa?
"Aku yang harus memin..ta maaf tuan karna kau jadi kembali kemari untuk mengunjungiku, padahal kerjaan mu pasti belum selesai" jawab Rara tak enak. jujur posisi mereka mampu membuat Maura tidak tenang.
"Perusahaan itu sudah diurus oleh Hans"
Pantas saja Rara tidak melihat Hans sedari tadi karna biasanya pria itu slalu berada disamping Kenzo. itu membuatnya merasa tak enak karna Hans sendirian disanan sedangkan Kenzo menemaninya disini.
"Aku jadi tidak enak pada sekertaris Hans tuan" ucap Rara dengan mengalihkan pandangannya kedepan.
Muka Kenzo seketika berubah menjadi dingin kembali. "Mengapa tidak enak? kau peduli padanya?"
Rara menatap Kenzo kembali, peduli? maksud dia apa! ia hanya tak enak karna Hans disana mengurus pekerjaan Kenzo sendiri mengapa jadi ke peduli sih? "Bukan peduli tuan aku hanya tidak enak karna dia disana bekerja sendirian"
"Kau khawatir pada laki-laki itu hah?!" tatapan tajam kembali berada di mata Kenzo.
Ini salah paham, ia lupa jika tuan mudanya sensitif sekali. apa dia cemburu? tapi masa sih cemburu pada sekertaris sendiri.
Tukang ojek aja dikira selingkuh apalagi sekertaris Hans?
"Bukan khawatir tuan" Rara binggung akan menjawab apa jika tuan mudanya bertanya kembali, padahal ia baru saja sadar tapi sepertinya akan pingsan kembali.
Toktoktok!
Ceklek
Pintu ruangan terbuka memperlihatkan bodyguard yang memegangi ponsel ditangannya.
"Maaf tuan ada telpon dari sekertaris Hans"
Mendengar nama itu membuat Kenzo terlihat marah. "Laki-laki itu!" gumam Kenzo yang masih didengar oleh Maura.
Maafkan aku Hans jika tuan muda memarahi mu nanti, aku tidak bermaksud
▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫
Jujur binggung banget, tadi rencananya mau bikin Maura kehilangan ingatannya tapi dipikir-pikir cukup beresiko juga ceritanya kalo Rara amesia karna ia punya perusahaan butik jadi aku alihin lagi jalan ceritanya:(
Semoga kalian tetap suka ya!❤
__ADS_1
Trimksih sudah membaca😚🙌