My Devil Possessive

My Devil Possessive
Bonus part 3: Khawatir Kenzo


__ADS_3

Rara membulatkan matanya, benar jika pria yang duduk tak jauh darinya itu mirip sekali dengan sang Ayah-David. Apa benar itu Ayahnya? jika benar untuk apa David berada dirumah sakit ini? ada apa dengannya?


"Papah?" gumam Rara masih dengan tatapan terarah pada hadapannya.


Dengan cepat Rara berjalan menuju kearah pria tersebut. Ia ingin melihat apa benar itu David atau bukan. Jika iya, mungkin Rara akan senang sekali karna bisa bertemu dengan sang Ayah disini.


Sampai dibelakang sosok itu Rara pun hanya diam, jantungnya berpacu lebih cepat sekarang, ia takut jika pria ini hanya mirip dengan Ayahnya tapi semoga saja benar dia sang Ayah yang dicarinya selama ini.


Rara melangkah maju lebih dekat dengan pria itu. Rara berdiri disamping pria itu yang nampak sedang menunduk. Tubuh Rara bergetar, dilihat dari wajah dan postur tubuhnya saja mirip sekali dengan sang Ayah.


"Papah?" pelan Rara membuat pria yang duduk dihadapannya itu mendongakkan wajahnya menatap dirinya.


Deg!


Mata Rara mulai berkaca-kaca. Benar, ini benar sang Ayah namun ada sedikit perubahan di wajah pria tersebut, pipi pria itu sedikit tirus dan tubuhnya kurus tak terawat. Apa benar ini Ayahnya?


"Ini Papah-kan?" ucap Rara dengan pandangan penuh harap jika pria itu benar David.


Segera Rara duduk disamping pria itu lalu memeluknya. Pikirannya sudah kosong yang sekarang ada dikepalanya hanyalah sang Ayah.


"Rara kangen," pelannya masih dengan memeluk pria itu.


Rara menangis dipundak pria itu. Entah benar ini David atau bukan tapi yang jelas ia merasakan jika ini adalah sang Ayah. Ia merasakan pelukan ini seperti pelukan beberapa tahun yang lalu saat ia berpamitan untuk tinggal dengan Kenzo dan sekarang adalah kali kedua ia memeluk sang Ayah lagi.


Tiba-tiba saja pelukannya terlepas dengan paksa oleh pria itu menyebabkan Rara sedikit tersentak kaget.


"Sa-saya bukan Papah kamu!" tegas pria itu dengan menatap Rara sendu.


"Gak! ini pasti bener Papah! Pah, ini Rara Pah hiks Rara kangen sama Papah." Air mata Rara sudah tidak bisa terbendung lagi sekarang. Dikit demi sedikit air dimata Rara mulai turun membasahi kedua pipinya.


"Sudah saya bilang saya bukan Papah kamu!" pria itu berdiri dan melangkah menjauhi Rara membuat Rara ikut bangkit melihatnya.


"Papah!" dengan cepat Rara berlari menuju pria berusia lanjut itu. Ia tidak boleh kehilangan jejak sang Ayah.


Pria itu tetap berjalan dengan cepat mengabaikan teriakan dari arah belakangnya namun ia sesekali menatap kearah Rara untuk melihat wanita itu.


"Pah!" Rara masih mencoba berjalan mengikuti pria itu. Rara yakin jika itu adalah David, tapi kenapa Papahnya malah menghindarinya?


"Ahk!" saat berlari tiba-tiba saja Rara tersandung dan merasakan sakit di bagian perutnya.


Rara memegangi perutnya yang sudah mulai membesar itu, ia mengusap perlahan perutnya untuk menghentikan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Nona? nona tidak apa-apa?" salah satu pria berbadan besar datang menghampiri Rara. Sedari tadi pria itu hanya memandangi Rara dari jauh. Ya, pria itu tak lain adalah Bodyguard yang diutus Kenzo untuk menjaga Maura.


"Shhh sakit." pelan Rara masih dengan memegangi perutnya, wanita hamil itu bangkit perlahan dengan memejamkan matanya karna tidak kuasa merasakan rasa sakit diperutnya.


Rara lupa jika ia sedang hamil besar makannya ia berlarian dan memeluk Ayahnya dengan erat tadi. Ia sudah rindu dengan sang Ayah sampai-sampai dirinya lupa dengan kondisi tubuhnya sendiri.


Bodyguard itu dengan segera menyuruh teman lainnya untuk memanggil suster ataupun dokter agar membantu Nona mudanya ini.


Beberapa suster berlarian dengan membawa brankar, mereka cemas ketika tau istri dari seorang Tuan besar seperti Kenzo tersandung yang menyebabkan wanita itu kesakitan. Mereka langsung mendekat kearah Rara yang masih berdiri dengan dibantu beberapa pria bertubuh besar.


Dengan segera para suster itu membantu Rara membaringkan tubuhnya di atas brankar agar mereka dengan mudah membawa Rara masuk kedalam rumah sakit.


Para suster itu berjalan cepat agar tidak terjadi sesuatu pada Ibu hamil itu. Mereka mendorong brankar yang ditiduri Rara sampai masuk kedalam sebuah ruangan dan mereka pun segera menutup pintu itu untuk segera mengambil tindakan pada Rara.


Para bawahan Kenzo hanya diam didepan pintu ruangan itu, mereka merapalkan doa agar tidak terjadi sesuatu pada Nona Mudanya.


___


"Apa?! sialan!" wajah Kenzo seketika berubah menjadi amarah. Ia mendapatkan kabar jika wanitanya dalam kondisi kesakitan sekarang.


Dengan segera Kenzo menutup sambungan telponnya lalu bangkit dari duduknya untuk pergi ketempat dimana wanitanya berada.


Brak!


Sampai di lift, Kenzo langsung menekan lantai paling bawah. Untungnya di Lift hanya ada dirinya jadi tidak ada lagi yang menekan-nekan tombol lift.


Ting!


Tak lama pintu lift pun. Kenzo langsung bergerak berjalan keluar dari lift, ia berjalan menuju kearah luar menuju dimana mobilnya terparkir.


Mata karyawan disana menatap Kenzo dengan pandangan tanya sekaligus penasaran. Ada apa dengan bosnya itu? kenapa nampak terburu-buru? dan terlihat juga wajah Kenzo yang penuh amarah membuat karyawan-karyawan disana tidak berniat memandangi Tuannya lebih lama lagi. Mereka semua merasakan aura tak bersahabat dari Kenzo membuat mereka semua sedikit takut.


"Tuan?" panggil Hans ketika melihat Kenzo yang sedang berjalan dengan cepat menuju kearah luar. Ia sedikit binggung ada apa dengan Tuannya?


Ada apa dengan Tuan?


Panggilannya tadi tidak dijawab oleh Kenzo, dilirik saja pun tidak. Ia merasakan ada sesuatu yang terjadi saat ini pada Nonanya karna Hans tau jika Tuannya sedang seperti ini pasti tidak jauh-jauh dari wanitanya.


Hans menatap tempat makan yang ada digenggamannya. Jadi telur gulung ini untuk siapa? lagi-lagi perjuangan Hans mengabulkan setiap keinginan ngidam dari Kenzo terabaikan.


Kenzo berjalan menuju mobilnya yang terparkir disamping perusahaannya. Ia segera masuk dan menyalakan mesin mobil itu. Sekarang Kenzo akan menyetir mobilnya sendiri, ia sudah tidak memikirkan yang lain yang hanya ada dipikirannya saat ini hanyalah Rara dan calon anaknya.

__ADS_1


Ketika mobil sudah dinyalakan, Kenzo langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran kantornya. Sekarang ia akan menuju rumah sakit yang sudah diberitahu oleh bawahannya.


"Shit!" Kenzo mengumpat kasar ketika melihat padatnya jalanan dihadapannya.


Kenzo melajukan mobilnya dengan cepat membuat banyak pengendara meng-klaksoni dirinya namun Kenzo tidak peduli. Ia sedang terburu-buru hari ini.


Tak berselang lama mobil Kenzo masuk kedalam sebuah lobi rumah sakit yang cukup besar. Kenzo pun menghentikan mobilnya lalu ia keluar dan berjalan masuk kedalam rumah sakit. Ia meninggalkan mobilnya yang masih berada ditengah-tengah lobi menyebabkan mobil yang akan masuk menjadi terhenti karna dihalangi mobil Kenzo.


Saat sudah masuk Kenzo lantas berjalan cepat menuju ruangan wanitanya, jika terjadi sesuatu kepada Rara dan calon anaknya ia berjanji akan menuntut rumah sakit ini dan tidak akan memaafkan dirinya kembali.


__


"Jadi gapapa-kan Dok?"


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Nona, Nona hanya mengalami luka di lutut untungnya tidak ber-efek pada sang janin karna posisi jatuhnya Nona itu terduduk kedepan jadi tidak penimpa sang bayi." Dokter itu tersenyum menatap Rara yang sedang terbaring dikasur ruangan rumah sakit ini.


Rara menghela nafasnya lega. "Syukurlah."


Brak!


Kedua orang itu tersentak kaget mendengar suara kencang dari arah pintu. Rara pun menatap asal suara tersebut dan seketika matanya membulat melihat seseorang disana.


Dokter ber-tag Reva itu menunduk ketika seorang pria masuk kedalam ruangan ini.


"Kau tidak apa-apa kan?! ada yang terluka? anakku bagaimana? ck! mengapa kau bisa seceroboh itu? sudah ku bilang agar kau hati-hati!" Kenzo menatap Rara dengan kesal, ia kira terjadi sesuatu pada wanitanya namun saat sudah sampai disini Kenzo sedikit lega melihat Rara yang nampak tidak apa-apa.


"Kalo begitu saya permisi dulu ya Nona, Tuan, Mari." ucap Dokter itu dengan berbalik untuk keluar dari ruangan Maura. Ia memberikan waktu untuk kedua pasutri itu berbicara berdua.


"Makasih ya Dok." jawab Rara tersenyum menatap Reva yang mengangguk singkat sebelum menutup pintu ruang rawat kamarnya.


Setelah Dokter itu hilang dari ruangan ini Rara pun menatap Kenzo yang berdiri disebelahnya. Pria itu nampak menatap Rara dengan pandangan khawatir, Rara tau pasti para bawahan Kenzo yang memberitahu keadaanya yang sempat terjatuh tadi.


"Aku dan dia baik-baik saja," pelan Rara dengan tersenyum sembari mengelus perutnya pelan.


"Aku meng-khawatirkan mu." Kenzo menatap Rara sendu. "Bagaimana kau bisa sampai terjatuh? apa kau memakai sepatu tinggi lagi? sudah ku bilang kau jangan memakai sepatu tinggi itu jika sedang hamil!" Kenzo merubah pandangannya menjadi tajam.


Wajah Rara mengkerut mendengar itu. "Aku tidak memakai sepatu tinggi itu lagi semenjak kau membuang dan membakar habis sepatu-sepatuku!" Rara tak kalah tajam menatap suaminya.


Bagaimana tidak kesal? beberapa minggu lalu Kenzo membakar habis sepatu-sepatu tinggi yang yang mungkin harganya cukup lumayan. Saat itu ia tak sengaja kepleset ketika mencoba kembali sepatu hak nya untung saja Kenzo ada dibelakangnya jadi pria itu menahan tubuh Rara agar tidak terjatuh alhasil Rara pun dimarahi oleh suaminya. Keesokan harinya Rara sudah melihat jika sepatu-sepatu kesayangannya sudah ludes dilahap oleh api sehingga sepatu itu berubah menjadi warna hitam dan tak berbentuk lagi membuat Rara marah besar pada Kenzo.


Rara memajukan bibirnya sedih, Kenzo membakar habis sepatunya yang mungkin ada beberapa puluhan model dan bentuk.

__ADS_1


Hiks sepatuku


__ADS_2