
Dilo menyerang Anton menggunakan sebuah pedang di tangannya.
Pedang di tangan Dilo saat ini merupakan sebuah pedang api yang apinya terus menyala dan berkobar-kobar di badan pedang tersebut.
Anton langsung melompat jauh ke belakang saat melihat tebasan pedang itu mengarah padanya.
"Tebasan bulan sabit!" Teriak Dilo sambil menebas ke arah Anton.
Seketika itu juga sebuah kobaran api berbentuk melengkung layaknya bulan sabit langsung melesat ke arah Anton yang berada cukup jauh dari Dilo.
Melihat serangan itu, Anton pun langsung menghindar dengan santai ke samping.
Hal itu pun membuat tebasan bulan sabit milik Dilo langsung menabrak sebuah lampu taman yang berada cukup jauh di belakang Anton.
"Sudah ku bilang aku tak mau bertarung sekarang." Ucap Anton dengan ekspresi malas.
"Tidak mau bertarung katamu hah?!" Bentak Dilo.
"Apa kau meremehkan ku hah?!"
"Aku tak meremehkan mu, hanya saja saat ini aku benar-benar sangat lelah... Jadi sebaiknya lakukan lain waktu saja." Balas Anton sambil memutar badannya dan kemudian kembali berjalan ke arah pintu rumah besar dan mewah itu.
Baru beberapa langkah Anton mendekati pintu rumah itu, kini terlihat ayah dan ibu Anton keluar dari pintu tersebut.
"Kau harus berduel dengannya!... Di keluarga Maroso, segala jenis permasalahan, jika tidak bisa di selesaikan dengan cara berbicara baik-baik, maka harus di selesaikan dengan duel!" Ucap ayah Mereka dengan tegas dan wajah sangar.
"Sebaiknya kau mematuhi aturan keluarga Anton!" Timpal si ibu.
Anton pun tak ada pilihan lain.
Ia yang sebenarnya saat ini sangat ingin beristirahat kini hanya bisa pasrah mengikuti kemauan orangtuanya serta kakak-nya sendiri.
"Hahhh... Baiklah, aku akan melakukan seperti yang kalian minta!" Jawab Anton dengan pasrah sambil menghela nafas.
Lalu Anton dan Dilo pun langsung pergi ke tempat khusus yang biasanya di gunakan untuk latihan.
Karena lokasi tempat rumah ini cukup luas, jadi mereka mempunyai satu tempat tersendiri yang biasa di jadikan tempat latihan.
Tempat itu cukup luas dengan berlantaikan paving berbentuk heksagonal yang di susun sedemikian rupa sehingga terlihat sangat rapi.
Di beberapa sisi tempat latihan itu hanya ada tiga tiang saja, yakni tiang yang di pasangkan sebuah lampu di atasnya.
__ADS_1
"Baiklah, bersiaplah menerima balasan dari ku!" Ucap Dilo dengan penuh semangat.
"Terserah kau saja!" Balas Anton dengan santainya.
Lalu Dilo pun langsung mengalirkan seluruh energi gelap miliknya ke dalam tubuhnya dan langsung melesatkan sebuah serangan berupa tinju api.
Dilo melakukan pukulan demi pukulan di udara.
Setiap pukulan yang ia lakukan selalu memunculkan semburan api dari depan kepalan tangannya itu.
Anton yang melihat hal itu kini hanya bisa mencoba untuk terus menghindari serangan Dilo.
Ia dengan sangat gesit bergerak ke berbagai arah untuk menghindar.
Ia bahkan beberapa kali harus melakukan gerakan salto karena hampir tak sempat menghindari serangan tinju api itu.
"Bocah ini!... Sejak kapan dia jadi seperti itu?!" Ucap si ibu yang saat ini sedang menyaksikan pertarungan Dilo dan Anton.
"Aku juga tidak mengerti!" Sanggah si ayah. "Akan tetapi, jika di lihat-lihat, pergerakan Anton saat ini tidak seperti manusia biasa pada umumnya, ia jauh lebih cepat dan hentakkan kakinya juga terlihat tegas layaknya orang yang sudah memiliki energi gelap."
"Apa jangan-jangan bocah ini sudah mendapatkan kekuatan dari energi gelap?!" Timpal si ibu dengan ekspresi yang sedikit terkejut dan tidak percaya.
Lalu si ibu pun bergegas untuk mencoba mendeteksi level Anton saat ini.
Meskipun level itu masih level nol, akan tetapi itu menunjukkan bahwa Anton saat ini sudah memiliki energi di dalam tubuhnya, karena jika alat itu di gunakan untuk mendeteksi orang yang tidak memiliki energi, maka tidak akan ada hasil yang di tampilkan oleh layar virtual pendeteksi level.
"Bocah ini ternyata sudah punya energi gelap dalam tubuhnya!" Ucap si ibu dengan ekspresi tidak percaya
"Apa?!"
Si ayah juga ikut terkejut mendengar ucapan si ibu itu.
Sementara saat ini Dilo tampak terus menyerang Anton dengan sangat bersemangat.
Ia terus menyerang, dengan tinju api. Namun sudah beberapa kali pula ia maju menyerang Anton dari jarak dekat.
Namun Anton terus bisa menghindari semua serangan dari Dilo.
"Kau benar!" Ucap si ayah yang saat ini juga ikut terkejut ketika mengecek sendiri level Anton menggunakan alat pendeteksi level miliknya.
"Sejak kapan anak ini mendapatkan energi gelap?!" Ucap si ayah lagi bertanya-tanya.
__ADS_1
"Aku juga bingung, namun yang paling aneh adalah levelnya saat ini... Biasanya saat mendapatkan energi gelap, pasti akan langsung memiliki level di atas angka satu, entah itu dua, dan seterusnya. Tapi bocah ini sama sekali tak memiliki tingkatan level seperti itu... Dia malah masih berada di level nol... Bukankah itu sangat aneh?" Balas si ibu dengan ekspresi terheran-heran.
Sementara saat ini Dilo yang sedari tadi terus menyerang namun tak bisa melukai Anton sama sekali kini mulai kesal lagi.
Semangatnya yang sebelumnya membara kini mulai pudar sudah karena tak bisa menyerang Anton.
"Jangan menghindar terus kau sialan!... Kau mau bertarung atau tidak hah?!!" Bentak Dilo sambil mengepalkan tangannya dengan kesal.
Lalu Dilo pun langsung melambaikan tangannya ke samping dan seketika itu juga di atas tangan Dilo muncul tiga buah pedang api yang sedang melayang.
Lalu Dilo pun mengayun tangannya ke depan dan membuat tiga pedang api itu kini melesat ke arah Anton.
"Terima ini!!" Ucap Dilo sambil melesatkan tiga pedang api itu ke arah Anton.
Melihat pedang itu, Anton pun langsung menghindar.
Namun sebenarnya ia hanya berpura-pura untuk menghindar, karena tujuan Anton saat ini adalah menyelesaikan pertarungan ini secepatnya.
DUAAARRR!!
Sebuah pedang berhasil menghantam tubuh Anton, namun pedang itu tidak menusuk tubuh Anton dan malah meledak saat menghantam tubuh Anton.
Anton pun kini langsung terpental akibat ledakan itu.
Ia sampai berguling-guling hingga 10 meter jauhnya dan langsung hilang kesadaran begitu saja.
Dilo yang melihat hal itu langsung bersorak kemenangan.
"Mantap!!" Teriak Dilo sambil menghentakkan kedua tangannya dengan penuh semangat.
"Mampus kau Anton!... Sekarang kau tahu sekuat apa diri ku bukan!?" Ucap Dilo yang kemudian berjalan mendekati Anton.
"Ayo bangun sialan!... Mari bertarung sekali lagi!!" Bentak Dilo sambil terus menendang tubuh Anton.
"Pergilah sialan!... Aku sudah malas meladenimu!... Aku mau tidur dasar idiot!" Ucap Anton dalam hati yang kini mulai kesal dengan perbuatan Dilo.
"Hahahaha... Kau memang rendahan!!... Lemah!!... Baru begini saja sudah kalah!!" Bentak Dilo sambil menginjak-injak kepala Anton.
Kini Dilo merasa sangat bangga pada dirinya sendir dan terus mengejek Anton sambil tertawa terbahak-bahak.
Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...
__ADS_1