
Dua pria misterius pengguna tombak saat ini bertarung dengan Karina, Lisa, dan Natan, sementara pria misterius pengguna tongkat dan pengguna pedang bertarung melawan Aris, Sisilia, dan Anita.
Pertarungan mereka saat ini cukup sengit, namun tetap saja berat sebelah karena pada dasarnya perbedaan level mereka memang terlalu jauh sehingga saat ini Karina dan yang lainnya kesulitan menghadapi orang-orang tersebut.
Tampak kedua pria itu dengan cepat melesat dari satu pohon ke pohon lainnya membawa tombak mereka.
Mereka melesat sangat cepat ke arah Karina, Lisa, dan Natan.
Kecepatan kedua pria itu benar-benar sulit mereka ikuti.
Kedua pria itu mengkombinasikan serangan mereka dengan cara menyerang secara bersamaan dan menerjang ke arah Karina dan Natan terlebih dahulu karena Karina dan Natan-lah yang terlihat lebih kuat.
Kedua pria itu menebas-kan dan mengayunkan tombak mereka dengan lihai.
Namun Karina dan Natan tentunya tidak dua saja, mereka kini memulai serangan balasan meskipun mereka kesulitan untuk mengenai lawannya saat ini.
Karena kecepatan dua pria misterius itu, kini Karina dan Natan pun tak bisa mengatasi mereka.
Semua serangan yang Natan dan Karina lancarkan bisa di patahkan dengan mudah oleh kedua pria misterius itu.
Sementara itu, di tempat yang tidak begitu jauh dari mereka, tampak Sisilia, Aris, dan Anita juga sedang berhadapan dengan dua pria misterius lainnya.
Mereka bertiga pun juga tampak kesulitan melawan dua pria yang sangat kuat dan lihai memainkan senjata itu.
"Sial!... Level kemampuan dan keterampilan mereka benar-benar berada di atas kita!" Ucap Sisilia dengan ekspresi kesal.
"Kau benar!" Balas Aris.
"Sebenarnya berapa level mereka saat ini?" Tanya Anita.
"Entahlah!... Kami juga tak tahu." Jawab Aris sambil menoleh ke arah Anita yang berada di sampingnya.
Tak lama setelah itu, pria pengguna tongkat langsung melesat ke arah mereka bertiga, dan pria itu segera mengayunkan tongkatnya itu ke arah mereka bertiga.
Seketika tongkat tersebut pun langsung menghantam tanah di depan mereka, dan bersamaan dengan hantaman itu, tanah pun langsung hancur dan terbelah-belah.
Hal itu membuat Sisilia, Aris, dan Anita pun langsung hilang keseimbangan dan berusaha untuk menjauh dari tanah yang hancur itu.
__ADS_1
Namun, saat mereka mencoba menjauh, kini mereka bertiga pun langsung terkena serangan berikutnya dari si pengguna tongkat itu.
Pria pengguna tongkat itu mengayunkan tongkatnya dan memukul leher mereka bertiga hingga mereka pingsan begitu saja.
"Hah... Akhirnya selesai juga... Benar-benar bocah yang keras kepala!" Ucap pria pengguna tongkat itu sambil memutar tongkat-nya di udara dan kemudian menghentak-kan salah satu ujung tongkatnya itu ke tanah.
"Ayo bawa mereka bertiga." Ucap salah satu pria lainnya sambil menoleh ke arah semak-semak yang tidak begitu jauh dari tempat mereka saat ini.
Begitu pria itu menoleh ke sana, kini dari dalam semak-semak itu keluarlah beberapa pria misterius lainnya yang juga dalam mode penyamaran.
"Ternyata tidak sesulit yang di ceritakan... Mereka semua ini hanyalah bocah biasa... Jadi tak perlu turun tangan semua." Ucap salah satu pria yang keluar dari semak-semak persembunyian itu.
"Benar... Lagi pula berdasarkan informasi, yang paling merepotkan itu sebenarnya hanya bocah misterius yang bernama Zero itu saja kan?" Ucap pria lainnya yang juga baru keluar dari semak-semak.
"Benar... Tapi saat ini dia sedang tidak ada, oleh karena itu aku merasa kalau kalian tak perlu turun tangan." Ucap pria bertingkat sambil menoleh ke arah para pria yang baru keluar dari semak-semak itu.
Sementara itu, Karina, Aris dan Lisa yang sedari tadi mencoba untuk tetap bertahan kini sudah semakin kelelahan.
Tak satu pun serangan yang mereka lesatkan berhasil mengenai lawan karena lawan jauh lebih mahir dalam pertarungan dan menghindari serangan lawan.
"Tchi!... Bukan hanya perbedaan level saja!... Bahkan perbedaan pengalaman pun jadi penentu di sini!" Ucap Natan.
"Mereka terlalu kuat!... Aku sudah tak sanggup lagi melawan mereka berdua." Ucap Lisa mengeluh dengan ekspresi yang tampak mulai putus asa.
Tak lama setelah itu, kini dua pria yang telah mengalahkan Sisilia, Anita, dan Aris kini mendatangi Karina, Lisa, dan Natan.
"Apa kalian tidak mau menyerah saja hah?" Ucap pria pengguna tongkat sambil memutar dan memainkan tongkatnya dengan satu tangan.
Lalu dari belakang pria itu tampak beberapa pria misterius lainnya yang sedang membawa Sisilia, Aris, dan Anita menggunakan tandu.
Tubuh mereka bertiga di letakkan saling menumpuk di atas satu tandu dan setelah itu mereka bertiga pun di lemparkan ke depan Karina, Natan, dan Lisa.
Seketika tatapan Karina pun jadi tajam saat melihat temannya di perlakukan seperti itu oleh mereka.
"Beraninya kalian sialan!!" Bentak Karina.
Lalu Karina pun langsung menerjang mereka semua dengan sisa-sisa kekuatannya saat ini.
__ADS_1
Sementara itu Natan yang melihat Karina yang langsung maju tanpa ragu-ragu kini hanya bisa terkejut dengan mata yang terbelalak.
Kurang dari sedetik melihat hal itu, Natan pun langsung tertular oleh tindakan Karina dan kini Natan pun juga langsung mengikuti Karina dari belakang.
Keduanya kini menerjang para pria misterius itu dan menyerang mereka dengan segala kekuatan yang tersisa di dalam tubuh mereka saat ini.
Namun sayang sekali mereka pada akhirnya berhasil di kalahkan oleh para pria misterius itu.
"Sial!... Orang-orang ini benar-benar tidak bisa kami lawan." Ucap Karina dalam hati.
Saat ini Karina tampak sudah terbaring di atas tanah sambil memandangi langit.
Dari mulutnya mengalir darah dan sesekali ia terbatuk.
Sementara itu, di jarak yang tidak begitu jauh darinya tampak Natan juga sudah tumbang dan bahkan kini sudah hilang kesadaran karena ia mendapat luka yang lebih banyak dari yang di dapatkan oleh Karina saat ini.
Tak lama setelah itu, pandangan Karina pun kini sudah mulai pudar, dan segala yang ia lihat mulai buram.
selain itu, kepalanya juga kini sudah terasa sangat pusing layaknya orang yang sedang mabuk berat.
"Hah... Sial!... Jadi hanya segini saja batasan-ku!" Ucap Karina dalam hati. "Benar-benar menyebalkan!" Ucap Karina sambil memencet buah kalung yang ia kenakan saat ini.
"Meskipun aku tidak suka melakukan ini... Tapi ku harap mereka segera menemukan-ku!" Ucap Karina dalam hati setelah memencet tombol kecil yang ada di buah kalung itu.
Di sisi lain, di sebuah markas salah satu serikat terbesar dan terkuat saat ini terjadi sebuah kehebohan yang luar biasa.
Kehebohan itu terjadi ketika sebuah tanda peringatan muncul di salah satu layar monitor milik salah satu anggota serikat tersebut.
"Gawat!!" Teriak pria itu saat melihat sebuah kode darurat yang tiba-tiba muncul dan menutupi seluruh perangkat lunak yang ia gunakan saat ini.
"Ada apa?!... Apa yang terjadi?!" Tanya salah satu anggota lainnya dengan ekspresi penasaran dan merasa was-was.
"Nona Karina dalam bahaya!" Ucap pria itu dengan ekspresi panik yang tidak bisa hilang dari wajahnya.
Seketika semua orang yang ada di ruangan tersebut tampak langsung terkejut mendengar kabar tersebut.
Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...
__ADS_1