Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Portal Dimensi Yang Baru (2)


__ADS_3

Kondisi tembok ke enam saat ini tampak sudah kacau balau.


Semua tempat tampak hancur, terutama pemukiman warga dan area perkotaan yang di penuhi gedung-gedung pencakar langit kini hancur.


Puing-puing gedung berhamburan di jalanan, sementara kendaraan-kendaraan yang di gunakan oleh masyarakat semuanya jadi terbengkalai.


Selain itu, kebakaran juga terjadi dalam jumlah yang besar karena monster yang memiliki tubuh seperti gorila itu merupakan monster dengan elemen api.


Sementara itu, monster dengan tubuh seperti kadal merupakan monster yang bisa memperkuat tubuhnya dengan sisik-sisik tebal yang ada di sekujur tubuhnya.


Selain itu, sisik-sisik tersebut juga bisa di jadikan senjata yang dapat di kendalikan dengan sesuka hati oleh si monster kadal tersebut.


Namun hal itu akan melemahkan pertahanan yang di miliki oleh si monster kadal karena ia harus melepaskan sisik-sisik itu dari tubuhnya agar bisa di gunakan untuk menyerang lawannya.


Sementara itu, monster dengan bentuk tubuh yang mirip serigala memiliki kemampuan kumis cambuk, yang mana dua kumis panjangnya bisa memanjang dan memendek sesuka hati. Selain itu, si monster serigala itu juga merupakan monster yang bisa menggunakan kekuatan petir sehingga seringkali si monster tersebut memadukan kumis panjangnya itu dengan kekuatan petir yang ia miliki.


Saat ini kantor asosiasi pemburu monster cabang ke lima yang berada di tembok ke enam itu pun terpaksa harus mengerahkan semua pemburu monster yang tersisa di tembok ke enam.


Kesibukan kembali terjadi di kantor asosiasi cabang ke lima dan tampak para pegawai kantor itu berusaha mengirimkan pesan ke seluruh pemburu monster yang ada untuk menginformasikan serangan para monster tersebut.


Informasi pun berhasil di sebarkan dengan sangat cepat hingga informasi itu juga sampai pada setiap pemimpin asosiasi lainnya.


Mendapatkan informasi tentang penyerangan tersebut membuat seluruh pemburu monster jadi terkejut dan mulai panik, terutama mereka yang berada di hutan yang sangat jauh dari tembok ke enam.


Sementara itu, di tempat di mana dua ribu lebih pemburu monster sedang di serang oleh monster kini sudah mendapatkan pula informasi itu. Mereka semua ingin segera bergabung ke tembok ke enam, namun sayang sekali mereka saat ini juga sedang berhadapan dengan para monster yang ada di hutan.


Monster-monster yang menyerang mereka di hutan itu juga cukup kuat sampai-sampai tiga orang top ranking yang di kirim untuk membantu mereka juga jadi kewalahan.

__ADS_1


Hal itu di karenakan banyak pemburu monster yang saat ini sudah tidak sadarkan diri serta yang sudah terluka dan tak bisa bertarung akibat serangan dari Karina dan Anton sebelumnya.


Tentunya keadaan tersebut membuat para pemburu monster itu malah jadi beban baginya tiga top ranking tersebut.


"Sial!... Kalau begini terus bisa-bisa tembok ke enam akan hilang dari kerajaan Sulteng!" Ucap Nego Aleson si ranking 9.


"Suruh yang lainnya untuk pergi ke tembok ke enam... Sisanya tetap di sini untuk melindungi para beban ini!" Ucap Argo Maroso, yakni ayah angkat Anton dan sekaligus si rangking 5 dalam top ranking pemburu monster.


Setelah Argo memberikan arahan tersebut, kini para pemburu monster yang lainnya langsung bergegas menuju ke tembok ke enam untuk menyelamatkan masyarakat yang ada di sana.


*******


Di tempat Ricardo saat ini tampak Ricardo, Bangka, Karinto, dan Tindolo telah di kejutkan oleh informasi yang di kirimkan pada mereka.


Mendapatkan informasi itu, mereka pun segera menanggapi dengan serius dan mencoba mengambil keputusan yang cukup berat.


"Semua anggota kita saat ini sedang tak sadarkan diri!... Jika seandainya ada monster yang mendekat, maka habislah sudah anggota kita di lahap para monster jika kita pergi semua." Ucap Karinto.


Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk membiarkan Ricardo dan Karinto yang pergi ke tembok ke enam sedangkan Tindolo dan Bangka akan menjaga semua anggota mereka yang sedang pingsan saat ini.


Saat ini Tindolo dan Bangka sudah menyerahkan semuanya pada nasib, jadi mereka berdua hanya bisa berharap semoga tak ada monster yang datang ke tempat ini agar semuanya selamat dan mereka masih sempat pergi ke tembok ke enam.


Begitu Karinto dan Ricardo pergi, Bangka dan Tindolo pun segera mencoba membangunkan semua pemburu monster yang ada, barangkali saja ada yang masih bisa cepat sadarkan diri.


Di sisi lain, Anton dan Karina yang saat ini sedang berada di udara mendapatkan informasi yang sama dengan pemburu monster lainnya.


Melihat informasi itu, Anton pun segera menghentikan lesatannya dan kini mereka berdua pun melayang di atas langit.

__ADS_1


"Ada apa? Jangan bilang kau sedang berpikir untuk kembali ke tempat itu setelah mereka mengejarmu seperti ini?" Tanya Karina dengan ekspresi keberatan dengan tindakan Anton yang tiba-tiba berhenti saat mereka mendapatkan informasi itu.


"Ya, benar!... Aku ingin kembali ke sana untuk yang terakhir kalinya!" Jawab Anton dengan tegas dan tatapan yang pasti.


"Ehh?... Serius?" Tanya Karina.


"Ya... Karena setelah ini, aku akan pergi dari dunia ini dan kembali ke tempat asalku." Jawab Anton.


Karina hanya terdiam mendengar ucapan Anton tersebut, namun karena Karina sudah memantapkan hatinya untuk tetap mengikuti Anton kemana pun Anton pergi, maka ia pun tidak mau membantah perkataan Anton.


"Begitu ya." Seru Karina dengan suara lirih dengan wajah yang terlihat murung. Lanjutnya, "Mungkin ini juga saat yang tepat bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kedua orangtuaku."


Mendengar perkataan Karina, Anton pun langsung memukul pelan kepala Karina.


"Ahw!" Karina sedikit memekik sambil memegang kepalanya yang tidak sakit sama sekali.


"Kenapa kau memukulku?" Tanya Karina sambil menatap ke arah Anton.


"Jangan bodoh!... Jika kau tetap ingin berada di Dunia ini maka kau boleh tinggal di sini... Menjadi bawahanku bukan berarti kau harus selalu mengikuti-ku kemanapun aku pergi." Ucap Anton memberi tanggapan mengenai apa yang Karina ucapkan sebelumnya.


"Tapi..."


Belum sempat Karina melanjutkan perkataannya Anton langsung menyentuh bibir Karina menggunakan jarum telunjuknya.


"Bicaranya nanti saja... Sekarang kita harus bergegas." Ucap Anton yang kemudian kembali melesat dan membawa Karina melesat dengannya.


Karina yang belum sepenuhnya siap untuk melesat tampak hampir kehilangan keseimbangannya di atas pedang dan hal itu membuat ia hampir terjatuh. Namun karena Anton segera menopang punggung Karina, akhirnya Karina pun kembali bisa mengimbangi tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan bergerak mendadak dasar bodoh!" Ucap Karina kesal sambil menoleh ke arah Anton.


"Hahaha... iya-iya maaf." Balas Anton menanggapi sambil tertawa hambar.


__ADS_2