
Tembok ke enam. Wilayah yang di naungi oleh tembok ke enam ini berisikan empat kota yang cukup besar dan 12 desa yang cukup luas serta ladang pertanian dan perkebunan yang subur.
Di semua tempat di wilayah ini tampak sudah kacau balau. Baik itu di kota, desa, maupun lahan pertanian dan perkebunan.
Serangan para monster dalam jumlah banyak akibat kemunculan portal baru yang secara tiba-tiba itu membuat situasi menjadi semakin parah hingga seperti saat ini.
Sisa-sisa kekacauan sebelumnya belum.berakhir, kini malah muncul kekacauan yang lebih besar lagi.
Nadoyo, si pemimpin asosiasi cabang kelima. Ia bertarung bersama dua rekannya melawan para monster di salah satu kota yang ada di wilayah tembok ke enam itu.
Nadoyo Berlari ke arah rombongan para monster.
Monster bersiaga, mencoba menyiapkan serangan ke arah Nadoyo.
Namun Nadoyo segera melompat ke udara.
Serangan dari para monster mulai di lesatkan.
Monster mengibaskan cakarnya di udara. Muncul energi yang tampak seperti sebuah sabetan melesat cepat ke arah Nadoyo.
Jumlah serangan sangat banyak.
Selagi di udara, Nadoyo melihat serangan itu dan memutar tubuhnya di udara untuk menghindari serangan.
Beberapa serangan hampir mengenainya. Namun begitu ia berhasil mendaratkan kakinya, ia segera menunduk dan memutar tubuhnya seraya bergerak ke samping di ikuti dengan ayunan tangan yang menciptakan puluhan peluru kristal di udara.
Lalu dengan gerakan ayunan tangan dan menghentakkan tangannya di akhir ayunan, saat itulah seluruh peluru kristal di tembakkan.
Puluhan peluru kristal langsung mengincar lawannya.
Para monster berjatuhan akibat terkena serangan tepat di kepala, namun beberapa monster berhasil menangkis serangan itu dengan cakar dan jurus-jurus yang mereka miliki masing-masing.
Dua rekan si pemimpin asosiasi cabang lima ini tampak sedang kewalahan menghadapi monster yang ada di kiri kanan dan belakang mereka.
Berkali-kali mereka menyerang namun hanya beberapa saja yang mereka bunuh.
"Sial!... Pergerakan para monster ini sulit di tebak!" Keluh salah satu rekan tersebut.
Serangan monster mulai membabi buta ke arah mereka. Beberapa monster maju dan menyerang dari dekat.
__ADS_1
Ada yang mencoba melibas mereka dengan cakar, ada yang hendak menerkam, dan ada pula yang hendak menembakkan serangan dari jarak dekat.
Serangan demi serangan di tujukan oleh para monster dengan niat membunuh.
Dua pemburu monster ini pun semakin kerepotan. Tubuh yang sebelumnya mulus kini penuh dengan luka, terutama salah satu dari mereka adalah seorang wanita yang parasnya cukup cantik namun kini harus lecet-lecet di beberapa area tubuh dan wajah akibat terkena serangan para monster.
Pada akhirnya, dua rekan ini tersudutkan oleh serangan-serangan para monster.
Serangan berikutnya pun di lesatkan oleh monster. Sebuah bola api raksasa melesat ke arah mereka.
Karena tersudutkan, mereka sempat tidak menyadari akan serangan yang datang dari arah samping mereka.
Namun saat merasakan suatu hawa panas, mereka pun menoleh dan melihat bola api raksasa itu.
Keduanya terkejut dan terlambat mengambil tindakan.
Mencoba untuk menghindar dengan cara melompat, namun bola api sudah keburu menabrak tanah tempat mereka berpijak sebelum berhasil menjauh dengan kekuatan loncatan mereka.
DUAAARRRR!!
Ledakan terjadi, dua rekan yang baru berada beberapa meter saat melompat langsung terkena efek ledakan tersebut.
Tubuh keduanya menghitam dan gosong, wajah kini sudah tak di kenali lagi karena saking panasnya api yang membakar tubuh mereka.
Mendengar suara ledakan barusan membuat Nadoyo terkejut dan langsung menoleh ke arah ledakan.
Tempat terjadinya ledakan itu di penuhi oleh asap tebal.
Nadoyo mengedarkan pandangannya. Tatapannya berhenti ketika ia melihat dua rekannya yang berada di tempat yang cukup jauh dari area ledakan dan mereka sudah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Karena keterkejutan tersebut, Nadoyo pun jadi lengah. Tanpa sadar, dari belakangnya seekor monster langsung melibatkan cakar panjang ke arahnya.
Cakar itu bergerak dari kanan ke kiri. Tujuan serangan-nya mengarah ke leher.
Nadoyo terlambat menyadari hal itu, namun karena ia cukup refleks, ia pun segera memutar tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya serta mencoba memunculkan kristal di tangannya untuk memblokir serangan.
Namun baru secuil kristal itu terbentuk, kini cakar tajam di monster sudah menghantam tangan yang mencoba memblokir serangan tersebut.
KRAK!!
__ADS_1
Tangan Nadoyo mengalami patah tulang dengan luka cakaran yang sangat besar di kedua tangannya itu.
Tidak hanya itu saja, Nadoyo juga langsung terhempas saat serangan itu menghantam tangannya.
Nadoyo terlempar sangat kuat dan cepat hingga menghantam batang pohon. Tiga batang pohon langsung ambruk sebelum akhirnya tubuh Nadoyo menghantam batu besar di belakangnya.
Satu serangan tersebut membuat Nadoyo menjadi tidak berkutik.
Kedua tangannya patah dan ia kehabisan tenaga karena rasa sakit yang ia derita membuat tubuhnya terasa berat dan sulit di gerakkan.
Ia kini terduduk dalam posisi lutut menekuk dan menyanggah berat badan. Wajahnya terlihat pucat pasi dan dari mulutnya keluar darah.
Tangannya yang patah juga sudah berlumuran darah, bahkan darah dari bagian tersebut sudah terciprat pula di baju sehingga bajunya tampak ada darah yang cukup banyak.
"Monster-monster ini terlalu kuat! Uhuk!" Ucap Nadoyo yang kemudian terbatuk dan mengeluarkan darah lagi dari mulutnya.
Sepertinya efek dari cakaran barusan bukan hanya memberi luka luar saja, tapi energi yang di gunakan dalam serangan itu juga menghasilkan pukulan tak kasat mata yang menghantam tubuh Nadoyo, dan hal itulah yang membuat ia terhempas kuat dan mengalami sedikit luka dalam.
Tak cukup sampai di situ saja, amukan para monster kian berlanjut.
Beberapa monster maju sekaligus dan hendak menerkam si pria yang sudah tak berdaya itu.
Dalam hati si pria ia sudah tak punya kesempatan hidup lagi.
Ia kini sudah pasrah kalau memang ini adalah takdirnya untuk mati dengan cara mengenaskan seperti ini.
Tewas dalam pertarungan dengan monster adalah hal yang paling ksatria bagi para pemburu monster di dunia ini.
Itulah kalimat yang terbesit di pikiran Nadoyo dalam pasrahnya menatap para monster yang menargetkannya.
Begitu salah satu monster yang paling depan dan sudah dekat dengan Nadoyo hendak menerkam, tiba-tiba sesosok bayangan berwarna kebiruan berkelebatan turun dari langit dan langsung menghantam si monster.
DUAAARRRR!!
Hantaman sosok yang berkelebatan itu menghasilkan ledakan dan di sertai sengatan petir yang langsung membunuh si monster.
Bagaimana tidak, si monster itu langsung di hantam menggunakan tenaga petir tepat di kepala dan sengatan petir itu langsung menjalar ke seluruh tubuh dan membuat si monster tak berkutik.
Beberapa monster lainnya yang berada di belakang monster itu segera berhenti dengan segera sampai-sampai kaki mereka saling bergesek dengan tanah.
__ADS_1