
Saat ini Anton langsung mengaktifkan serangan yang sebelumnya sudah ia siapkan saat dirinya di serang oleh Topeo.
Sebelumnya, Topeo menyerang Anton menggunakan serangan tebasan bulan sabit secara terus-menerus, sementara Anton hanya terus menghindar dan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya serta mengitari dan bergerak acak mengelilingi topeo.
Sebenarnya, saat itu Anton sedang memasang sebuah jurus di tempat ia mendaratkan kaki dan tangannya saat ia berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.
Namun saat ia menempatkan jurus itu, bola angin yang ia tempatkan itu ukurannya tidak terlalu besar karena ia hanya membuat ala kadarnya saja, dan saat hendak di gunakan, barulah ia memperkuat bola angin itu hingga bentuknya menjadi besar.
"Sial!... Apa dia sudah sedari tadi menempatkan benda itu agar ia kendalikan di saat yang tepat?" pikir Topeo bertanya-tanya.
Topeo kini tak sempat lagi untuk menghindar atau pun melakukan serangan balasan.
Ia bahkan sudah mencoba menghindar namun baru bergerak selangkah saja kini salah satu bola angin itu sudah menghantam perutnya dan langsung meledak dan membuat Topeo terhempas.
Lalu Anton mulai menggerakkan lagi kedua tangannya dan di saat itu juga satu persatu bola angin melesat dengan cepat menghantam Topeo tanpa memberi ampun sama sekali.
Anton terus melancarkan serangan itu secara bertubi-tubi dan membuat Topeo tidak sempat memberi perlawanan ataupun melakukan antisipasi untuk menghindari serangan.
Topeo terus menerus terkena serangan dari Anton.
Ledakan demi ledakan pun terjadi, dan Topeo kini tampak terhempas kesana kemari akibat ledakan saat bola angin menghantam tubuhnya.
Hingga akhirnya satu bola angin terakhir melesat dan menghantam wajah Topeo.
Bola angin itu pun meledak dan membuat Topeo terhempas dengan sangat kuat hingga menghantam batang pohon. Bahkan batang pohon yang di tabrak oleh Topeo saat ini sampai hancur dan tumbang karena saking kuatnya Topeo terhempas saat terkena hantaman serta efek dari ledakan bola angin tersebut.
Kini Topeo jatuh begitu saja dan tergeletak di bawah batang pohon yang sudah tumbang itu.
Namun Topeo saat ini masih belum hilang kesadaran. Ia saat ini masih sadarkan diri meskipun pandangannya sudah mulai kabur dan kepalanya sudah mulai pusing.
Semua yang ia lihat kini terasa seperti bergoyang-goyang.
"Sialan kau bocah!" Ucap Topeo sambil melihat ke arah Anton yang kini berjalan santai ke arah Topeo.
"Kau benar-benar sangat kuat paman, tapi sayangnya kau terlalu terobsesi dengan ranking yang di buat-buat oleh orang-orang asosiasi... Padahal itu hanyalah sesuatu yang sia-sia karena tujuan dari pemburu monster yang sebenarnya bukanlah soal ranking, melainkan tentang penyelamatan umat manusia." Ucap Anton.
"Tchi!... Kau masih muda bocah!... Saat kau dewasa nanti kau pasti akan memiliki pemikiran seperti kami juga!" Ucap Topeo.
Mendengar ucapan Topeo, Anton pun hanya bisa diam saja. Namun Anton diam bukan berarti ia setuju dengan perkataan Topeo, hanya saja ia malas menanggapi perkataan Topeo saat ini karena ia merasa bosan dengan pandangan yang seperti itu.
__ADS_1
"Hah... orang-orang seperti ini benar-benar sulit di perbarui pola pikirnya!" Ucap Anton dalam hati sambil menghela nafas dengan ekspresi malas.
Tak lama setelah itu, kini Topeo pun langsung hilang kesadaran.
Anton yang melihat Topeo yang sudah kehilangan kesadaran, kini langsung mengangkat tubuh Topeo dan membopongnya.
"Sebaiknya ku bawa dia ke rumah sakit... Jika di biarkan di sini aku yakin Sisilia akan sangat marah padaku." Pikir Anton.
"huh..." Anton menghela nafas. Ucapnya lagi, "Bahak ku rasa aku juga akan kena marah Sisilia jika ia tahu aku menghajar ayahnya seperti ini... Ku harap ia bisa bertindak bijaksana dan tidak menyalahkan ku dalam hal ini."
Setelah berkata seperti itu, Anton pun segera membawa Topeo melompat dari satu pohon ke pohon lainnya sambil terus membopongnya di bahu.
********
Setelah Anton selesai membawa Topeo, kini Anton pun kembali ke markas mereka saat ini.
Ia kembali dan tetap lewat di pintu belakang.
Ia melihat pintu belakang sudah tertutup, namun saat ia membuka pintu itu, ia berhasil membukanya.
"Ternyata tidak di kunci." Ucap Anton dalam hati.
"Apa tidak ada yang terjadi selama aku pergi?" Tanya Anton.
"Tidak ada." Jawab Karina singkat.
Lalu Karina pun langsung berdiri dari duduknya, ia kemudian masuk ke ruangan yang merupakan tempat istirahat di markas mereka ini.
"Aku mau tidur lebih dulu." Ucap Karina berpamitan.
"Uhm." Anton hanya bergumam sambil mengangguk.
Lalu ia duduk dan meminum kopi yang sudah di buatkan oleh Karina padanya.
"Ku rasa malam ini aku harus melakukan sedikit semedi untuk meningkatkan pemahamanku terhadap beberapa jurus yang ku miliki saat ini!" Ucap Anton dalam hati.
Sementara itu, Karina kini sudah masuk ke ruang istirahat yang mana di ruangan itu terdapat dua ruangan kecil yang terpisah oleh satu tembok tipis.
Di masing-masing ruangan ada satu ranjang untuk tidur dan ranjang itulah yang mereka gunakan untuk beristirahat di malam hari.
__ADS_1
Sementara itu, Karina yang saat ini sudah berada di dalam kamar kini langsung membaringkan tubuhnya. Namun sampai saat ini perasaannya masih belum tenang.
Ada rasa gelisah yang ia rasakan dan hal itu membuat dirinya sulit untuk tidur.
Setelah sudah cukup lama berbaring di kamar itu, ia masih belum bisa tertidur.
"ahh... Rasanya benar-benar menyebalkan." Pikir Karina. "Padahal aku sudah berusaha membiasakan diri!... Tapi kenapa tetap saja muncul rasa gelisah seperti ini sih!" Pikir Karina lagi.
Memang benar, selama Karina bertetanggaan dengan Anton, Karina sering kali merasakan rasa gelisah dan resah karena keberadaan Anton yang tidak begitu jauh dari dirinya.
Perasaan gelisah dan resah itu membuat Karina sering kesulitan untuk tidur di malam hari.
Entah kenapa ia merasa seperti ada ketakutan dalam dirinya saat merasakan keberadaan Anton di sekitarnya.
"Sial... Sebenarnya bagaimana caranya agar aku bisa menghilangkan perasaan seperti ini?... Padahal aku juga sudah mencoba dekat dengan Anton tapi aku masih saja tidak terbiasa dan perasaan gelisah dan ketakutan ini masih saja muncul." Pikir Karina sambil berguling ke kiri dan ke kanan.
Sebenarnya selama ini Karina selalu bertindak akrab dengan Anton karena ia ingin membiasakan diri dengan Anton.
Namun sayangnya hal itu sama sekali tidak berhasil.
Di sisi lain, Anton yang sudah selesai minum kopi kini langsung ke kamar sebelah. Ia langsung naik ke atas ranjang dan segera setelah itu ia mulai menyilangkan kakinya dan duduk bersila.
Anton pun kini mulai bersemedi, ia saat ini sedang mencoba memfokuskan pikirannya pada ingatan dirinya di masa lalu, terutama mengingat semua jurus yang ia miliki.
Selain itu, Anton juga sedang mencoba menyerap energi netral di udara untuk di ubah menjadi energi Saga untuk meningkatkan Saga miliknya saat ini.
Beberapa saat setelah Anton bersemedi, tiba-tiba Karina memanggilnya.
"Anton, apa kau sudah tidur?" Tanya Karina dari kamar sebelah.
Perlahan Anton membuka matanya.
Ia kemudian menoleh ke samping tepat di dinding yang menengahi ruangan kamar mereka berdua saat ini.
"Ada apa?" Tanya Anton.
Karina tidak langsung menjawab, namun bisa terdengar suara langkah kaki Karina yang berjalan dari ruangan kamar sebelah menuju ke ruangan kamar Anton saat ini.
Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...
__ADS_1