Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Cerita Natan (Selesai)


__ADS_3

Saat ini Bruno dan Natan telah berada di rumah sakit.


Bruno mengantar Natan hingga sampai ke rumah sakit karena Bruno yang akan menanggung semua biaya perawatan Natan hingga ia benar-benar sembuh dan bisa beraktivitas lagi.


Setelah di lakukan beberapa perawatan khusus pada Natan, kini Natan telah berbaring di atas ranjang pasien.


Tak lama setelah itu, pintu ruangan Natan saat ini terbuka dan dari balik pintu itu Bruno muncul.


Ia masuk ke dalam ruangan tersebut dan mendekat ke arah Natan yang saat ini sedang berbaring dengan kedua tangan yang di perban dan di sanggah menggunakan alat penyanggah khusus.


"Bagaimana energi gelap mu?... Apa kau merasa sudah mulai pulih?" Tanya Bruno sambil menarik sebuah kursi di dekat ranjang pasien itu.


Lalu Bruno pun langsung duduk di samping Natan yang masih berbaring itu.


"Energi gelap ku sudah berangsur pulih, selain itu luka yang ada di tubuhku juga rasanya mulai pulih saat energi gelap kembali mengisi tubuhku." Jawab Natan sambil menol h ke arah Bruno.


"Baguslah kalau begitu." Ucap Bruno


"Energi gelap sangatlah penting bagi para pemburu monster, oleh karena itu usahakan agar kau tidak kehabisan energi gelap saat bertarung, dan jika kau merasa pertarungan tak bisa kau tangani, maka sebaiknya gunakan sisi energi gelap-mu itu untuk kabur." Ucap Bruno memberi saran pada Natan.


"Uhm." Natan hanya bergumam sambil mengangguk.


"Akan ku ingat saranmu." Jawab Natan.


Setelah itu, kini keduanya mulai mengobrol satu sama lain dan mulai berbagi cerita-cerita sederhana tentang diri mereka.


Hingga akhirnya Bruno pun kembali mempertanyakan masalah Natan yang sebenarnya.


"Ku rasa masalahmu saat ini lebih berat dari yang kau bicarakan sebelumnya... Bisa kau ceritakan padaku?" Tanya Bruno.


Saat ini Bruno sengaja untuk tidak langsung menawarkan bantuan pada Natan.


Sebenarnya sebelumnya bruno hendak berkata bahwa ia akan membantu jika bisa, namun ia berubah pikiran karena ia bisa melihat bahwa Natan adalah orang yang kemungkinannya akan merasa tidak enak jika terus-terusan membuat repot orang lain.

__ADS_1


Dari pembicaraan ringan mereka sebelumnya Bruno telah berhasil menyimpulkan sedikit sikap Natan dalam menanggapi sebuah situasi dan keadaan. Oleh karena itu kini Bruno tak mau sembarang mengeluarkan kata-kata agar ia bisa menggiring Natan ke arah yang ia inginkan.


Setelah Bruno memberikan pertanyaan itu, Natan kini tampak sedikit bimbang untuk berbicara.


Tampak Natan saat ini hanya berdiam dan tak mengatakan apa-apa.


Namun sesaat kemudian Natan pun mulai berbicara.


"Sebenarnya saat ini aku punya masalah keuangan dan masalah kesehatan ibuku." Ucap Natan dengan suara yang lirih.


"Lanjutkan." Ujar Bruno menanggapi.


"Saat ini ibuku sedang berada di rumah sakit dan penyakitnya sudah cukup parah... Saat ini beliau harus segera di operasi, namun aku sama sekali tak punya uang yang cukup untuk membiayai tagihan rumah sakit itu... Alhasil aku pun memilih untuk menjadi pemburu monster untuk mengumpulkan uang dengan sesegera mungkin." Ucap Natan mulai bercerita.


Mulai dari sepenggal cerita kecil itu, kini Natan pun langsung tanpa sadar mulai mencurahkan isi hatinya pada Bruno.


Ia mulai bercerita tentang semua masalah yang ia hadapi mulai dari penyakit orang tuanya, masalah keluarganya, dan bahkan masalah yang ia alami hari ini.


Sementara itu, Bruno kini hanya bisa mendengarkan dengan seksama saat Natan berbicara.


Setelah Natan selesai bercerita, kini Bruno pun mencoba memberikan solusi pada Natan.


Solusi itu adalah solusi yang mungkin akan di terima oleh Natan tanpa terlalu banyak berpikir.


"Begitu ya... Jadi intinya kau sekarang sedang butuh uang untuk membiayai pengobatan ibumu?" Tanya Bruno memastikan.


"Uhm." Gumam Natan menanggapi.


"Baiklah, kalau begitu, biar aku saja yang akan membiayai pengobatan ibumu." Ucap Bruno dengan santainya.


"Tidak bisa seperti itu!" Balas Natan dengan tegas dan langsung menoleh ke arah Bruno.


"Kau telah membantuku hari ini... Aku tidak ingin merepotkan orang yang baru saja aku temui!"

__ADS_1


"Hah... sudah ku duga kau akan berkata seperti itu." Ucap Bruno sambil menghela nafas panjang.


Lanjutnya, "Tenang saja, aku menawarkan bantuan ini tidak gratis loh!"


"Apa maksudmu?" Tanya Natan.


"Aku ingin kau membantuku dalam beberapa misi perburuan monster, dengan begitu kita bisa impas dalam hal seperti ini... Bagaimana?" Ucap Bruno memberi saran.


Natan mulai terdiam dan ia tampak sedikit berpikir.


Tak butuh waktu yang lama, kini Natan pun langsung kembali menoleh ke arah Bruno.


"Oke, aku akan menerima tawaranmu... Aku akan menebus semua bantuanmu pada ibuku setelah aku sehat!" Ucap Natan dengan tekad yang sudah bulat.


Setelah keputusan itu, keesokan harinya ibu Natan pun langsung menjalani operasi dari dokter dan operasi itu berjalan lancar.


Alhasil kini ibu Natan telah berhasil di selamatkan dari penyakit yang ia derita selama ini, dan sejak saat itu pula Natan pun menganggap Bruno sebagai penyelamatnya dan ia merasa bahwa dirinya sangatlah berutang budi pada Bruno.


Hal itulah yang membuat Natan merasa sangat tertekan ketika dirinya tak bisa menyelamatkan Bruno.


Sekali lagi, Natan kini jatuh dalam penyesalan dan kesedihan, dan ia merasa bahwa dirinya tidak bisa berguna bagi orang yang sudah sangat berjasa pada dirinya.


FLASHBACK END


"Hah...." Natan menghela nafas berat setelah mengingat kejadian di masa lalunya.


"Aku benar-benar tidak bisa membalas kebaikan Bruno padaku!" Pikir Natan.


Pikiran yang muncul di otak Natan itu tentunya membebani pikiran Natan saat ini.


Namun, Natan juga kembali teringat akan satu kata dari Bruno, yakni Natan harus menjadi seorang pemburu monster yang benar-benar memburu monster demi kebaikan umat manusia dan bukan untuk kepuasan diri sendiri.


Selain itu, beberapa hari sebelum kota yang mereka tempati berbelanja itu di serang oleh monster, Bruno sudah sempat bercerita dengan Natan.

__ADS_1


Dalam cerita Bruno itu, Bruno menyatakan bahwa yang sebenarnya lebih kuat di kelompok mereka ini adalah Zero, selain itu, Bruno juga mengatakan bahwa Zero pantas menjadi pemimpin kelompok tersebut karena sikapnya yang tidak serakah dan selalu memandang ke depan. Ia juga bahkan sempat mengatakan bahwa seandainya dirinya tidak ada di kelompok itu, ia ingin agar Natan tetap mengikuti kelompok itu, namun dengan syarat bahwa yang harus memimpin kelompok itu adalah Zero, karena hanya Zero lah yang menurut Bruno adalah sosok yang memiliki tujuan besar untuk membebaskan manusia dari ancaman para monster yang datang dari portal dimensi.


"Hah... Sepertinya aku harus bisa mengendalikan sedikit keegoisan ku terlebih dahulu agar bisa menerima Zero sebagai pemimpin!" Ucap Natan dalam hati karena saat ini Natan memang masih belum bisa tenang dengan kematian Bruno saat ini.


__ADS_2