Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Salah Paham


__ADS_3

Anton yang saat ini telah menemukan keberadaan Karina dan yang lainnya kini segera melesat ke tempat Karina dan yang lainnya.


"Kenapa wajah kalian murung semua?" Tanya Anton yang baru saja tiba dan mendarat di tempat itu.


Mendengar pertanyaan Anton, kini Natan pun langsung menoleh ke arah Anton yang saat ini berjalan mendekati mereka.


"Dari mana saja kau?" Tanya Natan dengan ekspresi yang tampak tidak bersahabat.


"Ah... Maaf soal itu... Tadi aku menemui hambatan dan harus bertarung dengan monster lainnya di kota sebelah!" Jawab Anton.


"Begitu ya." Balas Natan sambil memalingkan wajahnya dari Anton.


Sementara itu, Anton kini mencoba memperhatikan situasi saat ini.


Kini ia mulai bisa menangkap apa yang sedang terjadi di sini.


"Raut wajah yang murung, ada kesedihan tertentu di sini... Dan lagi... Bruno..." Anton menggantungkan ucapannya dalam hati itu sambil menggunakan jurus pendeteksian miliknya dan setelah itu Anton pun bisa menyadari bahwa saat ini, Bruno telah meninggal dunia.


Setelah keadaan sudah mulai membaik, kini Bruno pun segera di bawa ke kediaman orang tuanya agar bisa di lakukan pemakaman dengan layak.


Satu hari setelah itu pun kini pemakaman jenazah Bruno telah di lakukan.


Karina dan yang lainnya pun kini datang menghadiri kegiatan pemakaman itu. Begitu pula dengan Anton yang saat ini hadir sebagai sosok Zero.


Setelah upacara pemakaman selesai, kini beberapa orang yang datang menghadiri upacara pemakaman itu tampak sesekali melirik ke arah Anton.


"Hei, apa kalian sudah dengar rumor baru-baru ini?" Tanya salah satu pria yang juga merupakan seorang pemburu monster.


"Rumor apa itu?" Tanya yang lainnya meminta penjelasan.


"Katanya Kemarin zero bertarung seorang diri dan menghabisi semua monster yang ada tempat kemunculan portal baru itu... Katanya dia membunuh sangat banyak monster yang ada di sana, bahkan monster yang baru keluar dari portal pun semuanya dia babat habis agar tak ada monster lagi yang terus berdatangan menyerang kota!" Ucap pria itu menjelaskan.


"Apa?... Yang benar saja!... Bocah berlevel nol yang bahkan merahasiakan wajahnya itu?" Tanya teman pria itu memastikan.


"Ya benar!... Dia orangnya!... Zero!" Jawab pria itu meyakinkan.


"Dia benar!" Ucap salah satu pria lainnya yang tiba-tiba menyela pembicaraan.


Lanjutnya, "Kemarin aku dan beberapa rombongan lainnya datang ke tempat kemunculan portal baru itu, namun sayangnya kami sudah terlambat dan kmi hanya bisa menemukan mayat-mayat monster yang sangat banyak berserakan di mana-mana, bahkan semua kristal energi dari mayat monster-monster itu sudah tidak ada lagi... Satu-satunya orang yang kami temui di tempat itu hanya Zero seorang dan tampak ia dengan tenang-tenang saja sedang mengawasi portal baru itu!" Ucap pria yang ikut nimbrung itu memberi penjelasan akan keadaan yang ia alami kemarin.


"Yang benar saja?... Ini benar-benar di luar nalar!... Apa jangan-jangan bocah itu hanya menyembunyikan levelnya yang sebenarnya?"


"Itu tidak mungkin, lagi pula jika ia menyembunyikan levelnya yang sebenarnya, maka orang-orang dari kantor asosiasi tidak mungkin tidak bisa mengambil tindakan untuk memperbaiki masalah penyamaran level itu."

__ADS_1


"Benar juga... Aku yakin pasti ada sesuatu di balik semua itu!"


Setelah perbincangan itu, kini orang-orang tersebut berlalu dari tempat pemakaman saat ini.


Sementara Anton dan yang lainnya masih berada di tempat pemakaman tersebut.


Sejenak mereka semua terdiam dan tak bersuara, mereka hanya berdiri meratapi makam Bruno yang saat ini ada di depan mereka sementara kedua orangtua Bruno serta saudara Bruno saat ini baru saja pergi meninggalkan mereka bertujuh di makam Bruno saat ini.


Sesaat keheningan menguasai tempat itu, hingga akhirnya kini Natan pun mulai membuka suara dan berbicara.


"Ayo kita ke markas saat ini untuk membahas kelanjutan kelompok ini!" Ucap Natan.


Mendengar perkataan Natan, kini mereka semua hanya diam dan mengikuti apa yang Natan katakan itu.


Tak butuh waktu lama, kini mereka semua pun sudah sepemikir dan langsung berangkat ke markas mereka saat ini.


Sesampainya di markas mereka pun segera masuk ke dalam markas itu.


Namun karena markas mereka saat ini masih kosong dan polos tak ada apa-apa di dalamnya, kini mereka pun hanya bisa berkumpul di ruang depan sambil berdiri.


"Saat ini Bruno telah tiada... Bagaimana pendapat kalian?... Apakah kalian masih mau melanjutkan kelompok ini?" Tanya Natan yang langsung membahas inti dari permasalahan yang ia maksud sebelumnya.


Mendengar hal itu, sejenak semuanya terdiam. Hingga akhirnya Anton pun mulai buka suara.


"Diam kau sialan!" Ucap Natan yang langsung membentak Anton dengan suara keras dan membuat mereka semua yang ada di ruangan itu langsung terkejut.


"Gara-gara kau Bruno sampai terbunuh!!... Di mana saja kau waktu itu hah?!... Kenapa tidak bergabung dengan kami?!... Jika kau memang sekuat yang di rumorkan itu lantas kenapa kau mencampakkan kami hah?!" Bentak Natan menyalahkan Anton atas kematian Bruno.


"Aku minta maaf untuk perkara itu... Kemarin saat kejadian itu berlangsung, aku merasa bahwa aku harus pergi ke sumber dari penyerangan para monster itu agar bisa menghentikan mereka sebelum mereka semua masuk ke kota, karena jika mere..."


"Banyak alasan!!" Bentak Natan menyela penjelasan Anton barusan.


"Tidak perlu bertele-tele Zero!... Bilang saja jika kau merasa tak senang pada Bruno karena Bruno yang terpilih sebagai pemimpinnya dan bukan kau!... Kau merasa kesal padanya karena sebenarnya kau juga menginginkan posisi itu sebab kaulah yang mengajukan kelompok ini!" bentak Natan dengan memberi alasan sesuai dengan isi pikirannya meskipun sebenarnya kenyataannya tidaklah seperti itu.


Natan kini terus meluapkan amarahnya pada Anton sampai-sampai memakai Anton di depan seluruh anggota kelompok mereka saat ini.


Sementara itu Anton kini hanya bisa bersabar dan menahan diri. Ia hanya bisa terus membiarkan Natan melampiaskan amarahnya dan membiarkan Natan selesai berbicara.


Begitu Natan mulai kehabisan kata-kata, kini Anton pun mulai buka suara.


"Kau salah paham Natan... Aku sama sekali tidak memiliki niat buruk ataupun rasa iri karena Bruno yang terpilih untuk memimpin kelompok ini." Ucap Anton dengan tenang.


"Jangan bicara omong kosong kau Zero!" Bentak Natan lagi.

__ADS_1


"Diam!!"


Tiba-tiba terdengar suara membentak yang lebih tinggi dari suara Natan saat ini.


Suara itu berasal dari Karina yang sejak tadi diam dan terus memperhatikan arah pembicaraan kedua orang yang sedang bertengkar ini.


"Bisa kalian berdua akhiri pertengkaran ini?" Tanya Karina uang kini kembali mengeluarkan suara yang terdengar tenang.


Natan dan Anton kini hanya bisa diam mendengar perkataan Karina.


Sementara itu si Natan kini langsung menoleh ke samping dan buang muka dari Anton.


"Natan, tidak usah di panjang lebarkan masalah ini." Ucap Anita berusaha menenangkan Natan.


"Benar, kita tak perlu membuat masalah ini jadi lebih besar lagi... Aku yakin Bruno tak akan suka melihat pertengkaran seperti ini." Sanggah Lisa mendukung perkataan Anita.


Sementara itu, Sisilia dan Aris kini hanya bisa terdiam mendengarkan pembicaraan mereka.


Sebenarnya mereka semua yang ada di sini sudah saling mengenal dengan baik, kecuali dengan Anton.


Bisa di bilang sebelum mereka menjadi satu kelompok seperti saat ini, mereka sudah menjadi akrab sejak jauh-jauh hari, sementara Anton hanyalah orang asing bagi mereka saat ini.


Apa lagi Natan yang sifatnya memang cukup mudah marah dan tersinggung, hal itu susah di kenali oleh mereka semua dan itulah sebabnya mereka hanya membiarkan Natan meluapkan emosinya karena mereka tahu bahwa setelah itu Natan pasti akan segera membaik dan bisa kembali di luruskan pandangannya.


"Apa yang Zero lakukan itu tidaklah salah!... Justru dialah yang sudah paling berjasa karena berhasil menghalau lebih banyak monster lagi agar tak menyerang kota dan menyebabkan lebih banyak lagi pertumpahan darah serta nyawa yang melayang." Ucap Aris yang kini mulai memberi pandangan pada Natan.


Lanjutnya, "Coba bayangkan, apa jadinya jika ratusan monster yang muncul dari portal itu semuanya di biarkan lepas dan mengacau di seluruh kota?... Apa kau pikir hanya Bruno saja yang akan mati di buatnya?... Apa kau tak memikirkan nyawa orang-orang tak bersalah lainnya di luar sana?... Ingat!... Kita adalah pemburu monster, jadi di setiap harinya, kita harus bersiap untuk mati!... Karena tugas pemburu monster yang sebenarnya sangatlah sulit dan benar-benar harus mempertaruhkan nyawa untuk bisa menyelesaikannya dengan benar!" Ucap Aris dengan suara yang sedikit tegas.


Natan hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Aris barusan, ia kini mencoba mengolah kembali pikirannya yang sudah di penuhi oleh rasa emosi karena kematian Bruno.


"Ku dengar-dengar katanya monster yang berhasil Anton bunuh saat itu semuanya berada di level 140 sampai level 250... Ku rasa itu sama sekali tidak mudah untuk di lakukan, jika seandainya monster-monster dengan level 200 ke atas itu semuanya menyerang kota, mungkin kehancuran yang di akibatkan-nya akan lebih dari ini." Ujar Karina.


"Itu benar, oleh karena itu kita seharusnya tidak menyalahkan Zero atas kejadian ini, Lagi pula kejadian ini sama sekali tak berhubungan dengan Zero secara penuh." Ucap Sisilia menimpali.


Mendengar ucapan mereka, kini Natan pun hanya bisa diam.


Dengan ekspresi murung kini Natan pun langsung memutar tubuhnya dan segera beranjak ke arah pintu.


"Aku mau pergi dulu." Ucap Natan yang kini sudah berdiri di depan pintu sambil memegang gagang pintu itu.


Setelah itu tanpa mengatakan apa-apa lagi kini Natan pun langsung keluar dari tempat itu.


Namun Natan saat ini keluar hanya untuk mencari tempat di mana ia bisa menyendiri dan mengolah pikiran dengan benar.

__ADS_1


__ADS_2