Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Cerita Natan (4)


__ADS_3

Kini pemimpin kelompok yang mencegat Natan sudah berdiri di hadapan Natan yang tangannya sedang di rentangkan oleh para anggota pria itu.


"Hahahaha... Bersiaplah bocah!" Ucap pria itu sambil mengangkat kakinya.


Lalu pria itu pun langsung menginjakkan kakinya ke tangan Natan dengan sekuat tenaga.


KRAAKKK


Tangan Natan langsung patah ketika terinjak oleh kaki pria itu.


"ARRGGGHH!!"


Natan kini hanya bisa berteriak kesakitan sambil meronta-ronta.


Kini para rekan pria itu langsung melepaskan tangan dan tubuh Natan sehingga Natan kini mulai menggeliat menahan rasa sakit yang ia derita saat ini.


Tampak air mata mulai mengalir dari mata Natan karena saking sakitnya menahan luka yang ia derita saat ini.


Natan tidak menangis, hanya saja rasa sakit itu membuat air matanya keluar dengan sendirinya.


"Hahaha... Mampus kau bocah!... Ini hukuman untukmu karena sudah berani mematahkan tanganku!" Bentak pria pemimpin kelompok itu.


Lalu pria itu langsung meludah tepat ke wajah Natan dan setelah itu ia dan rekan-rekannya kembali tertawa meledek Natan.


"Cepat ambil tas bocah itu!" Perintah si pemimpin kelompok tersebut.


Lalu kini salah satu rekan pria itu langsung mengambil tas yang di bawa-bawa oleh Natan di punggungnya itu.


"Hahaha... Berat sekali!... Isinya sangat penuh!" Ucap pria yang merebut paksa tas yang sedang berada di punggung Natan.


"Hahaha... Baguslah... Kalau begitu lebih baik kita segera pergi dari sini!... Biarkan saja bocah itu menderita di sini... Toh nantinya dia juga akan jadi santapan para monster karena ia sudah tak berkutik lagi!" Ucap pria itu sambil menatap sinis pada Natan.


Setelah itu kini mereka semua pun segera pergi meninggalkan Natan seorang diri di dalam hutan itu.


Sementara itu Natan kini hanya bisa menatap kepergian mereka dengan rasa kecewa dan sedih karena dirinya tidak bisa mempertahankan hal miliknya yang seharusnya ia bisa gunakan untuk membiayai kebutuhan ibunya saat ini.

__ADS_1


"Sialan!... Sialan!!... Sialannn!!" Ucap Natan dengan ekspresi kesal dan mulai merasa sedih hingga air matanya mengalir semakin deras.


"Kenapa aku sesial ini di hari pertama?!... Apa salahku?... Apa dosaku sampai-sampai aku harus jadi seperti ini?!... Apa tuhan tidak peduli padaku?" Pikir Natan sambil meneteskan air mata.


Tak lama setelah berkata seperti itu, awan perlahan menjadi gelap dan hujan pun mulai berjatuhan.


Perlahan-lahan, mulai dari rintik-rintik kecil hingga akhirnya hujan itu berangsur menjadi hujan deras.


Hujan deras pun membasahi sekujur tubuh Natan, kini Natan mulai merangkak tanpa tangan, ia mendekati sebatang pohon besar yang ada di depannya lalu ia mulai duduk bersandar di batang pohon itu.


Natan kini merasa sangat sedih karena beban yang ia miliki saat ini terasa sangat berat bagi dirinya.


Alhasil Natan pun kini langsung menangis ketika mengingat kondisi ibunya yang sudah semakin kritis saat ini.


"Maaf Bu!... Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi sekarang?... Maaf Karena aku tak bisa membantumu lebih dari ini... Aku benar-benar minta maaf karena tak bisa menjadi anak yang berguna bagimu!" Ucap Natan dengan suara yang lirih.


Setelah berkata seperti itu Natan pun langsung berteriak dan meluapkan semua emosinya.


Ia kemudian menangis dengan suara keras tanpa ragu.


Hingga akhirnya tiba-tiba terdengar suara seseorang dari balik semak-semak yang ada di sebelah Natan.


"Hei... Apa kau sedang menangis?" Ucap suara orang yang saat ini masih belum menunjukkan dirinya di hadapan Natan.


Mendengar suara itu, seketika Natan pun langsung berhenti berteriak dan langsung mencoba mengalihkan pikirannya dari kesedihan yang ia rasakan saat ini.


"Si... Siapa di sana?!" Tanya Natan sambil menoleh ke arah sumber suara itu.


Setelah beberapa saat tak terdengar jawaban dari suara sebelumnya, kini dari balik semak-semak itu keluar seseorang dan ia menunjukkan dirinya di hadapan Natan.


"Sepertinya kau sedang mengalami luka batin dan luka fisik sekaligus." Ucap pria itu dengan ekspresi yang tampak tenang dan ramah.


Natan hanya diam mendengar ucapan pria itu, ia tak bisa memungkiri hal itu karena apa yang di katakan oleh pria itu memang benar dan dirinya saat ini memang sedang tidak baik-baik saja.


"Apa yang terjadi padamu?" Tanya pria itu sambil berjalan mendekati Natan.

__ADS_1


Pria itu tampak seumuran dengan Natan karena pria itu memang hanya lebih tua satu tahun dari Natan dan pria itu sudah menjadi seorang pemburu monster selama hampir satu tahun, bisa di bilang pria itu sudah cukup berpengalaman di dunia pemburu monster ketimbang Natan saat ini.


"Bukan urusanmu." Ucap Natan dengan suara dingin dan tak mau menceritakan masalahnya pada pria itu.


"Kau tak perlu tahu masalahku, lagi pula kau hanyalah orang asing!" Ucap Natan lagi dan kali ini langsung pada inti dari alasan ia tak mau berbicara.


"Heh... Begitu ya." Balas pria itu sambil duduk jongkok di depan Natan.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita kenalan dulu agar hubungan kita tak jadi seperti orang asing lagi." Ujar pria itu sambil menjulurkan tangannya serta menunjukkan senyum yang ramah pada Natan.


Lalu tanpa basa-basi pria itu langsung menyebutkan namanya.


"Perkenalkan, namaku Bruno Subrigo... Kalah boleh tahu siapa namamu?" Tanya Bruno setelah memperkenalkan diri.


"Natan Andrikel." Jawab Natan singkat.


"Hah... Keadaanmu saat ini benar-benar cukup parah!" Ucap Bruno sambil memperhatikan sekujur tubuh Natan.


"Ahh... Sepertinya memang begitu." Balas Natan dengan ekspresi datar.


"Ini sih bukan sepertinya, tapi memang parah bodoh." Ucap Bruno lagi yang mulai sok akrab dengan Natan.


"Jangan seenaknya mengatakan aku seperti itu sialan!" Balas Natan yang tampak sedikit emosi.


"Hahaha... Iya-iya maaf." Balas Natan menanggapi dengan tawa agar Natan tahu bahwa ia hanya bercanda saja.


Setelah itu, Bruno pun mulai membantu Natan untuk berdiri.


Bruno saat ini berniat untuk membantu Natan dan membawanya ke rumah sakit khusus untuk para pemburu monster karena hanya di rumah sakit itu Natan bisa di obati dengan lebih baik agar tangannya yang patah itu bisa di kembalikan seperti semula meskipun tidak sepenuhnya akan normal seperti semula, tapi setidaknya bisa lebih cepat pulih ketimbang pengobatan di rumah sakit biasa.


"Biar ku bantu kau berdiri... Untuk saat ini sebaiknya kau segera pergi ke rumah sakit khusus pemburu monster." Ucap Bruno mencoba untuk membantu Natan berdiri.


"Tidak perlu, lagi pula aku tak punya uang untuk membayar rumah sakit." Ucap Natan dengan ekspresi datar.


"Tak usah khawatir, aku yang akan menanggung semuanya." jawab Bruno dengan santainya.

__ADS_1


__ADS_2