
Saat ini, Anton telah meminta bantuan ayahnya dan Keni untuk melawan para monster yang menyerang tembok ke enam.
Permintaan Anton itu segera di terima oleh ayahnya setelah Anton mengatakan bahwa dirinya akan segera kembali ke dunia asalnya bersama ayahnya sehingga ia ingin memberikan bantuan terakhir pada orang-orang di bumi saat ini.
"Baiklah, Kami akan membantumu." Jawab Andika dengan ekspresi serius.
"Terimakasih... Kalau begitu untuk sekarang sebaiknya kita segera ke tembok ke lima." Ucap Anton sambil membalikkan tubuhnya.
"Ku harap kita tidak terlalu terlambat sampai di sana." Ucap Karina yang terlihat sedikit khawatir.
"Tenang saja." Balas Anton sambil berjalan melewati Karina.
Lalu Anton pun segera mengangkat tangan kanannya dan setelah itu terbentuklah sebuah lingkaran energi yang sangat besar.
Begitu lingkaran energi itu terbentuk, seketika Andika dan Keni pun merasakan aura yang sangat kuat sampai-sampai membuat mereka sempat merinding ketika merasakan aura tersebut.
"I... Ini!..."
"Aura monster tingkat legendaris?!" Ucap Keni dan Andika dengan ekspresi yang masih sedikit bingung seolah tidak percaya akan apa yang mereka rasakan saat ini.
Tak lama setelah itu dari dalam lingkaran tersebut munculah seekor naga yang terlihat sangat garang dan menakutkan.
Naga itu adalah Angkura, sang naga kuno legendaris.
Kemunculan Angkura si naga kuno legendaris itu membuat Andika dan Keni jadi semakin terkejut.
Mata mereka langsung terbelalak seolah tidak percaya akan apa yang mereka lihat.
"Ya... Yang benar saja?!... Apa ini benar-benar naga kuno legendaris yang muncul di buku-buku sejarah itu?" Ucap Keni sambil berjalan pelan mendekati Angkura.
"Ehm... Benar." Angguk Anton dan membenarkan ucapan Keni.
"Luar biasa!... Bagaimana bisa hewan monster sekuat ini menjadi hewan peliharaanmu?" Tanya Andika penasaran.
"Sial itu akan ku jelaskan jika masalah di sini sudah selesai." Jawab Anton.
Setelah itu Anton pun langsung melompat ke atas punggung Angkura dan duduk di sana.
"Baiklah Angkura, Tujuan kita kali ini adalah tembok ke enam." Ucap Anton sambil menepuk kulit punggung Angkura.
__ADS_1
"Siap tuan." Balas Angkura.
Setelah itu Anton pun langsung mengajak mereka bertiga untuk ikut naik ke punggung Angkura.
"Kalian bertiga juga sebaiknya naik ke punggung Angkura." Ucap Anton mengajak.
"Baiklah!" Jawab Karina singkat dan langsung melompat ke atas punggung Angkura dan duduk tepat di depan Anton.
Setelah itu Andika dan Keni pun juga langsung naik ke punggung Angkura dan duduk di belakang Anton.
"Hahaha... Tidak ku sangka bisa menaiki monster legendaris seperti ini... Ini benar-benar hal yang sangat langka!" Ucap Keni yang tampak girang.
"Benar sekali... Siapa sangka naga kuno legendaris itu benar-benar ada dan bisa di jinakkan seperti ini... Sungguh hal yang luar biasa!" Balas Andika.
Setelah itu Anton pun segera menyuruh Angkura untuk terbang menuju ke tembok ke enam.
Saat mereka sudah mulai terbang, Anton pun memunculkan sebuah rantai yang cukup besar dan panjang di tangan kanannya.
Rantai itu berasal dari ruang penyimpanan miliknya dan ia selalu membawa rantai itu untuk di khususkan penggunaannya pada Angkura.
"Untuk apa rantai itu?" Tanya Karina saat melihat rantai di tangan kanan Anton.
Lalu Anton pun menggunakan kekuatan angin miliknya untuk melilitkan rantai itu ke leher Angkura, dan setelah itu kedua ujung rantai tersebut Anton satukan sehingga membentuk seperti sebuah tali yang biasa di gunakan oleh penunggang kuda untuk mengendalikan kuda.
Namun rantai itu cukup panjang hingga melewati tempat Keni dan Andika yang ada di belakang Anton.
"Oke... Semuanya berpegangan yang erat pada rantai ini." Ucap Anton memberi arahan.
"Memangnya kenapa?" Tanya Keni.
"Pake nanya!" Jawab Anton dengan ekspresi malas.
Setelah itu Anton pun menepuk punggung Angkura dan menyuruh Angkura untuk mempercepat lesatannya.
"Baiklah Angkura... Gunakan kecepatan penuh-mu dan jangan ragu-ragu... Kami sudah punya pengaman." Ucap Anton.
"Siap tuan!" Jawab Angkura singkat.
Setelah itu tubuh Angkura pun langsung memancarkan aura berwarna putih kebiruan dan dari tubuhnya terlihat percikan-percikan petir yang cukup banyak.
__ADS_1
Kejap berikutnya Angkura pun langsung melesat dengan kecepatan penuhnya dan kecepatan lesatannya itu bagaikan petir yang memecah udara. Sangat cepat sampai membuat Andika, Keni, dan Karina langsung terkejut dan segera memegang erat rantai yang Anton lilitkan di leher Angkura sebelumya.
"I... Ini terlalu cepat!" Ucap Karina yang sedikit terdorong ke belakang sehingga punggungnya menempel di dada Anton.
"Sudah ku bilang pegangan yang erat bego!" Balas Anton yang sedang memegang erat rantai tersebut.
"Angkura!... Gunakan perisai petir melengkung di depanmu untuk membelokkan udara agar tekanan udara di sekitar kami sedikit berkurang!" Ucap Anton.
"Siap tuan." Jawab Angkura singkat.
Lalu Angkura pun memunculkan perisai petir transparan di depan kepalanya.
Perisai petir itu memiliki bentuk seperti kerucut. di bagian depannya berujung runcing sementara semakin ke belakang ukuranya semakin lebar sehingga udara yang mendorong dari depan semua di belokkan agar tak memberi tekanan ke arah anton dan yang lainnya.
Hal itu pun membuat merasa tidak lagi perlu menggunakan rantai itu untuk di pegang karena sudah tak ada lagi dorongan udara dari depan.
"Nah kalau sudah seperti ini tak perlu pakai rantai lagi kan." Ucap Anton dengan santainya sambil menghilangkan rantai yang mereka pegang saat ini.
"Kenapa tidak dari tadi saja kau buat seperti ini dasar bocah?!" Ucap Keni sambil memukul kepala Anton karena kesal.
Melihat tindakan Keni, Andika hanya tertawa terbahak-bahak karena menurutnya itu memang hal yang lucu, dan apa yang Keni katakan barusan itu juga benar.
"Hehehe maaf-maaf." Balas Anton sambil tertawa hambar.
Lesatan Angkura sangat cepat, dalam waktu yang kurang dari dua menit ia sudah melewati para pemburu monster lainnya yang juga sedang menuju ke tembok ke enam.
Para pemburu monster yang di lewati oleh Angkura sempat menengok ke atas dan melihat sosok Angkura hanya seperti sebuah bayangan karena lesatannya sangatlah cepat.
"Benda apa barusan itu?" Ucap Ricardo saat melihat sosok bayangan yang sangat cepat itu.
******
Di tembok ke enam saat ini kekacauan masih terus terjadi.
Sudah cukup banyak manusia yang terbunuh dan hanya tersisa 64% manusia yang berhasil di ungsikan di ruang bawah tanah yang sangat luas yang berada di kantor asosiasi pemburu monster cabang ke lima.
Meskipun hanya 64% dari jumlah total masyarakat tembok ke enam yang berhasil di ungsikan, namun ruang bawah tanah itu tampak sudah penuh dan semua orang terlihat saling berdempetan satu dengan yang lain.
Sementara di luar sana para pemburu monster masih terus berjaga agar tak ada monster yang bisa mendekati kantor asosiasi yang telah mengungsikan ribuan nyawa tersebut.
__ADS_1
Para pemburu monster terus berusaha untuk tetap melawan bahkan sekalipun nyawa taruhannya.