
Anton dan Karina saat ini kembali melesat, tujuan keduanya masih belum berubah, yakni menemui seseorang yang Anton kenali.
Hal itu di karenakan Anton sedang mencoba meminta bantuan orang itu untuk membunuh para monster yang menyerang tembok ke enam, oleh karena itu Anton tetap lanjutkan perjalanan menuju ke tempat orang tersebut.
Dari kejauhan Anton telah merasakan keberadaan orang tersebut dan tak lama setelah itu, kini Anton dan Karina pun tiba di tempat orang itu berada.
Orang itu ternyata adalah dua pria misterius yang sebelumnya bertarung dengan Angkio, Partono, dan Saruto.
Dari jarak yang cukup jauh Anton dan Karina pun kini bisa melihat sosok dari kedua pria itu sedang berdiri di sebuah tanah yang cukup lapang yang hanya di tumbuhi oleh rumput-rumput pendek.
Begitu Anton dan Karina terbang ke arah mereka dan mendarat di depan mereka, mereka pun tampak senang melihat sosok Anton yang kini menghampiri keduanya.
"Hahaha... Itu benar-benar sayap yang bagus tuan muda." Ucap salah satu pria misterius saat Anton dan Karina mendarat di depan mereka.
Anton dan Karina pun berjalan mendekati kedua pria misterius itu dan setelah berada cukup dekat dengan mereka, Anton pun langsung memberi hormat pada kedua pria misterius itu.
"Salam hormat ayah... Paman Keni." Ucap Anton sambil menangkupkan kedua tangannya.
Melihat hal itu, seketika salah satu pria misterius itu pun langsung tertawa terbahak-bahak, dan kemudian ia pun langsung menjentikkan jarinya.
Begitu terdengar bunyi jentikan jari, seketika pakaian serba hitam yang di pakai oleh pria misterius yang sedang tertawa itu langsung lenyap dan kini pria itu tampak mengenakan pakaian berwarna keemasan dengan beberapa perlengkapan armor di dada dan lengan serta di kaki.
Pria itu tak lagi menutupi wajahnya dan tampak wajah pria itu tampan serta terlihat mirip dengan Anton.
"Rupanya kau bisa langsung mengenaliku... Luar biasa nak... Kau benar-benar semakin berkembang sekarang." Ucap pria itu sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Melihat hal itu, Karina pun jadi sedikit terkejut karena ia tak menyangka kalau orang itu adalah ayah kandung Anton yang dulunya pernah Anton ceritakan padanya.
Note: Anton pernah mengungkap identitasnya pada Karina bahwa dirinya adalah manusia yang berasal dari dunia lain, dan hal itu juga mengungkap bahwa Argo Maroso bukanlah orangtua kandung Anton. (Lihat episode 99. Memperkenalkan Angkura.)
Setelah ayah kandung Anton, yakni Andika Ricardo membuka penyamarannya, kini orang yang Anton sebut sebagai paman Keni sebelumnya kini juga langsung menghilangkan pakaian serba hitam miliknya dan menunjukkan wajahnya pada Anton.
"Sepertinya kau baik-baik saja... Kemampuan mu saat ini membuatku terkesan... Kau benar-benar sama seperti ayahmu saat masih muda dulu." Ucap paman Keni yang merupakan pengawal pribadi ayah kandung Anton.
Keni dan Andika sudah berteman baik sejak mereka masih kecil dan oleh karena itu keduanya sangat akrab.
Meskipun Andika adalah seorang yang berasal dari keluarga bangsawan, namun Andika adalah orang yang tidak memandang status sosial seseorang, contohnya saja Keni yang berteman dengannya dari kecil.
Keni hanyalah orang yang berasal dari keluarga kecil, namun Andika mau berteman dengannya dan bahkan memberikan pekerjaan yang cukup bagus dan layak untuk Keni.
Meskipun pertemuan Anton dan kedua orang yang ia kenal sejak lama ini membuat nostalgia, namun Anton mencoba menepis perasaan rindu pada orangtuanya serta kenalannya di dunia lain, dan kali ini ia mencoba mengajak ayahnya dan Paman Keni untuk membantunya membereskan monster yang ada di tembok ke enam.
*******
Saat ini beberapa monster telah mendekat ke kantor asosiasi pemburu monster cabang ke lima.
Di tembok ke enam ini, hanya tersisa area kantor asosiasi cabang ke lima sajalah yang masih tampak rapi dan belum di porak-porandakan oleh para monster di karenakan adanya pemburu monster yang berjaga di sekitar kantor tersebut.
Para pemburu monster itu terus menyerang semua monster yang datang menghampiri tempat tersebut, kira-kira ada lebih dari sepuluh pemburu monster yang berjaga dan mereka semua adalah pegawai kantor asosiasi tersebut.
Sementara itu, para monster dengan rupa seperti kadal saat ini tampak memanjat dinding pembatas antara wilayah tembok ke enam dan tembok ke lima yang sangat tinggi itu.
__ADS_1
Saat para monster itu memanjat, beberapa pemburu monster yang sedang berjaga di puncak tembok tersebut langsung menyerang para monster itu hingga banyak dari monster kadal itu yang kini berjatuhan kembali ke area tembok ke enam.
Namun, karena jumlah monster itu sangat banyak dan mereka terus mencoba untuk naik ke atas tembok itu, akhirnya kini beberapa monster berhasil lolos dan mulai menyerang para pemburu monster yang berada di atas tembok tersebut.
"Sial!... Kalau seperti ini terus monster-monster ini pasti akan menghancurkan tembok ke lima juga!" Ucap salah satu pemburu monster yang ada di atas tembok pembatas.
"Kau terlambat mengatakan hal itu... Sekarang tembok kelima juga sudah di serang!... Lihat itu!" Balas pemburu monster lainnya sambil menunjuk monster kadal yang sudah lolos dan mengobrak-abrik kota yang ada di bawah tembok perbatasan itu.
"Sial!... Apa pertahanan tembok ini sudah rusak?!" Tanya pria itu lagi.
"Sistem pertahanannya sedang bermasalah... Tapi sekarang sedang di atasi!" Jawab salah satu pria lainnya.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba tembok perbatasan tersebut langsung memancarkan petir yang sangat banyak.
Petir-petir itu bermunculan di bagian luar tembok, tepatnya di bagian dinding di mana para monster kadal sedang merayap naik ke atas.
Hal itu pun membuat para monster kadal itu langsung tersambar petir yang sangat kuat hingga para kadal itu langsung berjatuhan ke tanah karena efek kejut yang membuat mereka tak bisa bertahan untuk memanjat dinding tersebut.
Namun, meskipun demikian, saat ini sudah cukup banyak monster kadal yang masuk ke tembok ke lima dan merasa sudah menghancurkan cukup banyak gedung-gedung di tempat itu serta memakan para masyarakat yang ada di sekitarnya.
"Sial... Meskipun sudah menggunakan pertahanan tembok, tapi sepertinya ini akan tetap sulit karena jumlah kita sangat terbatas!" Ucap pria sebelumnya mulai mengeluh.
"Ini semua karena ambisi untuk mendapatkan kekuatan baru!... Kan sudah ku bilang, Misi pengejaran yang di lakukan terhadap bocah itu sudah seperti pedang bermata dua bagi kita!" Balas salah satu pemburu monster yang memiliki pemikiran yang cukup teliti.
"Itu benar!... Karena alasan itulah aku juga tak mengikuti misi itu... Sekarang lihat akibatnya!" Sambung pria lainnya yang sepemikir dengan pria yang sebelumnya.
__ADS_1
"Apa katamu hah?!... Justru misi itu bisa memberikan harapan bagi umat manusia dasar bodoh!" Balas pria yang lainnya dengan ekspresi kesal sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Lanjutnya, "Ini semua salah bocah yang bernama Zero itu!... Jika saja dia mau melakukan kerjasama!... Maka sudah pasti hal ini tidak akan terjadi!"