
Saat ini serikat pembebasan mulai melakukan pemungutan suara untuk menentukan pemimpin serikat mereka saat ini.
Saat Anton memulai pemungutan suara, Natan pun langsung buka mulut dan memilih Anton sebagai pemimpin yang ia inginkan.
"Aku sudah mendapatkan pencerahan dari Bruno... Sebelum ia meninggal, ia sempat bercerita padaku bahwa jika seandainya dirinya tidak ada, maka yang harus memimpin adalah kau... Zero!" Ucap Natan dengan ekspresi serius di wajahnya.
Mendengar ucapan Natan, Anton hanya bisa diam.
Lalu Anton menoleh ke arah anggota yang lainnya.
"Bagaimana dengan kalian?... Siapa yang kalian inginkan untuk memimpin serikat ini?" Tanya Anton lagi.
"Sebenarnya sih sejak awal aku memilihmu." Ucap Aris.
"Aku setuju dengan ucapan Natan, ku rasa tak ada salahnya jika kau yang memimpin." Sanggah Karina.
"Aku juga setuju, aku juga memilihmu." Balas Sisilia.
Selain itu, kini Lisa dan Anita pun juga memilih Anton untuk memimpin mereka.
Hal itu karena menurut mereka Anton memang memiliki kemampuan yang jauh di atas mereka, selain itu mereka berdua juga sudah tahu bahwa Anton adalah orang yang di akui oleh Bruno.
"Hah... Sepertinya tidak ada pilihan lain." Pikir Anton sambil menghela nafas.
"Baiklah, kalau begitu mulai hari ini akulah yang akan memimpin kalian." Ucap Anton.
Setelah itu Anton pun mulai membahas bagi hasil dari pendapatan serikat mereka setiap melakukan perburuan.
Untuk setiap hasil perburuan dalam satu hari, mereka akan menyisipkan 30% uang hasil perburuan itu ke dana kas serikat.
Tujuan awal pengumpulan uang kas ini mereka lakukan agar kedepannya mereka bisa menggunakan uang itu untuk membeli senjata energi yang mereka ingin miliki.
Dengan adanya senjata energi, tentu itu bisa menambah kekuatan dari si pemburu monster itu sendiri, apa lagi jika senjata energi itu menyimpan kemampuan yang unik yang bisa di gunakan.
__ADS_1
Setelah mereka menyelesaikan pembicaraan itu, kini mereka pun langsung memutuskan untuk melakukan perburuan hari ini.
******
Di sebuah markas yang merupakan markas dari salah satu serikat yang cukup di kenal di tembok ke lima, tampak beberapa pria sedang duduk di ruang tengah dari markas besar itu.
Markas itu jauh lebih besar dari yang di miliki oleh serikat pembebasan saat ini. Bisa di bilang markas itu sudah cukup mewah dan besar karena serikat itu juga merupakan serikat yang cukup besar.
Serikat itu bernama 'Antiar', dan serikat Antiar di pimpin oleh Topeo Antiar, yakni ayah dari Sisilia Antiar.
Saat ini, si pemimpin serikat Antiar itu sedang duduk satu meja dengan enam orang pria lainnya yang merupakan anggota serikat itu.
Enam orang pria ini memiliki hubungan dekat dan memiliki tugas penting tersendiri di serikat Antiar.
Mereka kini sedang mengobrol dengan pemimpin mereka, yakni Topeo itu sendiri.
"Tuan Topeo... Ku dengar-dengar katanya nona Sisilia sudah bergabung dengan serikat lain... Apa itu benar?" Tanya Salah satu pria yang bersama dengan Topeo saat ini.
"Ya... Kau benar... Anak itu benar-benar sangat keras kepala!... Hanya karena masalah sepele sampai-sampai membuatnya jadi membangkang padaku!" Ucap Topeo dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Entahlah!... Anak nakal itu sepertinya terlalu menginginkan kebebasan!... Ia sama sekali tak bisa ku atur!" Jawab Topeo.
Saat ini, tak ada yang tahu apa masalah yang sebenarnya terjadi di keluarga Topeo sehingga Sisilia yang merupakan putri satu-satunya itu menjadi anak yang membangkang terhadap orangtua-nya.
"Oh iya, Aku sudah mencari informasi tentang orang yang menggeser posisi anda dari sepuluh besar." Ucap pria lainnya yang duduk di depan bersebrangan dengan Topeo.
"Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Topeo dengan ekspresi serius.
"Ya, aku sudah menemukan informasi dan di mana dia berada saat ini." Ucap Pria itu sambil menatap layar monitor dari komputer yang sedang ia pakai saat ini.
Mendengar ucapan pria itu, Topeo pun segera mendekatinya.
"Siapa dia?!" Tanya Topeo.
__ADS_1
"Namanya zero, umur 18 Tahun, level nol, dan ia saat ini berada di satu serikat yang bernama serikat pembebasan... Untuk lokasinya anda bisa di sini!" Ucap pria itu sambil menunjukkan sebuah map yang berisikan lokasi Zero saat ini.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini?" Tanya Topeo.
"Aku sudah bertanya pada banyak orang dan termasuk warga sipil, dan akhir-nya aku pun berhasil menemukan lokasi dari bocah yang bernama Zero itu." Jawab pria itu.
"Hahaha... Ternyata tidak sulit untuk menemukannya." Ujar Topeo sambil tertawa.
"Tentu saja tuan, lagi pula kerajaan ini kan tidak luas, dan hanya kerajaan ini saja yang kemungkinannya bertahan di muka bumi ini... Jadi untuk mencari orang itu tentunya tidak akan sulit untuk di lakukan." Ucap pria itu menanggapi.
"Hahaha... Bagus-bagus... Kalau sudah seperti ini aku akan segera mengembalikan nama baik-ku!... Tidak akan ku biarkan bocah itu mencemari reputasi serikat Antiar!" Ucap Topeo dengan penuh percaya diri.
Saat ini Topeo berbicara tanpa pikir panjang. Hal itu di karenakan ia mendengar bahwa Zero hanya berlevel nol saja dan itu berarti Zero hanyalah orang lemah yang kemungkinannya mendapat keberuntungan dan secara tidak sengaja bisa naik ke ranking 10 dalam top ranking Pemburu Monster.
********
Hari sudah malam, dan saat ini Anton dan seluruh anggota serikat pembebasan kini sudah berkumpul di ruang depan di markas mereka.
Mereka sedang duduk bersantai di atas sofa dan sesekali mereka menghela nafas karena merasa kelelahan setelah berburu hari ini.
"Karina, berapa uang yang di dapatkan hari ini?" Tanya Anton yang baru datang dari luar ruangan dan langsung duduk di samping Karina.
"Totalnya Rp. 1.450.000... Itu sudah terhitung dengan total hasil perburuan kita saat Natan masih belum bergabung beberapa hari ini." Jawab Karina.
"Lumayan banyak juga rupanya." Ucap Anton.
"Ya... Meskipun begitu akhir-akhir ini monster yang sangat kuat mulai berkeliaran, dan jumlah monster yang bisa kita buru juga sudah mulai berkurang." Ucap Aris.
"Kau benar Ris... Jika kita ingin menambah jumlah penghasilan, mungkin sebaiknya kita cari tempat baru yang monsternya jauh lebih banyak." Ujar Natan memberi saran.
"Aku juga berpikir begitu... Lagi pula hari ini total penghasilan kita hanya Rp. 230.000 saja, dan jika harus di bagi, ku rasa itu tidak akan mencukupi untuk kebutuhan masing-masing." Balas Karina menyanggah saran dari Natan.
"Kalau begitu mulai besok kita pindah tempat berburu saja." Sela Sisilia yang baru tiba sambil membawa minuman hangat sesuai selera mereka masing-masing.
__ADS_1
Lalu Sisilia meletakkan minuman itu di atas meja, dan dari belakang Sisilia tampak Anita sedang membawa cemilan dan kemudian meletakkan cemilan itu ke meja.
"Oke, silahkan ambil minuman sesuai selera kalian masing-masing." Ucap Sisilia yang kemudian langsung duduk di samping Natan.