
Saat ini Anton tampak sedang bersandar di sebuah batang pohon Basar untuk mengatur pernapasannya dan mencoba menenangkan diri agar bisa bernafas dengan stabil.
Tubuh Anton yang penuh luka kini terlihat terus mengeluarkan darah.
Anton pun mencoba menggunakan kekuatannya untuk menghentikan darah yang mengalir dari luka itu dan akhirnya ia berhasil menghentikan darah itu agar darahnya tak terus-menerus keluar dari tubuhnya.
Namun karena saat ini Anton sudah dalam keadaan penuh luka dan berdarah, kini si monster kelelawar setengah manusia itu pun langsung bisa mendeteksi keberadaan Anton melalui darah yang ada di tubuh Anton saat ini.
Monster itu kini terbang dengan cepat di antara pepohonan sambil mengendus-endus untuk mencari aroma darah Anton dan tak butuh waktu lama kini si monster pun berhasil menemukan bau darah dari darah Anton itu.
Dari aroma darah Anton itulah kini monster tersebut berhasil menemukan persembunyian Anton di balik sebuah batang pohon yang besar itu.
Monster itu langsung muncul di atas Anton dan hinggap di salah satu dahan pohon tempat Anton bersandar.
Anton pun menoleh ke atas sana dan langsung terkejut saat melihat sebuah serangan bola api melesat ke arahnya.
Melihat bola api itu, dengan refleks Anton langsung berguling ke depan untuk menghindari serangan itu.
Anton pun kini berguling hingga beberapa kali ke depan dan setelah itu ia melakukan salto sambil mencari posisi berdiri yang tepat untuk memulai ancang-ancang agar bisa segera melompat.
Begitu Anton berhasil berdiri, Anton pun langsung melompat ke salah satu dahan pohong yang ada di dekatnya dan saat Anton berhasil ke dahan pohon itu kini bola api yang merupakan serangan si monster langsung menghantam tempat Anton berdiri sebelumnya.
DUAAARRRR!!
Terjadi ledakan yang cukup kuat saat bola api itu menghantam tanah.
Namun Anton mengabaikan hal itu dan dengan segera Anton mengeluarkan satu benda pusaka yang ia dapatkan dari monster yang pernah ia kalahkan sebelumnya yakni raja monster iguana.
Anton pun langsung memunculkan sebuah tongkat yang tampak seperti tongkat sihir dengan panjang yang kira-kira hanya tiga puluh sampai empat puluh sentimeter saja.
Tongkat sihir yang merupakan pusaka raja monster iguana itu kini berada di tangan Anton.
Tak lama setelah itu, kini monster manusia setengah kelelawar itu pun langsung muncul lagi di depan Anton karena ia bisa mengejar Anton dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Tapi beracun!" Ucap Anton sambil mengayunkan tongkat sihirnya itu ke arah monster kelelawar bisa berdiri layaknya manusia itu.
Seketika itu juga dari senjata pusaka tongkat sihir itu pun langsung muncul sebuah tali beracun yang langsung melesat cepat dan mencoba melilit di monster tersebut.
Namun monster itu langsung memeluk sayapnya ke depan untuk membungkus tubuhnya sehingga saat itu tali beracun milik Anton pun langsung melilit seluruh sayap yang monster itu gunakan untuk melindungi tubuhnya agar tak terlilit benang beracun.
Anton pun mencoba menekan tongkat sihirnya dan membuat tali beracun itu melilit semakin kuat.
Namun ternyata perlawanan dari sayap yang melindungi tubuh monster itu jauh lebih kuat dan membuat Anton tampak terkejut dengan hal itu.
Perlahan monster itu mulai membuka sayapnya dan terlihat hendak menyibakkan sayapnya serta merentangkan-nya dengan tegas.
Tak butuh waktu lama, kini tali beracun yang melilit monster itu berhasil di putuskan oleh sayap monster tersebut dan kini monster itu pun sudah merentangkan sayapnya di udara dengan penuh kebanggaan.
Ia kemudian meneriakkan suara aneh dari mulutnya ke arah Anton dan suara itu mengandung gelombang energi yang bisa mengacaukan keseimbangan tubuh seseorang serta memberi efek pusing sakit kepala pada target yang terkena serangan itu.
Anton yang masih belum terlalu berpengalaman dan mengetahui akan hal itu pun kini langsung terkena serangan itu begitu saja.
Hal itu pun membuat Anton kini langsung merasakan efek tersebut dan membuat dirinya mulai hilang keseimbangan dan jatuh dari dahan pohon yang ia pijaki saat ini.
Ia kini jatuh bebas hingga akhirnya menghantam tanah dalam posisi tubuh tergeletak menghadap ke langit.
"Sa... Sakit sekali!" Pikir Anton sambil memegang kepalanya menggunakan dua tangan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!... Rasanya pusing dan langsung hilang keseimbangan tubuh!... Apa jangan-jangan monster itu sudah melakukan sesuatu padaku?!" Pikir Anton yang mulai panik akan apa yang di alaminya saat ini.
Sementara itu si monster kini mulai terbang perlahan mendekati Anton.
Monster itu kemudian mendarat kira-kira lima belas meter dari tempat Anton tergeletak saat ini. Ia kemudian berjalan santai mendekati Anton karena ia kini merasa bahwa ia sudah menang dan Anton sudah kalah darinya.
Jadi ia merasa tak perlu khawatir lagi apakah Anton akan kabur darinya atau tidak.
Pandangan Anton kini semakin buram dan ia kini hanya bisa melihat sosok monster itu dengan bentuk yang mulai samar-samar.
__ADS_1
"Hah... Sialan!... Apa ini adalah akhir bagiku?" Pikir Anton sambil menghela nafas.
Kini Anton pun tak punya pilihan lain, rasanya ia tak akan bisa lagi untuk melakukan perlawanan.
Pandangannya sudah kabur dan kepalanya sangat sakit.
Ia juga bahkan sudah mencoba berkali-kali untuk bangkit dan berdiri, namun hanya untuk duduk saja Anton sudah tak sanggup mengimbangi tubuhnya, sementara si monster kini terus mendekat ke arahnya.
Namun satu hal yang tak di sangka-sangka pun terjadi. Di tengah-tengah keputusasaannya itu, tiba-tiba Anton pun mendapatkan lagi beberapa ingatan dari masa lalunya.
Seketika berbagai informasi masuk secara paksa ke dalam kepalanya dan itu malah membuat kepala Anton jadi semakin terasa sakit hingga akhirnya Anton pun langsung tergeletak semakin tidak berdaya di buatnya.
Namun karena proses ingatan itu terjadi sangat cepat, kini Anton pun sudah memiliki beberapa ingatan tentang dirinya yang sebenarnya serta beberapa jurus yang bisa ia gunakan dalam hal genting seperti ini.
*****
Di sisi lain, Karina yang saat ini masih menunggu kedatangan Anton untuk menjemputnya kini mulai terlihat sedikit gelisah karena sekarang sudah lewat dari jam delapan dan bahkan sudah mau jam sembilan tapi Anton masih belum muncul juga.
"Tchi... Sudah mau pukul sembilan tapi dia masih belum datang juga." Pikir Karina sambil mendecakkan lidahnya.
Karina yang saat ini berada di depan pintu rumahnya kini hanya bisa mengedarkan pandangannya ke segala arah dan kemudian mencoba melihat ke rumah Anton.
Namun tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa Anton masih ada di rumah atau tidak.
"Apa perlu aku menanyainya langsung ya?" Pikir Karina lagi. Lanjutnya, "Tapi rasanya dia pasti tak ada di rumahnya sekarang!... Soalnya sekarang aku tak merasakan perasaan gelisah seperti biasanya saat dia berada di dekat sini." Ucap Karina dalam hatinya.
Akhirnya kini Karina pun tampak kecewa dengan Anton. Ia kini mulai pasang ekspresi kecewa itu karena merasa bahwa harapannya tidak akan di kabulkan oleh Anton.
"Mungkin aku terlalu berharap pada orang yang salah!" Pikir Karina.
"Ku pikir dia bisa di percaya untuk hal kecil seperti ini... Tapi ujung-ujungnya dia malah pergi sendirian!" Pikir Karina lagi yang mulai berpikir yang tidak-tidak padahal masih belum jelas kebenarannya.
Lalu dengan ekspresi kecewa itu pun Karina langsung pergi dari rumahnya dan segera menuju ke markas mereka untuk berkumpul di sana karena sekarang hanya tinggal lima menit saja sudah jam sembilan.
__ADS_1