
Saat ini Anton dan Karina sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka yang saling bertetanggaan itu.
Di perjalanan Karina mulai membicarakan kembali tentang masalah saat Karina menunggu Anton yang akan datang menjemputnya.
"Aku yakin kau pasti punya alasan sehingga kau tak menjemput-ku hari itu." Ucap Karina membuka percakapan.
"Uhm." Anton hanya bergumam sambil mengangguk sekali.
Lalu Karina pun langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Boleh aku bersandar?" Tanya Karina.
"Jika kau bertanya sebaiknya bertanya dulu baru lakukan... Bukan lakukan dulu baru bertanya." Ucap Anton dengan ekspresi datar saat merasakan punggung Karina yang hangat melekat di area perut dan dadanya.
"Maaf soal itu." Ucap Karina yang kemudian menyandarkan juga kepalanya ke samping dekat bahu Anton.
"Sekarang bisa kau ceritakan apa yang terjadi padamu hari itu?" Tanya Karina.
"Maksudmu saat aku tak datang menjemput-mu?" Tanya Anton memastikan.
"Uhm." Gumam Karina mengiyakan.
Lalu Anton pun langsung menceritakan semua kejadian hari itu.
Sambil bercerita, Anton melambatkan kecepatan terbangnya agar ceritanya bisa selesai sebelum mereka tiba di rumah.
********
Malam semakin larut, dan keadaan seluruh kota sudah menjadi sangat sunyi.
Malam ini, di kota awal tepatnya di kediaman keluarga Maroso suasana tampak sangat sunyi.
Di dalam.
Di dalam rumah yang sangat luas itu saat ini sangat sunyi.
Di sebuah kamar, tampak kedua orang tua Anton sedang terbaring di atas ranjang.
Suasana kamar itu sangat tenang dan tentram, hingga akhirnya terdengar suara jendela sedang di ketuk dari luar.
Mendengar suara ketukan itu, Kini Argo, yakni ayah Anton, langsung berjalan mendekati jendela itu.
__ADS_1
Tampak dari balik tirai yang menutupi jendela dari dalam terpampang siluet seorang pria yang sedang berdiri di luar jendela.
Saat Argo hendak membuka tirai itu dan melihat sosok pria di luar sana, pria yang ada di luar itu pun langsung menghentikan tindakan Argo.
"Tidak perlu di buka!... Aku kemari hanya untuk mencari tahu di mana anak itu berada saat ini." Ucap pria misterius yang ada di luar jendela itu.
Di sisi lain, Argo Maroso tampak sedikit ciut mendengar suara dari sosok pria misterius yang berada di luar itu.
Pria misterius itu tampak sedang terbang menggunakan pedang di bawah kakinya. Ia mengenakan jubah hitam panjang serta memakai topeng menutupi mata-nya sementara mulutnya di tutupi menggunakan masker hitam polos.
"Mengenai anak itu...." Ucap Argo dengan nada sedikit ragu. Lanjutnya, "Setelah dirinya menjadi seorang pemburu monster, ia memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan mencoba untuk hidup mandiri."
"Begitu ya." Balas pria misterius itu menanggapi.
"Tapi..." Ucapnya lagi dengan suara yang dingin. Lanjutnya, "Akhir-akhir ini aku sudah mendapatkan banyak informasi yang menyatakan bahwa kau telah menelantarkan anak itu, dan tidak hanya itu saja, selama ini kau juga memberikan perlakuan yang tidak baik terhadap anak itu." Ucap pria tersebut sambil sedikit menghentakkan jari tangannya.
Seketika itu juga aura yang sangat kuat terpancar dari tubuh pria misterius itu dan aura itu langsung memberikan tekanan yang kuat pada Argo dan membuat Argo merasa seperti di timpa oleh batu yang sangat besar.
Argo pun langsung tertunduk dan berlutut karena tak mampu menahan tekanan aura tersebut.
"Sial!... Kuat sekali!" Ucap Argo dalam hati.
Keringat itu bermunculan bukan hanya karena beratnya tekanan aura pria misterius itu, melainkan karena rasa takut yang sangat besar yang di rasakan oleh Argo terhadap pria misterius itu.
"So... Soal itu... Sepertinya anda salah paham... Anda pasti mendapatkan informasi yang salah." Ucap Argo membela diri.
"Diam!" Bentak pria misterius itu sambil memperkuat auranya.
Seketika Argo pun langsung menerima tekanan yang lebih berat lagi sehingga ia langsung tersentak dan dari mulutnya langsung keluar darah di sertai batuk sebanyak dua kali.
"Jangan berbohong padaku!" Bentak pria misterius itu lagi, dan kali ini pria itu langsung menggunakan kekuatan angin miliknya dan menghempaskan jendela kaca yang ada di depannya saat ini.
WHUUUSSSS!!
BRAAAKKKK!!
Seketika jendela kaca yang menutupi sosok pria misterius itu hancur berkeping-keping dan Argo pun bisa melihat sosok pria misterius dengan topeng penyamarannya itu.
Di sisi lain, akibat kejadian barusan, Seketika seluruh penghuni kediaman Argo Maroso langsung terbangun karena terkejut mendengar suara jendela yang pecah.
Tidak terkecuali istri Argo.
__ADS_1
Kini istri Argo langsung bangun dan segera menoleh ke arah jendela.
Begitu ia melihat ke jendela yang sudah hancur itu, di sanalah ia mendapati sosok pria misterius sedang terbang melayang dan tepat di depan pria itu tampak suaminya sedang tertunduk lutut sambil terbatuk mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.
"Apa-apaan ini?!" Ucap istri Argo sambil berjalan mendekati suaminya dan pria misterius itu.
Si pria misterius itu hanya diam, lalu ia pun langsung menatap istri Argo dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Seketika istri Argo pun langsung merasakan aura yang sangat mengerikan dari pria misterius itu.
Namun aura itu masih belum memberi tekanan pada istri Argo karena pria itu masih belum menyerangnya.
Seketika rasa takut pun mulai meliputi diri isteri Argo.
Ia dengan segera langsung terbayang-bayang tentang kesalahan yang sudah ia perbuat.
Hanya dengan melihat suaminya yang sedang berlutut dan melihat amarah dari amukan kecil dari pria itu sang istri Argo pun langsung paham dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.
"Orang ini... Dia kembali lagi... Apa jangan-jangan dia sudah tahu semuanya?!" Pikir istri Argo.
Baru saja istri Argo berkata seperti itu dalam rasa takut, tiba-tiba pintu kamar mereka di dobrak dari luar.
BRUAAAKKK!!
Pintu kamar pun langsung hancur dan dari balik pintu itu tampak sosok Dilo muncul dari pintu.
Dilo pun segera melesat ke arah pria misterius itu sambil memunculkan pedang api di tangan kanannya.
Tidak hanya Dilo saja, di waktu yang hampir bersamaan itu tampak pula Sagio datang dari belakang Dilo dan segera melesat ke arah pria misterius itu mengikuti Dilo.
Melihat kedua putra mereka melakukan hal nekat untuk menyerang pria misterius itu, sang ibu pun langsung berteriak memarahi mereka berdua.
"Jangan serang pria itu!!" Teriak sang ibu.
Namun sayangnya itu sudah terlambat karena kini mereka berdua sudah melesatkan serangan mereka masing-masing.
Tampak Dilo sudah berada di depan pria misterius itu sambil menebas-kan pedang-nya ke arah leher pria misterius itu.
Sementara Sagio kini juga sudah ada di depan pria itu sambil menusukkan tanah runcing yang ia munculkan di tangannya ke arah pria misterius itu.
Namun pria misterius itu tampak tetap tenang saja dan hanya dengan satu hentak-kan kaki di atas pedangnya, seketika aura yang sangat kuat pun menekan Sagio dan Dilo hingga mereka berdua pun langsung jatuh begitu saja ke permukaan tanah.
__ADS_1