
Saat ini Anton dan tujuh orang lainnya mulai berpencar, bahkan Aris yang sebelumnya masih bersama Anton kini mulai berpencar untuk mencari tempat yang mereka butuhkan saat ini.
"Baiklah, kita berpencar di sini!" Ucap Aris yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Anton.
"Oke." Jawab Anton singkat dan langsung pergi dari tempat itu.
Setelah cukup lama mereka mencari, akhirnya mereka pun menemukan tempat yang cocok untuk di jadikan sebuah markas.
Tempat itu adalah di sebuah perumahan yang berdekatan dengan tembok raksasa yang ke enam itu.
Tempat itu tidak terlalu banyak di tinggali oleh masyarakat karena terlalu dekat dengan tembok.
Banyak masyarakat yang memiliki pemikiran bahwa jika tembok ke enam ini di serang, maka yang paling pertama terkena dampaknya adalah orang-orang yang tinggal paling dekat dengan tempat berdirinya tembok raksasa tersebut.
Dengan alasan itulah sehingga tempat ini tidak banyak di huni oleh kalangan masyarakat dan hanya ada beberapa Pemburu Monster saja yang tinggal di area perumahan itu.
Kini mereka pun akhirnya memilih berkumpul di tempat itu untuk melihat langsung sebuah rumah yang hendak mereka beli di perumahan itu.
"Wah... Rumah ini cukup besar! Sepertinya ini tempat yang cocok untuk tim kita." Ucap Lisa sambil memperhatikan rumah yang memang cukup luas dan besar itu.
"Yah... Meskipun begitu ku rasa harga dari rumah ini pasti agak mahal." Timpal Karina.
"Iya juga sih, soalnya ukuran rumahnya memang cukup besar dan memiliki bentuk yang cukup mewah." Sanggah Sisilia.
Tak lama setelah itu, kini Bruno dan pemilik perumahan itu pun menghampiri Anton dan yang lainnya yang saat ini berdiri di depan rumah yang ingin mereka jadikan sebagai markas sementara itu.
"Aku sudah menyelesaikan transaksinya, sekarang kita hanya perlu melakukan pencicilan perbulannya mulai bulan depan." Ucap Bruno.
"Begitu ya... baguslah... Jadi apa sekarang kita bisa masuk ke dalam?" Tanya Lisa.
"Tentu saja." Ucap Bruno sambil menunjukkan kunci pintu pada Lisa.
Lisa pun segera mengambil kunci itu dan langsung beranjak dari tempatnya serta segera ke pintu rumah itu untuk membuka rumah tersebut.
Melihat Lisa yang sudah pergi ke depan pintu rumah, kini yang lainnya pun segera mengikuti Lisa dari belakang.
__ADS_1
Sementara itu si Bruno tampak masih membicarakan sesuatu dengan si pemilik perumahan tersebut.
Kini Anton pun tampak berjalan ke arah Lisa dan yang lainnya.
Tampak saat ini Lisa telah membuka pintu rumah dan mereka semua pun sudah masuk ke rumah yang cukup luas itu.
Sementara itu, Anton saat ini tampak sedang berjalan bersama dengan Karina.
Keduanya tampak saling diam-diaman dan tak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka.
Hingga saat mereka berdua masuk ke rumah itu dan berada di ruang depan yang cukup luas kini Karina pun mulai berbicara pada Anton.
"Soal kejadian dua hari yang lalu..." Karina menjeda ucapannya seolah sedang ragu untuk membicarakan kejadian itu.
"Dua hari yang lalu?" Balas Anton yang mencoba mengingat kembali saat di mana ia memberi peringatan pada Karina agar tidak membongkar identitas Anton yang sebenarnya.
"Ada apa dengan kejadian dua hari yang lalu?" Tanya Anton memastikan.
Lalu dengan ekspresi yang tampak sedikit ragu Karina pun menjawab.
Melihat Karina yang sedang menundukkan kepalanya, kini Anton pun hanya bisa menghela nafas panjang. Bagi Anton hal itu sudah bukan masalah lagi untuknya, karena bagi Anton saat ini, yang terpenting adalah Karina bisa menjaga rahasia dirinya yang sebenarnya.
Anton pun kemudian mengulurkan tangan kanannya lalu memegang dagu Karina serta mengangkat wajah Karina agar tidak menunduk lagi.
Lalu Anton pun mendekatkan bibirnya ke telinga Karina dan mulai membisikkan sesuatu di telinga Karina.
"Tidak usah khawatirkan hal itu, aku sudah memaafkan-mu... Yang jelasnya sekarang kau harus bisa menjaga rahasia ku!... Tapi jika kau berani membocorkan rahasiaku, maka kau akan tahu sendiri apa akibatnya." Ucap Anton mengancam Karina dengan suara yang terkesan dingin namun penuh intimidasi yang sampai-sampai membuat bulu kuduk Karina langsung berdiri saat mendengar suara Anton itu.
Karina pun kini hanya bisa diam dan mengangguk patuh dengan apa yang di ucapkan oleh Anton.
Ancaman Anton itu kini benar-benar berhasil membuat Karina jadi semakin berusaha untuk menjaga rahasia itu agar tidak terbongkar.
Sementara itu, para anggota yang lainnya yang saat ini sedang melihat Karina dan Anton yang tampak sangat dekat kini langsung berdehem.
"Ehem ehem... Apa yang sedang kalian bisik-bisikkan itu?" Ucap Anita dengan wajah tersenyum dan ekspresi penuh selidik.
__ADS_1
"Wah wah wah... Sepertinya ada yang sedang merayu seseorang nih." Ungkap Sisilia.
"Wah... Zero cepat kali geraknya." Sambung Natan yang tampak tersenyum dengan ekspresi jahil.
"Kalau kita sudah pindah ke sini kalian berdua jangan sampai pulang berlama-lama ya... Bisa-bisa nantinya terjadi... ehem!" ucap si Natan lagi.
Karina yang mendengar ucapan mereka itu tentu saja tahu kalau itu hanya gurauan dari mereka saja karena mereka memang suka membuat gurauan seperti itu bahkan sejak mereka berada di ruangan tuan Hiruzwen sebelumnya.
Selain itu, Karina memang sudah cukup mengenal mereka karena mereka sering bertemu dan dalam satu bulan terakhir sejak Karina kehilangan semua anggota timnya Karina sempat sesekali melakukan perburuan bersama dengan mereka.
Pada dasarnya, tim yang sudah di bentuk saat ini sudah cukup saling mengenal, hanya saja mereka lebih sering bertarung dan berburu sendiri-sendiri ketimbang melakukan perburuan secara tim.
Mereka biasanya hanya kebetulan bertemu saja barulah membuat tim, jadi saat tidak bertemu mereka akan lebih memilih untuk bertarung sendiri-sendiri.
Sementara itu, Anton hanya bisa menghela nafas panjang mendengar gurauan mereka.
Lalu Anton berjalan melewati Karina.
"Sebaiknya kau ingat baik-baik apa yang ku katakan sebelumnya." Ucap Anton yang kemudian langsung berjalan untuk mengecek semua ruangan yang ada di rumah ini.
"Hah..." Karina menghela nafas panjang dan lega saat Anton telah berlalu dari pandangannya.
Sementara itu, Natan dan Sisilia pun kini langsung berjalan mendekati Karina dan bertanya pada Karina.
"Hei... Apa yang dia bisikkan padamu tadi?" Tanya Sisilia yang tampak penasaran.
"Kalian kelihatanya sangat serius tadi, apa jangan-jangan dia menyatakan perasaannya padamu?" Tanya Natan yang juga terlihat penasaran.
"entahlah, mungkin iya mungkin juga tidak." Jawab Karina tanpa memberi rincian sehingga membuat mereka yang mendengarnya jadi ambigu.
"ehh??"
Mereka semua kebingungan dengan apa yang Karina ucapkan barusan.
"Hahaha... Meskipun Zero menembak Karina, aku yakin Karina pasti akan menolak, lagi pula tipe pria idaman Karina pasti pria yang kuat dengan level yang jauh di atas yang lainnya serta orang yang memiliki bakar yang luar biasa... Soalnya Karina kan anak dari keluarga nomor satu di kalangan para pemburu monster, jadi sudah jelas seleranya pasti sangat tinggi." Ucap Natan menilai Karina.
__ADS_1
Mendengar penilaian dari Natan, seketika wajah Karina langsung murung dan Karina pun langsung pergi dari tempat itu karena ia tidak enak mendengar apa yang di ucapkan oleh Natan barusan.