
Kerajaan Sulteng. Di setiap wilayah tembok yang ada di kerajaan ini memiliki sebuah jalur evakuasi bawah tanah yang cukup banyak.
Setiap satu wilayah tembok, kiranya terdapat lebih dari 100 terowongan bawah tanah yang di khususkan sebagai jalur evakuasi yang menuju ke tempat penampungan yang ada di kantor asosiasi cabang.
Di setiap kantor memiliki ruang bawah tanah tempat di mana para warga akan berkumpul saat terjadi penyerangan monster dalam jumlah besar seperti saat ini.
Dengan sistem terowongan bawah tanah inilah yang membuat banyak manusia masih sempat menyelamatkan diri masing-masing, dan di setiap pintu menuju terowongan ini selalu di jaga oleh para pemburu monster agar orang-orang yang hendak masuk ke sana tidak mendapat gangguan dari para monster dari luar.
Sejauh ini, sudah ada dua wilayah tembok yang berhasil di tangani. Yakni wilayah tembok kedua, dan wilayah tembok ke tiga.
Wilayah ini bisa dengan segera di tangani karena yang turun tangan langsung adalah tuan Hiruzwen, selain itu ia juga di bantu oleh Buro serta pemimpin cabang ke dua yang merupakan pemimpin asosiasi di wilayah tembok ke tiga itu.
"Saat ini serahkan saja wilayah ini untuk di jaga oleh wakilmu... Sekarang kau ikutlah dengan kami." Ajak tuan Hiruzwen sambil menatap serius wajah Lambio.
Lambio hanya mengangguk menandakan iya.
Lambio tentunya tahu ke mana ia di ajak saat ini sehingga ia tak perlu menanyakan detailnya pada tuan Hiruzwen.
Detik berikutnya ketiga pria ini segera melesat dengan cepat bagaikan lesatan anak panah yang menembus hembusan angin.
Ketiganya segera bergerak ke wilayah tembok ke empat yang saat ini juga dalam keadaan kacau balau.
Keadaan tembok ke empat, ke lima, dan ke enam saat ini jauh lebih parah dari dua wilayah tembok sebelumnya.
Di tiga wilayah ini monsternya jauh lebih banyak karena portal yang muncul juga lebih banyak.
Selain itu, level para monster yang muncul di tiga wilayah ini jauh lebih tinggi dari wilayah-wilayah sebelumnya dan hal itu tentunya membuat para pemimpin asosiasi cabang di wilayah-wilayah tersebut jadi kewalahan untuk menangani para monster tersebut.
Di wilayah tembok ke empat, Terlihat Arindo si pemimpin asosiasi cabang ke tiga sedang menghadapi musuh yang dalam jumlah banyak.
Arindo dengan kekuatan kalajengking miliknya tampak sedang melawan sambil bertahan.
Arindo memunculkan kalajengking raksasa di depannya.
__ADS_1
Kalajengking berekor tiga terlihat menyerang monster yang berdatangan menggunakan sumpitan tangannya kang kokoh. Beberapa monster menyerangnya dengan serangan jarak jauh. Serangan sejenis bola api dan beberapa bentuk serangan yang terlihat seperti sabetan berdatangan ke arahnya. Namun dengan sigap semuanya di tangkis menggunakan tiga ekor yang di miliki oleh si kalajengking.
Selain menyerang dari depan, Tampak pula para monster mulai menyerang dari arah belakang.
Namun karena Arindo bisa menyadari hal itu, ia pun masih bisa menangkis dan bertahan dari serangan-serangan itu dengan memunculkan tiga ekor kalajengking yang muncul di sekitaran pinggang bagian belakangnya.
Ketiga ekor kalajengking itu bergerak layaknya tentakel dan menahan segala serangan yang datang dari belakang maupun dari samping.
Begitulah sekiranya pertarungan itu terus berlanjut.
Hingga beberapa menit kemudian Arindo pun sudah kelelahan menghadapi para monster itu. Bahkan Arindo hanya berhasil membunuh puluhan monster saja.
"Sial!... Mereka semua benar-benar merepotkan!" Ucap Arindo kesal.
Beberapa menit setelahnya, Arindo lengah dan akhirnya jurus yang ia kendalikan berhasil di atasi oleh para monster.
Dengan celah dari kelengahan Arindo, para monster berhasil menghancurkan kalajengking raksasa yang sedari tadi Arindo andalkan untuk bertarung.
Para monster menaiki si kalajengking dan menggigitnya. Jumlah monster sangat banyak dan mengerumuni si kalajengking raksasa itu layaknya semut yang mengerumuni seekor lalat yang sudah mati.
Namun perlawanannya sia-sia karena kalajengking itu sudah tak bisa ia gerakkan lagi meskipun sudah mengerahkan kekuatan penuhnya.
Karena Arindo terlalu memaksa, akhirnya para monster berhasil menghancurkan kalajengking yang di kendalikan itu menggunakan semburan api yang sangat besar dan dalam jumlah banyak.
Kalajengking pun tak bertahan lama. Jurus yang di kendalikan Arindo itu kini langsung hancur dan meledak.
Ledakan energi itu memberikan efek pukulan tak kasat mata pada penggunaan jurus tersebut. Bisa di bilang itu adalah akibat karena ia terus menggunakan energinya mengendalikan jurus itu dan saat meledak energi itu segera memantul dan berbalik pada dirinya sendiri.
Si pengendali jurus langsung terpental beberapa langkah ke belakang. Ada darah yang muncrat dari dalam mulut dan membasahi sudut bibir. Pertanda adanya luka dalam yang di alami, Cukup parah namun masih bisa di atasi selama masih memiliki energi gelap dalam tubuh.
Namun hal itu tak sempat ia lakukan karena dari arah belakang berdatangan para monster yang langsung mencoba membunuhnya.
Seekor monster dengan perawakan layaknya beruang namun memiliki wujud wajah yang abstrak mencoba melibas tubuh si pria dengan kuku-kuku tajamnya. Sejengkal sebelum kuku-kuku tajam itu menyayat tubuh Arindo, tampaklah sebuah petir menyambar dan menyengat si monster.
__ADS_1
Pergerakan si monster terhenti akibat sengatan petir yang sangat mematikan.
Beberapa monster lainnya berhenti di belakang si monster yang terdengar.
Mereka menoleh ke arah sumber serangan petir.
Baru saja menoleh, serangan duri api langsung menembus kulit para monster dan membakar tubuhnya dari dalam.
Dalam sekejap mata, para monster yang ada di belakang Arindo telah musnah akibat dua serangan tersebut.
Arindo sedikit terkejut, namun ia bisa segera menyadari siapa yang telah membantunya saat ini.
"Apa tempat lainnya sudah selesai?" Tanya Arindo saat tuan Hiruzwen dan yang lainnya mendarat di dekatnya.
"Wilayah tembok ke dua dan ke tiga sudah teratasi, sisanya hanya wilayah tembok ke empat, ke lima, dan ke enam." Jawab tuan Hiruzwen.
Sesudah itu mereka pun segera bertarung dengan para monster yang ada di kota itu.
Setelah dari kota itu, mereka berempat melakukan pertarungan duo melawan setiap monster yang ada di kota serta desa yang terserang monster di wilayah tersebut.
******
Di wilayah hutan yang sudah tak jauh dari tembok kerajaan Sulteng.
Empat sosok sedang terbang menunggangi seekor naga yang terlihat sangar dan menakut-kan.
Mereka berempat ialah Anton, Karina, Andika, dan Keni.
Seekor naga yang di tunggangi ialah Angkura si naga kuno legendaris yang memiliki kekuatan tertinggi di antara para monster yang ada di dunia ini.
Lesatan Angkura yang begitu cepat membawa keempat orang itu ke tembok kerajaan Sulteng hanya dalam waktu yang cukup singkat ketimbang harus melesat dengan kemampuan sendiri.
Dari kejauhan tampaklah tembok yang menutupi wilayah ke enam dari dunia luar.
__ADS_1
Angkura terus melesat ke arah tembok dan dari luar saja sudah terlihat banyak kepulan asap yang beterbangan di udara.
Melihat kejadian itu, tentunya membuat Anton dan Karina jadi sedikit terkejut karena serangan para monster ini benar-benar lebih membahayakan dari yang sebelum-sebelumnya.