Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Kematian Bruno


__ADS_3

Kini laser petir melesat cepat ke arah Sisilia.


Laser petir yang di tembakkan dari mulut si monster tirex itu pun segera melesat dengan cepat.


"Liaa!!" Teriak Bruno.


Sisilia hanya terdiam dan menatap laser itu dengan mata yang terbelalak hingga akhirnya.


WHUSSS!!


BHUUFF!!


Kini Bruno pun sudah berada di depan Sisilia dan tampak Bruno kini terkena serangan telak dari laser petir itu.


"Uhuk!"


Seketika Bruno langsung terbatuk dan dari mulutnya keluar darah segar yang cukup banyak akibat serangan laser yang langsung menghantam tubuhnya.


"Sial!... Padahal sudah ku gunakan perisai petir untuk menahannya tapi masih saja efek serangan-nya sekuat ini!" Ucap bruno dalam hati.


Kini Bruno pun merasa kesulitan untuk bernafas.


Ia merasa dadanya sangat sesak dan untuk menarik nafas rasanya sangat berat sampai-sampai ia harus berusaha keras hanya untuk menarik nafas dan menghembuskannya.


Tanpa Bruno sadari kini dirinya sudah tak bisa berdiri lagi dan tubuhnya ambruk begitu saja.


Kakinya mati rasa dan hampir seluruh tubuhnya juga sudah tak bisa ia gerakkan lagi.


Samar-samar ia bisa mendengar suara Sisilia yang kini menangis memandangi dirinya.


Ia menoleh ke arah Sisilia dan tampak Sisilia benar-benar sedang menangis.


Sisilia kini mulai merangkak mendekati tubuh Bruno yang kini semakin sekarat dan sudah tak ada harapan lagi untuk bertahan hidup.


Sisilia kemudian memegang tubuh Bruno dan ia mencoba mengalirkan energinya.


Seketika itu juga Sisilia pun benar-benar yakin bahwa Bruno sudah tak terselamatkan lagi.


Jantung Bruno kini sudah mengalami kerusakan parah dan begitu pula dengan organ-organ penting lainnya yang ada di tubuhnya.


Mengetahui hal itu, kini Sisilia pun kembali meneteskan air mata dan menangis karena sadar bahwa Bruno sudah tak punya harapan hidup lagi.

__ADS_1


"Lia... Jangan menangis." Ucap Bruno dengan suara lirih yang hampir-hampir tak bisa di dengar oleh Sisilia.


Sisilia pun segera menggenggam tangan Bruno dan mencoba untuk tetap berada di sisi Bruno hingga Bruno menghembuskan nafas terakhirnya.


"Aku akan tetap disini!... Bertahanlah Bruno!" Ucap Sisilia dengan putus asa sambil menangis.


Di sisi lain, si monster tirex yang mereka lawan sebelumnya kini sudah berdiri tepat di hadapan mereka berdua.


Dari mulut monster itu perlahan menetes air liur yang kini membasahi tangan kiri Bruno yang berada dekat dengan kepala monster itu.


Namun Sisilia mengabaikan hal itu.


Sisilia sama sekali tidak lagi merespon apa pun yang ada di sekitarnya, ia kini benar-benar sudah putus asa sementara Bruno kini sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Hal itu pun membuat Sisilia kini hanya bisa pasang wajah murung dengan air mata yang masih mengalir dan membasahi pipi.


Saat monster itu membuka mulutnya dan hendak memakan Sisilia, tiba-tiba sebuah serangan pedang tanah langsung menghantam leher monster itu dan langsung tertancap tepat di tenggorokan monster itu.


Di saat yang hampir bersamaan dengan serangan pedang tanah itu kini sekumpulan tanaman rambat langsung melilit tubuh Bruno dan Sisilia.


Tanaman rambat itu pun dengan cepat menarik Bruno dan Sisilia menjauh dari monster tersebut.


"Apa yang terjadi pada Bruno?!" Tanya Natan setelah ia berhasil menarik Bruno dan Sisilia ke tempat ia berada saat ini.


Karena Natan merasa ada yang tidak beres dan ia makin penasaran, akhirnya Natan pun langsung mengecek keadaan Bruno, dan saat ia mencoba mencari denyut nadi Bruno, kini Natan pun ikut terkejut karena kini Bruno telah meninggal.


Akhirnya Natan pun kini tak berbicara lagi.


Ia langsung berdiri perlahan dan wajahnya juga menunjukkan ekspresi murung. Namun dari ekspresi murungnya itu juga terpancar niat membunuh yang kuat.


Ya, Natan kini langsung marah besar akibat kematian Bruno.


Natan pun tanpa banyak bicara langsung melesatkan semua tanaman rambat yang bisa ia kendalikan ke arah monster tersebut.


Ia kemudian melilit monster itu dengan semua kekuatan yang ia miliki saat ini.


Monster itu pun langsung terjerat dan tak bisa kabur dari tanaman rambat milik Natan yang kini melilit seluruh tubuhnya.


"Bunuh monster itu!" Ucap Natan dengan ekspresi dingin dan suara yang terdengar lirih namun bisa di dengar oleh mereka semua.


Mendengar perintah Natan, tanpa basa-basi kini tiga pemburu monster lainnya yang ikut bersama Natan langsung menyerang dan membunuh monster itu dengan berbagai kombinasi serangan yang kuat.

__ADS_1


"Maaf aku datang terlambat!" Ucap Natan membelakangi Sisilia dan jasad Bruno.


Tidak ada jawaban dari Sisilia, namun Natan mengerti mengapa Sisilia tak menjawab, hal itu di karenakan Sisilia saat ini benar-benar syok karena temannya terbunuh tetap di hadapannya.


******


Di sisi lain, tepat di sebuah perkebunan milik warga yang merupakan tempat portal dimensi yang baru muncul itu kini keadaan sedang dalam suasana genting.


Hal itu di sebabkan banyaknya monster yang terus menyerang Anton yang saat ini masih terbang bebas di udara sambil membunuh monster-monster lainnya yang baru keluar dari portal dimensi itu.


"Sial!... Kapan monster-monster ini berhenti muncul dari portal dimensi?!" Pikir Anton sambil terus menghindari serangan monster yang ada di bawahnya serta terus menyerang monster yang baru keluar dari portal itu.


Selain Anton, saat ini tampak pula para pemburu monster lainnya yang sudah berdatangan ke hutan itu kini terdesak oleh para monster, dan karena jumlah bantuan yang datang ke tempat itu hanya sedikit, kini mereka semua kalah jumlah.


Satu persatu para pemburu monster itu berhasil di tumbangkan dan di bunuh oleh para monster.


Tampak mereka kini malah menjadi santapan para monster yang ada di bawah portal dimensi itu.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya dari dalam portal dimensi itu pun kini sudah tak memunculkan monster lagi.


Hal itu pun membuat Anton kini bisa beralih untuk menghabisi monster-monster lainnya yang sedari tadi terus menyerangnya dari bawah.


"Akhirnya selesai juga!... Sekarang aku tinggal fokus menghabisi monster-monster yang ada di bawah Sana!" Ucap Anton sambil menoleh ke bawah.


Lalu Anton pun segera terbang lebih rendah lagi ke bawah agar bisa menyerang para monster tersebut dengan cepat.


Anton pun kini segera memunculkan dua pedang miliknya, yakni pedang petir dan pedang angin.


Dengan kedua pedang ini Anton pun bisa menyerang para monster sambil terbang kesana-kemari dengan bebas dan lincah.


Satu persatu monster yang Anton lewati kini mendapatkan luka tebasan dari kedua pedang Anton.


Tidak hanya itu saja, Anton juga beberapa kali melesatkan tebasan sabit petir dan sabit angin ke arah para monster itu.


Para monster itu pun membalas serangan Anton menggunakan laser petir yang mereka keluarkan dari mulut mereka. Namun karena Anton sangat lincah, Anton pun bisa menggiring mereka untuk menyerang ke arah yang Anton inginkan sehingga saat Anton menghindari serangan laser petir itu, maka laser petir itu hanya akan menghantam monster lainnya.


Dengan begitu tanpa banyak membuang energi untuk menyerang kini Anton sudah bisa memanfaatkan kekuatan musuh untuk menghabisi musuh-musuh itu sendiri.


"Tidak akan ku biarkan kalian pergi dari tempat ini dan mengacau di kota!" Ucap Anton dengan semangat sambil terus melesat menggunakan pedangnya untuk terbang.


Kalau ada yang minat baca karya lainnya bisa cek di profil author ya...

__ADS_1



__ADS_2