Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Melakukan Perburuan Secara Berkelompok


__ADS_3

Saat Natan mengatakan bahwa Karina pasti punya selera yang tinggi serta memandang seseorang dari tingkat kekuatan serta levelnya, saat itu wajah Karina jadi terlihat sedikit terusik mendengar kata-kata itu.


Karina pun memutuskan untuk menjauh dari mereka dan berjalan masuk ke dalam rumah itu untuk mengecek setiap ruangan di rumah itu.


Sementara itu, mereka yang tidak menyadari ekspresi wajah Karina kini terus melanjutkan percakapan mereka.


Sementara itu, kini Aris pun ikut nimbrung dan membalas perkataan si Natan.


"Kalau Karina memang punya selera yang tinggi sih... berarti memilih Zero adalah salah satu pilihan yang cukup tepat." Ucap Aris.


Mendengar ucapan Aris, kini mereka semua langsung menoleh ke arah Aris yang berada di belakang mereka.


"Heh?... Apa kau benar-benar percaya dengan rumor tentang Zero itu sampai kau bicara seperti itu?" Tanya Aris.


"Bukankah Zero punya dua rumor yang membuat orang lain jadi ambigu untuk menilai kemampuannya?" Sanggah Sisilia.


"Memang benar, Saat ini banyak orang yang meragukan kebenaran bahwa Zero adalah sosok pemburu monster yang kuat, akan tetapi, aku telah melihat sendiri seberapa jauh perbedaan kemampuan ku dengannya!" Balas Aris.


Sejenak mereka semua terdiam mendengar perkataan Aris, hingga akhirnya Natan kembali bertanya pada Aris.


"Apa kau pernah bertarung bersama dengannya? atau hanya sekedar melihat?" Tanya Natan.


Mendengar pertanyaan Natan, kini Aris pun langsung berbalik badan dan tampaknya ia enggan untuk menjawab pertanyaan dari Natan.


"Tidak perlu terburu-buru, lagi pula sekarang kita semua satu tim, jadi akan segera tiba waktunya kita melakukan perburuan secara bersama-sama... Aku yakin saat itu barulah kalian bisa mengerti mengapa aku memandang tinggi pada Zero." Ucap Aris.


Sementara itu setelah beberapa saat melihat-lihat kondisi rumah yang mereka beli itu untuk di jadikan markas, kini mereka pun berkumpul di ruang depan dari rumah itu.


"Baiklah, karena tempat ini akan menjadi markas kita, maka sebaiknya kita coba pikirkan apa saja yang kita butuhkan di dalam markas ini." Ucap Bruno meminta pendapat yang lainnya.


"Menurutku yang paling penting saat ini adalah meja dan kursi... Tidak mungkin kita akan berdiri seperti ini terus-menerus." Ucap Anton blak-blakan.


"Kau benar... Selain itu?" Tanya si ketua tim lagi.


"Ku rasa kita juga butuh buku album dan beberapa alat tulis lainnya untuk membuat catatan keuangan di tim kita ini." Ujar Sisilia memberi saran.

__ADS_1


"Oke buku dan beberapa alat tulis... ku rasa itu memang di perlukan." Balas Bruno menanggapi.


"Selain itu apa lagi?" Tanya Bruno lagi.


"Bagaimana kalau peralatan dapur?" Ucap Karina mencoba memberi saran.


"Benar juga, ku rasa kita juga perlu peralatan dapur... Karena ada kemungkinan kita akan berada di markas ini dalam waktu yang cukup lama sehingga harus makan di sini." Timpal Anita menyanggah ucapan Karina.


"Ya! itu benar, lagi pula jika kita sedang melakukan rapat atau semacamnya dalam tim ini setidaknya kita bisa dapat hidangan seperti minuman dan semacamnya!" Balas Natan.


"Benar juga, lagi pula seorang pecinta kopi sepertiku sepetinya akan sulit terpisah dari kopi." Balas Bruno sambil mengelus-elus dagunya yang di tumbuhi janggut yang masih tipis.


Setelah itu mereka pun memutuskan untuk mengumpulkan uang untuk di jadikan sebagai uang kas kelompok mereka.


Setelah mengumpulkan sejumlah uang, mereka pun memikirkan kembali apa saja yang harus di beli terlebih dahulu karena saat ini uang mereka masih kurang.


"Untuk sekarang mungkin sebaiknya kita beli meja dan kursi terlebih dahulu menggunakan uang yang sudah terkumpul ini." Ucap Bruno.


"Menurutku itu ide yang bagus, tapi ku rasa akan lebih baik lagi jika hari ini kita langsung pergi berburu saja agar bisa menghasilkan uang, dan semua uang yang kita dapatkan hari ini bisa kita gunakan untuk melengkapi uang kas saat ini." Ujar Karina memberi saran.


"Apa kalian semua setuju dengan itu?" Tanya Bruno memastikan pendapat dari yang lainnya.


"Ku rasa itu bukan ide yang buruk, aku bahkan menyarankan bagaimana kalau setiap uang hasil perburuan secara berkelompok akan di masukkan ke kas sementara uang gaji bulanan kita gunakan saja untuk keperluan pribadi, bagaimana?" Timpal Aris memberi saran yang cukup bagus baginya.


"Aku tidak keberatan dengan saran dari Aris!... Aku setuju." Ucap Lisa menanggapi saran dari Aris.


"Aku juga setuju!" Balas Natan.


Sementara yang lainnya kini hanya mengangguk menandakan bahwa mereka semua setuju dengan apa yang di sarankan oleh Natan.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kita langsung saja pergi ke hutan untuk melakukan perburuan!" Ucap Bruno bersemangat.


"oke!" Balas yang lainnya yang juga tampak bersemangat.


Sementara itu, Anton yang saat ini berada di belakang Karina tampak hanya diam dan mengikuti alur mereka saja.

__ADS_1


"Ku harap uangnya bisa segera terkumpul." Pikir Anton.


Setelah itu, kini mereka semua pun langsung beranjak dari markas mereka itu dan langsung menuju ke hutan yang ada di luar tembok raksasa.


******


Kini Anton dan yang lainnya sudah tiba di hutan yang mereka tuju saat ini. Mereka kemudian mengedarkan pandangan mereka ke berbagai arah dan melihat-lihat situasi hutan tersebut dari sebuah tebing yang cukup tinggi.


"Sepertinya tempat ini cocok untuk kita berburu saat ini." Ucap Bruno.


Lalu Bruno pun memutar tubuhnya ke arah belakang tepat di mana anggota yang lainnya sedang berdiri di belakangnya.


"Baiklah, kita akan berburu di hutan ini saja... Untuk mempercepat perburuan, aku ingin kita membagi kelompok ini menjadi dua kelompok dan bergerak secara terpisah." Ujar Bruno memberi saran.


"Oke... Terserah saja, yang penting kita bisa segera mengumpulkan banyak kristal energi untuk di jual." Ucap Natan menanggapi.


Setelah itu mereka pun membentuk dua kelompok untuk melakukan perburuan secara terpisah.


Kelompok pertama adalah Bruno, Anton, Lisa dan Anita.


Sementara kelompok ke dua adalah Natan, Aris, Karina, dan Sisilia.


Mereka pun kini bergerak terpisah dengan masing-masing dalam kelompok itu berisikan empat orang.


Kini Bruno melesat dengan cepat di depan Anton, Lisa, dan Anita.


Mereka saat ini melesat dan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan sangat cepat.


Saat mereka sedang berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lainnya, kini Anita dan Lisa langsung bergerak cepat ke depan dan mendekati Bruno.


"Hei Bruno, apa kau yakin kalau Zero itu adalah orang yang bisa di andalkan?" Tanya Anita.


"Iya benar... Bukankah jelas-jelas levelnya masih level nol, bagaimana mungkin dia bisa di andalkan dalam tim ini?" Sanggah Lisa.


"Sebaiknya kita tak boleh berpandangan sempit! ingat, tuan Hiruzwen saja sampai menghargai Zero seolah-olah Zero adalah orang penting... Jadi tak mungkin tuan Hiruzwen melakukan hal itu jika di dalam diri Zero tidak memiliki keistimewaan tersendiri... Sampai saat ini aku masih sedikit bingung, tapi aku tak mau meremehkan Zero begitu saja hanya karena levelnya masih level nol." Ucap Bruno.

__ADS_1


Mendengar ucapan Bruno, kini Lisa dan Anita pun hanya bisa terdiam dan terus mengikutinya.


__ADS_2