
Setelah Anton dan kawan-kawannya selesai menyetor hasil perburuan mereka saat ini, kini mereka pun langsung kembali ke rumah mereka masing-masing untuk beristirahat.
Namun sebelum mereka kembali, Bruno berpesan agar esok hari mereka berkumpul terlebih dahulu di markas sebelum memulai kegiatan kelompok.
Saat mereka hendak berpencar, Anton pun langsung memunculkan pedangnya di udara dan ia pun langsung melompat ke atas pedang itu.
Namun baru saja kaki Anton mendarat di atas pedang itu, tiba-tiba Karina langsung menarik jubah Anton.
"Ada apa?" Tanya Anton menyadari Karina yang berada di belakangnya.
"Aku juga ingin terbang." Ucap Karina dengan ekspresi serius.
"Ehh?" Anton sedikit bingung, namun melihat ekspresi Karina yang tampak sangat serius bahkan terlihat seperti tidak ada keraguan sama sekali kini membuat Anton pun merasa tidak mempermasalahkan hal itu.
"Baiklah, boleh saja, tapi kau harus berdiri di belakan ku dan usahakan kau bisa mengikuti pergerakan ku." Ucap Anton tanpa ekspresi.
"Oke." Jawab Karina dengan santainya.
Lalu Karina pun melompat ke belakang Anton dan mendarat di atas pedang itu.
Saat Karina mendarat, keseimbangan pedang itu jadi sedikit goyah dan hampir membuat keduanya terjatuh.
"Eh! eh! ehh!" Ucap keduanya yang tampak sedikit terkejut. Namun karena Anton sudah menduga akan hal itu, Anton pun bisa segera mengimbangi kembali pedang tersebut.
"Kau tak apa-apa?" Tanya Anton saat Karina berhasil berdiri dengan baik sambil memegangi bahunya.
"Ya... Aku baik-baik saja." Ucap Karina terkesan datar.
Sementara itu, Aris dan yang lainnya yang saat ini masih ada di tempat itu kini hanya bisa menatap mereka berdua dengan tatapan yang tampak sedikit iri.
Bukan rasa iri karena Anton bisa bersama dengan Karina, melainkan mereka semua merasa iri karena hanya Karina yang di ajak terbang oleh Anton.
"Aku juga mau ikut!" Teriak Lisa.
"Zero! Aku juga ingin tahu rasanya terbang!" Timpal Anita.
"Waduh... blak-blakan sekali dua gadis ini." Pikir Aris. Lanjutnya, "Tapi jujur saja aku juga ingin sih."
Memang benar, mereka semua saat ini sangat ingin merasakan rasanya terbang seperti Anton, namun mereka sama sekali tak memiliki jurus yang seperti itu.
Mendengar ucapan Lisa dan Anita, kini Anton pun hanya menoleh sambil tersenyum lalu menjawab perkataan mereka.
"Kalau begitu tunggu sampai aku bisa meningkatkan jurus ini hingga bisa memunculkan lebih dari satu pedang untuk di tunggangi." Ucap Anton.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu kini Anton pun langsung melesat bersama dengan Karina yang masih memegang bahunya.
Sementara itu, di perjalanan, kini Karina mulai berbicara pada Anton mengenai masalah yang terjadi di antara mereka di dua hari sebelumnya saat monster menyerang tempat perumahan yang mereka tempati.
"Aku ingin minta maaf atas kejadian dua hari yang lalu." Ucap Karina yang terdengar dengan suara penyesalan.
"Dua hari yang lalu?... Maksudmu saat aku membawamu ke rumahmu?" Tanya Anton seolah sudah lupa padahal ia menyadari maksud dan arah pembicaraan Karina.
"Iya... Aku minta maaf karena saat itu aku berpikir yang tidak-tidak tentangmu dan malah membuat kesalahpahaman ku muncul serta memancing tindakan yang tidak baik padamu." Ucap Karina lagi sambil sedikit menundukkan kepalanya dengan ekspresi menyesal atas perbuatannya saat itu.
"Tidak masalah, aku sudah tidak begitu peduli dengan kesalahpahaman itu." Jawab Anton.
Setelah itu Anton pun berkata dalam hati.
"Ternyata ini ya, alasan kenapa dia ingin terbang dan ikut dengan ku." Pikir Anton.
Memang benar, tujuan Karina ingin menumpang terbang bersama Anton karena ia berniat untuk berbicara empat mata dengan Anton dan meminta maaf atas kejadian dua hari yang lalu.
Sebenarnya seharian ini Karina sudah semakin merasa tidak enak pada Anton karena Anton sudah tepat di depannya namun ia tidak berani untuk segera mengucapkan kata maaf terutama saat berada di depan banyak orang.
Bukannya Karina merasa malu meminta maaf, hanya saja Karina sedang mencoba menghindari pikiran yang tidak-tidak dari orang-orang yang ada di sekitar mereka saat ini.
Karina tak ingin orang-orang lainnya berpikir bahwa mereka berdua memiliki hubungan yang aneh dan telah melakukan sesuatu yang tidak-tidak di luar sana.
Mendengar perkataan Anton, Karina pun merasa lebih lega sekarang.
Ia kini tampak menghela nafas sambil merilekskan tubuhnya karena ia sudah merasa sudah lega.
"Terimakasih... Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan rahasia-mu bocor dan identitas-mu terungkap!... Begini-begini aku bisa jaga rahasia kok." Jawab Karina dengan ekspresi yang terlihat susah lebih tenang.
"Baguslah kalau begitu." Ungkap Anton.
Setelah itu kini keduanya tak mempunyai pembahasan lagi.
Mereka berdua tampak mulai terdiam sesaat.
Namun sesaat kemudian Karina mulai bertanya lagi pada Anton.
"Hei, Apa kau benar-benar tak merasa keberatan jika Bruno yang memimpin kelompok ini?" Tanya Karina. Lanjutnya, "Jika di pikir-pikir kau lah yang mengajukan pembentukan kelompok ini dan kaulah yang pertama memulai mengumpulkan orang-orang, dan dengan namamulah tuan Hiruzwen bisa memanggil semua orang yang ada saat ini, jadi mustahil kan jika kau benar-benar tak merasa keberatan dengan kepemimpinan saat ini?" Ucap Karina mencoba memastikan perasaan Anton mengenai pemilihan ketua kelompok hari ini.
"Entahlah." Jawab Anton cepat. "aku sendiri juga tak begitu mengerti... Yang jelasnya bagiku yang saat ini paling penting adalah tujuan kelompok ini... Jadi selama Kelompok ini berjalan di jalan yang seharusnya, maka aku akan tetap ikut, namun apa bila ketua kelompok saat ini malah tak bisa membawa kita ke jalan yang seharusnya, maka aku akan keluar dan membentuk kelompok sendiri meskipun hanya beranggotakan dua atau tiga orang saja." Ucap Anton dengan santainya.
"Ehh??... Jadi kau sudah mempertimbangkan semuanya ya?" Tanya Karina.
__ADS_1
"Ya, semua itu sudah ada dalam perhitungan ku, jadi aku hanya perlu jadi pengamat saja untuk saat ini." Jawab Anton.
Tak lama setelah pembahasan itu, kini keduanya pun tiba di rumah Karina.
Anton kemudian mendarat tepat di depan pintu rumah Karina saat ini.
"Baiklah, kita sudah sampai." Ucap Anton saat mereka mendarat.
"Apa kau mau mampir sebentar?" Tanya Karina mencoba mengajak Anton ke rumahnya.
"Tidak perlu, lain kali saja aku akan mampir." Ucap Anton.
"Begitu ya... Baiklah, hati-hati di jalan ya." Ucap Karina lagi sambil mengedipkan matanya karena ia tahu bahwa Anton harus pergi mencari tempat paling sunyi terlebih dahulu untuk mengubah penampilannya dari Zero ke wujud Anton yang asli.
"Baiklah, aku pamit dulu." Balas Anton yang kemudian melompat ke atas pedangnya dan dengan segera melesat saat kakinya baru saja mendarat di permukaan pedang tersebut.
*******
Malam ini, tampak para pemimpin cabang asosiasi pemburu monster kembali berkumpul dan membicarakan mengenai tujuan mereka untuk menghentikan Anton.
"Hei, apa kalian sudah dengar?... Katanya bocah bernama Zero itu sekarang sudah bergabung di satu kelompok yang baru saja di bentuk." Ucap salah satu pemimpin cabang.
"Benar sekali, aku juga sudah mendengarnya... Bahkan aku juga mendengar bahwa kelompok yang mereka bentuk itu memiliki tujuan yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Zero, yakni membantai semua monster yang ada di dunia ini tanpa tersisa dan tanpa pandang bulu!" Balas pemimpin cabang yang lainnya.
"Sial... Pada akhirnya bocah itu selamat dari serangan orang yang ku kirim!... Benar-benar menyebalkan! Padahal orang yang ku kirim itu adalah orang yang cukup kuat, tapi masih saja tidak bisa membunuhnya!" Timpal pemimpin cabang yang sebelumnya mengirim orang untuk membunuh Anton.
Sementara itu, salah satu pemimpin cabang yang sejak tadi terlihat diam saja sambil mengepalkan kedua tangannya di depan mulut kini mulai buka suara.
"Aku punya satu usulan untuk mengatasi hal ini." Ucap pemimpin cabang yang sedari tadi diam saja.
Mendengar ucapan pemimpin cabang itu, kini mereka semua langsung menatapnya.
"Apa usulanmu?" Tanya mereka.
"Kita kirim orang untuk bergabung di dalam kelompok mereka serta menghancurkan kelompok itu dari dalam." Ucap pemimpin cabang tersebut memberi usulan sambil menunjukkan senyum licik di wajahnya.
Mendengar ucapan pemimpin cabang itu, kini mereka semua pun langsung imut tersenyum dan bisa segera sepemikir dengannya.
Mereka semua pun menyetujui usulan itu dan mulai mempersiapkan apa saja yang harus di lakukan untuk bisa mengirim orang masuk ke kelompok Barus yang di masuki oleh Anton.
Keempat pemimpin cabang itu kembali berdiskusi guna mencari cara yang paling bagus untuk memasukkan orang-orang mereka ke kelompok tersebut.
Barangkali ada yang minat baca karya lainnya bisa cek di profil author ya...
__ADS_1