
Sagio dan Dilo berniat menyerang pria misterius itu dengan kemampuan mereka berdua.
Namun sayang sekali kemampuan pria misterius itu sangat jauh di atas mereka berdua. Jangankan mereka berdua, bahkan kedua orang tua mereka pun sama sekali tak berani mengusik pria misterius itu.
Kini Dilo dan Sagio pun langsung terjatuh dan terkapar di tanah akibat tekanan aura yang sangat kuat dari pria misterius itu.
Tekanan aura itu sampai-sampai membuat mereka kesulitan untuk bernafas.
Alhasil mereka pun bernafas seperti orang yang sesak.
Keduanya hanya bisa saling menatap dengan ekspresi bingung karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sialan!... Apa yang sedang terjadi?!" Ucap Dilo.
"Sepertinya ini perbuatan pria itu!" Jawab Sagio.
"Kuat sekali!... Jurus macam apa yang di gunakannya!" Sanggah Dilo.
"Diam kalian berdua!... Sudah ku bilang jangan menyerangnya!... Kenapa kalian berdua sembrono sekali?!" Bentak sang ibu yang saat ini berada di kamar lantai dua.
"Orang ini sangat kuat!... Kami tidak akan mungkin bisa melawannya!" Ucap istri Argo itu dalam hati dengan ekspresi yang tampak sedikit panik.
"Sial!... Apa orang ini akan membunuh kami karena tidak memperlakukan bocah itu dengan baik?" Pikir Argo.
"Sepertinya kalian berdua sadar akan kesalahan kalian... Lantas kenapa tidak jujur saja pada-ku?!" Ucap pria itu dengan suara dingin namun berhasil membuat mereka semua merinding dan bulu kuduk mereka semua berdiri.
Mendengar ucapan pria misterius itu, kini Argo dan isterinya pun langsung terdiam sejenak.
Hingga akhirnya Argo pun mulai berbicara.
"Ma... Maafkan kami karena kami tidak memperlakukan bocah itu dengan baik di sini." Ucap Argo dengan suara yang terdengar ragu.
"Maaf ya?... Baiklah, aku akan memaafkan kalian, tapi sebelum itu aku akan membuat kalian merasa kesakitan terlebih dahulu sebagai hukuman atas perbuatan kalian pada anak itu!" Ucap si pria misterius dengan tatapan penuh intimidasi.
Lalu pria itu pun langsung menyerang Argo dan istrinya menggunakan aura energi misterius milik-nya yang sangat menekan itu.
__ADS_1
seketika istri Argo pun juga langsung tertunduk lutut karena tekanan aura dari energi misterius milik pria misterius itu.
Setelah itu si pria misterius itu pun langsung melompat masuk ke dalam kamar Argo.
Begitu ia mendarat tepat di depan Argo, ia pun langsung menendang wajah Argo hingga Argo terhempas dan langsung menabrak dinding.
Kemudian pria misterius itu berjalan lagi mendekati Argo, sementara untuk istri Argo, si pria misterius hanya menyerangnya menggunakan aura yang terus di perkuat sehingga bisa mengakibatkan luka dalam pada orang yang terkena serangan aura itu.
Tampak istri Argo kini mulai terbatuk dan tubuhnya tersentak akibat tekanan aura itu.
Bersamaan dengan batuknya, darah pun keluar dari mulutnya dan langsung berjatuhan di lantai.
Sementara itu, si pria misterius kini sudah berada di depan Argo yang saat ini tak bisa bergerak dari tempatnya.
Lalu pria misterius itu langsung mencekik Argo dan kemudian mengangkatnya.
Sesudah itu pria misterius itu pun langsung melancarkan tinju ke wajah Argo secara terus menerus hingga akhirnya wajah Argo pun babak belur di buatnya.
Setelah wajah Argo sudah banyak belur, pria misterius itu pun langsung melempar Argo ke lantai.
Sesudah itu si pria misterius itu pun langsung memunculkan pedang besar di udara, dan setelah itu ia segera melompat ke atas pedang itu serta langsung melesat terbang menjauh dari kediaman Argo Maroso.
Setelah beberapa saat setelah kepergian si pria misterius itu, kini Dilo dan Sagio pun langsung melompat dari tanah langsung ke kamar kedua orangtua mereka melalui jendela yang sudah hancur.
"Siapa sebenarnya orang itu?" Tanya Dilo.
"Dia adalah orang yang sangat kuat!... Dia tidak berasal dari dunia ini!... Sebaiknya kalian berdua tidak ikut campur dalam masalah ini agar kalian tidak bermasalah dengan pria itu!" Ucap Argo memperingati kedua putranya itu dengan ekspresi yang tampak sangat serius.
******
Dua hari kemudian.
Hari ini, Anton dan seluruh anggota serikat pembebasan berkumpul di markas, akan tetapi saat ini Natan masih belum ada bersama mereka.
Saat ini mereka sedang membahas ke mana mereka akan melakukan perburuan hari ini serta beberapa target yang harus mereka dapatkan.
__ADS_1
"Karina, apa kau sudah mencatat pemasukan kita kemarin?" Tanya Anton.
"Sudah." Jawab Karina singkat.
"Bagus... Untuk sekarang semua penghasilan kita simpan dahulu dan setelah Natan sudah kembali barulah kita bicarakan kembali untuk masalah pembagian penghasilan itu agar bisa mendapatkan kesepakatan bersama... Entah uang itu akan di bagi sekian persen dengan anggota dan sekian persen masuk ke kas serikat, itu semua akan kita bahas bersama jika semua anggota serikat kita sudah berkumpul." Ucap Anton memberi penjelasan.
"Uhm... Aku setuju dengan hal itu." Sanggah Sisilia.
Tak lama setelah itu, pintu markas mereka pun di buka oleh seseorang dari luar, dan orang itu pun segera masuk ke dalam markas mereka dan menemui mereka semua di ruang tengah.
"Wah... Kalian sudah berkumpul semua ya." Ucap Natan yang baru saja tiba di markas itu.
"Eh?... Natan? Akhirnya kau kembali." Ucap Lisa sambil berdiri dari duduknya dan langsung menyambut Natan.
"Apa kau baik-baik saja selama tak hadir di sini?... Kamu sama sekali tak bisa menghubungi mu." Ucap Anita yang juga langsung berdiri menyambut Natan.
"Hah... Akhirnya kau datang juga." Sela Sisilia sambil menghela nafas. Lanjutnya, "Kalau sudah begini maka pembicaraan kita akan jadi lebih mudah."
"Orang yang baru di bicarakan kini sudah datang." Balas sanggah Aris. "Tapi sebelumnya alangkah baliknya jika kau duduk dulu baru kita lanjutkan pembicaraan kita."
"Hahaha... Oke." Jawab Natan sambil tertawa hambar.
Lalu Natan pun duduk dan mereka semua pun duduk di kursi mereka masing-masing.
Setelah semuanya sudah duduk, Anton pun mulai bicara dan membahas apa saja yang harus mereka putuskan hari ini.
Mulai dari memutuskan siapa yang akan jadi pemimpin selanjutnya, sampai dengan sistem dan kepengurusan keuangan di serikat mereka saat ini.
"Baiklah, mula-mula kita tentukan siapa yang akan menjadi pemimpin serikat ini... Kita lakukan pemilihan sama seperti saat pertama kali memilih Bruno, yaitu melalui pemungutan suara... Suara terbanyak akan terpilih." Ucap Anton.
Baru saja Anton berkata seperti itu, tiba-tiba Natan langsung buka suara.
"Aku memilih Anton untuk memimpin." Ucap Natan dengan ekspresi serius.
Seketika mereka semua terkejut mendengar ucapan Natan. Hal itu di karenakan Natan sebelumnya merasa kesal pada Anton namun kenapa tiba-tiba langsung berubah pikiran.
__ADS_1