
Karina yang saat ini bisa merasakan keberadaan Anton di tempat itu kini meminta ayahnya untuk membantu ia mencari Anton.
Entah kenapa ia merasa bahwa saat ini Anton lebih menderita daripada mereka berenam.
"Sepertinya Saat ini dia sangat menderita karena yang jadi target pasti dia." Ucap Karina dengan suara lirih.
"Dia siapa?" Tanya ayah Karina.
"Zero." Jawab Karina.
Baru saja Karina berkata seperti itu, tiba-tiba terdengar ledakan dari ruangan yang cukup jauh dari tempat mereka berada saat ini.
Ledakan itu terdengar sangat kuat, dan bukan hanya suaranya saja yang kuat, bahkan ledakan itu juga berhasil menggetarkan tanah di sekitar.
Bahkan getaran dari ledakan itu sampai terasa di tempat Karina dan yang lainnya berada saat ini.
"Ap... Apa yang sedang terjadi di sana?" Ucap Natan sambil melihat ke arah lorong yang masih cukup panjang di depan mereka saat ini.
"Entahlah... Yang jelasnya di sana terjadi ledakan yang luar biasa." Ucap Ricardo dengan ekspresi tenang namun ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya karena ia saat ini merasakan sesuatu yang cukup berbeda dari ledakan itu.
Namun tak di sangka-sangka, di tengah-tengah suasana penasaran mereka, tiba-tiba Karina langsung berlari ke arah lorong itu, lebih tepatnya ke tempat terjadinya ledakan barusan.
"Karina!" Ucap Sisilia dengan suara keras ketika melihat Karina yang langsung berlari begitu saja.
"Hah... Benar-benar anak yang keras kepala!... Aku bahkan belum menjawab pertanyaannya tapi dia malah membuatku terpaksa harus melakukan apa yang ia inginkan." Ucap Ricardo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lalu Ricardo pun segera berlari mengikuti Putri semata wayang-nya itu dari belakang.
Sementara itu, anggota Ricardo serta Sisilia dan kawan-kawan kini langsung mengikuti mereka juga ketika mereka melihat Ricardo mengikuti Karina.
"Aku juga penasaran, soalnya Karina itu punya firasat yang sangat kuat loh." Ucap Aris sambil berlari.
Sementara itu Sisilia dan yang lainnya kini mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Uhm... Aku juga berpikir begitu... Bahkan ku rasa di tempat itu pasti ada Zero... Entah apa yang terjadi pada Zero, kita hanya bisa berharap agar ia baik-baik saja." Balas Sisilia.
"Kau benar!... Di tempat ini banyak peneliti gila yang akan melakukan berbagai macam hal untuk mencapai tujuan mereka!... Ku rasa mereka sedang mengincar energi misterius milik Zero." Sela Natan.
******
Beberapa saat sebelum terjadi ledakan.
Saat ini alarm di ruangan tempat anton sedang di jadikan sebagai bahan eksperimen saat ini terus berbunyi, dan Anton tentunya tahu apa yang membuat alarm itu terus berbunyi.
Saat ini Anton bisa merasakan bahwa di tempat yang cukup berjauhan dari ruangan ini terdapat orang yang sangat kuat yang sudah berhasil menyelamatkan Karina dan yang lainnya.
Orang-orang itu datang membuat kekacauan, dan menyerang tempat ini.
Meskipun Anton tidak tahu siapa orang-orang itu, namun karena orang-orang itu telah mengeluarkan Karina dan yang lainnya dari penjara yang di buat oleh para peneliti itu, maka kini Anton pun sudah tak bisa di ancam lagi oleh para peneliti.
Kali ini Anton pun segera memperkuat tubuhnya menggunakan energi Saga tipe petir miliknya, dan kini seluruh tubuh Anton tampak memancarkan percikan-percikan petir yang cukup banyak.
Lalu dengan segera Anton pun berusaha untuk melepaskan diri dari semua kekangan yang ada di tubuhnya.
Sementara itu, Para peneliti yang melihat tindakan Anton itu pun kini langsung panik dan dengan segera mendekati Anton sambil mempersiapkan suntik bius untuk menenangkan Anton.
"Cepat suntik dia sebelum sia mengamuk di sini!" Ucap salah satu peneliti.
Sementara itu peneliti lainnya segera beranjak dan hendak memberikan suntikan pada Anton.
Namun sayangnya begitu pria itu berada di dekat Anton, Anton pun sudah berhasil menghancurkan alat khusus untuk mengikat kedua tangannya itu.
Meskipun saat ini baru tangan kanan Anton saja yang terlepas, namun Anton sudah bisa memberikan serangan untuk menghancurkan tempat itu.
Anton segera mengayunkan tangan kanannya itu dan tiba-tiba di udara muncul pedang petir.
Anton pun mengayunkan tangannya ke arah peneliti yang hendak menyuntik dirinya itu, dan seketika itu juga pedang yang ada di udara itu langsung melesat dan menusuk leher peneliti itu hingga tembus ke belakang.
__ADS_1
Darah peneliti itu langsung mengalir deras dari ujung pedang yang menembus lehernya, dan seluruh pakainya kini berlumuran darah.
Serangan putih yang di kenakan-nya kini setengahnya telah berubah menjadi warna merah akibat darahnya yang tumpah di seragamnya itu.
"Sial!... Kita sudah terlambat mengatasinya!" Ucap salah satu peneliti lainnya.
"Jangan biarkan dia bertindak lebih jauh lagi!" Timpal salah satu peneliti.
Lalu peneliti yang sebelumnya sering mengancam Anton kini langsung mendekati Anton yang saat ini benar-benar sudah terlepas dari semua yang mengikat tubuhnya.
Bahkan Anton kini sudah berdiri dan tampak ia sudah kembali mengenakan pakaian penyamarannya sebagai sosok Zero.
Anton hanya perlu menggerakkan kedua tangannya, dan seketika seluruh tubuhnya kembali di baluti oleh pakaian yang sama seperti sebelum.ia masuk ke tempat ini, yaitu pakaian penyamaran sebagai Zero.
"Untung aku punya cukup banyak pakaian penyamaran ini di dalam ruang penyimpanan-ku." Ucap Anton dalam hati. "Jika tidak, bisa-bisa aku harus keluar dengan telanjang." Ucapnya lagi.
Baru saja berkata seperti itu dalam hati, kini pria yang sering mengancam Anton itu pun sudah berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di kantong seragam lab-nya.
Lalu dengan santainya pria itu mengancam Anton lagi dengan cara yang sama seperti sebelumnya, yakni menggunakan nama Karina dan yang lainnya sebagai jaminan.
"Hoi bocah!... Sepertinya kau ingin melihat teman-temanmu itu mati sekarang juga ya hah?!" Ucap pria itu dengan ekspresi angkuh.
Sebenarnya pria itu sudah tahu kalau Karina dan yang lainnya saat ini sudah berhasil di selamatkan oleh Ricardo karena sebelumnya pria itu sudah melihat rekaman cctv di area tempat Karina dan yang lain-nya di sekap.
Namun, meskipun demikian, pria itu tetap percaya diri untuk maju dan mengancam Anton karena ia berpikir bahwa Anton tidak akan mungkin tahu kalau Karina dan yang lain-nya sudah selamat sekarang, jadi dengan alasan itu, maka pria itu pun mengira bahwa dirinya masih bisa mengancam Anton.
"Hoi bocah!... Kenapa Dian saja hah?!... Apa kau ingin membantah lagi sekarang hah!" Bentak pria itu yang kemudian langsung melancarkan tinju terkuatnya ke wajah Anton.
Namun tinju terkuat pria itu sama sekali tidak membuat Anton bergeming.
Ia hanya memalingkan wajahnya ketika terkena pukulan dari tinju itu.
"Hahaha... Hahaha... Hahahaha... Cari mati ya?" Ucap Anton sambil tertawa dengan ekspresi mengintimidasi dan mendominasi.
__ADS_1
Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...