Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Memantau (2)


__ADS_3

Marko dan Ruyon kini tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah akibat pukulan dari monster elemen api berkaki empat itu.


Monster itu kini berjalan dengan tenang mendekati mereka berdua.


Hingga akhirnya sekelompok pria petualang lainnya datang ke tempat itu karena sebelumnya mendengarkan suara pertarungan.


Jumlah mereka ada lima orang dan dengan cepat dua di antara mereka menggendong Marko dan Ruyon.


Sebelumnya mereka sempat melihat pertarungan Ruyon dan kawan-kawannya, dan saat itu mereka menganggap bahwa Ruyon dan Marko saat ini sangatlah malang karena mereka di khianati oleh rekan mereka sendiri.


Hal itu tentunya membuat mereka tergerak untuk membantu Ruyon dan Marko.


"Cepat bawa mereka berdua dari sini!... Biar kami berdua yang menahan mahluk ini!" Ucap pemimpin mereka memberi perintah.


"Jangan berlama-lama!... Segeralah pergi!... Kami akan mengukur waktu, dan setelah itu kami akan segera menyusul kalian!" Timpal salah satu rekan yang saat ini sedang bersama-sama dengan si ketua itu.


Mendengar ucapan ketua serta wakil ketua mereka itu, kini mereka pun langsung berlari dan menjauh dari tempat itu.


"Ketua!... Apa kau yakin kita bisa bertahan dari monster ini?" Tanya si wakil ketua dengan ekspresi sedikit khawatir.


Si ketua itu kini langsung menelan ludah kasar.


di wajahnya tergambar sedikit raut wajah yang menunjukkan bahwa dirinya tidak yakin bisa bertahan.


"Entahlah... Sejujurnya aku tidak yakin, tapi jika tidak di coba, maka kita tidak akan mungkin tahu." Ucap si ketua mencoba untuk optimis meskipun dirinya sebenarnya sudah menyadari perbedaan level mereka dengan monster itu cukup jauh, karena level mereka saat ini berada 6 level di bawah level monster tersebut.


Monster itu pun kini meraung keras ke arah kedua pria itu.


Dari mulutnya muncul api yang menyembur keluar dan langsung di arahkan pada kedua pria itu.


Kedua pria itu pun masing-masing segera melompat ke samping kiri serta kanan.


Keduanya tampak menghindari serangan itu dengan cepat.


"Ayo serang dia!" Ucap si ketua kelompok itu sambil menarik pedang yang ada di punggungnya.


"Pedang itu!" Anton sedikit melebarkan matanya saat melihat pedang itu.

__ADS_1


Pedang itu adalah sebuah pedang yang tercipta dari energi gelap yang di ambil dari para monster, yakni berasal dari kristal energi yang di miliki oleh para monster yang sudah di kalahkan.


Sementara itu yang terbuat dari kristal energi itu bukan hanya senjata jenis pedang, ada pula senjata jenis tongkat, tombak, panah, bahkan jenis senjata mirip senjata api di zaman sebelum penyerangan monster.


Kini si ketua kelompok itu maju dengan sangat cepat ke arah monster itu.


Ia kemudian melompat ke arah monster itu sambil melesatkan tebasan elemen angin ke arah monster itu.


Tebasan angin yang melesat itu pun kini menghantam kepala si monster hingga terjadi ledakan yang cukup kuat.


Namun sayangnya si monster itu sama sekali tidak terluka meskipun sebelumnya ia sempat tertepis saat terkena serangan tersebut.


Di sisi lain, si wakil ketua kini memunculkan sebuah busur petir di tangan kirinya.


Kemudian ia langsung mengangkat tangan kiri ya ke depan dan setelah itu ia pun memunculkan sebuah anak panah di tangan kanannya.


Lalu si wakil ketua itu pun segera menyiapkan serangannya.


Ia mulai memfokuskan serangan panah petir miliknya itu ke arah si monster itu, dan setelah itu ia pun langsung mengumpulkan energinya ke anak panah itu sehingga kini anak panah itu di selimuti oleh petir yang menyambar-nyambar ke berbagai arah.


"Silo!!... Menghindar sekarang!!" Teriak wakil ketua yang bernama Doni itu menyuruh agar ketuanya itu segera mundur karena ia akan segera melesatkan anak panahnya.


Sementara itu, Doni pun kini langsung melepaskan anak panahnya sehingga kini anak panah itu langsung melesat ke arah monster itu.


"Tingkatkan jumlah!" Ucap Doni sambil mengepalkan tangan kanannya.


Seketika itu juga jumlah anak panahnya yang terbuat dari petir itu kini langsung bertambah hingga jumlahnya mencapai puluhan.


Kini puluhan anak panah itu melesat cepat dan akhirnya menghantam monster tersebut.


Beberapa anak panah ada yang berhasil tertancap di bagian tubuh monster itu, namun terlihat lebih banyak yang tidak tertusuk dan malah berjatuhan di lantai.


"Sekarang terdiam ini!" Bentak Doni sambil melambaikan tangannya dengan cepat ke samping.


Seketika itu juga seluruh anak panah yang tertancap di tubuh monster itu kini langsung menjalarkan petir ke seluruh tubuh monster tersebut.


"GRRAAAWWRRR"

__ADS_1


Monster itu menjerit akibat serangan petir yang masuk dan menjalar di seluruh tubuhnya.


"Setebal apa pun pertahanan mu, namun kau tidak akan bisa menahan arus petir saat masuk ke dalam tubuh mu!" Ucap Doni.


Setelah meraung keras, kini si monster itu langsung mengamuk.


Ia pun langsung bergerak cepat ke arah Doni dan langsung memukul Doni dengan sangat kuat menggunakan kaki depannya.


Hal itu pun membuat si Doni langsung terlempar cukup jauh hingga menghantam pohon yang ada.


Silo yang melihat Doni yang kini di serang langsung maju menghampiri si monster itu.


Ia kemudian mengayunkan pedangnya dengan sangat kuat dan menebas monster itu dengan pola vertikal ke bawah.


Si monster yang melihat hal itu kini langsung memunculkan perisai api di atas kepalanya karena saat ini kepalanya lah yang di incar oleh tebasan itu.


Tebasan dari ketua kelompok itu pun kini langsung menghantam perisai api milik monster tersebut sehingga pedang Silo kini terus tertahan di sana karena Silo terus berusaha untuk mendorong pedangnya agar pedangnya itu bisa menghancurkan perisai milik monster tersebut.


Namun keadaan malah berbalik. Si monster kini langsung menghentakkan tubuhnya, dan seketika itu pula terjadi ledakan api yang kini membuat Silo langsung terhempas akibat dari efek ledakan dan tekanan dari kekuatan si monster tersebut.


Silo pun kini terperosok ke belakang.


Namun ia masih bisa bertahan dan berdiri.


Ia pun kemudian segera mengangkat pedangnya dengan posisi kuda-kuda dan siap untuk melanjutkan pertarungan.


Namun tak di sangka-sangka ternyata monster itu kini susah berada di depan Silo dan hendak menerkam Silo.


"Aku akan mati!"


Sepintas pikiran itu muncul begitu saja di kepala Silo.


~DUARRRR!!!~


Seketika ledakan terjadi karena sebuah serangan berupa tebasan petir yang berbentuk seperti bulan sabit langsung menghantam monster itu dan membuatnya terdorong jauh ke samping.


Ledakan itu juga kini memberikan efek pada Silo sehingga Silo juga langsung terdorong ke belakang akibat hantaman gelombang angin yang di hasilkan oleh ledakan sebelumnya.

__ADS_1


Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...



__ADS_2