Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Cerita Natan (3)


__ADS_3

Natan kini telah terkepung oleh para pria yang mencegatnya itu.


Para pria itu adalah orang-orang yang sedikit lebih dewasa dari Natan dan mereka memiliki level yang jauh di atas Natan.


Oleh karena itu Natan kini jadi semakin takut saat menyadari level para pria yang mencegatnya itu.


"Siapa kalian?!... Apa yang kalian inginkan?!" Tanya Natan dengan suara yang terdengar sedikit tergesa-gesa karena mulai panik.


"Hahaha... Hei bocah!" Ucap salah satu pria dengan suara sedikit membentak dan langsung mendekati Natan.


Natan langsung mundur selangkah dan mencoba untuk menjauh, namun kini pria itu sudah berada di depan Natan dan langsung menarik kerah baju Natan dan mengangkat Natan seperti sedang mencekik Natan.


Natan jadi semakin takut. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia ingin melawan tapi karena rasa takut ia jadi sedikit ragu apa lagi para pria itu jauh lebih kuat darinya.


"Serahkan semua kristal energimu itu bocah!" Ucap pria itu dengan kasar.


Mendengar ucapan pria itu, seketika Natan pun merasa sedikit terpancing amarahnya karena kristal energi ini adalah sesuatu yang bisa ia tukarkan menjadi uang.


Ia saat ini sangat butuh uang jadi ia merasa bahwa dirinya harus melindungi kristal energi itu.


"Ti... Tidak boleh!... Kau tidak akan ku berikan kristal itu!... Aku juga membutuhkannya!" Balas Natan mencoba memberanikan diri.


"Hah?!... Dasar bocah banyak omong!" Ujar pria yang meremas baju Natan sambil melempar Natan ke tanah.


"Kau pikir kau bisa memilih untuk itu hah?... Apa kau pikir kau bisa mempertahankan kristal energimu itu dari kami hah?" Ucap pria itu lagi dengan angkuh.


Sementara itu Natan kini mencoba untuk berdiri, dan baru saja ia berdiri ia langsung di tendang dari belakang sehingga ia pun terdorong ke depan.


DUAKKK!!


"Uhgg!"


Natan terkejut dan nafasnya terasa sedikit berat saat dirinya terkena tendangan dari belakang.


Ketika Natan terdorong ke depan, pria yang sebelumnya meremas kerah baju Natan kini langsung melancarkan tinju ke perut Natan.


"Terima ini bocah!" Ucap pria itu sambil melancarkan tinjunya.


DUAAKK!!


"Hoeeekk!!" Natan memuntahkan cairan dari mulutnya karena pukulan orang tersebut benar-benar sangat kuat.

__ADS_1


Lalu pria itu segera mencekik leher Natan dan mengangkatnya ke udara.


"Hei bocah!... Sebaiknya kau paham situasi saja!... Lagi pula sekalipun kau tak mau menyerahkan kristal energimu, kami masih tetap bisa mengambilnya dengan paksa darimu sekarang juga!" Ucap pria itu.


"Dasar lemah!... Beraninya hanya menargetkan orang di bawah level kalian saja!" Ucap Natan meledek para pria yang mencoba merampoknya itu.


"Kau bilang apa barusan?" Tanya pria itu dengan wajah yang mulai berurat karena kesal dengan perkataan Natan.


"Tchui!" Natan tidak menjawab dan malah meludah tepat ke wajah pria itu.


Seketika pria itu pun semakin emosi dan ia pun langsung memperkuat cekikannya.


"Bocah sialan!"


"AAARRRRGGGGHHH!!" Natan meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri dari cekikan pria itu.


Nafas Natan sudah terasa sesak dan ia mulai kesulitan menarik nafas karena cekikan yang sangat kuat itu.


"A... Aku harus melawan!... Apa pun yang terjadi aku harus melawan!" Ucap Natan dalam hati.


Setelah berkata seperti itu dalam hati, kini Natan pun langsung mengangkat kakinya dan melilitkan kakinya ke tangan pria yang mencekiknya itu.


Setelah melilitkan kakinya, ia menekuk dan mengangkat tubuhnya serta mencoba mematahkan tangan pria itu dengan gerakan yang ia buat sendiri.


Terdengar bunyi sesuatu yang patah dari tangan pria itu, dan benar saja, tangan pria itu kini telah berhasil di patahkan oleh Natan.


"AAARRRRGGGGHHH!!"


Pria itu berteriak kesakitan dan ia segera melepaskan cekikannya dari Natan.


Natan pun terjatuh ke tanah, namun dengan cepat Natan langsung berdiri dan menatap ke segala arah dengan penuh waspada karena teman-teman pria itu ada di segala arah.


"Bocah sialan!... Beraninya kau menyerang-ku!" Bentak pria itu yang saat ini masih terduduk sambil memegangi tangan kanannya itu.


"Cepat habisi bocah itu sialan!" Bentaknya lagi memberi perintah pada rekan-rekannya.


Mendengar ucapan pria itu, kini seluruh rekan pria itu langsung bergerak dan langsung menghajar Natan.


Satu persatu mereka maju dan melawan Natan.


Natan mencoba memberi perlawanan pada para pria itu, namun apalah daya, dirinya kalah jumlah dan selain itu ia juga masih belum terbiasa dalam pertarungan dan bahkan levelnya yang jauh di bawah para pria itu tentu juga mempengaruhi.

__ADS_1


Hal itu pun membuat Natan kini di hajar habis-habisan oleh para pria itu.


Hingga akhirnya satu tendangan tepat mengenai perut Natan dan membuat Natan terhempas hingga menghantam sebuah pohon.


BRUAAAKKK!!


"Hoeeekk!" Sekali lagi Natan memuntahkan cairan dari dalam mulutnya dan kali ini cairan itu adalah darah.


"Patahkan tangan bocah sialan itu!" Ucap pria yang tangannya sudah patah akibat tindakan Natan sebelumnya.


Para pria yang lainnya langsung menganggukkan kepalanya saat mendengar perintah dari pria yang tangannya patah itu.


Lalu mereka semua pun segera berjalan mendekati Natan dan langsung mengelilingi Natan tepat di tengah-tengah mereka.


"Sepertinya perjalananmu tidak akan bisa lebih jauh lagi bocah!" Ucap salah satu dari mereka.


Lalu pria itu langsung meraih tangan Natan.


Natan kini tidak bisa memberi perlawanan lagi, tenaganya benar-benar sudah terkuras habis dan seluruh energi gelap miliknya sudah ia gunakan semua.


"Seharusnya sebelum pulang aku memulihkan energiku dulu!" Ucap Natan dalam hati karena salah satu penyebab energi gelapnya habis dengan cepat karena ia menggunakan banyak energi gelap saat melawan para monster sebelumnya.


Kini pria yang memegang tangan Natan langsung mematahkan tangan Natan dengan cara cepat dan memberikan efek kejutan pada Natan.


"ARRGGGHH!!"


Natan langsung berteriak kesakitan saat tangan kanannya di patahkan oleh orang itu.


"Jangan salahkan kami bocah!... Salahkan saja nasib sial-mu karena sudah lewat di sini." Ucap pria yang mematahkan tangan Natan.


"Tidak cukup!... Aku tidak puas hanya dengan satu tangan itu saja!" Teriak pria yang tangannya sudah patah itu sambil berjalan mendekati para rekannya yang sedang mengerumuni Natan.


"Biar aku yang melakukannya sekali lagi!" Ucap pemimpin kelompok yang tangannya sudah patah itu.


"Baiklah, terserah kau saja." Balas rekan pria itu.


Lalu pemimpin kelompok itu langsung memerintahkan anggotanya untuk memegangi Natan dan menarik tangan kiri Natan yang masih baik-baik saja itu.


Pemimpin kelompok itu menyuruh rekannya merentangkan tangan kiri Natan agar ia bisa menginjaknya hingga patah.


Sementara itu Natan kini tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia sudah tidak berdaya dan hanya bisa memohon-mohon pada pria itu.

__ADS_1


Ia kini terlihat seperti pengemis yang sedang mengemis pengampunan dari pria itu.


Namun pria itu justru semakin senang melihat tingkah Natan yang seperti itu dan mereka semua pun malah menertawai Natan.


__ADS_2