Pemburu Monster Dari Dunia Lain

Pemburu Monster Dari Dunia Lain
Serangan Monster (6)


__ADS_3

Anton telah mengalahkan semua monster di satu kota pertama yang ia datangi.


Di sana ada si pemimpin asosiasi cabang ke lima yang sudah tak berdaya namun masih bernyawa.


Orang yang sebelumnya tidak menyukai keberadaan Anton kini hanya bisa menatap kagum sosok Anton yang telah menumbangkan dan membunuh banyak monster seorang diri.


Padahal level mereka berdua sebenarnya tidak begitu jauh, namun karena Anton memiliki banyak jurus yang bisa di sesuaikan dengan kondisi pertarungan membuat Anton bisa lebih mudah dalam mengalahkan para monster tersebut.


Selain itu, di dunia ini, hanya antonlah satu-satunya yang bisa menggunakan banyak senjata energi maupun senjata pusaka sekaligus.


Sementara para pemburu monster lainya banyak yang tak bisa menggunakan senjata energi di karenakan ketidakcocokan.


Entah apa yang mengakibatkan ketidakcocokan itu terjadi, namun hal itulah yang membuat banyak pemburu monster tidak bersenjatakan senjata energi.


Sementara itu, saat ini Anton telah selesai dengan urusannya di tempat ini. Ia kemudian menoleh ke arah Nadoyo yang tampak sudah tak berdaya dan masih dalam posisi duduk berlutut dengan tangan yang berdarah-darah.


"Sebaiknya sekarang kau renungkan baik-baik apa yang telah kau perbuat!, dan pikirkan kembali apakah yang kalian lakukan saat ini sudah benar atau tidak!" Ucap Anton menegaskan.


Nadoyo hanya bisa terdiam. Ia menundukkan kepalanya seperti tak berani menatap Anton. Namun yang terjadi sebenarnya adalah sedang berpikir dan merenungkan perkataan Anton barusan.


Reaksi Nadoyo telah terlihat oleh Anton, dan si pemuda ini pun mengabaikannya.


Ia memutuskan untuk segera pergi dari sini dan menuju ke kota-kota berikutnya yang juga sedang dalam kekacauan.


Di tempat berbeda, tepat di wilayah pedesaan, sosok Angkura berdiri dengan tegas di hadapan para monster yang ada di sekitarnya.


Semua monster mengelilinginya namun tampak takut mendekatinya. Monster-monster itu hanya menatap Angkura sesekali namun kelihatannya mereka sama sekali tak berniat untuk mundur meskipun menyadari bahwa Angkura jauh lebih kuat dari mereka.


Angkura mengaum dengan suara keras. Satu raungan itu saja sudah membuat para monster ketar-ketir.


Dengan rasa takut para monster perlahan bergerak mundur. Ingin melawan namun ada rasa ragu karena perbedaan kekuatan terlalu jauh.


Sekali lagi Angkura mengaum. Namun raungannya kali ini sudah di sertai dengan aura membunuh yang sangat kuat dan memberi tekanan yang luar biasa di udara.

__ADS_1


Seluruh monster yang mendengar raungan itu langsung terkena efek tekanan aura yang sangat kuat dan mengerikan.


Aura membunuh itu membuat pra monster tak sanggup menggerakkan tubuhnya, bahkan tubuh mereka serasa di tekan ke bawah, seolah ada batu besar yang sangat berat menekan tubuh mereka dari atas.


Para monster yang menjadi lawan Angkura meraung-raung kesakitan. Mereka berusaha bertahan namun tak bisa di lakukan sehingga hanya bisa terus meraung keras.


Angkura yang masih dalam wujud naga itu langsung membuka lebar mulutnya dan mengumpulkan energinya di depan mulut yang terbuka itu.


Tenaga petir terbentuk dan mengambil wujud gumpalan.


Dari gumpalan itu menyambar petir yang sangat banyak, namun sambarannya bergerak lurus bagaikan sebuah laser. Namun jumlahnya sangat banyak dan juga bercabang-cabang.


Laser petir berukuran kurang lebih seperti ukuran lengan bawah orang dewasa melesat ke berbagai arah dan menargetkan semua monster yang terkena tekanan aura itu.


Para monster tak bisa menghindar sehingga laser-laser petir itu langsung menusuk tubuh mereka layaknya sebuah tombak tajam yang menembus tubuh manusia.


Para monster terkena tusukan dari ratusan laser petir, dan begitu tubuh mereka semua di tembus oleh laser tersebut, Angkura langsung memperkuat sengatan petirnya sehingga semua laser petir itu langsung memancarkan cahaya yang cukup menyilaukan.


Bersamaan dengan cahaya yang semakin menyala-nyala, Sengatan petirnya juga semakin menjadi-jadi. Seluruh monster langsung terbunuh dan hangus akibat sengatan petir yang sangat mematikan itu.


Di kota yang berbeda, ayah kandung Anton, yakni Andika serang melawan para monster.


Hampir sama seperti Angkura, sang raja yang satu ini ialah sosok yang sudah memiliki tingkatan yang jauh lebih tinggi di bandingkan para monster yang menyerang. Bahkan tingkatan pria paruh baya ini jauh di atas tuan Hiruzwen.


Dengan kemampuan mengendalikan petir, Andika pun menyerang para monster dengan jurus-jurus yang sangat ganas dan mematikan.


Namun setiap gerakan jurus yang di gunakan oleh Andika tampak santai dan tenang, hanya sesekali saja ia menghentakkan tangannya untuk meningkatkan daya serangan petir yang ia miliki.


Serangan petir bagaikan hujan banyaknya menyambar di segala arah dan membunuh semua monster yang ada di sekitarnya.


Beberapa monster mencoba kabur dari Andika, namun pria paruh baya yang masih tampak tampan ini hanya mengulas senyum tipis di wajah.


"Ingin lari?... Tidak semudah itu." Ucapnya.

__ADS_1


Kemudian ia melompat dengan santai dan seketika itu juga di bawah kakinya muncul sebuah pedang besar.


Dengan pedang besar itu, si pria mengejar para monster. Wajahnya tampak tenang namun kecepatannya melebihi kecepatan para monster.


Hal itu membuat ia bisa segera mendahului para monster dan dengan segera menghadang para monster itu di depan.


"Jangan pikir bisa kabur dariku." Ucapnya.


Lalu Andika pun menjentikkan jari tangan kanannya dan seketika itu bola petir pun muncul di hadapannya. Lalu dengan telunjuk tangan kanannya ia mendorong bola petir berukuran kepalan tangan itu ke depan.


Saat tangan kanan dengan jari telunjuk itu di hentak ke depan, bola petir melesat ke depan, namun tidak sampai menghantam monster.


Bola petir berhenti beberapa meter dari para monster.


Monster-monster itu terkejut dan segera mencoba menjauh.


Namun tuan Andika langsung mengepalkan tangan kanannya.


"Matilah." Ucap tuan Andika dengan tenang.


Seketika itu juga bola petir langsung meledak. Ledakan bola petir itu tidak seberapa, namun dalam ledakan itu tampak petir menyambar kemana-mana dari titik ledakan dan menyebar ke segala arah.


Petir-petir itu langsung menembak kepala para monster dan menembus kepala para monster-monster tersebut.


Alhasil para monster pun langsung mati dalam sekejap mata.


Tubuh para monster rubuh dan jatuh ke tanah. Nyawa sudah tak ada, kepala telah bocor akibat serangan petir yang sangat mematikan.


Selesai mengurusi monster di kota itu, Andika pun menoleh ke arah tembok yang lain.


"Mungkin sudah waktunya pindah lokasi." Ucap ayah kandung Anton ini dengan air muka yang masih tenang-tenang saja.


Lalu sang raja dengan tampang yang masih muda layaknya pria usia 20-an itu kini segera melesat terbang menggunakan pedang besar milik-nya.

__ADS_1


Tujuannya adalah tembok ke lima.


__ADS_2