Pendekar Naga Siluman

Pendekar Naga Siluman
Sebuah Perjalanan Tanpa Akhir....


__ADS_3

Di saat Wu Lei akan melewati padang gurun tanpa batas dengan di temani oleh hantu cantik Achiu dan ayahnya di dalam misi Wu Lei mencari tahu keberadaan Li Wei Shiang yang menghilang tanpa jejak itu.


Di daerah lain dari wilayah Dunia Iblis,Tian Xin dan Wu Song harus melewati lautan darah transparan yang terpentang luas di hadapan mereka berdua yang berdiri di tepi lautan tersebut.


"Daerah Lautan Darah Tanpa Tersentuh." Kata Wu Song membaca papan nama daerah tersebut.


" Ya,itu berarti kita harus tenggelam di lautan aneh ini untuk perjalanan kita ke dunia Iblis Tengah." Kata Tian Xin yang menjulurkan kakinya untuk Ia bisa menyentuh air laut warna darah yang amat merah segar sekali di depannya itu.


Kecipakk..!


" Tak ada apa-apa yang membasahi sepatu ku." Kata Tian Xin yang mengangkat sepatunya untuk di amati dengan cermat.


" Ya,tak ada darah di sepatu Anda tapi coba Anda rasakan ngilu di kaki Anda yang bersepatu itu." Kata Wu Song yang ingin memastikan jalan yang mereka lalui itu sama sekali aman dan tidak akan membahayakan mereka berdua.


Tian Xin mengikuti saran Wu Song untuk melihat kakinya yang sepatunya di buka dahulu olehnya dan Ia terbelalak melihat adanya lintah racun yang menempel di sela-sela jari -jari kakinya itu.


" Lintah racun darah kental hantu penasaran." Kata Tian Xin mengambil lintah racun dari jari -jari kaki nya dengan kipas lipatnya lalu menaburi garam inti bumi untuk mengobati jari -jari kakinya itu yang segera sembuh kembali seperti sediakala.


Lintah racun darah kental hantu penasaran telah di bakar dengan kertas mantra oleh Wu Song yang melemparkan bangkai lintah tersebut ke air lautan darah tanpa tersentuh.

__ADS_1


Blukk..!!


Muncullah jembatan tali yang dari dasar lautan itu yang membentang dari tepi lautan itu sampai ke ujung yang tak terlihat oleh Tian Xin dan Wu Song dari tepi lautan tersebut.


" Jembatan tali yang terbuat dari urat nadi hewan kerbau bumi atas." Kata Tian Xin yang melihat ada dua tanduk di ujung dua tiang di kanan dan kiri di jembatan tersebut.


" Amankah untuk kita gunakan sebagai alat untuk menyeberangi lautan darah tak tersentuh?" Tanya Wu Song merasa sangsi dengan jembatan yang amat unik itu.


" Kita akan aman menggunakan jembatan itu jika kita gunakan perisai teratai merah muda langitku ini." Jawab Tian Xin yang menggunakan kipas lipat untuk membentuk perisai teratai merah muda di sekeliling dirinya dan Wu Song.


" Waaahhhh...Aku baru pertama kalinya melihat perisai teratai merah muda langit yang Anda miliki yang pernah hamba dengar dari para Dewa dan Dewi di langit mengenai perisai hebat Anda ini dan sekarang hamba telah di ijinkan untuk memakai perisai hebat Anda bersama dengan hamba." Kata Wu Song dengan sepasang matanya yang amat kagum dengan perisai yang di miliki oleh Tian Xin itu.


"Sungguhkah Yang Mulia bahwa hamba pun dapat memiliki perisai teratai merah muda yang seperti yang Anda miliki ini dengan hamba hanya perlu melatih di air kolam tetatai merah muda di Istana Dewi Pelangi di utara Dunia Langit?" Tanya Wu Song yang terdengar tak sabar lagi untuk memiliki perisai teratai merah muda.


" Iya,sungguh Wu Song asalkan kamu tabah dan kuat menjalani pelatihan diri di kolam air kolam itu selama lima puluh tahun masa hidup di bumi atau lima hari masa di luar hidupmu di Langit." Jawab Tian Xin dengan tenang.


" Lima hari masa di luar hidup hamba di Langit itu sama dengan masa kematianku di usiaku yang ke lima puluh tahun masa hidupku di Bumi? Hhh lalu sekarang ini hamba usia berapa tahun di Bumi menurut Anda ,Yang Mulia?" Tanya Wu Song ingin tahu sekali.


"Dua tahun..Karena kau baru lahir di Dunia Langit dua belas hari setelah kelahiran Wu Lei."Jawab Tian Xin yang terus berjalan dengan tenang di atas jembatan tali urat nadi kerbau bumi atas.

__ADS_1


"Aaahhhh ?! Lalu Wu Jing si Naga Hijau dan Wu Bai si Naga Putih usia berapa sekarang ini,Yang Mulia ?" Tanya Wu Song semakin di dera rasa hati yang penuh keingintahuan yang luas mengenai diri nya dan para naga peliharaan Kaisar Langit itu.


" Wu Jing berusia lima hari dan Wu Bai usia tujuh hari." Jawab Tian Xin yang tersenyum melihat dua ekor naga yang di sebutkannya tadi telah datang kepadanya di ujung jembatan tali urat nadi kerbau bumi atas begitu Tian Xin dan Wu Song akhirnya tiba di daerah selanjutnya.


"Desa Hantu Hujan Paku.." Kata Tian Xin yang di beri petunjuk oleh Wu Jing dan Wu Bai yang sudah berubah wujud menjadi sepasang pemuda remaja tanggung usia empat belas tahun dan tujuh belas tahun yang tampan dan mengapit Tian Xin dan Wu Song.


" Desa milik hantu perempuan yang lidahnya itu di penuhi paku." Kata Wu Song yang sepasang mata nya tertuju kepada sosok perempuan yang berdiri dengan lidah yang terjulur dan di penuhi paku di beberapa langkah dari Wu Song,Tian Xin ,Wu Jing dan Wu Bai berdiri.


" Hihihi...Senang sekali kamu mengenali Aku Hong Yu Mei yang cantik jelita bagaikan Dewi Rembulan Purnama." Kata Sosok perempuan tersebut yang memainkan rambut panjangnya yang amat kusut itu dengan sikap centil sekali kepada Wu Song.


"Eh, jika kamu secantik Dewi Rembulan Purnama lalu seperti apakah wujud asli Sang Dewi yang paling cantik di Dunia Langit itu?" Tanya Wu Song dengan mengernyitkan wajahnya kepada Hong Yu Mei Hantu Lidah Paku.


"Emmmm..Yue Liang itu tak bisa di bandingkan dengan makhluk itu?! " Bantah Tian Xin tanpa di sadari mencela ucapan dari Wu Song yang ingin menegur si Hantu aneh itu.


"Ehh..Yang Mulia, kenapa Anda terdengar marah saat Hamba membandingkan Dewi Rembulan Purnama dengan dia itu?" Tanya Wu Song dengan nada senang sekali karena Tian Xin kali ini dapat menilai kecantikan seorang wanita yang belum pernah di ungkapkan oleh Tian Xin sebelumnya.


"Karena..Ya..Karena Yue Liang itu seorang Dewi Langit sedangkan makhluk itu sejenis Hantu yang sebentar lagi akan menjadi wujud Siluman Harpa Maut yang berbeda sekali dengan Yue Liang." Jawab Tian Xin dengan wajahnya biasa saja pada Wu Song yang kembali kecewa dengan harapan Wu Song yang mengira Tian Xin mulai ada rasa terhadap kaum wanita di Langit.


" Eh,Yang Mulia masih belum ada rasa terhadap kaum wanita di Langit apalagi di Bumi..!Aduh..! Aku jadi pusing.." Kata Wu Song memegangi dahi nya yang halus itu.

__ADS_1


Bersambung..!!


__ADS_2