Pendekar Naga Siluman

Pendekar Naga Siluman
Kota Terpencil Di Wilayah Kekaisaran Alam Langit Lapisan Kelima.


__ADS_3

Tian Xin membuka pintu kamarnya begitu dirinya mendengar percakapan para sahabatnya yang membahas tentang para pasukan Kaisar Iblis Awan Kelabu yang menjaga wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima di pekarangan depan kamarnya.


" Wu Heng, Wu Ching dan Wu Lu apakah kalian bisa menunjukkan jalan masuk ke alam langit lapisan kelima tanpa di ketahui para pasukan Kaisar Iblis awan kelabu? " Tanya Tian Xin yang berjalan ke arah semua temannya.


" Yang Mulia, kami bisa menunjukkan jalan masuk ke alam langit lapisan kelima untuk anda yang aman yaitu melalui tangga awan putih milik Kaisar Raja Dewa Awan cerah. " Jawab Wu Heng segera kepada Tian Xin.


" Bagaimana cara untuk kita pergi ke tempat Kaisar Raja Dewa Awan cerah sedangkan Beliau di sandera oleh Kaisar Raja Iblis awan kelabu yang menguasai wilayahnya? " Tanya Wu Lei di sisi kanan Li Wei Shiang istrinya.


"Melalui kapal awan bunga teratai putih milik Dewa Empat Musim di gunung langit empat musim yang berada di bawah kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima. " Jawab Wu Heng dengan senyuman nya kepada Wu Lei.


" Hmm, Dewa pelukis tolong kamu membuatkan lukisan kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima untuk ku. " Kata Tian Xin dengan ramah kepada Dewa pelukis Li Xiao Xin.


" Ya, Yang Mulia. Saya laksanakan perintah dari anda dengan segera. " Jawab Dewa pelukis Li Xiao Xin yang segera melukis di gulungan kertas sumi langit dan tinta emas.


" Tian Xin, aku rasa aku tidak bisa ikut pergi ke kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima bersama denganmu dan yang lain " Kata Li Xiao Feng yang cepat keluar dari kamar nya.


" Kenapa Guru tak bisa ikut pergi? " Tanya Tian Xin dengan hormat kepada Li Xiao Feng.


" Ibu gurumu baru saja melahirkan seorang putra pertama untuk ku yang mengharuskan aku untuk menjaganya sampai tenaganya pulih kembali. " Jawab Li Xiao Feng yang terlihat bahagia di raut wajahnya kepada Tian Xin.


" Ahh, wah selamat untuk mu Guru atas kelahiran putra pertama mu. " Kata Tian Xin bahagia.

__ADS_1


" Ya, Tian Xin terimakasih banyak. " Kata Li Xiao Feng yang merangkul Li Wei Shiang putrinya yang telah menikah dan memiliki suami yaitu Wu Lei.


" Ayah, siapa nama adik laki-laki ku? " Tanya Li Wei Shiang turut rasakan kebahagiaan ayahnya.


" Li Shi Feng. " Jawab Li Xiao Feng mencium dahi putrinya.


" Wahhh, aku juga mau memberikan hadiah kecil untuk ayah atas kelahiran adikku itu. " Kata Li Wei Shiang tersenyum bahagia kepada ayahnya.


" Wah, apa hadiah kecil yang mau kamu berikan kepada ayah? " Tanya Li Xiao Feng menatap putri nya.


" Ayah akan menjadi seorang Kakek pada tahun depan. "Jawab Li Wei Shiang tersenyum bahagia untuk ayahnya yang terbelalak bahagia dan Wu Lei suaminya ternganga tak percaya dengan kata -katanya itu.


" Kau bilang apa barusan, Wei Shiang? " Tanya Wu Lei suaminya menatapnya.


" Wahh, bayi.. Aku akan mempunyai seorang anak..! " Sorak sorai Wu Lei yang memeluk Li Wei Shiang dengan bahagia.


" Wah, selamat Wu Lei dan Li Wei Shiang kalian akan memiliki keluarga kecil kalian sendiri. "Kata Tian Xin tersenyum bahagia pula untuk Li Wei Shiang dan Wu Lei.


" Terimakasih Yang Mulia. " Kata Wu Lei dan Li Wei Shiang tersenyum untuk Tian Xin.


" Ahh, Aku harus sabar untuk menunggu giliran ku menjadi ayah dari istriku Xiao Hong yang sampai sekarang belum isi bayi juga di rahimnya untuk kebahagiaan kehidupan keluarga kecil kami di masa depan. " Kata Wu Song memeluk Xiao Hong yang tersenyum kecil kepadanya.

__ADS_1


" Sabarlah masih banyak waktu panjang untuk kalian bisa memiliki anak. " Kata Tian Xin yang memberikan dukungan untuk Wu Song dan Xiao Hong.


" Yang Mulia, lukisan kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima sudah aku buatkan untuk Anda. " Kata Dewa pelukis Li Xiao Xin memperlihatkan lukisannya kepada Tian Xin yang memanggil istrinya yaitu Ji Xian Hua untuk ikut pergi ke kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima bersamanya.


" Yang Mulia, hamba berdua akan ikut pergi ke kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima bersama dengan anda berdua. " Kata Wu Song yang segera mengajukan dirinya untuk ikut menemani Tian Xin dan Ji Xian Hua.


" Baiklah. Marilah kita berangkat sekarang juga ke kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima melalui lukisan Dewa pelukis Li Xiao Xin. " Kata Tian Xin yang telah meraih jemari istrinya untuk terjun ke lukisan kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima milik Dewa pelukis Li Xiao Xin.


" Yang Mulia, saya juga ikut untuk memandu jalan anda. " Kata Dewa Pelacak Ren Jia Lun yang telah berdiri di samping Wu Song dan Xiao Hong.


" Heem.. Mari kita jalan saja. " Kata Tian Xin yang melangkah maju terus ke arah barat dari kertas lukisan kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima bersama dengan Ji Xian Hua.


" Pintu kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima berada di depan patung sepasang burung merak emas. " Kata Wu Song menunjukkan adanya patung sepasang burung merak emas di depan pintu masuk ke kota terpencil di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima kepada Tian Xin.


" Mereka berdua bukan patung sepasang burung merak emas tetapi sepasang siluman burung merak bulu satu yang menyamarkan diri mereka sebagai sepasang burung merak emas ciptaan Kaisar Raja Dewa Empat Musim yang pernah aku lihat di masa lampau. " Kata Tian Xin yang telah melihat dengan jelas bahwa patung itu bukanlah patung sepasang burung merak emas di wilayah Kekaisaran alam langit lapisan kelima melainkan sepasang siluman burung merak bulu satu.


" Kalau begitu biarkan hamba saja yang maju ke hadapan mereka dan menghadapi mereka untuk anda. " Kata Wu Song yang mengajukan dirinya untuk mewakili Tian Xin untuk menghadapi kedua siluman burung merak bulu satu yang kini berubah wujud mereka begitu Wu Song berjalan maju ke hadapan mereka.


Blassh!


Sepasang siluman burung merak bulu satu telah berhadapan dengan Wu Song dengan senyuman bengis yang menantang bertarung melawan Wu Song.

__ADS_1


" Wah, mereka mencari mati di tanganku dengan senyuman mereka yang sombong itu. " Kata Wu Song yang telah mengeluarkan pedang birunya di tangan kanannya.


Bersambung!


__ADS_2