Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Kedua Patriak Terluka


__ADS_3

"Patriak lihat saja nanti!'' seru Qiao Li yang sudah menyusun kerikil - kerikil di tiap ruas jarinya.


Kemudian Qiao Li bersiap melempar kerikil - kerikilnya ke arah para penjaga tahanan bawah tanah itu.


"Takk......takk.....takkk...!"


"Aagrhh....! Aagrhh....! Aagrhh....!"


Tiga penjaga telah terkapar karena terkena serangan kerikil - kerikil dari Qiao Li.


"Hah..! kurang ajar, siapa itu!" seru salah satu diantara dua penjaga yang masih berdiri disamping penjaga - penjaga yang terkapar itu.


"Takk.....takkk...!"


"Aagrhh....! Aagrhh....!"


Dan lagi Qiao Li menyerang menggunakan kerikil - kerikil itu.


Dan dua orang penjaga yang tersisa itu, akhirnya terkapar juga di tangan Qiao Li lewat kerikil - kerikil itu.


"Bagus Li'er! ayo kita masuk!" seru Patriak An dan ketiganya bergegas masuk ke ruang tahanan itu.


Qiao Li dan kedua Patriak itu mencari kunci pintu tiap sel tahanan, dan mereka mencari di sekitar saku para penjaga hingga di sudut ruang tahanan.


Dan akhirnya mereka menemukannya dan dengan segera membuka semua pintu - pintu tahanan itu.


Tahanan - tahanan yang sudah bebas itu berhamburan keluar dari siang tahanan yang sesak itu.


"Terima kasih...terima kasih tuan!" ucap beberapa tahanan yang sempat berpapasan dengan ketiga orang yang membebaskan mereka itu.


"Iya, cepat pergi!" seru Patriak Lung.


"Saudara Mi, Chen Kun..!" panggil Patriak An di tiap ruang tahanan.


"Patriak Mi....Patriak Mi!" panggil Qiao Li yang tak mau ketinggalan.


"Kakak An! aku disini!" seru suara wanita setengah baya di ruang tahanan yang paling ujung.


"Patriak An, Patriak Jing mi ada disebelah ujung!" seru Qiao Li yang merasa mendengar suara Patriak Jingmi di ruang tahanan paling ujung itu.


"Iya, aku akan ke sana!" seru Patriak An yang berlari menuju ke ruang tahanan yang paling ujung itu dan benar saja, ada Patriak Jing mi disana.


"Sudah aku duga, kakak pasti akan menyelamatkanku!" ucap Patriak Jingmi dengan suka cita karena kakak seperguruannya yang saat ini menyelamatkannya.


"Ayo segera keluar!" seru Patriak An pada saat pintu ruang tahanan terbuka, dan Patriak Jing mi dengan segera keluar dan diikuti para tahanan yang lainnya.


"Apakah Chen Kun sudah diketemukan?' tanya Patriak An yang menebarkan pandangan meneliti para tahanan yang sedang keluar dari ruang tahanan itu.


"Saya di sini Patriak!" seru Chen Kun seraya melambaikan tangannya.


"Baguslah! ayo kita keluar dari sini!" seru Patriak Lung dan mereka keluar dari ruang tahanan itu diurutan paling belakang diantara para tahanan yang keluar dari rauang tahanan itu.

__ADS_1


Mereka beramai - ramai keluar dari ruang tahanan dan terus keluar dari perguruan itu menuju ke halaman.


Ternyata di halaman mereka telah dihadang para anggota sekte serigala hitam. Banyak diantara mereka yang menyerang dan mereka kewalahan. Itu karena mereka melawan tanpa menggunakan senjata apa pun sedangkan para anggota sekte serigala hitam itu menggunakan senjata tombak, pedang, parang bahkan juga panah.


"Sebaiknya kita keluar dari pintu belakang, seperti kita datang tadi!" seru Qiao Li yang melihat semua anggota sekte serigala hitam telah mengepung di bagian depan.


"Benar juga! ayo Saudari Jingmi, Chen Kun!" seru Patriak An dan semuanya mengikuti arah Patriak An.


Pada saat mereka hampir sampai di pintu belakang, tiba - tiba saja mereka dihadang oleh lima orang penanah yang sudah siap melepaskan panah yang telah dilumuri dengan racun itu.


Patriak Lung melihat sebuah anak panah melesat mengarah pada Patriak Jing mi, dan dengan cepat Patriak Lung menjadikan dirinya sebagai tameng untuk melindungi Patriak Jing mi dari panah beracun itu.


"Jlebb!'' anak panah beracun itu menembus dada bidang Patriak Lung.


"Aagh..!" suara erangan Patriak Lung yang menahan rasa sakit di dadanya.


"Patriak Lung!" panggil Patriak Jingmi yang terkejut saat melihat dengan cepat kejadian itu.


"Patriak Lung..!' panggil semuanya yang juga sama terkejutnya dan semuanya menoleh ke ara Patriak Lung yang sudah jatuh terkapar.


Dan disaat yang sama, Patriak Jingmi juga melihat sebuah anak panah yang melesat ke arah Patriak An.


"Awas kakak An..!" seru Patriak Jingmi yang mempercepat langkahnya mendahului Patriak An dan mendorong Patriak An ke samping dengan kuat, ketika melihat sebuah busur anak panah tepat mengarah pada kakak seperguruannya itu.


Alhasil, panah beracun itu menembus dada Patriak Jingmi.


"Jlebb!'' anak panah beracun itu menembus dada sebelah kiri Patriak Jingmi.


"Aagh..!" suara erangan Patriak Jingmi yang juga menahan rasa sakit di dadanya.


"Patriak Mi!" panggil Qiao Li dan Chen Kun secara bersamaan.


Kedua Patriak itu terkapar di tanah dengan memegang dada mereka yang sudah membiru, karena begitu cepatnya racun dari anak panah itu bekerja.


Qiao Li menatap ke arah kelima pemanah itu yang saat ini sedang tertawa kemenangannya dengan geram.


"Kurang ajar!'' umpat Qiao Li dengan kesal, gadis itu kemudian melangkahkan kakinya berhadapan dengan kelima pemanah itu.


Salah satu dari pemanah itu menyadari sikap Qiao Li yang seolah - olah menantang mereka tanpa rasa takut.


Pemanah itu mengarahkan anak panah yang sudah dilumuri racun itu ke arah Qiao Li.


"Pedang Azuya!"


Qiao Li memanggil pedangnya dan seketika itu juga muncullah pedang yang memancarkan kilau dan sinar kehijauan itu.


"Hopp hiaaat...!"


"Trang..!" Qiao Li mengarahkan pedang Azuya untuk menangkis anak panah yang sedang melesat ke arahnya itu.


Dan anak panak itu terlempar ke ruang hampa, yang membuat para pemanah itu sedikit kesal.

__ADS_1


Para pemanah itu kembali menyiapkan anak panak dan menarik busur anak panah mereka masing - masing.


Lima anak panah melesat ke arah Qiao Li, dan dengan cepat Qiao Li kembali menangkis anak panah yang mengarah padanya itu dengan pedang Azuya.


"Hopp hiaaat...!"


"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"


Kelima anak panah itu, terhempas ke arah ruang hampa dan tergeletak begitu saja tak mengenai sasarannya.


"Kurang ajar!" umpat salah satu dari pemanah itu, kembali mereka mengambil anak panah mereka.


"Sreet...Sreet...Sreet...Sreet...Sreet...!''


Belum sempat mereka menarik busur panah, busur panah mereka telah terbagi dua. Dan itu semua perbuatan pedang Azuya atas perintah Qiao Li.


"A..apa!" seru para pemanah itu yang terkejut. Kemudian mereka berusaha untuk lari, namun baru beberapa langkah mereka sudah di hadang oleh patriak An.


"Rasakan pembalasanku! Terimalah ini!" seru Patriak An yang sudah bersiap dengan pedangnya.


Dan ternyata pemanah itu juga membawa sebuah pedang di pinggang mereka masing - masing.


Bunyi pedang yang beradu itu pun terdengar dengan nyaring.


"Hopp hiaaat...!"


"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"


"Sreet...Sreet...!"


"Aaaghh...! Aaagh...!"


Dua orang dari kelima pemanah itu terkapar karena terkena sayatan dari pedang Patriak An.


"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"


"Sreet...Sreet...!"


"Aaaghh...! Aaagh...!"


Kembali dua orang dari kelima pemanah itu terkapar karena terkena sayatan dari pedang Patriak An.


Dan saat ini tinggalah satu orang pemanah, yang sudah ketakutan melihat ke empat temannya yang sudah tak berdaya,


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2