
Maaf aku kira begitu dan mungkin nggak pernah mandi! he..he..!" goda Kirana sambil memercikkan air sungai yang sebelumnya dia sudah mencuci tangannya.
"Hei, basah nih! apa kamu mau lihat aku mandi?" tanya Ekin yang kemudian membalas percikan air pada wajah kirana.
Dan Kirana menjadikan telapak tangannya sebagai tameng.
"Ah.. awas ya!" seru Kirana yang kembali menyerang Ekin.
Dan ketika Ekin akan membalas memercikan air pada Kirana, gadis itu sudah berlari menuju ke perapian dengan tersenyum sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar kau ya..!!" ucap Ekin yang tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Biasanya aku mengerjai para siluman, kini aku di kerjai seorang gadis..! Ekin..Ekin...! Gadis itu membuatku bahagia di kesendirianku saat ini!" kata dalam hati Ekin.
"Apa kamu di dunia manusia juga bertingkah seperti ini?" tanya Ekin yang mendekat ke perapian.
"Nggak juga, tergantung orangnya sih! mau diajak bercanda atau tidak!" kata Kirana yang menghangatkan telapak tangannya di depan perapian.
"Apa kamu bisa bela diri?" tanya Ekin yang ikut menghangatkan telapak tangannya.
"Tidak, sama sekali tidak bisa"' kata Kirana walau suka nonton film action, tapi dia tidak suka perkelahian di dunia nyata.
"Kau di sini harus bisa beladiri, paling tidak memanah atau menggunakan senjata lainnya untuk berburu dan melindungi diri." kata Ekin yang terus sibuk dengan kerapiannya.
"Setelah apa yang kamu katakan, aku jadi berpikir mungkin aku memang harus bisa beladiri. Apa kau bisa mengajariku?" tanya Kirana berharap.
"Bisa saja. asal kau selalu bersamaku!" kata Ekin yang juga berharap.
"Maksudnya?" tanya Kirana yang bingung.
"Ya..menemani selama di dunia siluman ini. Agar kamu jangan jauh- jauh dariku. Karena keselamatanmu terancam!" kata Ekin yang belum mengatakan yang sebenarnya.
"Oh..tentu saja, mana mungkin aku akan pergi dari kamu, bisa-bisa aku di mangsa para siluman!" kata Kirana mulai mengantuk.
"Kalau mau tidur, tidur saja aku akan tetap berjaga-jaga di sini!" kata Ekin yang kemudian memberikan alas berupa tikar dari anyaman daun pandan buatan sendiri yang biasa dia pakai.
"Aku tidur ya, awas kamu jangan macam-macam!" seru Kirana yang membaringkan tubuhnya miring kekanan dengan berbantalkan lengan kanannya.
Ekin kemudian mengambil selimut dari kulit binatang yang juga biasa dia pakai, sekarang untuk menyelimuti Kirana.
"Selamat malam, tidur yang nyenyak ya!" ucap Ekin setelah menyelimuti tubuh Kirana.
Gadis itu tak mendengar, dia sudah terlelap dalam mimpinya.
📆Flashback Off.
"Cerita ini adalah pertemuan paman dengan gadis itu, dan apa paman ada perasaan suka sama gadis itu?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Paman belum begitu menyadarinya!" kata Chiang Yi yang mengingat kejadian tempo dulu.
"Paman, mulai tahunya dia kekasih sahabat paman itu sejak kapan?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Sejak paman memberikan pedang Awan! Iya, aku merasa pedang awan itu tak berjodoh denganku!" ucap Chiang Yi yang kemudian bercerita bagaimana dia memberikan pedang awan pada gadis yang bernama Kirana.
__ADS_1
,📆Flashback on
Ini adalah pedang Awan, pedang milik sahabatku yang aku pinjam sebelum aku mendapat pedang cahaya dari petinggi kekaisaran langit." kata Ekin yang menyerahkan pedang pedang awan itu pada Kirana.
"Pedang cahaya, kekaisaran langit..? Kenapa sahabatmu itu punya pedang, sedangkan kamu tidak..? sebetulnya kamu itu siapa sih..?" pertanyaan demi pertanyaan dari Kirana yang penasaran.
"Aku Ekin Dewa Bintang putra Selir Selena yang merupakan Dewi bulan, dari kerajaan langit." jawab Ekin.
"Sedangkan pedang awan sebetulnya milik panglima langit Raymond yang merupakan Dewa pedang dan pedang awan ini telah dibawanya melanglang buana menghadapi semua musuhnya. Kemudian pedang ini diturunkan pada putranya yang sekarang menjadi sahabat sekaligus musuhku..!" jelas Ekin.
"Apa mungkin yang di maksud pemilik pedang ini adalah Aaron putra Dewa pedang Raymond yang sekarang rohnya masuk ke tubuh Andy..?" tanya dalam hati Kirana.
"Apa kamu kenal dengan Aaron?" tanya Kirana yang memberanikan diri menanyakan hal itu.
"Dialah pemilik pedang itu!" jawab Ekin.
"Hei bagaimana kamu tahu tentang Aaron?" lanjut tanya Ekin yang heran, kenapa Kiran tahu nama Aaron si pemilik pedang Awan.
Namun berbeda dengan Kirana yang mendengar kalau pedang yang di pegangnya itu milik Aaron, dia begitu ceria.
"Hanya pernah dengar saja. Ayo kita latihan, aku ingin mencoba pedang ini." kata Kirana dengan semangat namun tetap masih menutupi hubungannya dengan Aaron pada Ekin.
"Baiklah, ayo kita mulai dari cara dasar penggunaan pedang." kata Ekin yang memulai dasar-dasar beladiri menggunakan pedang.
"Satu....dua....tiga.. hiaaat..!!"
"Satu,....dua...tiga ...hiaaaat...!!"
"Satu....dua....tiga.. hiaaat..!!"
"Satu,....dua...tiga ...hiaaaat...!!"
"Satu....dua....tiga.. hiaaat..!!"
"Satu,....dua...tiga ...hiaaaat...!!"
Tak berapa lama terlihat siluman rajawali terbang melayang dan hinggap di depan mereka.
"Raja, apa kau sudah dapatkan baju untuk Kirana?" tanya Ekin yang menghampiri Siluman rajawali tersebut .
Dan siluman rajawali itu memberikan bingkisan pada majikannya.
Ekin menerima dan membukanya. Kemudian menyerahkannya pada Kirana.
"Terima kasih!" kata Kirana yang kemudian dia melihat baju-baju yang di bawa Siluman rajawali itu.
"Kirana, kalau mau mandi, mandi saja di dalam ya, saya dan raja tetap di sini." kata Ekin yang menghampiri batu besar untuk dia duduk.
"Aku nitip pedang awan ya!" ucap Kirana yang kemudian menyerahkan pedang awan pada Ekin kembali
"Iya, jangan lama-lama, sebentar lagi malam. Kita belum ada persediaan untuk makan malam ini." kata Ekin mengingatkan.
"Oiya baiklah" ucap Kirana yang kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam goa.
__ADS_1
Kirana pun memulai ritual mandinya di sebuah kolam kecil di dalam goa tersebut.
Selesai mandi, Kirana memakai pakaian Hanfu yang di bawa siluman rajawali itu.
Dan Kirana berdandan seperti gadis dari negeri bambu itu.
Kirana duduk di tepi kolam, memandang dandanannya yang kini berbeda
"Kirana..! sudah selesai belum?" yanya Ekin yang merasa Kirana begitu lama.
"Eh iya Ekin..! sebentar ya!" balas kirana yang sekali lagi memastikan dandanannya di atas kolam.
Kirana segera keluar dari goa dan menghampiri Ekin untuk meminta balik pedang Awannya .
"Kirana....ka...kau..!!" Panggil Ekin yang seolah tak percaya akan keadaan gadis yang sehari ini bersamanya.
"Kirana kamu cantik sekali?" ucap dalam hati Ekin.
Kirana tersipu malu, dan kemudian dia menatap Ekin.
"Mana pedang awannya?" tanya Kirana sambil mengulurkan tangannya.
"Oh ini pedangnya!" kata Ekin yang tak melepas pandangan matanya.
"Ekin, hei...!" panggil Kirana sambil mengibas-ibaskan tangannya di hadapan Ekin.
"Eh iya...! maaf, kamu berbeda sekali!" ucap Ekin yang masih terpesona dengan kecantikan Kirana.
"Aku masih sama dengan Kirana yang sebelum ganti baju tadi" kata Kiran yang kemudian berlatih kembali dengan jurus-jurus yang di ajarkan oleh Ekin tadi.
"Oke Kirana, ayo kita mulai berburu siluman!" seru Ekin yang mulai memberi kode pada siluman Rajawali untuk merendah.
Ekin kemudian naik ke atas punggung siluman rajawali itu dan di ikuti oleh Kirana. Dan mereka pun terbang meninggalkan goa yang sebagai tempat tinggalnya itu
📆Flashback off.
"Dan sejak itulah kami berburu siluman, dan hingga kami tahu keberadaan kekasih Kirana" kata Chang Yi.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1