Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Mulai Membangun Kembali Penginapan


__ADS_3

Langkahi dulu mayatku!" seru Fang Chen yang mulai membuat kuda-kuda.


"Kurang ajar! serang mereka!"seru salah satu mereka yang mampu menggerakkan kawanannya untuk menyerang Fang Chen dan Qiao Li.


Fang Chen dan Qiao Li saling memunggung, dan waspada terhadap serangan lawan mereka.


Perkelahian dengan tangan kosong pun berlangsung dengan seru.


"Hop hiaat...!"


"Bagh..! bugh...! bagh...! bugh..!"


"Aaaghh....!"


"Bagh..! bugh...! bagh...! bugh..!"


"Aaaghh....!"


Keduanya menang di perkelahian tangan kosong ini, banyak anggota lawan yang terluka karena pukulan dan tendangan dari jurus tarian Dewi Cinta.


"Sreeeng..!"


Terdengar para perampok itu mengeluarkan senjata mereka.


"Ayah, mereka pakai senjata!" seru Qiao Li yang cemas.


"Tenang ambil saja pedang mereka yang kita kalahkan tadi!" seru Fang Chen yang kemudian mengambil dua pedang dari perampok yang telah Fang Chen hajar tadi, dan menyerahkan satu pedang pada Qiao Li.


"Masalahnya, Li'er tak bisa memainkan pedang ayah!" ucap Li'er saat menerima sebuah pedang dari Fang Chen.


"Apa kamu tak bisa menggunakan jurus pedang?" tanya Fang Chen yang merasa heran.


"Belum bisa, kan belum diajarin sama ayah!" jawab Qiao Li seraya menggelengkan kepalanya.


"Hei sudah belum ngerumpinya! rasakan serangan kami!" seru salah satu perampok yang kini tinggal empat orang itu.


"Kalau begitu, Li'er kamu menepilah! biar aku bereskan cecunguk - cecunguk ini!" seru Fang Chen uang sudah menyiapkan diri menyerang para perampok itu.


"Hopp hiaaaaat..!'


"Trang...! Trang...! Trang...! Trang...!"


"Trang...! Trang...! Trang...! Trang...!"


"Sreet...! aaaghh....!"


Satu perampok terkapar bersimbah darah. Dan pertarungan kembali terjadi, kali ini tiga orang perampok yang jadi lawan Fang Chen.


Hopp hiaaaaat..!'


"Trang...! Trang...! Trang...! Trang...!"

__ADS_1


"Trang...! Trang...! Trang...! Trang...!"


"Sreet...! aaaghh....!"


Dan satu perampok lagi terkapar bersimbah darah, dan kini tinggal dua orang peramapok yang saling pandang dan perlahan mereka melarikan diri meninggalkan Qiao Li dan Fang Chen dan juga kereta kudanya.


"Akhirnya beres juga!" ucap Fang chen yang mengambil senjata-senjata dari lawan-lawannya yang tekapar itu.


"Untuk apa senjata-senjata itu ayah?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Suatu saat kita akan membutuhkannya, ayo kita lanjutkan perjalanan kita!" ajak Fang Chen yang sudah menyimpan semua pedang yang di peroleh ya ke dalam peti penyimpanan senjata.


Dan mereka segera naik ke kereta kuda, lalu melaju menuju ke gurun pasir.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di gurun pasir, dan mereka melajukan kereta kudanya pelan-pelan menuju puing-puing penginapan mawar gurun.


"Ayah, puing-puing bekas penginapan mawar gurun sudah kelihatan!" seru Qiao Li yang melihat ke arah depan.


"Iya, dan itu seperti kereta kuda Patriak Feng!" seru Fang Chen yang juga melihat ke arah depan.


"Semoga saja dalam pembangunan penginapan nanti tak ada badai pasir atau badai gurun." ucap satu anggota sekte bambu kuning yang bersama mereka.


"Iya, itu yang kita harapkan. Dan pembangunannya pun lancar dan tepat sesuai waktu!" ucap Fang Chen yang juga sangat berharap kelancaran dalam membangun kembali penginapan itu.


Akhirnya mereka telah sampai dan kemudian menepikan kereta kuda mereka.


Setelah itu mereka menghampiri Patriak Feng yang ikut membersihkan puing kebakaran , yang sebagian sudah terbawa oleh angin.


"Hai kalian! kita bereskan dulu puing-puing ini, sebelum kita bangun kembali penginapannya!" seru Patriak Feng.


"Sebaiknya kita buat tenda untuk kita istirahat nanti, karena haribsudah beranjak petang!" seru seorang anggota dari sekte bambu kuning yang sedari tadi bersama Qiao Li dan Fang Chen.


"Benar juga, kita lebih baik buat tenda dulu!" seru Fang Chen yang akhirnya mereka membuat dua buah tenda.


Satu untuk tenda laki-laki dan yang satunya untuk tenda perempuan.


Setelah tenda selesai di buat, Qiao Li dan Patriak Feng bergegas membuat perapian dan setelah itu mereka memasak untuk makan malam mereka.


Qiao Li mengambil bahan masakan yang tadi di belinya saat di perkampungan dan mulai menyiangi dan mengiris sayurannya


Sedangkan Qiao Feng menyiapkan bumbu-bumbunya.


Setelah selesai, mereka makan bersama sambil menikmati suasana baru bagi mereka.Yaitu makan di tengah gurun pasir.


Tak berapa lama, acara makan malam bersama telah usai, sebagian dari mereka mulai persiapan untuk beristirahat.


Sementara itu Fang Chen menghampiri Qiao Li yang sedang mendekatkan dirinya di perapian.


"Li'er, ayo kita belajar jurus pedang!" ucap Fang Chen saat sudah ada di samping Qiao Li.


"Benarkah? ayo ayah Li'er sudah siap!" seru Qiao Li yang bersemangat.

__ADS_1


"Kita cari tempat yang sesuai untuk latihan." ucap Fang Chen saat melangkahkan kaki beberapa langkah ke samping tenda mereka.


Kemudian mereka mulai berlatih jurus pedang, dan di mulai dari dasar-dasar jurus pedang.


"Li'er, lihat gerakanku lebih dahulu. Nanti kamu tirukan ya!" seru Fang Chen.


" Iya yah, Li'er mengerti!" balas Qiao li yang mengerti.


Dan keduanya berlatih jurus pedang di terangi cahaya perapian dan juga sinar bulan yang cukup terang di malam itu.


Latihan itu berlangsung hingga tengah malam.


Dan hari-hari mereka pada siang hari membangun penginapan dan malam harinya digunakan untuk berlatih jurus pedang.


...****...


Kita tinggalkan sejenak kesibukan Qiao Li dan Fang Chen dalam membangun kembali penginapan dan juga latihan jurus pedang untuk Qiao Li.


Kita lihat apa yang terjadi pada Xin Xin setelah terpental akibat ledakan dari batu impian yang mengabulkan keinginan Chiang Yi, Hai Jun dan Ayumi yang saat ini sudah berada di kerajaan Langit, tujuan mereka.


Xin Xin terpental jauh ke sebuah pegunungan berapi dan Xin Xin terjatuh di lahar sebuah kawah lahar dingin yang terdapat di pegunungan itu.


"Aaaaaghhh...!" suara teriakan Xin Xin yang begitu cepat dan...


"Byurr...!" tubuh Xin Xin tercebur dalam lahar yang sedang mengeluarkan lahar dinginnya.


Tubuh Xin Xin seketika menjadi menjadi beku dan Xin Xin tak sadarkan diri.


Tiba-tiba ada seseorang pemuda yang menyelam mengikuti pergerakan jatuhnya Xin xin.


Pemuda itu kemudian meraih tubuh Xin Xin, dan membawanya ke permukaan lahar. Kemudian pemuda yang bertelanjang dada itu membawa Xin Xin menepi.


Dengan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, pemuda itu dengan entengnya melompat di tiap batu ke batu lain dengan lincah dan santai, seolah tak ada beban yang dia bawa.


Pemuda itu membawa Xin Xin menuruni pegunungan itu dan menuju ke lereng gunung dengan sangat cepat.


Kemudian pemuda yang membopong Xin Xin itu melangkahkan kaki menuju ke sebuah goa yang terletak di lereng gunung itu.


Dibaringkanlah Xin Xin diatas sebuah batu besar yang panjangnya seukuran tubuh manusia.


...~¥~...


...Mohon dukungan pars Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2