
Malam telah larut, mereka bertiga menghentikan perbincangan yang seru itu. Ketiganya pun melangkahkan kaki menuju ke peraduan masing-masing, untuk mengistirahatkan badan dan pikiran mereka.
Keesokan harinya, Qiao Li bangun tidur lebih awal dan dia mulai berlatih jurus pengendalian air dan juga angin. Kemudian Qiao Li melangkahkan kakinya keluar dari Goa dan mulai melatih kemampuan yang dia dapatkan dari nenek air dan juga kakek Angin.
Qiao Li berusaha berlatih pengendalian air dan angin dengan cara Kinesis dan dibarengi dengan hawa murni atau tenaga dalam yang dia miliki.
Kinesis itu adalah merupakan suatu percabangan ilmu yang dekat dengan kebatinan. Semacam kemampuan untuk mengendalikan sesuatu elemen, tapi ini menggunakan suggesti dan konsentrasi tinggi.
Qiao Li menggunakan tangannya untuk memunculkan dan menggerak-gerakkan air yang telah dia kuasai.
Gadis itu seperti bermain dengan air, tapi itu adalah cara dia melatih kemampuannya. Dia membuat cara agar air itu menyatu dengannya hingga dia bisa mengendalikan air itu sesuai dengan pikirannya.
Demikian pula Qiao Li melatih jurus pengendalian anginnya yang dia dapat dari kakek air.
Berkali-kali gadis itu membuat hembusan angin yang awalnya berbentuk kecil dan lama-kelamaan menjadi besar.
"Wuzzz... wuuzzzz... wuuuzzzz...!"
Angin yang berhembus, dan tiba-tiba angin berputar-putar dan kemudian membentuk pusaran angin kecil.
Pusaran angin kecil itu membuat benda-benda di sekitarnya beterbangan, dan serpihan-serpihan es disekitar tempat itu terangkat oleh pusaran angin itu.
Akibat dari serpihan es yang terangkat oleh angin, hawa disekitar tempat itu menjadi semakin dingin.
Tiba-tiba kedua mata Qiao Li melihat sebuah Kilauan cahaya, pada saat serpihan-serpihan es yang banyak terangkat oleh pusaran angin Qiao Li.
"Batu impian?" gumam dalam hati Qaio li yang kemudian menghentikan pusaran angin itu dan juga menghentikan latihannya .
Qiao Li melangkahkan kakinya menghampiri batu yang berkilau itu.
Dan benar saja itu batu yang berkilau itu adalah batu impian. Setelah mendapatkannya, gadis itu langsung memasukkan batu impian itu ke dalam cincin bermata birunya.
"Apa yang kamu ketemukan Lier?" suara seorang wanita tua yang bertanya padanya.
Qiao Li terkejut dan dia mencari sumber suara yang bertanya padanya.
"Oh, rupanya nenek Air!" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian dengan meringankan tubuhnya, berlari menghampiri nenek air yang telah menunggunya.
"Batu telur naga atau batu impian nek!" jawab Qiao Li pada saat sudah sampai di depan nenek Air.
"Batu telur naga? baguslah, kamu bisa membuka segel pedang Azuya!"." seru nenek Air seraya mengulas senyumnya.
"Iya nek, aku sudah mendapatkan empat batu telur naga sedangkan ibuku sudah mendapatkan tiga batu telur naga. Jadi sudah komplit untuk meminta sebuah permintaan!" ucap Qiao Li yang membalas senyuman nenek air.
"Itu bagus sekali, dan kamu gadis yang terpilih, karena cepat sekali belajarnya. Dalam beberapa kali latihan saja kamu sudah bisa menguasai jurus pengendalian air dan juga pengendalian angin." ucap Nenek Air.
__ADS_1
"Ah, mungkin keberuntungan Li'er saja nek!" ucap Qiao Li yang mengulas senyumnya.
"Ada apa ya, kenapa kalian nampak riang sekali?" suara tanya seorang laki-laki setengah baya yang tak lain adalah kakek angin, yang baru saja pulang dari mencari kayu bakar.
"Li'er kak, dia sudah bisa menguasai jurus-jurus yang kita ajarkan. Dan lagi dia tadi menemukan batu telur naga dibawah tumpukan serpihan es yang ada disana!" seru nenek air pada kakek angin.
"Wah, bagus sekali! kalau begitu kamu harus latihan sekali lagi. Yaitu melawan kami, dengan latihan ada lawan mainnya ini bisa meningkatkan kemampuan kamu!" seru kakek air yang menatap ke arah Qiao Li.
"Begitu ya?" ucap Qiao Li.
"Hmm...! jadi ingat waktu ibu melatihku jurus pedang waktu di penginapan pintu Naga!" gumam dalam hati Qiao Li.
"Iya kalau begitu kita istirahat dulu, setelah itu kita mulai latihan lagi!" balas Kakek Angin yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke goa dan diikuti dengan yang lainnya.
Mereka makan rusa panggang yang merupakan hasil buruan kakek angin. Nenek air membuat minuman untuk mereka sedangkan Qiao Li membuat membersihkan dirinya, yang tubuhnya kotor karena latihan tadi.
Setelah itu mereka malas rusa panggang bersama-sama, seraya berbinca-bincang tentang jurus-jurus yang telah di pelajari Qiao Li.
Selesai makan dan beristirahat, mereka bertiga melangkahkan kaki keluar dari goa dan menuju ke tempat dimana Qiao Li tadi latihan.
"Li'er, sekarang hadapi aku!" seru kakek Angin yang mulai menggerakkan tangannya untuk menegumpulkan udara di telapak tangannya.
"Baik kakek!" jawab Qiao Li yang juga bersiap mengumpulkan udara di telapak tangannya.
Semakin lama dan semakin besar udara itu menjadi angin dan kemudian menjadi pusaran angin yang lama-kelamaan membesar dan kedua pusaran itu kemudian saling beradu dan menimbulkan bunyi dan gelombang udara yang begitu dahsyat. Saling menghantam dan anginnya menerbangkan hampir semua benda di sekitar mereka.
"Wusss .... wuss..... wuss.....!"
"Wusss .... wuss..... wuss.....!"
Keduanya mempertahankan diri mereka untuk bisa bertahan sekuat tenaga mereka.
Hasilnya pun seri, dan kakek Angin menghentikan latihan mereka.
"Lumayan untuk pemula! kamu harus banyak melatih kemampuan kamu ini." ucap kakek Angin.
"Iya kek!" jawab Qiao Li yang telah mengatur pernafasannya.
"Sekarang giliran nenek!" seru nenek air yang sudah bersiap dengan posisinya.
"Li'er juga sudah bersiap nek!" seru Qiao Li yang bersiap dengan posisinya dan keduanya mengibaskan tangannya dan memunculkan air dari dalam tanah.
Mereka membentuk air menjadi bulatan seperti bola yang berwujud air diantara telapak tangan mereka.
Bola air yang besar itu mereka bagi menjadi dua dan tepat di masing-masing telapak tangan mereka.
__ADS_1
"Bersiaplah kau Li'er!" seru nenek air yang bersiap melempar bola-bola air itu ke arah Qiao Li.
Dan Qiao Li meningkatkan kewaspadaannya.
"Hup hiaat...!"
"Wuzzz...!"
"Pyarr....!"
Nenek air melepaskan bola-bola air ke arah Qiao Li, dengan cepat Qiao Li menghindarinya. Dan sekali lagi nenek air menyerang Qiao Li dengan bola air yang tersisa.
"Hup hiaat...!"
"Wuzzz...!"
"Pyarr....!"
Kembali Qiao Li mampu menghindarinya, dan kini giliran Qiao Li yang balik menyerang nenek air dengan bola-bola air di telapak tangannya.
"Hup hiaat...!"
"Wuzzz...!"
"Pyarr....!"
Nenek air mampu menghindarinya dan bahkan sekali lagi Qiao Li melakukan gerakan yang sama dan sekali lagi nenek air mampu menangkis serangan Qiao Li.
"Hup hiaat...!"
"Wuzzz...!"
"Pyarr....!"
Qiao Li dan nenek air membuat tarian untuk memanggil air yang lebih banyak lagi.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...