Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Ledakan Bola Impian


__ADS_3

Xin Xin kemudian menyimpan dua batu impian itu didalam cincin bermata birunya.


Dan seketika itu juga kedua baru impian itu menghilang dari hadapan mereka semua.


Kemudian mereka melanjutkan makan mereka sambil memikirkan apa yang akan mereka putuskan esok hari.


Setelah puas dengan makan dan minum, semuanya pun mencari tempat masing-masing untuk beristirahat dan tidur.


...*****...


Keesokan paginya hari sudah mulai cerah kembali setelah siang sampai malam terjadi badai gurun pasir.


Setelah semalaman berpikir dengan keras, Qiao Li dan Xin Xin memutuskan untuk memberikan tujuh batu impian itu pada Chiang Yi, Hai Jun dan Ayumi.


Dan pagi ini semuanya sarapan dengan buah-buahan yang ada di kebun dalam bukit piramida, mereka berencana untuk keluar dari dalam bukit Piramida itu.


"Bibi Daiyu, apakah kamu tetap berada disini?" tanya Qiao Li saat semuanya sudah berpamitan pada Daiyu.


"Iya, saya pikir-pikir lebih baik disini. Kamu kalau ada waktu sekali-kali datanglah kemari!" jawab sekaligus pinta Daiyu.


"Iya bibi, jangan khawatir. Kalau pencarian kami sudah selesai, kami akan mengunjungi bibi." ucap Qiao Li dan Qiao Li membuka pintu keluar bukit Piramida itu dan seketika angin dari gurun pasir itu masuk ke dalam bukit piramida.


Hai Jun, Chiang Yi, Ayumi , Qiao Li dan Xin Xin keluar dari dalam bukit Piramida.


Sementara Daiyu masih tetap ingin tinggal di dalam bukit Piramida itu.


Kelima orang itu kemudian berkumpul, Qiao Li dan Xin Xin mengeluarkan Batu impian dari cincin bermata biru di jari manis kedua ibu dan anak itu.


Tujuh batu impian itu diserahkan pada Chiang Yi, Hai Jun dan Ayumi.


Setelah dijadikan satu, Hai Jun merapalkan keinginan mereka.


"Batu Impian batu keramat, bantulah kami. Kami ingin kembali ke Istana langit sesuai jaman kami!" seru Hai Jun,


Dan hal itu di ulangi oleh Hai Jun sampai yang ketiga kalinya.


Qiao Li dan Xin Xin memperhatikannya dengan seksama.


Dan untuk yang ketiga kalinya, muncullah seekor naga putih yang bertanduk diantara kepulan awan yang mengelilinginya.



"Hai kalian para manusia, aku sudah mendengar keinginan kalian. Maka akan saya kabulkan keinginan kalian sebagai hadiah perjuangan kalian mengumpulkan batu-batu impian ini!' ucap sang naga putih itu.


"Terima kasih naga putih!" ucap Chiang Yi dan Hai Jun bersamaan.


Ayumi, Qiao Li dan juga Xin Xin begitu takjub dengan apa yang dilihatnya ini

__ADS_1


Tiba-tiba muncul sebuah bola perpaduan Cahaya dan angin yang semula kecil, lama kelamaan menjadi besar dan perputarannya semakin cepat.


"Adik Xin dan Li'er, selamat tinggal! Jaga diri kalian baik-baik!" seru Hai Jun dan juga Chiang Yi.


"Kakak Xin dan Li'er, selamat tinggal!" seru Ayumi dan ketiganya melambaikan tangan pada Qiao Li dan juga Xin Xin.


"Iya, kalian juga semoga sampai di tempat tujuan!" seru Xin Xin dan Qiao Li bersamaan.


Semuanya saling melambaikan tangan dan bola perpaduan cahaya dan angin itu semakin lama semakin membesar dan memberi efek ledakan yang dahsyat, sebelum mengirim Hai Jun, Chiang Yi dan Ayumi ke jamannya.


Ledakan tadi membawa efek yang luar biasa dan membuat Xin Xin dan Qiao Li terlempar secara dahsyat dan terpisah.


"Li'er..!" panggil Xin Xin saat tahu dia akan kembali terpisah dengan putrinya.


"Ibu...!" seru Qiao Li yang kini ibunya hilang dari pandangan matanya.


Qiao Li terpental sejauh mata memandang kearah timur dan kearah barat untuk Xin Xin.


Sementara itu Bola perpaduan cahaya itu membawa Chiang yi, Hai Jun dan Ayumi melesat jauh ke angkasa


Dan kini mereka terpisah jarak ruang dan waktu.


...****...


Qiao Li yang terlempar kearah timur, tanpa sadar tubuhnya terlempar jauh sampai di sebuah aliran sungai berwarna kuning dan Qiao Li jatuh di dalam aliran sungai itu.


"Byurr...!"


Qiao Li lantas berenang ke tepian dan keluar dari dalam sungai tersebut.


"Untunglah aku terjatuh di aliran sungai, kalau tidak bisa remuk redam nih tubuhku!' Qiao Li yang membatin.


Setelah keluar dari aliran sungai itu, Qiao Li berusaha mengeringkan bajunya.


"Aliran sungai ini berwarna kuning, apakah aku berada di daerah lembah sungai kuning?" tanya Qiao Li dalam hati.


Qiao Li melihat ke sekelilingnya dan mencari tahu adanya keberadaan manusia di sekitar tempat itu.


"Kenapa tak ada manusia yang bisa memberiku informasi ya?" gumam Qiao Li yang terus berjalan dengan arah melawan arah arus sungai kuning tersebut.


"Ibu jatuh dimana ya? aku terpisah berlawanan dengan ibu" ucap dalam hati Qiao Li yang terus melangkah.


Qiao Li mengingat sesuatu, kalau desa yang didiami ayahnya Fang Chen adalah desa Bambu kuning.


"Iya, desa Bambu kuning. itu desa dimana sekte bambu kuning berada.


Aku akan kesana, Ayah semoga kita bisa bertemu disana.!" Gumam Qiao Li yang terus melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Tak berapa lama Qiao Li bertemu dengan seorang laki-laki setengah baya yang pulang dari ladangnya.


"Paman!" panggil Qiao Li yang kemudian menghampiri laki-laki itu.


"Ada apa nona?" tanya laki-laki itu yang berhenti dari langkahnya.


"Saya mau tanya, desa Bambu kuning ada di sebaelah mana ya?'' tanya Qiao Li saat sudah berada di depan laki-laki itu.


"Oh, desa Bambu kuning ada di aliran jalan ini lurus.Kalai jalan kaki kurang lebih bisa sampai besok pagi. Sebaiknya kamu mampir dulu di desa Shengcun yang karena hari sudah gelap." ucap Laki-laki itu.


"Baik paman, apa paman tinggal di desa Shengcun?" tanya Qiao Li.


"Tidak, saya tinggal di desa sebelahnya. Mari kita jalan sama-sama. Karena saya juga akan melewati desa Shengcun.


"Baik paman, tapi saya mau beli pakaian dulu paman. Karena pakaian saya tadi hanyut di sungai!" kata Qiao Li.


"Ya nanti aku antarkan ke toko pakaiannya yang juga dekat dengan penginapannya." ucap laki-laki itu dan keduanya melangkah beriringan.


Tak berapa lama mereka sampai di desa Shengcun dan laki-laki itu mengantarkan Qiao Li sampai di depan toko pakaian.


"Nona itu toko pakaiannya dan penginapannya ada di sebelah sana. Saya permisi mau melanjutkan perjalanan ke desa saya!" ucap Laki-laki itu pada Qiao Li.


"Paman tunggu!" seru Qiao Li yang kemudian dia mengeluarkan beberapa keping uang emas dari cincin bermata biru miliknya.


"Ada apa nona?" tanya laki-laki itu pada Qiao Li.


"Ini ada sekedar uang, buat anak istri paman!" ucap Qiao Li yang menyodorkan satu kantung uang emas itu pada laki-laki itu.


"Tapi..!" ucap laki-laki itu yang belum selesai, sudah di potong oleh Qiao Li.


"Sudahlah, terima saja paman. Saya ikhlas kok!" ucap Qiao Li dan laki-laki itu membungkuk dan mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Terima kasih nona!" ucap laki-laki itu.


"Iya, dan silahkan lanjutkan perjalanan anda paman" ucap Qiao Li.


"Baik, sampai jumpa nona!" ucap salam laki-laki itu dengan ramah


"Sampai jumpa paman." balas Qiao Li seraya melampaikan tangannya.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2