Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Kisah Si Nenek Air dan Kakek Angin


__ADS_3

"Hah, ada lagi alasan kalian yang membuat kalian menyepi disini?" tanya Qiao Li yang penasaran dengan ucapan si nenek tadi.


"Iya, salah satunya ini adalah alasan utama kami menyepi!" sahut si kakek yang sedari tadi diam saja menunjuk pada serpihan es yang hampir tiap hari menutupi jurang itu.


"Alasan utama kalian menyepi?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Itu akan kami ceritakan nanti seiring pulihnya kondisi dan energi kamu. Sebaiknya kamu perbanyak istirahat terlebih dahulu." jawab si kakek seraya mendekatkan dirinya di perapian.


"Oh, iya. Saya juga merasakan badan saya seperti remuk, tapi yang aneh tak ada satupun luka ditubuh Li'er." ucap Qiao Li yang merasa heran.


"Karena itulah kamu harus istirahat yang cukup. Apalagi kondisi disini yang sangat dingin, mungkin tubuh kamu belum terbiasa." ucap si nenek.


"Oiya panggil saja saya kakek angin dan istri saya nenek air saja. Kami lupa nama kami, mungkin karena terlalu lama kita disini, jadi takbada yang memanggil nama kita, ha...ha...ha...!" ucap si kakek sambil tertawa lebar.


"Iya karena hanya kita berdua, jadi panggilan kita cuma sayang, kakak dan adik. He...he...he...!" ucap si nenek yang juga terkekeh.


"Oh begitu ya, kakek angin dan nenek air. Benar begitu?" tanya Qiao Li seraya melihat kakaek dan nebek itu bergantian.


"Ha....ha...! iya benar." jawab si kakek angin.


"Sudah-sudah, kamu istirahatlah. Kami juga mau makan dan setelah itu beristirahat!" seru si nenek air. Dan semua menurut dengan perintah si nenek air tersebut.


Qiao Li kembali memposisikan dirinya berbaring, kakek angin dan nenek air juga sibuk makan bersama.


Tak berapa lama mereka selesai makan dan mencari posisi untuk mereka beristirahat, karena hari sudah beranjak malam.


Hari berlangsung demi hari dan si nenek air juga kakek angin, sangat menyayangi Qiao Li. Mereka benar-benar menganggap Qiao Li sebagai cucu mereka.


"Li'er, kehadiran kamu membuat kami sangat bahagia. Tapi tak mungkin kamu akan disini terus, kamu masih punya masa depan. Dan kamu masih punya keluarga diatas sana." ucap kakek angin saat mereka berada di luar goa. Duduk di atas rumput yang masih ada serpihan-serpihan esnya.


"Iya kek, Li'er sangat merindukan mereka." ucap Qiao Li seraya melihat ke atas, melihat jauhnya dunia atas yang lama dia tinggalkan. Jauhnya langit biru disiang hari dan langit berbintang di malam hari.

__ADS_1


"Kakek dan nenek ingin kamu mewarisi kemampuan kami, kamu mau kan mewarisi beberapa jurus kami?" tanya kakek Angin seraya menatap Qiao Li.


"Perlu kamu ketahui Li'er, kalau kami adalah si pengendali Air dan Angin yang terakhir. Dan jika kami tidak mewariskan jurus kami, maka akan musnah pula jurus pengendali air dan angin ini. Sementara di atas sana masih ada jurus pengendali api dan juga pengendali es." jelas Nenek air yang juga duduk disamping kakek angin.


"Pengendali angin dan Air, api dan Es? " gumam Qiao Li yang kemudian memegang serpihan es dan mengangkat serpihan itu kehadapannya.


"Es ini adalah ulah pengendali es yang berada di gunung es. Perlu kamu ketahui kalau sebelumnya gunung itu bukan bernama gunung es. Tapi karena ulah si pengendali es, maka gunung itu berselimut es dan sampai ke lereng-lereng gunung." jelas Si Kakek Angin.


"Apa? semua ini ulah si pengendali es?" tanya Qiao Li yang meyakinkan dirinya dengan ucapan kakek Angin.


"Benar Li'er, dulu si pengendali es itu seorang wanita yang cantik tapi berhati dingin, sangat menyukai kakek Angin. Dia tidak menyukai dan dia marah besar mendengar hubungan kami." jelas Nenek Air seraya menatap ke arah Qiao Li.


"Jadi begitu ya, ceritanya?" tanya seraya menganggukan kepalanya secara pelan-pelan.


"Dan begitu pula dengan pengendali api, dia laki-laki tampan yang sangat menyukai Nenek Air!" ucap si kakek Angin.


"Hei, kok bisa begitu ya? cinta bertepuk sebelah tangan!" seru Qiao Li yang merasa penasaran.


"Pedang naga?" gumam Qiao Li yang seperti perna mendengar nama tersebut.


"Apa kamu pernah bertemu dengan orang yang menggunakan pedang Naga itu, Li'er?" tanya Nenek Air yang menaruh curiga dengan raut wajah Qiao Li.


"Qiao Li pernah mendengar nama itu kakek Angin dan nenek air!" jawab Qiao Li yang sudah yakin benar pernah mendengar nama tersebut.


"Benarkah? kapan?" tanya si nenek Air yang memandang wajahnya ke arah si kakek Angin.


"Orang yang memegang pedang itu, lama kelamaan akan hilang ingatannya. Dan roh si pengendali api akan menguasai dirinya!" jelas si kakek Angin, yang membuat Qiao Li berpikir keras.


"Oh, jadi karena pedang itu ya kakakku lupa ingatan. Dia lupa dengan ibunya dan juga aku yang juga saudara kembarnya! Sekarang aku mengerti, kenapa kakakku bisa amnesia!" ucap lirih Qiao Li yang menyimpulkan dari semua perkataan kakek Angin dan nenek air.


"Pasti pedang naga sudah merasukinya!" Seru nenek air yang menebak.

__ADS_1


"Lalu bagaimanakah cara menghancurkan pedang naga itu?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Pedang Azuya!" seru nenek aair dan kakek Angin secara bersamaan.


"Pedang Azuya? kenapa dengan pedang Azuya?" tanya Qiao Li yang sangat terkejut, karena sepasang kakek dan nenek itu mengetahui kehebatan pedang Azuya.


Sementara dirinya belum begitu tahu lebih banyak kehebatan pedang Azuya, yang menurut cerita kalau pedang Azuya saat ini sedang di segel.


"Sebelum Pedang Azuya disegel, Pemilik pedang Azuya yang pertama kalinya adalah Pangeran Zhu You putra kaisar Chenghua bersama selir Ji. Beliaulah yang berhasil menyegel si pengendali api dalam pedang Naga, karena ulah si pengendali api yang mengganggu rakyat." jelas Nenek Air.


"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Si pengendali es berlaku curang dan dia bisa memperdayai pangeran Zhu you, dan mengalahkan pangeran tersebut. Pengendali es memisahkan roh dan badan pangeran Zhu you!" ucap Kakek Angin seraya menatap Qiao Li.


"Memisahkan roh dan badan pangeran?" tanya Qiao Li yang kembali meyakinkan dirinya.


"Iya, karena si pengendali es menyimpan badan pangeran Zhu You dan roh pangeran dimasukkan si pengendali es ke dalam pedang Azuya dan menyegel roh pangeran Zhu you di dalamnya!" jelas si kakek angin.


"Jadi di dalam pedang Azuya itu ada roh pangeran?" gumam Qiao Li yang bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam goa.


Si Kakek angin dan nenek Air saling pandang dan mereka mengikuti Qiao Li yang sudah masuk ke dalam goa.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2