
Qiao Li terbangun dari mimpinya, dan dia membuka matanya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Oh, astaga! aku yang dulu sempat menyukai paman Yi" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian dia mengubah posisi tidurnya dan kembali terlelap dalam tidurnya.
Sementara itu, Yan Qiu ternyata belum juga tidur walau pun dirinya memejamkan kedua matanya.
Dalam pikirannya terngiang ucapan Qiao Li kalau Fang Chen memang benar ayahnya dan sekarang sudah bersama dengan istrinya.
"Oh, aku ternyata pernah menyukai suami orang!" gumam dalam hati Yan Qiu yang kemudian muncul bayangan - bayangan dimana pertama kali dia bertemu dengan Fang Chen dan dia merasakan kebahagiaan bersama laki laki yang usianya jauh lebih tua darinya.
"Aku ingat dulu kakak Chen pernah menyebutkan nama Rani saat dalam tak sadarnya." gumam dalam hati Yan Qiu yang kini terbayang - bayang masa silamnya.
...💭💭💭💭💭...
"Aaaghh...! Ra..Rani?" ucap Fang Chen yang masih memegang kepalanya dan dia pun pingsan karena rasa sakit yang ada di kepalanya.
"Kak Chen...!!" panggil Yan Qiu yang kemudian menghampiri tubuh Fang Chen yang tergeletak tak berdaya.
"Kak Chen, kamu tadi sebut nama Rani, siapa dia? apa dia kekasih kamu?" pertanyaan demi pertanyaan ada di benak Yan Qiu yang membuat dadanya terasa sesak.
Yan Qiu kemudian mengambil beberapa daun mint dan daun kayu putih dari keranjang tanaman obatnya.
Kemudian Yan Qiu menghaluskannya di atas batu dan mengoleskannya pada hidung dan kening Fang Chen.
Tak berapa lama Fang Chen membuka kedua matanya.
"Kakak Chen..! kamu sudah sadar?" tanya Yan Qiu saat melihat Fang Chen yang membuka matanya.
"Qiu'er, aaghh..! kepalaku sakit sekali, a..aku tadi seperti melihat seseorang, tapi aku tak bisa melihat wajahnya." kata Fang Chen yang menatap ke arah Yan Qiu.
"Mungkin cuma mimpi kak Chen saja!" ucap Yan Qiu, yang tak ingin Fang Chen terlalu memikirkan bayangan yang mengganggu Fang Chen.
"Iya, mungkin cuma mimpi!" balas Fang Chen yang kemudian dia mulai bangkit dari duduknya.
"Tapi mengapa terlihat jelas, seperti nyata dan pernah saya alami?" tanya dalam hati Fang Chen seraya menghela nafasnya panjang dan menghembuskannya pelan-pelan.
"Kakak Chen, biar saya jalan sendiri saja!" ucap Yan Qiu yang merasa tidak enak hati, karena Fang Chen baru saja sakit.
"Tidak apa-apa, aku coba gendong kamu lagi sampai ke goa!" ucap Fang Chen yang kemudian membopong Yan Qiu kembali.
Yan Qiu dengan senang hati mengkaitkan tangannya ke leher Fang Chen.
Gadis itu terus memandang wajah Lelaki yang ada dihadapannya seraya menghayal kalau lelaki di depannya itu menjadi miliknya.
__ADS_1
Fang Chen melangkahkan kakinya menuju ke arah goa dimana anggota sekte Bambu kuning bersembunyi.
Tak berapa lama, Fang Chen yang membopong Yan Qiu sudah sampai di mulut goa.
"Qiu'er kamu kenapa?" tanya Patriak Jingmi saat melihat Fang Chen membopong Yan Qiu.
"Hanya terkilir Patriak.!" jawab Yan Qiu yang sudah di dudukkan Fang Chen di atas batu.
Hua Tian menggenggam tangannya, ada perasaan tak suka di saat Yan Qiu saat di bopong orang lain.
"Itu bukankah lelaki yang kemarin pingsan?" tanya Chen Kun saat melihat Fang Chen yang berdiri di samping Yan Qiu.
"Iya, dia sekarang muridku. Perkenalkan namanya Fang Chen." Jawa Patriak Jingmi.
"Salam" ucap Fang Chen seraya meletakkan telapak tangan kiri di letakkan di dada dengan mengepal dan telapak tangan kanan menangkup di punggung telapak tangan kirinya.
"Saya Chen Kun" kata Chen Kun dengan posisi sama.
" Dan Saya Hua Tian" kata Hua Tian yang juga meletakkan telapak tangan kiri di letakkan di dada dengan mengepal dan telapak tangan kanan menangkup di punggung telapak tangan kirinya.
"Kalian semuanya...! Setelah kita makan sebaiknya kalian segera istirahat." kata Patriak An pada semua orang di hadapannya.
"Baik Patriak!!" jawab semuanya yang mendengar suara Patriak An.
Dan mereka makan bersama, Hua Tian mengambilkan makanan untuk Yan Qiu.
"Kurang ajar! bisa-bisanya dia mendahuluiku!" gerutu Hua Tian dalam hati saat melihat Yan Qiu menerima makanan dari Gang Chen dengan wajah berseri.
"Makanannya buat aku saja! Kasihan, ada yang baru yang lama di lupakan! he..he..!" goda Chen Kun pada Hua Tian yang sedang mengepalkan telapak tangannya.
"Fang Chen, awas kau..!!" umpat dalam hati Hua Tian.
Setelah itu, mereka melanjutkan makan makanan masing-masing.
Ketika selesai makan, Fang Chen mendekati Yan Qiu dengan membawa baskom kecil berisi air dingin dari mata air di dalam goa.
"Qiu'er, ma'af biar saya kompres kaki kamu!" kata Fang Chen yang kemudian duduk berjongkok dan membasuh lalu mengompres kaki Yan Qiu.
"Apa hal itu bisa menyembuhkan sakit yang di derita Qiu'er?" tanya Hua Tian saat berada di samping Fang Chen dengan tatapan tak suka.
"Tidak menyembuhkan, paling tidak mengurangi rasa sakit yang di rasakan Qiu'er." jawab Fang Chen yang selesai mengompres kaki Yan Qiu.
"Iya, seharusnya pakai es batu atau salju. Berhubung sekarang ini bukan musim dingin, air dingin juga tidak apa-apa!" kata Yan Qiu yang mengamati hasil kompresan Fang Chen dengan mengulas senyum bahagia.
__ADS_1
"Ah, terserah kalianlah!" seru Hua Tian yang kemudian bergabung dengan Chen Kun dan yang lainnya untuk beristirahat.
Fang Chen dan Yan Qiu saling pandang, dan kemudian Fang Chen juga bergabung dengan Chen Kun dan Hua Tian.
"Kakak Chen...! kakak Chen..!"
...💭💭💭💭💭...
"Kakak Chen...! kakak Chen..!"
Yan Qiu mengigau, yang membuat Qiao Li yang belum terlelap kembali tidurnya, terkejut dan membuka kedua matanya.
"Kakak Qiu'er...! kakak Qiu'er...!"
Kemudian Qiao Li memanggil - manggil Yan Qiu seraya menggoyang - goyangkan tubuh Yan Qiu.
Yan Qiu terbangun dan membuka kedua matanya, dan berusaha mengumpulkan nyawanya kemudian dia menebarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Lalu Yan Qiu melihat ke arah Qiao Li yang ada disampingnya, yang sedang melihat ke arahnya dengan rasa penasarannya.
"Si..siapa yang kak Qiu'er panggil tadi?" tanya Qiao Li yang terus menatap ke arah Yan Qiu.
"Ayah kamu Li'er" jawab Yan Qiu dengan jujur.
"Ayah? apa hubungannya dengan kakak?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Ma'af Li'er, aku dulu sempat menaruh hati dengan ayah kamu. Padahal sebelumnya aku sudah punya kakak Tian" jawab Yan qiu yang menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya secara pelan - pelan.
"Oh begitu ya!" ucap Qiao Li yang mengerti tentang jawaban Yan Qiu.
"Dan Li'er harap kak Qiu'er lupakan hal tentang ayah saya. Karena jika semua tahu tentang isi kakak, maka akan banyak orang yang tersakiti. Semoga kak Qiu'er paham apa yang Li'er maksudkan.
"Iya Li'er, kakak paham. Lagi pula sekarang ini ada kak Tian'er yang yang selalu pengertian dan selalu ada buat kakak!" jelas Yan Qiu.
"Sebaiknya kita kembali tidur, karena ternyata malam masih panjang!" seru Qiao Li yang membenarkan selimutnya.
Dan demikian pula dengan Yan Qiu yang juga membenarkan selimutnya dan mereka kembali merebahkan diri kemudian terlelap dalam tidurnya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambing...