
"Benar, dan nanti kita akan bertemu dengan beliau" ucap Qiao Li dengan mengulas senyumnya.
"Wah, kami sudah rindu dengan Patriak! Rindu omelannya" ucapbmereka yang hampir bersamaan.
"Ssst...!" iya, tapi itu nanti setelah penyamaran kita ini selesai" ucap Qiao Li dengan penuh semangat.
Dan mereka mengerti maksud dari Qiao Li.
"Sekarang ibu ceritakan, bagaimana ini bisa bertemu kembaran Li'er?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Baiklah seingat ibu, waktu itu ibu terpental jauh ke sebuah pegunungan berapi dan ibu terjatuh di lahar sebuah kawah lahar dingin yang terdapat di pegunungan itu"
""Aaaaaghhh...!" suara teriakan ibu waktu itu yang begitu cepat dan...''
""Byurr...!" tubuh ibu tercebur dalam lahar yang sedang mengeluarkan lahar dinginnya. Tubuh Ibu seketika menjadi menjadi beku dan ibu tak sadarkan diri."
"Dan tiba-tiba ada seseorang pemuda yang menyelam mengikuti pergerakan dimana ibu jatuh. Pemuda itu kemudian meraih tubuh ibu, dan membawa ibu ke permukaan lahar. Kemudian pemuda yang bertelanjang dada itu membawa ibu menepi."
"Dengan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, pemuda itu dengan entengnya melompat di tiap batu ke batu lain dengan lincah dan santai, seolah tak ada beban yang dia bawa.
Pemuda itu membawa ibu menuruni pegunungan itu dan menuju ke lereng gunung dengan sangat cepat."
"Dan kemudian pemuda yang dengan membopong ibu, melangkahkan kaki menuju ke sebuah goa yang terletak di lereng gunung itu. Dibaringkanlah ibu diatas sebuah batu besar yang panjangnya seukuran tubuh manusia".
"Dua hari dua malam lamanya ibu yang tak sadarkan diri dan akhirnya ibu membuka kedua mata ibu karena rasa lapar dan haus yang melanda."
"Waktu itu ibu melihat ke sekitar dan sedikit bingung karena ibu belum perna ke tempat itu. Dan badan ibu terasa sakit semua, serasa remuk tulang ini" ucap Xin Xin yang kemudian mengambil nafasnya dan membuangnya secara pelan-pelan.
"Tiba-tiba pandangan ibu tertuju pada seorang pemuda yang sedang makan di depan perapian. Siapa pemuda itu? gagah dan tampan sekali? batin ibu yang terpesona dengan ketampanan dan gagahnya seseorang pemuda yang menolong ibu saat itu."
" Waktu itu sekilas ibu melihat wajah ayah pada pemuda itu.Ibi pikir karena ibu sangat merindukan ayah, jadinya berhalusinasi berharap yang didepanku ini adalah suami ibu!" ucap Xin Xin yang menatap Qiao Li.
"Li'er pemuda itu seperti kamu pada awalnya, dia pura-pura bisu. Dia menatap ibu dan memberi isyarat dengan tangannya yang ke mulutnya. Yang menanyakan apakah ibu mau makan atau tidak"
"Dan ibu bilang mau makan, Pemuda itu kemudian merawat ibu sampai ibu sembuh" ucap Xin Xin.
"Terus apa pemuda itu yang ibu maksud kembaran Li'er?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Iya sebentar ibu lanjutkan cerita ibu, waktu itu ibu memberikannya nama dia Ju long. Itu karena ada aura naga dalam tubuh pemuda itu." kata Xin Xin yang menatap putrinya.
__ADS_1
"Ju long? nama yang bagus Bu" ucap Qiao Li dan dua gadis yang bersama mereka itu menyimak cerita Xin Xin.
"Ibu berburu, mencari buah-buaha dan juga latihan bersama dia. Kamu tahu, dia mempunyai tiga batu impian!" bisik Xin Xin pada putrinya agar tak didengarkan oleh kedua murid perguruan walet Putih itu.
"Hah, betulkah?" balas bisik Qiao Li dengan semangatnya.
"Betul!" ucap Xin Xin sembari menganggukkan kepalanya.
🗓️Flashback on
Tanpa sengaja, Xin Xin melihat adanya tanda lahir pada lengan kiri Ju long.
"Tanda lahir ini mengingatkanku pada ... Raga dewa!" kata dalam hati Xin xin yang penasaran dan di lihatnya kembali tanda lahir di lengan Ju long.
"Kamu sudah mendapatkan Batu telur naga itu, apakah kamu masih mau menjadi pendampingku?" tanya Ju long yang kemudian menoleh ke arah Xin Xin.
Xin Xin tak mendengarkan apa perkataan Ju Long, dia masih meyakinkan dirinya kalau pemuda yang ada dihadapannya itu adalah putranya yang hilang.
Ibunda Qiao Li itu refleks memeluk Ju long dengan kerinduannya pada putra laki-lakinya itu.
"Putraku..!" racau Xin xin dengan isakan tangis kebahagiaan karena telah bertemu dengan putranya itu.
"Akhirnya kau menerimaku Xin'er!" seru Ju Long dengan mengulas senyumnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Xin Xin yang terkejut dan melepaskan pelukannya.
"Kamu menerimaku jadi pendampingku selamanya bukan?" tanya Ju long seraya menatap Xin Xin dengan tajam.
"Tidak ..tidak...tidak...!" seru Xin Xin yang sangat terkejut saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ju long.
"Tidak? kenapa kamu tadi memelukku?" tanya Ju long yang penasaran.
"Itu karena kamu adalah putraku!" seru Xin Xin yang menatap Ju long dengan tatapan keibuannya.
Ju long juga menatap Xin xin, dan dia merasakan adanya kasih sayang yang berbeda.
"Salah, kamu bohong ya! kamu bohong karena tak mau menjadi istriku!" seru Ju long yang tak ingin terpengaruh akan tatapan Xin Xin.
"Long'er, kenapa kau mengiraku bohong? jelas-jelas di lengan kamu ada tanda lahir dan itu sama dengan kembaran kamu!" seru Xin Xin, namun Ju long tak menerima akan hal itu.
__ADS_1
"Kamu bohong! aku bukan anak kamu, kamu berkata begitu agar kamu bisa kembali pada suami kamu, iya kan? sekarang juga aku akan menantang suami kamu untuk memperebutkan kami Xin'er!" seru Ju long dengan geramnya.
"Dia tak percaya juga? begitu aku harus ada cara supaya dia tidak menggangguku dan dia punya kegiatan lainnya!' ucap dalam hati Xin xin yang terus berpikir.
"Pokoknya kau tetap milikku!" seru Ju long yang dengan rasa marahnya menghancurkan batu dihadapannya hanya dengan menggunakan telapak tangannya.
"Bummm...!"
Dan hal itu membuat Xin Xin sangat terkejut, ketika melihat batu yang ada dihadapannya itu hancur lebur.
"Ba..baiklah aku mau menerima kamu, asalkan kamu mau memberikan aku empat lagi batu impian!" seru Xin Xin dengan tak tiknya.
"Batu telur naga?":tanya Ju long yang mencoba meyakinkan dirinya.
"Iya, batu telur naga itu empat buah lagi!' seru Xin Xin yang mempertegas dirinya.
"Baik, pasti dengan mudah aku akan mendapatkannya.!" seru Ju long yang penuh dengan percaya diri.
"Bagaimana kalau kita turun gunung sekarang juga, semakin cepat kita mencari batu impian maka semakin cepat aku bersamamu!" seru Xin Xin dan Ju long menatap Xin Xin dengan wajah bersinar.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita turun gunung sekarang juga!" seru Ju long dengan bersemangat.
"Ayo!" balas Xin Xin yang juga bersemangat.
"Nah, jika begini Ju long akan selalu dekat denganmu dan aku bisa mendapatkan batu impian lagi setelah itu kami akan berkumpul kembali sebagai keluarga yang seutuhnya. Tinggal bagaimana cara menyembuhkannya dari amnesianya" ucap Xin Xin dalam hati.
🗓️Flashback off.
"Kami turun gunung, dan tanpa sengaja kami terpisah" ucap Xin Xin yang mengakhiri ceritanya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...