Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Masih Dengan Prahara di Pulau Tengah Laut


__ADS_3

Hmm....! nampaknya perempuan ini belum tahu kehebatan pedang Azuya!" gumam dalam hati Victor, yang terkena sayatan di lengannya.


Dan ini belum seberapa jika ibunda Nisa sudah bisa membuka segel roh yang menjaga pedang Azuya.


"Rani..Saga..! menepilah..! biar kami yang hadapi dia¡!" seru seorang wanita yang berpenampilan anggun dan bersuara lembut.


"Ratu Flower..!!" panggil Rani yang menengadah melihat ratu Flower yang turun dari langit bersama dua orang pemuda.


"Cepat menepilah!!" seru Ratu Flower yang sudah menginjakkan kakinya di tanah.


"Ba..baik ratu..!!" seru ibunda Nisa yang kemudian menghampiri suami dan kedua anaknya.


"Ayah..!!" panggil ibunda Nisa saat suaminya melihat tiga orang yang menghadapi Victor.


"Ayah wanita cantik itu siapa?" tanya Leonisa penasaran.


"Bukan kah itu ratu Flower?" tanya Ayah Nisa yang kemudian menatap Rani.


"Benar Yah, putriku Nisa dan putraku raga beliau adalah Ratu Flower!" jawab ibunda yang memposisikan dirinya sejajar dengan suami dan kedua anaknya.


"Apakah kamu mengenal dua orang laki-laki itu?" tanya ayah nisa yang penasaran.


"Iya, yang rambutnya pendek itu saudara kembarnya Leony. Aku masih ingat waktu bertemu di istana Langit. Kalau yang satunya saya tidak tahu, apa mungkin dia Ekin, putra Raja Arthur dengan Selir Selena?" jawab ibunda Nisa yang juga penasaran.


Sementara itu di dalam situasi pertarungan, Ratu Flower, Leon dan Ekin telah mengepung Victor si dewa Angin.


"Hei..! mau apa kalian mengejarku?" tanya Victor seraya menatap satu persatu yang mengepungnya.


"Kami yang mau tanya, kenapa kamu di bumi!" seru Leon dengan nada tinggi.


"Ahh...! itu urusanku, Kalian tak boleh ikut campur..!!" seru Victor dengan tatapan tajam.


"Dan kami mengepungku pun, bukan urusanmu! Perlu kamu ketahui, kalau ada hal yang mengganggu keluarga Rani, itu akan menjadi urusan kami..!!" seru Ratu flower, namun tetap dengan suara lembutnya.


"Heh...! bagiku nyawa harus dibayar nyawa, nyawa putraku Simon harus di ganti satu nyawa dari mereka..!" seru Victor dengan kebencian.


"Oh, begitu ya..? Baiklah, hadapi aku dulu!!" seru Ekin yang sudah siap dengan bola-bola cahaya-nya.


"Kita lihat saja, siapa yang akan menang..!" seru Victor yang sudah bersiap dengan jurusnya.


Tak lama kemudian angin menderu membentuk pusaran angin lesus, itulah jurus yang di keluarkan oleh Victor.


Dan bola-bola cahaya Ekin terus mengarah kearah Angin lesus itu, namun seperti di telan begitu saja oleh angin lesus itu.


"Kurang ajar..!" gerutu Ekin dengan kesalnya.


"Ekin..! aku bantu kamu!" seru Leon yang juga mengeluarkan bola-bola cahayanya.


Ekin dan Leon bersama-sama menyerang Victor dengan bola-bola cahaya, namun hasilnya tetap tak membuahkan hasil.

__ADS_1


Bola-bola cahaya bak di telan oleh pusaran angin lesus itu.


"Kalian berdua berhenti..!!" seru Ratu Flower yang mengetahui penyerangan kedua putranya itu sia-sia saja.


"Ha..ha..! Begitu saja kalian sudah menyerah!" seru Victor dengan sombongnya.


"Ratu, kenapa menyuruh kami berhenti?" tanya Ekin yang penasaran.


"Jangan buang sia-sia tenaga kalian! percuma jika kalian teruskan..!!" seru Ratu flower yang menatap kedua anaknya, sedangkan Victor dengan tawa yang mengejek.


"Sialan...!" umpat Leon dengan geram.


"Leon sudah, jangan tersulut emosimu!" seru Ratu Flower yang kemudian mengucapkan mantera, dan keluarlah akar yang membentuk tali yang keluar dari telapak tangan kanan-nya.


Tali dari akar pohon itu mengikat Victor, dan Ratu Flower hampir saja terbawa arus pusaran angin lesus itu.


"Leon, Ekin...! cepat gunakan tali cahaya kalian!" seru Ratu Flower yang mulai kerepotan menahan Victor yang sudah terselubungi angin lesusnya.


"Baik Bunda Ratu!" balas Leon dan Ekin, lalu keduanya mengeluarkan jurus Tali cahaya mereka.


"Tali cahaya..!"


Telapak tangan kanan Leon dan Ekin mengarah ke tubuh Victor.


Kini tubuh Victor terikat tiga tali dari Ratu Flower, Ekin dan Leon.


"Itu terkecuali jika yang melawanmu Ayahanda, karena kemampuanmu hampir sama dengan Ayahanda, sedangkan kami baru setengah dari kemampuan ayahanda!" balas Leon yang tak bisa membendung lagi kekesalannya.


"Aliri tali cahaya kalian dengan cahaya murni!" seru Ratu Flower dan kedua dewa muda itu mengeluarkan cahaya murni mereka yang mengalir di tali cahaya mereka.


Demikian pula ratu Flower yang mengeluarkan tenaga dalam yang dia salurkan pada akar talinya.


"Aaaagh...!"


Victor yang mengerang kesakitan, berkali-kali dia meronta, namun tetap saja tak mampu menahan serangan apalagi membuka tali pengikatnya.


"Ka..kalian benar-benar keterlaluan, Aaaghh!" seru Victor yang tidak terima atas kekalahannya.


"Ma'af karena kamu juga keterlaluan!" ucap Leon dengan geram.


"Baiklah, sebelum aku tiada...! akan aku buat kalian menderita..!!" ancaman Victor.


"Mau apa kau!" seru Ekin yang penasaran saat melihat Victor yang seperti merapalkan manteranya dan dengan sisa tenaganya dia mengeluarkan jurus pamungkasnya.


"Pusaran Waktu!"


Tubuh Victor tiba-tiba memudar dan membuat angin lesus yang semakin lama semakin kencang dan membesar. Dan pusaran angin itu mengarah pada Leonisa dan keluarganya.


"Ekin..Leon..! Cepat lindungi putra-putri Rani!" seru Ratu Flower yan melihat pusaran angin itu yang terus mendekat ke arah Leonisa dan keluarganya.

__ADS_1


"Baik bunda!" ucap Ekin dan Leon bersamaan.


Sedangkan Leonisa dan keluarganya itu sudah berlari menjauh sebisa mungkin.


"Bunda...! ayo lari...terus lari..!" seru Ayah Nisa seraya menggandeng Nisa.


"I..iya Yah!" balas Rani yang juga menggandeng Ragadewa.


"Host....! hosst....! hosstt....!"


Irama nafas mereka yang terengah- engah karena banyaknya tenaga yang terkuras saat mereka berlari menghindari pusaran angin yang terus mengejar mereka.


Pulau tengah laut kini menjadi porak poranda akibat ulah Victor untuk yang terakhir kalinya ini.


Tak lama kemudian, pusaran angin yang sangat besar itu mengangkat Leonisa dan keluarganya masuk ke dalam pusaran angin itu.


Ayah, ibu dan kedua anak itu terpisah diantara angin yang terus berputar itu.


"Ayah... Raga... Nisa...!" panggil ibunda Nisa yang tak henti-hentinya saat melayang di dalam pusaran angin itu.


"Bunda...putra....putriku...!" seru komisaris Saga yang sebetulnya melihat keluarganya begitu dekat, namun tak bisa di gapai olehnya.


"Ayah...ibu...Raga takut..!" racau Ragadewa yang menagis tak henti-hentinya.


Dan demikian pula dengan Nisa yang juga menangis tak henti-hentinya.


"Nisa takut ibu...ayah...!!" racau Leonisa.


"Sabar sayang, pasti kita akan selamat..!!" seru ibunda Nisa yang juga tak bisa membendung air matanya.


"Ayah dan Ibunda sangat mencintai kalian...!" seru ayah Nisa yang tak bisa membohongi dirinya, hatinya juga akan remuk redam bila berpisah dengan keluarga kecilnya.


Sementara itu Leon dan Ekin melompat masuk ke dalam pusaran.


Mereka mencari keberadaan dua anak kecil yang berumur tiga belas tahun dari pasangan Rani dan Komisaris Saga itu.


"Dapat!" seru Leon yang memeluk Ragadewa dan juga Ekin yang memeluk Leonisa.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PUTRI PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2