Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Ju Long Nama Untuk Si Pemuda


__ADS_3

Tak terasa air matanya berlinang, karena Xin Xin begitu merindukan suasana di lereng gunung tempat di mana dirinya dibesarkan oleh Kakeknya.


Pemuda itu memandang wajah Xin Xin yang rambutnya tersapu oleh angin, sehingga wajah putih dan berseri perempuan di sampingnya itu tetap saja kelihatan muda dan cantik, walaupun yang sebenarnya usia Xin Xin dua puluh tahun di atas pemuda itu.


Pemuda itu kemudian meminta Xin Xin untuk diam di tempatnya, karena dirinya akan mencari buah-buahan dan kayu bakar di sekitar tempat itu.


Xin Xin mengangguk mengerti, dan dia memperhatikan cara pemuda itu dalam mencari buah dan juga kayu bakar.


"Pemuda itu seperti Qiao Li, pada saat pertama kali tiba di Dinasti ini. Aku tahu dia bisa bicara. Tapi dia tak mau mengeluarkan suaranya?" kata dalam hati Xin Xin.


"Jurus meringankan tubuhnya benar-benar tingkat tinggi. Siapa gurunya?" masih kata Xin Xin dalam hati.


Tak berapa lama datanglah pemuda itu yang membawa satu ikat kayu bakar dan satu keranjang yang terbuat dari akar, terisi penuh macam-macam buah yang kesemuanya sudah matang.


"Hei, kamu punya nama tidak?" ucap Xin Xin dalam bahasa isyarat.


Pemuda itu menggelengkan kepalanya pelan, karena pemuda itu tak ingat siapa dirinya.


Tiba-tiba saja Xin Xin melihat ada aura naga dari tubuh pemuda.


"Aura naga! pemuda ini punya kekuatan yang hebat!" ucap dalam hati Xin Xin yang kemudian mempunyai ide untuk memberi nama pada pemuda itu.


"Bolehkah aku memanggilmu dengan nama Ju Long?" tanya Xin Xin sembari memandang Pemuda yang saat ini ada dihadapannya.


Pemuda itu menatap Xin Xin seolah ingin tahu maksud dari omongan Wanita dihadapannya itu.


"Aku akan memanggilmu dengan nama Ju Long, coba kamu ikuti saat aku bicara. Ju....Long" ucap Xin Xin yang mencoba mengajari Pemuda itu bicara.


"Ju..Long?'" pemuda itu mulai menirukan.


"Iya, Ju Long nama Kamu sekarang. Yang artinya Kuat seperti Naga. Karena aku tadi sempat melihat ada Naga di dirimu!" jelas Xin Xin sambil mengulas senyumnya.


"Ini berarti dia bisa bicara, cuma tidak mau bicara atau sengaja membisu seperti halnya Qiao Li beberaoa waktu yang lalu." Xin Xin yang membatin.


Xin Xin kemudian mengajari pemuda yang dia beri nama Ju Long itu berbicara secara perlahan-lahan.


Mulai dari buah-buahan yang di dapatkan oleh Ju long tadi, sambil menikmati makan buah-buahan itu.


Tanpa terasa hari sudah beranjak sore, mereka kemudian berkemas untuk kembali ke goa tempat mereka tinggal.


Ju long masih sempat memburu seekor kelinci hutan yang nantinya akan dia bakar untuk makan malam mereka.


Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju jalan kembali ke goa.


Xin Xin membawa keranjang yang berisi buah-buahan itu dengan menggendongnya di belakang.


Sementara Ju Long membawa Kayu bakar dengan cara memanggulnya.

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan dengan beradu jurus meringankan tubuh menuju ke goa.


Kejar-kejaran itu pun terjadi hingga tak terasa dengan cepat mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju yaitu tempat tinggal mereka yang berada di Goa.


Sesampainya di mulut goa, Ju long membuat perapian dan Xin Xin meletakkan keranjang buah yang dibawanya di atas sebuah batu dekat dengan dinding goa.


Kemudian Xin Xin memindahkan buah-buahan itu pada sebuah keranjang yang lebih kecil.


Sementara Ju Long membersihkan kelinci yang tadi di dapatkannya saat berada di lereng gunung yang bebatuan tadi.


Mereka duduk di depan perapian sembari melanjutkan belajar bicara mereka.


Walaupun terbata-bata, akhirnya Ju Long bisa mengikuti dan memahami bahasa bicara Xin Xin.


"Nama kamu siapa?" tanya Ju long yang memang belum tahu nama Xin Xin.


"Namaku Xin Xin" jawab Xin Xin dengan senyum khasnya.


"Xin'er!" panggil Ju long.


"Iya, Long'er" jawab Xin Xin.


"Nampaknya kelinci bakarnya sudah matang. Perutku sudah tak tahan dari tadi minta diisi! he..he..!" ucap Ju Long yang meniup daging kelinci itu sambil terkekeh.


"Baunya harum, perutku juga rasanya sudah melilit!" ucap Xin Xin yang juga sibuk meniup daging kelinci itu.


Mereka saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.


"Long'er, dulu aku punya keluarga yang bahagia. Punya satu suami dan dua anak kembar. Karena suatu hal kami masuk dalam pusaran angin dan kami terlempar di empat tempat yang berbeda. Aku sudah bertemu dengan putriku, kami terpisah lagi karena keadaan!' jelas Xin Xin.


"Kamu punya suami dan dua anak?' tanya Ju Long yang penasaran.


"Iya, kamu tak percaya?" tanya Xin Xin yang memastikannya.


"Iya aku tak percaya , soalnya kamu seperti seorang gadis yang belum menikah!" ucap Ju long yang terus memandang Xin Xin dengan tatapan yang aneh.


Xin Xin hanya menghela nafas dan tak berapa lama makanan yang ada di hadapannya pun sudah habis dan dia sudah merasa kenyang untuk saat ini.


Kemudian Xin Xin mencuci tangan dan kakinya,dia hendak pergi ke aliran sungai kecil yang terdapat di sungai itu.


Ju long mengikutinya untuk mencuci tangan dan kakinya, setelah itu mereka minum air dari mata air di dalam goa.


Setelah itu mereka beristirahat dan melepaskan semua beban yang mereka jalani hari ini. Agar esok lebih segar dan bugar.


...****...


Keesokan harinya, matahari masih enggan beranjak dari peraduannya.

__ADS_1


Xin Xin sudah bangun dan dia mencoba mengusir rasa dingin ya dengan berlatih mulai tingkat dasar jurus-jurus yang dia kuasai hingga ke tingkat akhir.


"Hopp hiaat...!"


"Bagh....!"


"Bugh...!"


"Bagh....!"


"Bugh...!"


"Boleh saya temani?" tiba-tiba ada suara muncul dari belakang Xin Xin.


"Eh kamu Long'er, ma'af apa aku mengganggu tidur kamu?" tanya Xin Xin yang menghentikan aksinya.


"Iya aku memang sudah bangun, ini bukan karena aku terbangun oleh suara latihan kamu. Tapi memang sudah waktunya aku bangun, dan aku juga Sudan biasa untuk latihan di jam-jam seperti ini sebelum mencari buruan untuk sarapan aku." jelas Ju Long.


"Oh, jadi begitu ya? ayo kita berlatih bersama, aku juga ingin tahu sejauh mana kemampuan kita!" seru Xin Xin yang mempersilahkan Ju long dalam posisinya.


Ju long mengulas senyumnya sebentar dan kemudian mulai mempersiapkan kuda-kudanya.


Dan akhirnya keduanya saling beradu kecepatan, ketampilan dan adu strategi dalam latihan mereka saat ini


"Hopp hiaat...!"


"Bagh....!"


"Bugh...!"


"Bagh....!"


"Bugh...!"


Pada awalnya latihan itu didominasikan oleh Xin Xin, namun pada akhirnya dia Ju long lah yang mendominasi latihan itu.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2