Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Meninggalkan Kakek angin dan Nenek Air


__ADS_3

Yang artinya menu makan malam mereka kali ini masih tetap dengan daging rusa panggangnya.


"Menu kita daging rusa lagi?" tanya kakek angin yang menatap ke arah nenek air.


"Kenapa kak? bosen? kita itu harus hemat, Habiskan dulu makanan yang kemarin. karena belum tentu kita besok akan mendapatkan lagi daging rusa dan yang lainnya. Bisa-bisa kita hanya dapat makan singkong atau ketela saja!' ucap panjang lebar nenek Air dengan sedikit bersungut-sungut.


"Iya-iya istriku yang cantik. Suamimu akan terima apa saja yang kamu hidangkan. Jangan marah ya!" ucap kakek Angin yang mendekati nenek air.


"Siapa yang marah!" seru nenek air yang membelakangi kakek Angin.


"Hei kalau tak marah, tentunya tidak akan membelakangi suaminya! he...he....!" ucap si Kakek Angin sambil terkekeh.


Sementara itu si nenek air perlahan memutar tubuhnya dan memposisikan dirinya menghadap kakek angin.


"Lihat nenek tidak marah kak!" seru nenek air yang berusaha tersenyum walaupun kaku.


Kakek angin mengulas senyumya dan kemudian memeluk istrinya dengan erat.


Qiao Li yang menyaksikan peristiwa itu mengulas senyumnya sambil melahap daging rusa yang ada di tangannya.


"Kalau begitu bagian daging yang besar itu untuk kakek ya, dan kakek harus menghabiskannya." pinta nenek air seraya menyodorkan bagian daging rusa yang besar untuk kakek angin.


Kakek angin menelan salivanya saat melihat daging yang harus dia habiskan itu.


"Ayo, tunggu apa lagi? habiskan!" seru nenek air yang mengulas senyumnya.


"I-Iya... iya!" ucap kakek angin itu yang mau tak mau memakan semua daging yang disodorkan oleh istri ya.


Dan kemudian mereka makan dengan lahapnya seraya bercerita yang ringan-ringan saja.


Hari beranjak malam. Selesai makan dan mencuci tangan, mereka bertiga beristirahat untuk mengistirahatkan badan dan pikiran mereka yang sangat lelah dalam kegiatan mereka seharian ini.


Terdengar dengkuran si kakek Angin yang membuat Qiao Li tak segera memejamkan kedua matanya.


Kemudian Qiao Li melangkahkan kaki mencari bagian goa yang agak jauh dari kakek Angin, supaya tak lagi mendengar dengkuran si kakek tersebut.


Setelah keadaan tenang dan Qiao Li tak lagi mendengar dengkuran dari kakek angin, gadis itu pun akhirnya dapat memejamkan kedua matanya. Dan dia tertidur dengan pulasnya.


Beberapa jam kemudian, matahari muncul dengan malu-malu dari ufuk timur.


Kakek Angin, Nenek air dan juga Qiao Li sudah bangun dari peraduan mereka.

__ADS_1


Qiao Li bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki untuk menyalakan perapian yang telah padam, sementara nenek Air sedang memasak sedangkan kakek Angin sedang berburu binatang yang bisa di makan untuk sarapan pagi ini.


Tak berapa lama Kakek angin membawa hasil buruannya yaitu tiga ekor ayam hutan dan satu ekor di masak pagi ini oleh nenek air dan Qiao Li untuk sarapan mereka bertiga.


Ayam tersebut di panggang diatas perapian yang dinyalakan kembali oleh Qiao li, dan tak berapa lama ayam panggang telah matang.


Kemudian ketiganya sarapan dengan lahapnya, menikmati ayam hutan yang telah dipanggang tersebut.


"Li'er, kamu jadi pergi hari ini kan?" tanya kakek angin seraya mengunyah daging ayam hutan panggangnya.


"Ah, kakek ini! kalau nenek masih berharap kalau Li'er masih disini. Iyan biar goa ini ramai kalau ada Li'er! he..he...!" ucap Nenek Air.


"Kakek nenek, Li'er mau saja tinggal di sini. Tapi Li'er juga punya kewajiban menyadarkan kembali kakak Li'er dan juga mengembalikan keluarga Li'er ke asal kami sebelum berada disini." ucap Qiao Li seraya menatap sepasang suami istri yang telah berusia lanjut itu.


"Iya, kalau sudah selesai jangan lupa kamu harus mencari tubuh pangeran Zhu you yang disembunyikan oleh si pengendali es!" pesan kakek angin.


"Iya kek! Li'er akan ingat itu!" ucap Qiao Li yang mengulas senyumnya.


Setelah mencuci tangan, Qiao Li berkemas-kemas untuk meninggalkan kakek Angin dan nenek air yang tinggal di goa jurang gunung es.


Kakek angin dan nenek air mengantar Qiao Li sampai di depan goa.


"Kakek angin dan nenek air, Qiao Li pergi ya." ucap pamit Qiao Li pada kedua pasang suami dan istri yang telah memberinya banyak ilmu dan pengetahuan itu.


"Iya nek, pasti akan Li'er sampaikan!" ucap Qiao Li seraya mengulas senyumnya.


Gadis itu kemudian memanggil udara dan menggerakkannya menjadi pusaran angin kecil, kemudian Qiao Li naik ke atas pusaran angin tersebut.


"Daa... kakek, daa... nenek!" seru Qiao Li seraya melambaikan tangannya.


Kakek angin dan nenek angin pun membalas lambaian tangan Qiao Li denga diiringi senyuman mereka.


Qiao Li mengendalikan angin yang mengangkat tubuhnya untuk lebih tinggi lagi. Lebih tinggi dan lebih tinggi hingga mencapai ke bibir jurang dan akhirnya Qiao Li turun tepat di permukaan tanah di mana terakhir kalinya dia melawan Ju long.


"Iya disini aku terakhir kalinya melawan kakak Long, sekarang dimana dia perginya?" gumam dalam hati Qiao Li.


Gadis itu menebarkan pandangannya ke sekitar tempat itu dan kemudian dia melangkahkan kakinya menyusuri jalan yang kembali menuju ke penginapan pintu naga.


"Kata kakek dan nenek, aku harus merebut pedang naga Api. Agar pengaruh pedang itu tak mempengaruhi kak Ju long. Tapi sekarang ini dimanakah kak Ju long berada?" gumam dalam hati Qiao Li yang terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak, melewati hutan dan persawahan.


Pada saat di tengah hutan, sayup-sayup Qiao Li mendengar suara kegaduhan. Bunyi senjata yang saling saling beradu dan suara teriakan orang yang seperti berkelahi.

__ADS_1


"Hiaaat....!"


"Trang...Trang.... Trang....!"


"Trang...Trang.... Trang....!"


"Hiaaat....!"


"Trang...Trang.... Trang....!"


"Trang...Trang.... Trang....!"


Semakin lama Qiao Li semakin penasaran, dan kembali Qiao Li mendengar sayup-sayup suara pertarungan.


."Hiaaat....!"


"Trang...Trang.... Trang....!"


"Trang...Trang.... Trang....!"


"Hiaaat....!"


"Trang...Trang.... Trang....!"


"Trang...Trang.... Trang....!"


Gadis itu mencari sumber suara dengan jurus meringankan tubuhnya yang di bantu dengan jurus pengendalian angin, Qiao Li naik ke pohon dan melompat dari pohon satu ke pohon lainnya.


"Hop hiaaaat....!" Qiao Li melompat dari dahan satu ke dahan lainnya di pohon-pohon besar di hutan tersebut


Qiao Li berhenti di sebuah dahan pohon yang rindang, terletak di tepi tanah lapang dimana suara pertarungan tadi. Gadis itu melihat adanya sebuah kereta kuda yang dikawal oleh para prajurit yang di hentikan oleh segerombolan orang yang berpakaian compang-camping.


"Siapa mereka dan apa perlu mereka?" tanya dalam hati Qiao Li yang terus mengawasi pertarungan itu.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2