
"Sebaiknya, kamu fokus mengumpulan keluarga kita lebih dulu. Jangan memikirkan yang lainnya. Ingat masih ada ayah dan Raga yang harus kita cari putriku!" pesan Xin Xin yang menyadarkan Qiao Li akan tujuannya semula.
"I..iya Bu, Lagi pula Li'er juga belum berpengalaman soal asmara." ucap Qiao Li yang berusaha mengatur suasana hatinya.
Gadis itu kemudian menyiapkan perapian bersama Ibunya dengan sekali dua kali melirik ke arah Chiang Yi dan Ayumi.
"Duh senangnya mereka, sudahlah Li'er, kelak kau akan bertemu jodoh kamu yang lebih baik dan lebih mapan!" gumam dalam hati Qiao Li.
"Kakak Yi, Ayumi..! makanan sudah siap nih!' panggil Xin Xin pada kedua anak manusia yang sedang bercengkrama itu.
"Baiklah adik Xin!" seru Chiang Yi
Tak berapa lama, Ayumi dan Chiang Yi menghampiri ibu dan anak yang sedang sibuk membakar Ayam kalkun itu.
"Aku sebetulnya ada alat makan, tapi sepertinya enak kalau tidak pakai sendok ya?" ucap Ayumi sembari mengulas senyum saat menerima potongan daging dari Chiang Yi.
"Kamu mau tak mau harus belajar tentang adat kebiasaan di jaman ini Ayumi!" ucap Chang Yi yang duduk di sebelah Ayumi.
Mereka berdua semakin akrab dan semakin mesra, Qiao Li yang melihatnya hanya bisa mendengus kesal.
Xin Xin merasa kasihan akan keadaan putrinya yang berusaha mengendaliakan emosinya.
"Li'er, kita latihan sebentar ya!" pinta Xin Xin dan Qiao Li mengiyakan hanya dengan bahasa isyarat.
Benar saja setelah selesai makan, Xin Xin mengajari putrinya jurus andalan yaitu Tarian Dewi cinta.
"Li'er, ketahuilah jurus ini bisa di kombinasikan dengan berbagai macam senjata dan jurus lainnya. Karena itulah kenapa ibu sangat menyukai jurus ini." ucap Xin Xin.
"Iya Bu," ucap Qiao Li seraya melihat dengan cermat ibunya yang sudah pasang kuda-kuda.
Qiao Li kemudian mengikuti setiap gerakannya dan mencoba memahaminya.
"Hop hiaat..!"
"Bagh... bugh... bagh... bugh...!!"
"Bagh... bugh... bagh... bugh...!!"
"Bagh... bugh... bagh... bugh...!!"
Latihan itu di mulai dengan jurus tangan kasong, dan tingkatan ini lebih tinggi tingkatannya dari yang waktu kecil dapat pengajaran dari ayahnya saat masih berada di jaman masa depan.
"Teruslah berlatih Qiao Li, jangan patah semangat!" seru Xin Xin yang terus mengawasi setiap gerakan putrinya.
"Hop hiaat..!"
"Bagh... bugh... bagh... bugh...!!"
"Bagh... bugh... bagh... bugh...!!"
"Bagh... bugh... bagh... bugh...!!"
Chiang Yi kemudian menghampiri Xin Xin dan Qiao Li.
__ADS_1
"Saudari Xin, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita" ucap Chiang Yi saat berada di samping Xin Xin .
"Baiklah, semoga saja kita menemukan perkampungan di depan sana!' ucap Xin Xin yang kemudian berseru pada Qiao Li untuk berhenti.
"Li'er, latihannya cukup sampai di sini dulu, kita lanjutkan perjalanan kita!" seru Xin Xin dan Qiao Li mendengarkannya.
"Baiklah ibu!" ucap Qiao Li yang kemudian menutup latihannya.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka, tetap dengan menggunakan kereta kuda.
Beberapa jam kemudian, tiba-tiba ada yang menyerang kuda mereka dengan belati beracun.
"Seet...jlebb....!"
"Ngiiik....!"
"Gubrak...!"
"Aauuww..!"
Sejalan dengan kuda yang ambruk, dan kereta dimana Qiao Li, Xin Xin , Ayumi dan juga Chiang Yi ikut juga ambruk.
Keempat orang itu pun mengalami lika-luka walaupun tidak parah, namun ada bekas goresan di lengan dan kaki mereka.
Mereka segera keluar dari kereta itu dan bangkit untuk Mencari tahu apa yang telah terjadi dengan kuda mereka.
Pada saat mereka bangkit, ternyata mereka telah di kepung oleh puluhan orang yang bertopeng.
"Apa aku kena karmaku ya! dulu aku menyerang para penjahat memakai topeng. Dan di jaman ini kenapa yang menyerangku rata-rata bertopeng! he..he..!" ucap Xin Xin sambil terkekeh.
"Mau apa kalian!" seru Chiang Yi oenasaran dan sudah dalam posisi bersiap siaga.
"Kami hanya perlu dengan harta kalian! kalau tidak serahkan para gadis-gadis itu!" seru salah satu dari mereka.
"Oiya, coba saja!" seru Xin Xin yang
mulai bersiap siaga.
"Li'er jaga Ayumi di belakang, biar aku dan ibu kamu yang menghadapi mereka!" seru Chiang Yi yang sudah bersiap dengan bola-bola cahayanya.
"Boum... boumm.... boumm..boum...!"
"Aaaghh..!"
Banyak anggota mereka yang terkena serangan bola-bola cahaya milik Chiang Yi.
Tak berbeda jauh dengan Xin Xin, dengan tehnik jurus Tarian Dewi cinta yaangvdia padukan dengan pedang Azuya, dengan sekali tebas, tewaslah beberapa orang yang menghadangnya.
"Hop hiaaat..!'
"Trang... traang... Trang... Trang..!"
"Trang... traang... Trang... Trang..!"
__ADS_1
"Trang... traang... Trang... Trang..!"
Sementara itu Qiao Li dan Ayumi yang menyaksikan jalannya pertempuran itu dengan serius, sehingga tak menyadari akan bahaya yang mengancam di belakang mereka.
Tiba-tiba saja ada yang menotok kedua gadis itu di leher mereka, dan akibatnya mereka berdua pun jatuh lunglai.
Dan ada yang menangkap serta membawa mereka pergi dari arena pertempuran.
Sedangkan sisa anggota perampok yang melihat target mereka telah didapatkan, mereka secara tiba-tiba menghentikan pertarungan dan pergi meninggalkan lawan mereka yang masih penasaran dengan apa yang telah terjadi.
Xin Xin kemudian berlari menuju ke tempat dimana tadi dia meninggalkan Qiao Li dan Ayumi.
"Li'er...! Ayumi..!" panggil Xin Xin yang khawatir.
"Kemana mereka berdua!' seru Chiang Yi yang penasaran.
"Tadi mereka ada di sini!" seru Xin Xin yang penasaran.
"Sial, mereka menculik Qiao Li dan Ayumi!" gerutu Chiang Yi kesal.
Xin Xin menemukan sebuah petunjuk saat dia memeriksa tempat dimana terakhir Putrinya bersama Ayumi berada.
"lihat ini kakak Yi!" seru Xin Xin saat menemukan sebuah kalung berliontin Tengkorak Hitam.
"Apa mungkin ini ada kaitannya dengan sekte Tengkorak Hitam?" tanya Xin Xin penasaran .
"Sebaiknya kita cari tahu dimana persembunyian sekte tengkorak hitam ini!" seru Chiang Yi.
Dan langkah pertama yang mereka lakukan adalah, mencoba mengintrogasi satu persatu anggota sekte tengkorak hitam yang masih hidup.
Setelah mendapatkan beberapa informasi, mereka segera berangkat dengan tujuan mencari kedua gadis yang mereka sayangi.
Mereka bergerak melesat dengan meringankan tubuh mereka, menembus gelapnya hutan belantara.
"Kakak Yi, apakah informasi dari mereka tadi benar-benar akurat adanya atau mereka hendak menjebak kita?" tanya Xin Xin yang khawatir karena seajak tadi tak menemukan alamat yang dituju.
"Entahlah, aku juga jadi ragu-ragu!" ucap Chiang Yi yang terus waspada.
Dan benar saja, mereka telah dijebak.
Saat ini mereka berada didepan sebuah hutan belantara, dimana ada banyak macam jebakan di hadapan mereka.
Mulai jebakan balok, jebakan tambang hingga jebakan belati yang telah terpasang dan masih banyak lagi.
"Sial! apa pencarian kita berhenti sampai di sini?" gerutu Chiang Yi kesal.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...