Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Ingatan Fang Chen yang pulih


__ADS_3

"Ra...Rani...!" igau Fang Chen yang masih berada di atas tempat tidurnya dan masih memejamkan kedua matanya.


"Kau dengar Li'er! kakak Chen panggil siapa?" tanya Xin Xin yang mendekat ke wajah Fang Chen dan mencoba memastikan Pendengarannya.


"Iya, Rani. Berarti benar paman Fang Chen adalah ayahku!" jawab Qiao Li yang tanpa sadar memeluk Fang Chen dengan erat.


"Hukk...Hukk...Hukk...!"


Tiba-tiba. Fang Chen terbatuk-batuk dan dia membuka kedua matanya.


Sesaat dia menebarkan pandangan ke hadapannya.


"Di..dimanakah saya?" tanya Fang chen yang menatap Xin Xin dan Qiao Li satu persatu.


Qiao Li dan Xin Xin saling pandang, mereka diam tak memberikan jawaban pada Fang Chen.


"Ra..Rani? kamu Rani kan?" tanya Fang Chen yang mulai mengingat masa lalunya.


"Akhirnya ayah mengingat ibu!" seru Qiao Li dengan bersemangat.


"A.aauw...!" Fang Chen merasakan sakit yang luar biasa.


"Siapa nama kamu?" tanya Xin Xin yang masih penasaran dengan kesadaran Fang Chen.


"Rani, kamu bercanda ya? aku Saga, komisaris Saga. Suami kamu, anak dari Raga dewa dan Leonisa!" jelas Fang Chen yang masih dalam kebingungannya.


"Ayaaaaaaaah!' panggil Qiao Li yang langsung menghamburkan dirinya memeluk Fang Chen.


Xin Xin pun tak ketinggalan, dia juga ikut memeluk Fang Chen .


Suasana haru meliputi mereka, isak tangis bahagia yang dirasakan oleh Qiao Li dan juga Xin Xin.


"Ayah, setelah sekian lama akhirnya ayah sadar juga. Ayah ingat kita, keluarga ayah!" ucap Xin Xin yang melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya.


"Maksud kalian apa? ayah koma begitu?" tanya Fang Chen yang penasaran.


"Ayah ingat kejadian pusaran angin beberapa tahun yang kalau?" tanya Qiao Li yang juga melepaskan pelukannya dan mencoba mengingatkan kembali pada ayahnya kejadian beberapa tahun yang kalau saat mereka satu persatu terlempar dari pusaran angin yang dibuat oleh Dewa Angin.


"Iya, ayah terlempar di sebuah hutan. Ayah ingat itu dan ayah terluka parah dan tak sadarkan diri." jawab Fang Chen.


"Nah sejak itulah, ayah amnesia dan ayah berganti nama menjadi Fang Chen." jelas Qiao Li.


"Fang Chen? seperti nama di negara tirai bambu?" tanya Fang Chen yang penasaran.

__ADS_1


"Ayah, apa ayah tidak melihat pakaian kita?" tanya Xin Xin yang memperlihatkan pakaiannya danjuga pakaian Xin Xin


"Kita terlempar dalam pusaran waktu, saat ini kita berada di jaman kekaisaran Ming. Kemarin Ekin dan Leon sudah kembali ke jaman mereka dengan bantuan batu Impian. Dan saat ini kita juga berjuang untuk mengumpulkan kembali batu impian, agar kita bisa kembali ke masa dimana seharusnya kita berada!" jelas Xin Xin.


"Terus dimana Ragadewa?" tanya Fang Chen yang tak melihat putra kesayangannya.


"Ragadewa kemarin aku menemukannya, dan nasibnya seperti denganmu. Dia amnesia dan namanya saat ini adalah Ju long." jelas Xin Xin.


"Oiya yah, nama Leonisa saat ini adalah Qiao Li dan nama Ibu Xin Xin. Ayah bisa panggil Nisa dengan Li'er dan ibu dengan Xin'er" jelas Qiao Li.


"Baiklah, ayah akan ingat baik-baik. Sekarang ayah lapar, bisa ambilkan ayah sesuatu yang bisa dimakan?" tanya Fang Chen yang menatap istri dan putrinya satu persatu itu.


"Li'er yang mengambil makanannya, ayah dan ibu bisa melepaskan rindu kalian! he..he..!" ucap Qiao Li yang menggoda kedua Orang tuanya.


"Wah, sudah pintar menggoda ya sekarang!" seru Fang Chen yang menggelengkan kepalanya mendengar dan melihat perilaku putrinya itu.


"Tapi benar juga kalau ibu sangat merindukan ayah!" seru Xin Xin yang menatap Fang Chen yang saat ini memelihara kumis dan janggut.


"Aku juga merindukan istriku!" balsa Fang Chen yang merentangkan tangannya tanda minta dipeluk lagi oleh Xin Xin.


"Hm..hmm... Permisi!" Li'er yang berdehem dan pamit dari kedua orang tuanya.


Xin Xin dan Fang Chen saling pandang dan keduanya saling melemparkan senyuman mereka.


Dan dia berjalan menuju ke dapur penginapan dan memesan makanan pada Qiao Feng.


"Bibi Feng, Li'er pesan makanan dan minuman buat ayah!" pinta Qiao Li pada saat sampai di dapur.


"Baiklah, tapi tunggu! kamu ceria sekali Li'er, ada apa memangnya?" tanya Qiao Feng yang penasaran.


"Ayah sudah sadar bi, ayah sudah ingat siapa putri dan siapa istrinya!" jawab Qiao Li yangvtak henti-hentinya mengulas senyumnya.


"Ayah, maksud kamu Fang Chen?" tanya Qiao Fengbyang penasaran.


"Iya benar bi!"'jawwb Qiao Li dengan rasa gembiranya.


"Syukurlah, bibi ikut bahagia!' ucap Qiao Feng yang tak terasa kedua matanya berkaca-kaca.


"Eh, bi mana makanannya?" tanya Qiao Li yang menyadarkan Qiao Feng dari rasa kterharuannya.


"I..iya, sebentar ya Li'er!"'jawab Qiao Feng sembari mengusap air matanya yang menetes di kedua pipi Qiao Feng.


Patriak Feng itu kemudian menyiapkan makanannya dan Qiao Li menyiapkan minumannya.

__ADS_1


Setelah selesai Qiao Li membawa makanan dan minuman dengan nampan menuju ke kamar dimana Fang chen dan Xin Xin berada.


Sementara itu di dalam kamar, Xin Xin bercerita tentang dirinya yang setelah terlempar dari pusaran angin.


Xin Xin duduk mensejajarkan dirinya dengan Fang Chen yang bersandar di dinding tempat tidur.


"Tok...tok...tok....!"


Suara pintu kamar yang diketuk seseorang.


"Siapa?" tanya Xin Xin yangmenatap ke arah pintu.


"Saya Bu, Li'er!" jawab Li'er dari depan pintu kamar yang memegang nampan berisi makanan dan minuman.


"Oh, tunggu sebentar!" seru Xin Xin yang kemudian turun dari tempat tidur dan menatap Fang Chen.


"Putri kita, pasti bawa makanan" tebak Xin Xin yang melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar, namu sebelumnya Fang Chen menganggukkan kepalanya.


Setelah sampai di depan pintu, Xin Xin membuka pintu kamar tersebut dan dia melihat putrinya yang membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Masuk Li'er!" ucap Xin Xin yang memberi kode pada Qiao Li.


"Iya Bu" balas Qiao Li yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke kamar dan menuju ke meja yang berada di dekat tempat tidur.


"Ayah, ini makanannya sudah siap, mau disuapi sama Li'er apa sama Ibu ya?" tanya Qiao Li yang tujuannya menggoda ayahnya.


"Dua-duanya boleh?" tanya Fang Chen sembari mengulas senyumnya, karena dia sedang membalas godaan dari Qiao Li.


"Kok dua-duanya sih Yah?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Iya, karena kalian berdua adalah wanita hebatku permata hatiku!' jawab Fang Chen yang merangkul Xin Xin dan Qiao Li bersamaan saat mereka sedang duduk di samping kanan dan di samping kiri Fang Chen.


"Ah ayah bisa saja!" seru Xin Xin dan Qiao Li secara bersamaan seraya mengulas senyum mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2