
Sementara itu Xin Xin bersalto, dari lantai dua tempat dia berdiri turun ke bawah.
Dan karena aksinya itu, membuat sebagian tamu dan pelayan penginapan yang ada di lantai bawah sangat terkejut.
"Hah,.! siapa dia!" seru beberapa orang, dan Xin Xin tak peduli akan hal itu.
Tujuannya hanya mau bertanya pada resepsionis penginapan.
"Hai nona resepsionis! ada apa dengan penginapan ini!" seru Xin Xin saat sudah ada di hadapan resepsionis itu.
"Siapa kau! aku tak mengerti maksud kamu!" seru resepsionis itu yang masih menyembunyikan kebenarannya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Xin Xin mengeluarkan pedang Azuya.
"Pedang Azuya!"
Sebuah pedang berwarna hijau mengkilap keluar dari tubuh Xin xin.
Xin Xin segera mengarahkan ujung pedang kearah leher resepsionis itu.
Resepsionis itu mulai ketakutan.
"Apa tujuan kalian menggabungkan para tamu dalam satu kamar?" tanya Xin Xin yang saat ini bercadar kain putih tipis.
"I-itu perintah ketua!" jawab resepsionis itu ketakutan.
Tiba-tiba saja sebuah belati kecil dan beracun melesat cepatdan menancap tepat di leher samping resepsionis itu.
"Sreet..! jlebb..!"
"Aaghh..!' suara jeritan dari resepsionis itu sebelum dia tak sadarkan diri dan jatuh lunglai diatas lantai.
"Siapa itu!" seru Xin Xin yang mencari sesosok yang mencurigakan diantara para pelayan dan tamu.
Tiba-tiba saja sekelebat bayangan hitam melesat keluar dari penginapan.
"Dia orangnya!" seru Xin Xin yang bergegas mengejar bayangan itu.
Dalam sekejap Xin Xin sudah berada di halaman penginapan.
Dan tanpa disangka Xin xin, dirinya saat ini di kepung puluhan orang berpakaian hitam-hitam dan sebagian memakai penutup kepala.
"Hai kau! mau mengacau di tempat kami ya!" seru salah satu dari mereka.
"Kalau kalian termasuk sasaran kekacauan ku, kenapa tidak!" balas seru Xin Xin yang tetap memegang pedang Azuya.
"Sialan, terima ini..!" seru satu orang dari mereka yang memberi aba-aba empat orang untuk maju.
Empat orang yang maju itu siap menyerang Xin xin dengan senjata pedang mereka.
Xin Xin pun bersiap menyerang mereka dengan jurus tarian Dewa Cinta yang digabung dengan pedang Azuya.
"Hop hiaaat...!"
"Trang..! Trang....! Trang...! Trang...!"
"Sreeet...! sreeet...!"
__ADS_1
Dua orang bersimbah darah karena terkena sayatan dari pedang Azuya.
"Trang..! Trang....! Trang...! Trang...!"
"Sreeet...! sreeet...!"
Dan dua orang lagi bersimbah darah karena terkena sayatan dari pedang Azuya.
"Kurang ajar! serang dia bersama-sama!" seru mereka yang mulai khawatir jika mengalami kekalahan.
"Dasar ya! kalian beraninya keroyokan!" seru Xin Xin geregetan.
Mereka tak menghiraukan perkataan Xin xin enam belas orang langsung mennyerang Xin Xin bersamaan.
"Hop hiaaat...!''
"Trang..! Trang....Trang..! Trang....!
Trang...! Trang.., Trang..Trang..!"
"Aaagh.....!" satu persatu meeka pun tumbang.
Sementara itu Chiang Yi melawan penjahat yang berada di lantai atas.
"Brakk...!" Chiang Yi mendobrak pintu kamar. Dan terbukalah pintu kamar tersebut.
"Siapa itu!" suara dari dalam kamar nampak empat orang sedang membuka sebuah peti milik tamu yang sudah terkapar.
"Aku, pencabut nyawa kalian!" jawab Chiang Yi yang kemudian memposisikan dalam posisi siaga.
"Kurang ajar!" umpat mereka yang mengurungkan tiat mereka membuka peti yang sudah diletakkan diatas meja.
"Bedebah kau!" seru salah satu dari orang yang ada di hadapan Chiang Yi.
"Hiaaaaat...!" teriakan Chiang Yi yang memulai adu jurusnya.
"Bagh... bugh...bagh... bugh...!'' suara pukulan bertubi-tubi dari Chiang Yi yang membuat kedua lawannya kewalahan.
"Aaargh....!" salah satu lawannya mulai mengerang kesakitan.
"Ugh...!" suara erangan lawan Chiang Yi satunya yang terkena pukulan di ulu hatinya.
Chiang Yi tak memberi mereka kesempatan melawan, dia terus meluncurkan serangannya.
Dan kedua lawannya itu kewalahan dan terkapar dengan begitu banyak luka lebam di sejumlah wajah dan tubuhnya.
Dan kini tinggal dua orang lagi yang akan menyerang Chiang Yi.
"Kalian, ayo maju!" seru Chiang Yi yang sudah kembali dalam posisi bersiap siaga.
"Apa sebetulnya masalah kamu, kita sepertinya tak punya masalah sebelumnya!" seru salah satu dari lawan Chiang Yi yang ada di hadapannya.
"Aku hanya ingin memberimu pelajaran!" seru Chiang Yi yang sudah bersiap dengan jurus-jurus tangan kosongnya.
"Bedebah! rasakan ini..!" seru orang yang ada dihadapan Chiang Yi.
"Hop hiaaat..!" teriak Chiang Yi yang memulai serangan.
__ADS_1
"Bagh.. bugh...!" suara pukulan Chiang Yi yang beradu jurus dengan lawannya itu.
"Aaghh..!" erangan lawannya ketika terkena pukulan Chiang Yi yang tepat mengenai ulu hati lawannya.
Dan kembali Chiang Yi melawan satu orang lawannya yang tersisa yang saat ini ada dihadapannya.
"Hop hiaaat..!" teriak Chiang Yi yang memulai serangan.
"Bagh.. bugh...!" suara pukulan Chang Yi yang beradu jurus dengan salah satu lawannya.
"Aaghh..!" erangan lawannya yang terkena pukulan tepat di rahang kiri dan dia terpelanting jatuh ke lantai kamar.
Dan kedua orang itu telah menyusul kedua teman mereka, terkapar di lantai dan tak sadarkan diri.
Chiang Yi kemudian mendekati peti yang ada diatas meja.
"Aku penasaran dengan isi peti tersebut!" gumam dalam hati Chiang Yi yang kemudian berjalan mendekati meja dimana peti itu ada diatasnya.
Setelah sampai disamping peti itu, Chiang Yi segera membuka peti dengan lerlahan-lahan.
Chiang Yi terkejut sekaligus gembira.
"Batu impian dan uang emas!" seru Chiang Yi yang kemudian memikirkan cara membawanya.
"Bagaimana aku membawanya ya?" tanya dalam hati Chiang Yi.
"Kalaupun aku punya Cincin seperti Xin Xin, aku bisa dengan mudah membawanya." kata Chiang Yi lirih.
Kemudian Chiang Yi melihat sebuah kain sprei tempat tidur yang cukup lebar dan panjang.
"Ah, pakai itu saja!" seru Chiang Yi yang kemudian mengambil kain sprei, lalu menaruh batu impian dan juga semua uang emas ke atas kain.
Setelah selesai, Chiang Yi menggulung kain sprei itu kemudian mengikatnya.
Akhirnya kain sprei itu bisa muat batu impian dan juga uang emas itu.
Chiang Yi kemudian membawa buntalan kain itu dan menyrempangkannya di bahunya.
"Aku akan mencari keberadaan Xin Xin, semoga saja dia tidak dalam bahaya!" ucap dalam hati Chiang Yi yang kemudian melangkahkan kaki keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga.
Dengan setengah berlari, dia keluar dari penginapan.
Alangkah terkejutnya dia, banyak orang yang berpakaian serba hitam dan memakai penutup kepala yang juga hitam telah terkapar bersimbah darah di sepanjang jalan dan halaman penginapan.
Chiang Yi terus melangkahkan kakinya dan dari kejauhan dia melihat seorang perempuan bercadar putih yang sedang melawan puluhan orang dengan sebuah pedang yang berwarna hijau.
"Xin Xin!" desis Chiang Yi yang kemudian melesat dan mendekat pada arena perkelahian itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...