Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Berpisah dengan Hai Jun


__ADS_3

"Baiklah kalau itu mau kakak Jun, tapi kakak Jun juga harus ingat selain mencari putraku, jangan lupa mencari batu Impian. Karena aku sudah mendapatkannya satu buah batu Impian saat aku merampas dari sekte Beruang Hitam tadi." ucap Xin Xin seraya menunjukkan batu impian yang ada di dalam buntalan kain yang Xin Xin srempangkan di bahunya.


Pada saat batu impian dikeluarkan, muncul pula sebuah kotak yang kemudian kotak itu di buka oleh Xin Xin dan terdapat sebuah yang di dalamnya ada sebuah cincin bermata biru.


"Ah, cincin bermata biru!" seru Hai Jun saat melihat cincin itu.


"Apakah mungkin cincin itu seperti cincin langit?" tanya Chiang Yi pada Hai Jun.


"Coba saja Xin Xin, kamu gosok cincin itu dan kamu dekatkan pada batu impian." kata Hai Jun


Xin Xin pun mengerti maksud Hai Jun karena sebelumnya dia tahu tentang cincin langit yang dulu pernah di pakai suaminya.


Perempuan itu kemudian mengusap cincin bermata biru itu sebanyak tiga kali dan di dekatkan ya pada batu impian.


Dan secara otomatis, batu impian masuk ke cidalam cincin bermata biru itu.


"Nah! sekarang giliran kamu, mengusap kembali cincin bermata biru itu' kata Hai Jun dan Xin Xin mencobanya lagi.


Batu impian itu keluar dari cincin bermata biru itu.


"Oh jadi seperti ini ya cara kerjanya!" seru Xin Xin yang merasa lega karena rasa penasaran telah terobati.


Tak berapa lama Hai Jun berpamitan untuk memulai perjalanannya sendiri.


"Baiklah kita berpisah sampai di sini’" ucap Hai Jun seraya menatap Xin Xin dan Chiang yi.


"Oiya dan nanti kita bertemu di perbatasan Blok barat dan Blok timur!" ucap Xin Xin seraya mengusap cincin bermata birunya.


Kemudian memasukan kembali batu impian itu pada cincin bermata biru itu.


"Baik, Xin'er aku akan ingat itu! " ucap Hai Jun


Demikian dengan Xin Xin dan Chiang Yi yang kemudian meneruskan perjalanan mereka ke arah timur.


Begitu banyak penindasan yang mereka temui saat berkelana.


Mulai merampas hasil panen, sampai meramas anak gadis para penduduk.


"Kakak Yi, para penjahat itu harus diberi pelajaran, dan para penduduk pun perlu sosok yang menjadi pelindung mereka!" ucap Xin Xin.


"Lantas apa ide kamu?" tanya Chiang Yi yang penasaran.


" Kita tumpas para penjahat yang merongrong penduduk, tapi tetap kita sembunyikan identitas kita!" usul Xin Xin sembari mereka terus berjalan.

__ADS_1


"Apa maksud kamu, kita memakai cadar seperti kamu tadi?" tanya Chiang Yi yang penasaran.


"Iya, begitu yang aku maksudkan. Perlu kamu ketahui kakak Yi, di dunia masa depan, aku juga melakukannya dengan memakai topeng." ucap Xin Xin yang berhenti sejenak dan di iikuti Chiang Yi.


"Oya? menarik sekali!" seru Chiang Yi yang sangat tertarik dengan kisah Xin Xin waktu di masa depan.


"Waktu itu usiaku masih enam belas tahun, aku ke kota mencari pembunuh kedua orang tuaku. Tak disangka aku satu sekolah dengan anak pembunuh orang tuaku itu, dan mereka kembar. Yang satu baik dan satunya mewarisi sifat ayahnya. Dalam misiku itu aku bertemu dengan ayahnya anak-anakku yang merupakan seorang polisi. Dan yang lebih mengejutkan lagi kalau dia ternyata kakak seperguruanku." cerita masa lalu Xin Xin yang tak terasa menitikkan air matanya.


"Sepertinya seru kehidupanmu yang dulu?" tanya Chiang yi yang penasaran.


"Di bilang seru ya memang seru. Karena aku sering menghadapi puluhan penjahat hanya sendirian, dan waktu itu beladiriku masih standart. Dan di masa depan tidak seperti disini, bisa membunuh penjahat semau kita. Kalau di masa depan, bila sampai terbunuh tanpa alasan yang kuat, bisa-bisa kita yang di penjara " jelas Xin Xin.


"Benar juga, kita yang mau membela diri, kita yang ditangkap polisi. Maju mundur kena, jadi serba salah!" ucap Chiang Yi. yang kemudian keduanya tiba di sebuah desa yang tanpa mereka sadari desa itu adalah sarang penyamun.


Keduanya mencari penginapan untuk beristirahat.


"Ma'af apa ada penginapan di sekitar sini?" tanya Xin Xin pada salah seorang penduduk yang lewat.


"Ada di sebelah sana!" jawab seorang laki-laki itu pada Xin Xin.


Xin Xin memperhatikan arah petunjuk yang ditunjukkan oleh salah seorang penduduk itu.


"Oh, yang itu. Terima kasih tuan!" ucap Xin Xin seraya menundukkan kepalanya


"Silahkan tuan!" balas Xin Xin dan Chiang Yi bersamaan.


"Ayo kita ke sana kak!" ajak Xin xin.


"Ayo, aku lapar sekali. Semoga saja masih ada makanan yang cocok dengan kita." ucap Chiang yi.


" Kalau aku ingin rasanya mandi air hangat. Badanku rasanya lengket semua!" balas Xin Xin sembari tersenyum.


Dan keduanya pun melangkahkan kaki menuju penginapan yang di tunjukkan orang tadi.


Tibalah mereka di sebuah penginapan yang lumayan ramai.


"Ayo kita masuk!" ajak Chiang Yi dan Xin Xin berjalan di belakang Chiang Yi.


"Ma'af apa masih ada dua kamar?" tanya Chiang Yi pada resepsionis penginapan itu.


"Ma'af ada tapi tinggal satu kamar!" ucap resepsionis itu.


"Bagaimana Xin'er, tinggal satu kamar?" tanya Chiang Yi pada Xin Xin.

__ADS_1


"Apa boleh buat, kita ambil saja kak Yi!" jawab Xin Xin tanpa ragu-ragu.


"Baiklah kami ambil kamar itu, dan sebelum kami masuk dalam kamar kami, apakah ada makanan untuk kami? karena kami sangatlah lapar sekali!" ucap Chiang Yi pada resepsionis itu


"Nanti akan ada yang mengantarkan makanan ke kamar anda tuan, karena ini salah satu fasilitas penginapan kami" ucap resepsionis penginapan itu.


Kemudian resepsionis itu memanggil pelayan, untuk mengantarkan tamunya ke kamar yang di tunjukkan.


"Mari tuan dan nyonya, saya antarkan ke kamar yang di tuju" ucap pelayan itu pada Chiang Yi dan Xin Xin.


Mereka bertiga melangkahkan kaki meninggalkan resepsionis itu.


Tak berapa lama, ada empat orang tamu yang meminta dua kamar.


Dan sang resepsionis itu kembali mengatakan kalau kamarnya hanya tinggal satu.


Para tamu itu terpaksa menerimanya, satu kamar untuk empat orang.


Kemudian resepsionis itu memanggil pelayan dan memberikan kunci pada tamu itu.


Chiang yi dan Xin Xin melihat hal itu dan merasakan sesuatu yang aneh.


Mereka berdua saling pandang dan saling waspada.


Selang tak berapa lama, mereka telah sampai di depan pintu kamar untuk mereka.


Pelayan itu membukakan pintu, Chiang Yi dan Xin Xin pun masuk ke dalam kamar itu.


"Kakak Yi, merasa ada yang aneh tidak?" tanya Xin Xin dengan berbisik.


"Iya, kenapa resepsionis tadi bilang kamarnya yang kosong hanya tinggal kamar ini? tapi ada tamu setelah kita kenapa diberikan kamar, katanya kamarnya habis?" tanya Xin Xin yang penasaran.


"Harus kita selidiki!" seru Chiang Yi yang juga penasaran.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2