
Siluman macan putih itu menganggukkan kepalanya dan mereka kemudian melangkahkan kaki menuju ke arah perkampungan bambu kuning.
Di sepanjang perjalanan, Qiao Li merasakan keanehan, begitu banyak jejak kaki kuda dan juga roda seperti kereta kuda.
"Ada apa pendekar Li?" tanya siluman macan putih yang penasaran.
"Kenapa banyak jejak kaki kuda dan juga roda dari kereta kuda disini?" jawab Qiao Li sekaligus balik bertanya, dengan tetap memperhatikan sekitarnya.
"Benar, begitu banyaknya jejak kaki kuda!" ucap Siluman macan putih yang ikut melihat apa yang ada di hadapannya.
"Arah jejak ini menuju ke perkampungan lembah kuning!" seru Qiao Li yang mempercepat langkahnya dan diikuti oleh siluman macan putih.
"Benar, sepertinya terjadi sesuatu di perkampungan itu!" seru Siluman macan putih yang membenarkannya.
Keduanya mempercepat langkah mereka dan beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di pintu gerbang sekte bambu kuning.
Namun ada keanehan yang telah terjadi, dan itu membuat Qiao Li semakin penasaran.
"Macan putih!" panggil Qiao Li yang menatap bendera yang terpasang di tiang diatas pintu gerbang.
"Ada apa pendekar Li?" tanya siluman macan putih yang penasaran.
"Kamu lihat bendera itu?":tanya Qiao Li seraya menunjuk ke arah bendera yang dia maksudkan.
"Bendera Sanca kembang!" jawab siluman macan putih yang penasaran.
"Iya, seharusnya kan bendera bambu kuning!" seru Qiao Li yang juga penasaran.
"Benar-benar aneh!" seru siluman macan putih itu yang juga penasaran.
Qiao Li melihat ada seorang warga pencari kayu bakar, dan dia kenal kalau orang itu penduduk desa bambu kuning.
"Ma'af saudaraku, bolehkah saya bertanya?" tanya Qiao Li yang menghentikan langkah laki-laki setengah baya yang membawa kayu bakar itu.
"Iya, ha...! macan...!" seru laki-laki itu yang ketakutan pada saat melihat siluman macan putih yang berada di samping Qiao Li.
"Oh, macan ini sudah jinak. Jangan khawatir, dia tidak akan menggigitmu!" seru Qiao Li seraya melirik siluman macan putih.
"Ha...ha....! itu benar sekali. Aku sudah jinak kok!" seru siluman macan putih yang tertawa terbahak-bahak.
"Oh, baiklah kalau begitu apa yang ingin anda tanyakan?" tanya laki-laki itu yang balik bertanya Qiao Li.
__ADS_1
"Bukankan itu desa bambu kuning?" tanya Qiao Li seraya menunjuk ke arah pintu gerbang yang terpasang bendera Sanca kembang itu.
"Ssssst....! itu benar untuk beberapa hari yang lalu. Desa bambu kuning diserang oleh sekte Sanca kembang. Mereka tahu kalau desa bambu kuning tidak ada Patriak An dan Patriak Feng. Jadi mereka menyerang dan mengambil alih desa ini." jawab laki-laki itu secara berbisik.
"Bukankan ada kak Cheng Kun dan kak Ming Mei?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Anda siapa? kenapa tahu mereka?" tanya laki-laki itu yang penasaran.
"Oh, ma'af saya masih memakai cadar!" ucap Qiao Li yang kemudian membuka cadarnya. Dan laki-laki itu mengetahui dan mengenal siapa gadis di depannya.
"Saudari Li!" panggil laki-laki itu dengan penuh semangat.
"Ceritakan apa yang telah terjadi saudaraku?" tanya Qiao Li pada laki-laki itu yang kemudian menutup kembali cadarnya.
"Desa kita di serang dan sekarang ini Saudara Kun dan saudari Mei di tahan oleh mereka. Ketua mereka mempunyai pedang yang sangat hebat, mampu membakar apa yang ada dihadapannya." jawab laki-laki itu yang mulai dengan ceritanya.
"Jadi itu benar sekte Sanca kembang?" tanya siluman macan putih, yang membuat laki-laki itu sedikit terkejut dengan keberadaannya.
"I...iya!" jawab laki-laki itu dengan gemetaran.
"Apakah ketua mereka bernama Bing Wen?"tanya Qiao Li yang teringat dengan apa yang di ceritakan oleh ketua sekte salju abadi, Kwee Hu.
"Benar sekali! Apakah saudari Li sudah mengetahui atau mengenalnya?" tanya laki-laki penduduk desa Bambu kuning itu.
"Kamu jangan khawatir, cepatlah kamu kembali ke tempatmu. Sebelum ada yang curiga!" seru siluman macan putih pada laki-laki itu.
"Ba...baik, kami berharap kalau kalian biasa membantu kami." ucap laki-laki itu seraya menangkupkan kedua jarinya di dadanya.
"Jangan khawatir, saya akan membantu sebisa saya!" seru Qiao Li yang membalas dengan menangkupkan telapak tangannya.
Kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan Qiao Li dan juga siluman macan putih.
Sementara itu Qiao Li dan siluman macan putih melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang yang ada di hadapan mereka.
"Macan putih!" panggil Qiao Li tanpa melihat ke arah siluman macan putih.
"Iya pendekar Li!" jawab siluman macan putih yang pandangannya lurus ke depan.
"Kita hadapi mereka secara terang-terangan!" seru Qiao Li dengan semangat.
"Kita rebut kembali perguruan Bambu kuning, dan kita buat Bing Wen kembali pada Kwee hu!" ucap Siluman macan putih yang juga bersemangat.
__ADS_1
Dengan tekat yang mantap, keduanya menghampiri pintu gerbang yang di jaga dua orang dari sekte Sanca kembang.
"Berhenti! mau apa kalian ke sini!" seru salah satu dari penjaga itu.
"Saya mau bertemu ketua kalian!" seru Qiao Li dengan lantang.
"Apa sebelumnya sudah buat janji dengan ketua?" tanya penjaga yang terus memperhatikan Qiao Li yang merupakan seorang pendekar wanita yang memakai cadar warna putih itu.
"Belum karena aku hanya seorang musafir saja!" jawab Qiao Li yang menatap wajah kedua penjaga itu satu persatu.
"Kalau begitu, sebaiknya lain kali saja kalian datang kemari!" seru salah satu penjaga itu.
"Oh, jadi begitu ya! baiklah sampai jumpa lain kali saja!" ucap Qiao Li dengan rasa kecewa. Dan dia bersama siluman macan putih, membalikkan badannya kemudian melangkahkan kakinya.
Kedua penjaga itu saling pandang dan mengulas senyum sinis mereka dengan penuh kemenangan .
Namun baru saja mereka hendak menatap tubuh Qiao Li yang melangkah pergi, angin yang menderu dengan kencang menerpanya.
Angin itu datang dari arah Qiao Li yang menggunakan jurus pengendalian anginnya, dan dengan angin tersebut mampu mendorong serta mampu membuat jebol pintu gerbang itu.
"Brakk...!"
"Aaaaaa ....!"
Pintu gerbang itu terbuka lebar dan kedua penjaga tadi ikut melayang searah hembusan angin yang digunakan oleh Qiao Li.
Akibat ulah Qiao Li ini, semua yang ada di dalam desa bambu kuning itu menoleh dengan rasa ingin tahu mereka.
Qiao Li melangkahkan kakinya dengan santai ke tengah desa bambu kuning, dan demikian pula dengan siluman macan putih yang juga melangkahkan kakinya dengan santai bersejajar langkahnya dengan Qiao Li.
Setelah sampai di tengah desa, Qiao Li dan juga siluman macan putih menghentikan langkah mereka. Keduanya menebarkan pandangan mata mereka ke sekitarnya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...