
Qiao Li terus berjalan menyusuri jalan setapak.
Terlihat banyak warga yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani, yang berlalu lalang membawa hasil panenan mereka ke tengkulak.
"Kenapa hasil panen kami cuma di hargai segini?" ucap beberapa petani yang protes.
"Itu sudah harga yang sepantasnya dan sewajarnya! kalau tak mau, ya ambil dan bawa pulang saja!" ucap tengkulak-tengkulak itu.
Mau tak mau para petani itu menerima hasil penjualan panen mereka yang jauh dari kata cukup itu.
"Kita sebagai petani menjadi dilema, karena jika tidak kita jual kita tidak bisa membeli kebutuhan lainnya, dan jika di jual hasilnya sungguh tidak memuaskan." keluh beberapa petani yang sedang beristirahat di pinggir persawahan dengan bergerombol.
"Dimana-mana keluhan petani, kasihan merdeka" Qiao Li yang membatin.
Gadis itu terus melangkahkan kakinya melintasi para petani itu.
Qiao Li melihat seorang nenek yang sedang kerepotan membawa hasil panennya.
"Nek, biar saya bantu" ucap Qiao Li yang mengangkat keranjang yang berisikan sayuran itu.
"Terima kasih cu, ayo ikutin nenek. Rumah nenek berada di sana!" ucap si Nenek seraya menunjuk ke arah sebuah gubuk yang berada tak jauh dari pedesaan.
Mereka berdua kemudian menuju ke gubuk yang di tunjuk itu.
"Cucu ini mau kemana?" tanya nenek itu pada Qiao Li.
"Saya mau mencari kedua orang tua saya dan juga saudara saya nek!" jawab Qiao Li.
"Nama nenek Shu wan, panggil saja nenek Wan, kalau nama kamu siapa Cu?" kata nenek Wan yang memperkenalkan diri sekaligus bertanya dan meletakkan hasil panennya di teras gubuk itu.
"Saya Qiao Li nek. Sudah sampai nek, saya akan melanjutkan perjalanan Nek" ucap Qiao Li yang hendak pamit.
"Hari sudah menjelang malam, tak baik anak gadis berjalan sendirian di luaran sana. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, besok pagi di lanjutkan!" pinta nenek Wan sembari membuka pintu rumahnya.
Qiao Li berpikir sejenak, dan dia kemudian memutuskannya.
"Baiklah nek, Qiao Li akan menginap di sini sampai pagi hari. Lagipula belum tentu Qiao Li dapat penginapan nanti kalau kemalaman" ucap Qiao Li sembari tersenyum.
"Anak pintar, ayo bantu bawa masuk semua hasil panennya!" perintah nenek Wan.
"Baik Nek!" jawab Qiao Li yang kemudian membantu si Nenek dalam memindahkan keranjang sayurannya.
"Nah taruh di dapur ya Li'er!" ucap nenek Wan.
"Baik Nek!" balas Qiao Li.
__ADS_1
"Oiya nek, kenapa hasil panennya tidak nenek jual saja?" tanya Qiao Li sembari meletakkan hasil panen nenek Wan.
"Nenek tidak mau ribut sama para tengkulak-tengkulak itu. Nenek biasanya barter sama warga yang mau diajak barter." jelas nenek Wan.
"Jadi begitu ya nek?" tanya Qiao Li yang sudah mengerti maksud si nenek.
"Iya, kamu sebaiknya mandi di belakang sana! disana ada air pancuran dari sumber mata air pegunungan!" ucap nenek Wan seraya menunjuk ke arah pintu belakang rumahnya.
"Iya Nek!" balas Qiao Li yang kemudian pergi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Nenek Wan sedan memasak sebagian sayur hasil panennya.
Setelah membersihkan diri, Qiao Li membantu si Nenek memasak dan nenek Wan yang bergantian untuk membersihkan diri.
Hari sudah menjelang malam, mereka kemudian makan malam bersama.
"Nek, Li'er boleh bertanya?" tanya Qiao lie saat selesai acara makan malam mereka berdua.
"Tanya saja, kalau nenek bisa menjawab maka akan nenek jawab!" ucap Nenek Wan yang kemudian menghabiskan minuman yang ada di hadapannya.
"Apakah nenek tahu tentang sepasang pendekar bercadar?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Sepasang pendekar bercadar ya?" tanya nenek Wan yang memperjelas pendengarannya.
"Iya, apa nenek tahu tentang sepasang pendekar bercadar itu?" lagi-lagi Qiao Li bertanya.
"Biasanya aksi mereka apa saja ya Nek?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Mereka mencuri harta para pejabat dan membagikannya kepada rakyat yang kurang mampu" jelas Nenek Wan.
"Selain itu mereka akan menghajar setiap perampok yang merampok rakyat kecil seperti kami." lanjut Nenek Wan yang menjelaskan.
"Begitu ya Nek? jadi penasaran dengan sepasang pendekar bercadar itu!" ucap Qiao Li seraya memangku dagunya.
Gadis itu punya tekat yang bulat, untuk mengetahui siapakah Sepasang Pendekar Bercadar itu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang fi ketuk.
"Tokk...tokk...tokk...!"
"Nek, malam-malam kenapa ada tamu?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Dugaan nenek, itu pasti salah satu sepasang pendekar bercadar!" nenek Wan yang menebak.
Kemudian nenek Wan itu melangkahkan kakinya untuk membukakan pintunya.
__ADS_1
"Salah satu pendekar bercadar?" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian mengikuti nenek Wan di belakangnya.
Saat nenek Wan membuka pintu, tak ada seorangpun disana.
Nenek Wan itu kemudian melihat ke lantai, dan di atas lantai itu ada satu kantung kain berwarna coklat.
Kemudian nenek Wan pun mengambilnya dan menutup pintunya dari dalam.
"Benar dugaanku, salah satu dari pendekar bercadar itu." ucap nenek Wan yang kemudian membuka kantung kain yang berwarna coklat itu.
"Maksud nenek, ini pemberian sepasang pendekar bercadar itu?'tanya Qiao Li yang penasaran
"Iya, dan lihatlah! mereka membagi-bagikan beberapa keping uang emas!" seru Nenek Wan yang membuka dan melihat isi kantong coklat yang ada di tangannya.
"Iya benar nek! mulia sekali hati mereka!" ucap Qiao Li yang semakin penasaran.
"Nek, Li'er pergi sebentar ya!" pamit Qiao Li saat si Nenek Wan sedang sibuk menghitung jumlah kepingan uang emas itu.
"Oh iya, hati-hati ya!' ucap si nenek tanpa memperhatikan Qiao Li.
Qiao Li keluar dari rumah nenek Wan dan melangkahkan kakinya sampai di halaman nenek Wan.
"Aku mencari mereka di mulai dari mana ya?" gumam Qiao Li yang terik melangkahkan kakinya.
Setelah sampai di perkampungan, sayup-sayup Qiao Li mendengar suara ketukan pintu.
"Tokk...tokk...tokk...!!"
"Suara itu dari arah barat, benar dari arah barat!" gumam Qiao Li dalam hati dan terus mempertajam pendengarannya.
Qiao Li melangkahkan kakinya mengikuti suara ketukan pintu itu
Tak berapa lama, Qiao Li melihat dua bayangan yang mereka satu persatu mengetuk pintu serta meletakkan kantong kain berwarna coklat di depan pintu warga.
"Ah, itu mereka!" seru dalam hati Qiao Li yang kemudian dengan mengendap-endap mengejar bayangan hitam itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PUTRI PENDEKAR PEDANG AZUYA...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...